Tentang Tawassul dan Washilah

Assalamu ‘alaikum wr. wb

Banyak pemahaman saudara-saudara kita muslimin yang perlu diluruskan tentang tawassul, tawassul adalah berdoa kepada Allah dengan perantara amal shalih, orang shalih, malaikat, atau orang-orang mukmin. Tawassul merupakan hal yang sunnah, dan tak pernah ditentang oleh Rasul saw, tak pula oleh Ijma Sahabat radhiyallahuanhum, tak pula oleh Tabiin, dan bahkan para Ulama dan Imam-Imam besar Muhadditsin, mereka berdoa tanpa perantara atau dengan perantara, dan tak ada yang menentangnya, apalagi mengharamkannya, atau bahkan memusyrikkan orang yang mengamalkannya.

Pengingkaran hanya muncul pada abad ke 20 ini, dengan munculnya sekte Wahabi Salafi sesat yang memusyrikkan orang-orang yang bertawassul, padahal Tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits shahih dibawah ini : “Wahai Allah, Demi orang-orang yang berdoa kepada Mu, demi orang-orang yang bersemangat menuju (keridhoan) Mu, dan Demi langkah-langkahku ini kepada (keridhoan) Mu, maka aku tak keluar dengan niat berbuat jahat, dan tidak pula berniat membuat kerusuhan, tak pula keluarku ini karena Riya atau sumah.. hingga akhir hadits. (HR Imam Ahmad, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Abu Naiem, Imam Baihaqy, Imam Thabrani, Imam Ibn Sunni, Imam Ibn Majah dengan sanad Shahih). Hadits ini kemudian hingga kini digunakan oleh seluruh muslimin untuk doa menuju masjid dan doa safar.

Tujuh Imam Muhaddits meriwayatkan hadits ini, bahwa Rasul saw berdoa dengan Tawassul kepada orang-orang yang berdoa kepada Allah, lalu kepada orang-orang yang bersemangat kepada keridhoan Allah, dan barulah bertawassul kepada Amal shalih beliau saw (demi langkah2ku ini kepada keridhoan Mu). Siapakah Muhaddits?, Muhaddits adalah seorang ahli hadits yang sudah hafal 10.000 (sepuluh ribu) hadits beserta hukum sanad dan hukum matannya, betapa jenius dan briliannya mereka ini dan betapa Luasnya pemahaman mereka tentang hadist Rasul saw, sedangkan satu hadits pendek, bisa menjadi dua halaman bila disertai hukum sanad dan hukum matannya.

Lalu hadits diatas diriwayatkan oleh tujuh Muhaddits, apakah kiranya kita masih memilih pendapat madzhab sesat yang baru muncul di abad ke 20 ini, dengan ucapan orang-orang yang dianggap muhaddits padahal tak satupun dari mereka mencapai kategori Muhaddits , dan kategori ulama atau apalagi Imam Madzhab, mereka bukanlah pencaci, apalagi memusyrikkan orang-orang yang beramal dengan landasan hadits shahih.

Masih banyak hadits lain yang menjadi dalil tawassul adalah sunnah Rasululloh saw, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Abu Nu’aim, Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu disebutkan Rasul saw rebah/bersandar dikuburnya dan berdoa :
“Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelum Mu, Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih sayang.”, Maka jelas sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasululloh saw bertawassul di kubur, kepada para Nabi yang telah wafat, untuk mendoakan Bibi beliau saw (Istri Abu Thalib).

Demikian pula tawassul Sayyidina Umar bin Khattab ra. Beliau berdoa meminta hujan kepada Allah : Wahai Allah.. kami telah bertawassul dengan Nabi kami (saw) dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman beliau (saw) yang melihat beliau (saw), maka turunkanlah hujan..”. maka hujanpun turun. (Shahih Bukhari hadits no.963 dan hadits yang sama pada Shahih Bukhari hadits no.3508). Umar bin Khattab ra melakukannya, para sahabat tak menentangnya, demikian pula para Imam-Imam besar itu tak satupun mengharamkannya, apalagi mengatakan musyrik bagi yang mengamalkannya, hanyalah pendapat sekte sesat ini yang memusyrikkan orang yang bertawassul, padahal Rasululloh saw sendiri bertawassul.

Apakah mereka memusyrikkan Rasululloh saw?, dan Sayyidina Umar bin Khattab ra bertawassul, apakah mereka memusyrikkan Umar?, Naudzubillah dari pemahaman sesat ini.
Mengenai pendapat sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa tawassul hanya boleh pada orang yang masih hidup, maka entah darimana pula mereka mengarang persyaratan tawassul itu, dan mereka mengatakan bahwa orang yang sudah mati tak akan dapat memberi manfaat lagi, pendapat yang jelas-jelas datang dari pemahaman yang sangat dangkal, dan pemikiran yang sangat buta terhadap kesucian tauhid.

Jelas dan tanpa syak bahwa tak ada satu makhlukpun dapat memberi manfaat dan mudharrat terkecuali dengan izin Allah SWT, lalu mereka mengatakan bahwa makhluk hidup bisa memberi manfaat, dan yang mati mustahil?, lalu dimana kesucian tauhid dalam keimanan mereka? Tak ada perbedaan dari yang hidup dan yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah, yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah, dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila dikehendaki Allah. karena penafian kekuasaan Allah SWT atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas.

Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah swt, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah Robbil alamin, yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi shalih, hidup atau mati tak membedakan Kudrat ilahi atau membatasi kemampuan Allah, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah tetap abadi walau mereka telah wafat.

Contoh lebih mudah nya sbb, anda ingin melamar pekerjaan, atau mengemis, lalu anda mendatangi seorang saudagar kaya, dan kebetulan mendiang tetangga anda yang telah wafat adalah abdi setianya yang selalu dipuji oleh si saudagar, lalu anda saat melamar pekerjaan atau mungkin mengemis pada saudagar itu, anda berkata : “Berilah saya tuan.. (atau) terimalah lamaran saya tuan, saya mohon.. saya adalah tetangga dekat fulan,

Bukankah ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati?, bagaimana dengan pandangan bodoh yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat??, jelas-jelas saudagar akan sangat menghormati atau menerima lamaran pekerjaan anda, atau memberi anda uang lebih, karena anda menyebut nama orang yang ia cintai, walau sudah wafat, tapi kecintaan si saudagar akan terus selama saudagar itu masih hidup., pun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan Arrahmaan Arrhiim, Yang Maha Pemurah dan Maha Menyantuni?? dan tetangga anda yang telah wafat tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang lamaran anda pada si saudagar, NAMUN ANDA MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT.

Wa min Allah at Tawfiq

Majelis Dzikir dengan Suara Keras

Kutipan hadis qudsi berikut, dimulai dengan, Mereka yang mengingat-Ku dalam suatu majelis, mengadakan perkumpulan untuk berdzikir keras secara kolektif sebagai pintu gerbang untuk mendapatkan janji Allah SWT Ingatlah Aku, maka Aku akan mengingatmu Tidak heran bila perkumpulan semacam itu mendapat pujian yang tertinggi dan berkah dari Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagaimana dinyatakan dalam banyak hadis yang autentik.Menurut Bukhari dan Muslim:Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT mempunyai malaikat yang berkelana untuk menemukan orang-orang yang berdzikir [dan dalam versi yang lain dari Imam Muslim, majalis, perkumpulan dzikir]. Ketika mereka menemukan sekelompok orang (qawm) yang berdzikir dengan keras [dalam Imam Muslim yang lain dikatakan bahwa mereka duduk bersama mereka], mereka memanggil satu sama lain dan menempatkan diri mereka dalam sebuah lapisan sampai ke surga yang pertama. (Ini untuk menyatakan para malaikat dalam jumlah yang tidak terbatas akan berada di atas mereka. Dia tidak mengatakan, Ketika mereka menemukan satu orang. Oleh sebab itu untuk mendapatkan ganjaran semacam ini harus dilakukan dalam suatu kelompok.) Allah SWT bertanya kepada para malaikatnya dan Dia telah mengetahuinya, (Dia bertanya untuk menekankan apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya dan untuk memfasilitasi pemahaman kita), Apa yang dikatakan oleh hamba-hamba-Ku? (Dia tidak berkata, hamba, tetapi ibadi, hamba-hamba dalam bentuk jamak).
Para malaikat berkata,
Mereka memuji-Mu (tasbih) dan mengagungkan Nama-Mu (takbir), dan memberi-Mu Atribut terbaik (tamjid). Allah SWT bertanya, Apakah mereka pernah melihat-Ku?
Para malaikat berkata,
Wahai Tuhanku! Mereka tidak melihat-Mu. Dia bertanya lagi, Bagaimana jika mereka melihat-Ku? Malaikat menjawab, Wahai Tuhanku, jika mereka melihat-Mu mereka akan lebih sungguh-sungguh lagi dalam beribadah, tamjid dan tasbih. Dia bertanya, Apa yang mereka minta? Para malaikat menjawab, Mereka memohon surga-Mu! Dia bertanya, Apakah mereka sudah melihat surga? Mereka berkata, Wahai Tuhan kami, tidak, mereka belum melihatnya. Dia berkata, Dan bagaimana keadaan mereka bila mereka melihatnya? Mereka berkata, Jika mereka melihat surga, mereka akan lebih terikat dan tertarik kepadanya! Dia bertanya, Apa yang mereka takutkan dan lari darinya? (Ketika seseorang mengatakan, Ya Ghaffar (Wahai Yang Maha Pengampun), Ya Sattar (Wahai Yang Maha Menyembunyikan), itu berarti seseorang takut kepada-Nya karena dosa-dosanya. Orang itu memohon kepada-Nya untuk menyembunyikan kesalahannya dan memohon ampunan-Nya.) Mreka berkata, Mereka takut dan melarikan diri dari api neraka. Dia berkata, Dan apakah mereka telah melihat api neraka? Mereka berkata, Wahai Tuhan kami, tidak, mereka belum melihat api neraka. Dia bertanya, Bagaimana jika mereka melihat api neraka? Mereka berkata, Jika mereka melihat api-Mu mereka akan melarikan diri sejauh-jauhnya, dan bahkan akan lebih takut lagi. Dan Allah SWT berkata, Aku menjadikanmu sebagai saksi (Allah SWT tidak membutuhkan saksi karena Dia mengatakan, Cukup Allah SWT saja sebagai saksi (4:79, 4:166, 10:29, 13:43, 29:52). Menjadikanmu sebagai saksi di sini maksudnya menjamin kalian) bahwa Aku telah mengampuni mereka. (Allah SWT telah mengampuni mereka karena, sebagaimana pada awal hadis dinyatakan bahwa mereka adalah sekelompok orang yang mengucapkan Nama-nama Allah SWT dan mengingat-Nya melalui dzikir). Salah satu malaikat berkata, Wahai Tuhanku, seseorang berada di
sana yang tidak tergabung dalam majelis itu, tetapi datang atas maksud yang lain.
(Orang itu datang dengan niat bukan untuk berdzikir, untuk meminta sesuatu kepada seseorang). Allah SWT berkata, Majelis ini adalah sedemikian rupa sehingga orang yang duduk bersama mereka diampuni dosa-dosanya.Almarhum Imam Ahmad Mashhur al-Hadad (meninggal pada 1416/1995) berkata dalam bukunya Miftah al-janna:Hadis ini menunjukkan keutamaan yang terdapat dalam majelis dzikir, dan pada setiap orang yang hadir melakukannya dengan keras dan serempak, karena frase-frase, Mereka memohon kepada-Mu dalam bentuk jamak, dan Mereka adalah orang-orang yang duduk, mempunyai arti bahwa mereka yang berkumpul untuk mengingat Allah SWT dan mengerjakannya secara serempak, sesuatu yang hanya bisa dilakukan dengan keras, karena seseorang yang berdzikir pelan, dalam hati tidak perlu mencari suatu pertemuan dengan orang lain.Lebih jauh hal ini ditunjukkan oleh hadis qudsi yang berbunyi, Allah SWT berfirman, Aku seperti yang diharapkan oleh hamba-Ku, Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika dia mengingat-Ku dalam kelompok, Aku menyebutkan namanya dalam suatu pertemuan yang lebih baik darinya��(Bukhari dan Muslim). Jadi, dzikir dalam hati dibedakan dengan dzikir keras melalui firman-Nya, mengingat-Ku dalam dirinya, yang berarti, dalam hati (diam), dan dalam suatu kelompok, yang berarti keras.Dzikir dalam suatu majelis hanya bisa dilakukan dengan keras dan serempak. Sehingga hadis di atas mengandung bukti bahwa dzikir yang dilakukan dengan keras dalam suatu majelis merupakan sejenis dzikir yang dimuliakan yang disebutkan dalam majelis tertinggi (al-mala al-ala) oleh Tuhan kita Yang Maha Mulia dan para malaikat yang berada di dekat-Nya, yang terus mengagungkan-Nya siang dan malam, dan tidak pernah merasa lelah (21:20).Daya tarik merupakan bukti yang jelas antara mereka yang melakukan dzikir di dunia abadi, yang telah diciptakan dengan kepatuhan yang telah melekat dalam dirinya dan mengingat Allah SWT menjadi sifatnya dan dinamakan malaikat dengan mereka yang melakukan dzikir di dunia yang padat, yang sifatnya dipenuhi dengan kelemahan dan gangguan dan dinamakan manusia. Ganjaran bagi manusia dalam melakukan dzikir adalah mereka akan diangkat ke peringkat yang serupa dengan Majelis Tertinggi, yang kemuliaan dan kenikmatannya cukup bagi setiap orang. (Imam Ahmad Mashhur al-Hadad, Miftah al-janna, terj. Mustafa Badawi, Key to the Garden, Quilliam Press hal.107-108) Allah SWT memberikan perbedaan yang nyata bagi mereka yang mengingat-Nya. Abu Hurayra y berkata,Dalam perjalanan ke Makkah, Rasulullah SAW melewati puncak sebuah gunung yang dinamakan Jumdan (=membeku di tempatnya), pada saat itu beliau berkata, Bergeraklah (siru)! Ini adalah Gunung Jumdan, dan orang yang berpikiran tunggal (al-mufarridun) adalah yang paling utama. Mereka bertanya, Siapa yang berpikiran tunggal, wahai Rasulullah SAW? Beliau berkata, Pria dan wanita yang mengingat Allah SWT tanpa henti (al-dzakirun allah katsiran wa al-dzakirat). (diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Muslim, dalam sahih-nya, pada permulaan buku Dzikir).Gunung itu menyusul orang-orang sebab gunung itu juga berdzikir. Ibnu Qayyim al-Jawziyya menerangkan bahwa istilah mufarridun mempunyai dua arti, yaitu: muwahhidun, orang-orang yang terikat dalam tauhid yang mendeklarasikan Ke-Esaan Allah SWT sebagai satu kelompok (tidak perlu sendiri), atau mereka yang beliau sebut ahad furada, orang yang sama namun sebagai individu yang duduk sendiri (Ibnu Qayyim al-Jawziyya, Madarij al-salikin). Dari contoh ini terbukti bahwa dalam keterangan Ibnu Qayyim al-Jawziyya, duduk dalam dzikir bisa dilakukan sendiri atau dalam kelompok. Dalam keterangan lain mengenai mufarridun, Ibnu Qayyim al-Jawziyya merujuk istilah tersebut kepada mereka yang hatinya bergetar ketika mengucapkan dzikir Allah SWT, merasuk ke dalamnya secara terus-menerus, tidak mempedulikan apa yang orang katakan atau lakukan terhadap mereka. Hal ini karena Rasulullah SAW bersabda, udzkur Allaha hatta yaqulu majnun Mengingat dan menyebut Allah SWT sebanyak yang kalian inginkan, sampai orang berkata bahwa kalian gila dan bodoh. (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, Ibnu Hibban dalam Sahih-nya, dan al-Hakim yang menyatakan bahwa hadis itu sahih). Mufarridun adalah orang-orang yang sungguh hidup. Abu Musa y melaporkan, Perbedaan orang-orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat-Nya adalah bagaikan orang yang hidup dengan orang mati. (Bukhari). Ibnu Umar y melaporkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, Ketika kalian melintasi kebun-kebun di Surga, ambillah manfaat darinya.
Para sahabat bertanya,
Apa yang dimaksud dengan kebun-kebun di Surga itu, Ya Rasulallah e? Beliau menjawab, Lingkaran dzikir.
Para malaikat Allah SWT berkelana mencari lingkaran dzikir, dan ketika mereka menemukannya, mereka akan mengelilinginya dengan rapat.
(Tirmidzi dan Ahmad menyatakan hadis ini hasan gharib).Abu Saiid al-Khudri y dan Abu Hurayra y melaporkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, Ketika sekelompok orang mengingat Allah SWT, malaikat mengelilingi mereka dan rahmat menyelimuti mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah SWT menyebutkan mereka mereka kepada mereka yang bersama-Nya. (Diriwayatkan oleh Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah dan Bayhaqi).Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi meriwayatkan dari Muawiya y bahwa,Rasulullah SAW pergi menuju lingkaran para sahabatnya dan bertanya, Apa yang membuat kalian duduk di sini? Mereka menjawab, Kami duduk di sini untuk mengingat dan menyebut Nama Allah (nadzkurullaha) dan untuk mengagungkan Dia (wa nahmaduhu) sebab Dia membimbing kita kepada jejak Islam dan Dia menganugerahkan nikmat kepada kita. Dengan segera beliau mendesak mereka demi Allah SWT dan bertanya lagi apakah hanya itu alasan mereka duduk di sana. Mereka berkata, Demi Allah, kami duduk di sini hanya untuk itu. Saat itu Rasulullah SAW berkata, Aku tidak meminta kalian untuk bersumpah karena ada kegelisahan di antara kalian, tetapi hanya karena Jibril u datang kepadaku dan memberitahuku bahwa Allah SWT mengatakan kepada malaikat bahwa Dia bangga kepada kalian!��Perhatikan bahwa dalam hadis di atas dinyatakan dengan kata jalasna, atau kami duduk, dalam bentuk jamak, bukan tunggal. Itu melambangkan adanya asosiasi manusia dalam suatu kelompok, dan bukan satu orang.Syahr bin Hawashab menyatakan,Suatu hari Abu al-Darda y memasuki Masjid Bayt al-Maqdis (
Jerusalem) dan melihat orang berkumpul mengelilingi pemimpin dzikir mereka (mudzakkir) yang mengingatkan mereka. Mereka mengeraskan suara mereka, menangis dan berdoa. Abu al-Darda y berkata,
Hidup Ayahku dan Ibuku aku korbankan untuk mereka yang merintih terus menerus sebelum hari perintihan! Lalu dia berkata, Wahai Ibnu Hawshab, mari kita segera bergabung dengan mereka. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Jika kalian melihat semak belukar Surga, gembalakan ternakmu di sana. Kami bertanya, Wahai Rasulullah SAW, apa yang dimaksud dengan semak belukar Surga? Beliau menjawab, Lingkaran orang-orang yang mengingat, demi Dzat yang jiwaku berada dalam Genggamannya, tak satu pun orang yang berkumpul untuk mengingat Allah SWT kecuali dikelilingi dengan rapat oleh para malaikat, rahmat menyelubungi mereka, dan Allah SWT menyebutkan mereka dalam Kehadirat-Nya, dan ketika mereka ingin pergi, seseorang memanggil mereka dengan berkata, Pengampunan telah dibangkitkan, perbuatan buruk kalian telah diubah menjadi amal kebaikan! Lalu Abu al-Darda y mendatangi mereka dan duduk bersama mereka dengan antusias. (Hafiz Ibnu al-Jawzi menyatakan hal ini dengan rantai transmisinya dalam bab yang berjudul, Sebutan bagi orang elit yang biasa menghadiri majelis pembaca hikayat dalam bukunya al-Qussas wa al-mudzakkirin (Pembaca Hikayat dan Orang yang Mengingatkan) ed. Muhammad Basyuni Zaghlul (Beirut: Dar al-kutub al-ilmiyya, 1406/1986) hal. 31).Uraian di atas menunjukkan bukti-bukti mengenai bolehnya melakukan dzikir keras, dalam kelompok dan pengertian dzikir, termasuk memberi peringatan dan menceritakan kembali kisah-kisah yang bermanfaat bagi jiwa. 

Kelantangan (Suara) dalam Berdzikir

Rasulullah SAW memuji orang yang awwah (arti harfiahnya, orang yang berkata, ah, ah!); yaitu keras dalam dzikirnya walaupun yang lain mencemoohkannya. Ahmad menceritakan dengan mata rantai yang baik dari Uqba bin Amir,Rasulullah SAW berkata tentang seorang pria yang bernama Dzu al-Bijadayn, innahu awwah (dia adalah orang yang banyak mengucapkan ah, ah!). hal ini disebabkan karena dia adalah orang yang sangat banyak berdzikir kepada Allah I dengan membaca al-Quran, dan dia akan meninggikan suaranya ketika berdoa. (Ahmad dalam Musnad 4:159)Allah I berfirman kepada Nabi Ibrahim u, Sesungguhnya Ibrahim u adalah seorang yang awwah dan halim (9:114, 11:75); menurut Tafsir al-jalalayn, menangis dan sangat menderita karena takut kepada Tuhannya. (halim=penuh kasih sayang dan lemah lembut). Rasulullah SAW berdoa untuk menjadi awwah dalam doa berikut, rabbi ijalni ilayka awwahan (Ya Allah, jadikanlah aku orang yang menangis ah kepada-Mu. Hadis ini diceritakan oleh Tirmidzi (Tirmidzi, kitab daawat #102, hasan sahih), Ibnu Majah (Ibnu Majah, Dua #2), dan Ahmad (Ahmad, Musnad 1:227) dengan mata rantai yang kuat sebagai berikut: (Yahya bin Said ← al-Qattan Sufyan al-Thawri ← Shuba ← Amr bin Murra ← Abd Allah bin al-Harits ← Taliq bin Qays al-Hanafi bin Abbas).Rasulullah SAW biasa berdoa dengan doa ini, Ya Tuhanku! Tolonglah aku dan jangan membuatku menghadapi kesulitan, berikanlah aku kemenangan dan jangan memberikan kemenangan kepada orang terhadapku, buatlah rencana untukku dan bukan untuk melawanku, bimbinglah aku dan berikanlah kemudahan untuk membimbingku, sanggupkanlah aku dalam menghadapi orang yang menentangku. Ya Tuhanku! Jadikanlah aku orang yang sangat bersyukur kepada-Mu (syakkaran laka), banyak mengingat-Mu (dzakaran laka), banyak berdoa kepada-Mu (rahhaban laka), patuh dengan sempurna kepada-Mu (mitwaan ilayka), rendah hati kepada-Mu (mukhbitan laka), selalu menangis dan kembali kepada-Mu (awwahan muniban)!�� 

Makna Dzikir

Kata dzikir mempunyai makna yang beragam. Kata itu bisa merujuk kepada Kitab Allah dan pembacaannya, salat, belajar, dan mengajar. Penulis Fiqh al-sunna berkata dalam bab mengenai dzikir bahwa Said bin Jubayr y berkata, Seseorang yang patuh kepada Allah I pada kenyataannya juga sedang berdzikir. Beberapa ulama dari periode awal mengaitkannya dengan suatu bentuk (ibadah) yang lebih spesifik. Aata berkata bahwa, Majelis dzikir adalah perkumpulan di mana di dalamnya dibicarakan hal-hal yang baik dan yang terlarang, sebagai contoh: jual-beli, salat, puasa, pernikahan, perceraian, dan haji.Qurtubi berkata, Majelis dzikir adalah suatu perkumpulan untuk ilmu pengetahuan dan nasihat di mana firman Allah I, sunnah Rasulullah e, nasihat para pendahulu yang saleh, dan ucapan para ulama yang baik, dipelajari dan dipraktikkan tanpa ada penambahan atau inovasi (bidah), serta tanpa motif terselubung dan keserakahan. Berdoa kepada Allah I dapat dilakukan dengan lidah, mengikuti salah satu formula yang diajarkan oleh Rasulullah e, atau suatu formula yang lain, atau mengingat Allah I dalam hati, atau kedua-duanya, melalui hati dan lidah.Tulisan berikut berhubungan dengan dua arti yang terakhir: bahwa menyebutkan nama Allah I, sebagaimana yang diterangkan dalam ayat, Orang-orang yang beriman adalah mereka yang ketika disebut nama Allah I, hati mereka bergetar (8:2); dan sabda Rasulullah e, Dzikir terbaik adalah la ilaha illallah. (dari Jubayr kepada Tirmidzi dan Ibnu Majah). Rasulullah e tidak berkata, Dzikir terbaik adalah dengan memberi ceramah, atau memberi nasihat, atau mengumpulkan dana. Berikutnya yang menerangkan tentang dzikir yang dilakukan dalam hati, sebagaimana ditegaskan dengan ayat, Laki-laki dan wanita yang mengingat Allah I dalam jumlah yang banyak (33:35). Rasulullah e memuji dan menerangkan ayat itu dengan ucapan, yang berhati tunggal adalah yang paling utama (Riwayat Muslim). Ketika beliau ditanya, Ya Rasulallah e, siapakah yang dimaksud dengan yang berhati tunggal? Beliau menjawab, Laki-laki dan perempuan yang mengingat Allah I dalam jumlah yang banyak. Lebih lanjut Rasulullah e mengklarifikasi peranan hati dalam mengingat Allah I ketika beliau berkata kepada Abu Hurayra y,Pergilah dengan kedua sandalku ini dan siapa pun yang kau temui di balik dinding ini yang menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah I dengan keyakinan dalam hatinya, berikanlah kabar gembira bahwa dia akan masuk surga. (hadis riwayat Muslim).Dzikir kadang-kadang bisa berarti mengingat secara internal dan menyebutkan secara eksternal, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat, Ingatlah Aku, maka Aku akan mengingatmu (2:152), ketika diterangkan dengan jelas dalam hadis qudsi:Mereka yang mengingat-Ku dalam hatinya, Aku mengingatnya dalam hati-Ku, dan mereka yang mengingat-Ku dalam suatu majelis (yang berdzikir menyebut nama-Ku), Aku mengingat mereka (dengan menyebutkan mereka) dalam suatu majelis yang lebih baik dari majelis mereka.Hadis yang sangat penting ini akan dijelaskan lebih jauh di bawah ini. Cukuplah dikatakan bahwa secara umum ada 3 tipe dzikir, yaitu: yang dilakukan dalam hati, yang diucapkan dengan lidah, dan melakukan keduanya secara bersama-sama. Ibnu Hajar menerangkan bahwa, menurut cerita Abu al-Darda y mengenai kelebihan dzikir atas jihad, yang dimaksud dzikir di sini adalah dzikir yang disertai dengan kesadaran akan kebesaran Allah I sehingga misalnya, seseorang dapat menjadi lebih baik, daripada mereka yang memerangi orang kafir tanpa ingatan semacam itu.Dalam hadis lain yang diceritakan oleh Bukhari, Rasulullah e bersabda bahwa mereka yang melakukan dzikir hidup, sedangkan yang tidak melakukannya bagaikan mayat. Beliau berkata, matsalu al-ladzi yadzkuru rabbahu wa al-ladzi la yadzkuru rabbahu matsalu al-hayyi wa al-mayyit. (Kitab daawat bab 66 tentang, Keutamaan dzikir Allah). Ibnu Hajar mengomentari, Yang dimaksud dengan dzikir di sini adalah ucapan atas ekspresi yang telah dianjurkan bagi kita, dan diucapkan dengan jumlah yang melimpah, seperti halnya amal saleh yang abadial-baqiyat al-salihatmereka adalah: subhan Allah, al-hamdu lillah, la ilaha illallah, allahu akbar dan semua yang berhubungan dengannya, seperti: hawqalah (la hawla wa la quwwata illa billah), basmalah (bis-millah al-rahman al-rahim), hasbalah (hasbunal-lahu wa nima al-wakil), istighfar, dan lainnya seperti doa memohon kebahagiaan di dunia dan di akhirat.Dzikir juga diterapkan sebagai ketekunan dalam menjalankan kewajiban atau segala tindakan beribadah, seperti membaca al-Quran, membaca hadis, mempelajari ilmu-ilmu Islam (al-ilm), dan salat-salat sunnah.Dzikir dapat dilakukan dengan lidah, di mana orang yang membacanya akan mendapat pahala. Tidak perlu baginya untuk mengerti dan menghayati artinya dalam syarat dia tidak mempunyai maksud lain dengan mengucapkannya, dan jika, sebagai tambahan terhadap pengucapannya itu, juga dilakukan dzikir dalam hati, maka dzikirnya menjadi lebih lengkap, dan jika ditambah dengan penghayatan terhadap makna yang terkandung di dalamnya, dzikirnya menjadi lebih lengkap lagi, dan jika semua ini dilakukan dalam rangkaian ibadah, baik dalam salat, jihad atau yang lain, akan lebih lengkap lagi dan jika seseorang menyempurnakan perhatiannya kepada Allah I dan memurnikan ketulusannya kepada-Nya, maka itu adalah kesempurnaan terjauh. Fakhr al-Din al-Razi berkata bahwa apa yang dimaksud dengan dzikir dengan lidah adalah ekspresi terhadap tindakan penyembahan (tasbih), pujian (tahmid), dan memuliakan (tamjid). Sementara dzikir dalam hati terdiri atas refleksi terhadap bukti dan tulisan yang menunjukkan inti sari Allah I dan atribut-Nya, pada kewajiban yang di dalamnya termasuk hal-hal yang diperbolehkan dan dilarang sehingga seseorang dapat menguji aturan yang berkaitan dengannya dan pada rahasia ciptaan Allah I. Sedangkan dzikir anggota badan mencakup pada tindakan kepatuhan yang dilakukannya, itulah sebabnya Allah I menyebut salat dengan dzikir ketika Dia berfirman, Ketika panggilan (adzan) untuk melaksanakan salat Jumat telah dikumandangkan, segeralah kalian mengingat Allah I (62:9). Dilaporkan juga oleh beberapa orang yang mempunyai pengetahuan tentang Allah I, bahwa dzikir mempunyai 7 aspek:Dzikir mata yang mencakup tangisan (buka),
Dzikir telinga yang mencakup pendengaran (isgha),
Dzikir lidah yang mencakup pemujian (tsana),
Dzikir tangan yang mencakup pemberian (ata),
Dzikir tubuh yang mencakup loyalitas (wafa),
Dzikir hati yang mencakup ketakutan dan harapan (khawf wa raja),
Dzikir roh yang mencakup ungkapan pasrah dan penyerahan diri (talim wa ridha)
(Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari (1989 ed. 11:250)).
 

Dzikir adalah Kewajiban Terbesar dan Merupakan Suatu Perintah Ilahi

Dzikir adalah tindakan seorang hamba yang paling sempurna, dan ditekankan ratusan kali di dalam al-Quran. Itu merupakan praktik penyembahan untuk mendapatkan ridha Allah I, senjata yang paling ampuh untuk mengatasi musuh, dan perbuatan yang patut mendapat ganjaran. Dzikir merupakan bendera Islam, penyemir hati, inti dari ilmu tentang Iman, imunisasi terhadap kemunafikan, ibadah terpenting, dan kunci dari segala kesuksesan.Tidak ada batasan yang menyangkut metode, frekuensi atau waktu untuk berdzikir atau apa pun mengenainya. Beberapa batasan dalam metode berdzikir menyinggung kewajiban khusus tertentu yang tidak dibicarakan di sini, misalnya dalam salat yang telah ditentukan. Syariah sangat jelas dan setiap orang telah mengetahui kewajiban ini. Rasulullah e bersabda bahwa penghuni Surga hanya akan menyesali satu hal, tidak cukup mengingat Allah I di dunia ini! Allah I berfirman dalam al-Quran, Wahai orang-orang yang beriman, perbanyaklah dzikir! (33:41). Dia berfirman bahwa hamba-Nya adalah, Mereka yang mengingat Tuhannya dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring, (3:191); dengan kata lain, mereka yang mengingat Allah I setiap saat baik siang maupun malam. Allah I berfirman, Penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang adalah tanda-tanda bagi orang yang mengerti, mereka yang mengingat (dan mengucapkan dan menyebut) Allah I dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring (3:190-191)Aisyah ? berkata, sebagaimana yang diceritakan oleh Muslim, bahwa Rasulullah e mengingat Allah I setiap saat baik siang maupun malam. Rasulullah e bersabda, Jika hati kalian selalu dalam keadaan mengingat Allah I, para malaikat akan mendatangi kalian sampai ke titik di mana mereka akan memberi salam kepada kalian di tengah perjalannya. (riwayat Muslim). Imam Nawawi mengomentari hadis ini dengan mengatakan, Panorama semacam ini akan terlihat pada orang yang terus-menerus melakukan meditasi (muraqaba), refleksi (fikr), dan antisipasi (iqbal) terhadap alam berikutnya. (Nawawi, Syarh sahih Muslim)Muadz bin Jabal y berkata bahwa Rasulullah e juga bersabda, Para penghuni surga tidak akan menyesal kecuali satu hal, waktu yang telah dilewati mereka tanpa mengingat Allah I. (diriwayatkan oleh Bayhaqi dalam Syuab al-iman (1:392 #512-513) dan oleh Tabarani. Haythami dalam Majma al-zawaid (110:74) berkata bahwa semua naratornya dapat dipercaya (thiqat), sementara Sayuti dalam Jami al-saghir (#7701) menyatakan bahwa hadis itu hasan).Allah I menempatkan dzikir mempunyai nilai yang lebih dari pada salat dengan menjadikan salat sebagai cara atau alat dan dzikir sebagai sasarannya. Dia berfirman, Perhatikanlah! Salat itu mencegah perbuatan keji dan munkar, tetapi sesungguhnya, mengingat Allah I lebih besar manfaatnya, dan lebih penting (29:45)Beruntunglah orang yang mensucikan dirinya, dan mengingat nama Tuhannya, dan mengerjakan salat (87:14-15)Maka dirikanlah salat untuk mengingat-Ku (20:14)Qadi Abu Bakar bin al-Arabi menerangkan bahwa tidak ada amal yang sah tanpa mengingat Allah I (dzikir). Siapa pun yang tidak mengingat Allah I dalam hatinya ketika memberi shadaqa atau berpuasa, contohnya, berarti amalnya tidak lengkap. Oleh sebab itu dzikir bisa dipandang sebagai amal yang paling baik (dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fath al-bari (1989 ed. 11:251)).Dzikir adalah sesuatu yang sangat penting. Abu Hurayra y berkata bahwa Rasulullah e bersabda, Bumi dan segala isinya dikutuk kecuali mereka yang melakukan dzikir, guru-guru dan semua muridnya. (Tirmidzi menyatakan hadis ini hasan, begitu pula Ibnu Majah, Bayhaqi dan lainnya. Suyuti menyebutkannya dalam al-Jami al-saghir dari pernyataan al-Bazzar yang serupa dengan narasi Ibnu Masud dan beliau mengatakan sahih. Tabarani juga menyatakannya dalam al-Awsat dari Abu al-Darda). Dengan menyebut kata bumi dan segala isinya, Rasulullah e merujuk pada semua yang menyatakan status atau eksistensinya terpisah dengan Allah I, bukannya menyatu dengan-Nya. Kenyataannya seluruh makhluk berdzikir kepada Allah I, karena Allah I berfirman bahwa semua ciptaan-Nya bertasbih kepada-Nya, dan tasbih adalah salah satu jenis dzikir. Allah I berfirman mengenai Nabi Yunus u, ketika seekor paus menelannya, Jika dia bukan termasuk orang-orang yang bertasbih kepada-Ku (musabbihin), dia akan tinggal dalam perut paus itu hingga Hari Pembalasan (37:143-144).Hadis Rasulullah e yang baru saja disebutkan juga menekankan pentingnya mengikuti seorang guru yang mempunyai pengetahuan, karena tidak ada yang bisa mencegah datangnya kutukan selain berkah. Inilah yang dimaksud oleh Abu Yazid al-Bistami ketika beliau berkata, Siapa pun yang tidak memiliki syaikh, syaikhnya adalah setan. Hal ini diperkuat dengan dua hadis Rasulullah e.Abu Bakrah y berkata, Aku mendengar Rasulullah e bersabda, Jadilah orang yang terpelajar (alim) atau murid (mutaallim), atau pendengar (mustami) atau seorang pecinta (muhibb), tetapi jangan menjadi orang kelima karena kalian akan binasa. (al-Haythami berkata dalam Majma al-zawaid (1:22), Tabarani menyatakan dalam al-Mujam al-saghir (2:9), al-Mujam al-awsat, dan al-Mujam al-kabir, juga al-Bazzar [dalam Musnad-nya], dan semua naratornya dianggap dapat dipercaya. Hal itu juga dinyatakan oleh Abu Nuaym dalam Hilyat al-awliya (7:237) dan al-Khatib dalam Tarikh
baghdad (12:295)).

Sakhawi berkata, Ibnu Abd al-Barr berkata, orang kelima adalah orang yang memperlihatkan permusuhan kepada para ulama dan meremehkan mereka, dan siapapun yang tidak mencintai mereka menunjukkan penghinaan kepada mereka atau dalam tahap ingin menghina mereka, dan di
sana terletak kehancuran.
(Sakhawi, al-Maqasid al-hasana (hal.88#134). Lihat buku Ibnu Abd al-Barr yang berjudul Jami bayan al-ilm wa fadlih (1:30)).Rasulullah e bersabda, Al-baraqa ma akabirikum, Berkah bersama yang lebih tua (riwayat Ibnu Hibban dalam sahih-nya, al-Hakim yang menyatakan bahwa hadis itu sahih, dan Ibnu Daqiq al-Id juga memperkuatnya).Riwayat lain menyatakan, Ketika yang muda mengajar yang tua, maka berkah telah dicabut. (Lihat buku Sakhawi, al-Maqasid al-hasana hal. 155-159#290).Orang yang melaksanakan dzikir memiliki peringkat tertinggi di hadapan
Allah I. Orang-orang yang menyebut nama Allah I dengan konsentrasi telah disebutkan dalam al-Quran. Efek terhadap hatinya juga telah dijelaskan dalam al-Quran,
Di dalam rumah yang Allah I telah izinkan supaya dimuliakan dan untuk mengingat Nama-Nya di rumah itu, Dia dipujikan siang dan malam oleh orang orang-orang yang perniagaan dan jual-beli tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari mengingat nama-Nya (24:36-37). Mereka yang beriman dan hati mereka tentram karena mengingat Allah I: ingatlah sesungguhnya dengan mengingat Allah I hati menjadi tentram (13:28)Selama peristiwa isra dan miraj Rasulullah e diangkat hingga ke titik di mana beliau mendengar guratan Pena, yang menunjukkan tulisan Takdir Ilahi. Beliau melihat seseorang yang lenyap ke dalam cahaya Singgasana Allah I. Rasulullah e bertanya, Siapa ini? Apakah ini seorang malaikat? Dia berkata kepadanya, Bukan! Rasulullah e bertanya lagi, Apakah ini Nabi? Jawaban yang didapat juga Bukan! Kalau begitu siapa dia? Jawabannya adalah, Ini adalah orang yang lidahnya basah dengan mengingat Allah I di dunia, hatinya terikat kepada masjid, dan dia tidak pernah mencela Ayah dan Ibunya. (Syaikh Muhammad Alawi al-Maliki menyatakannya dalam kumpulan teksnya yang berjudul al-Anwar al-bahiyya min isra wa miraj khayr al-bariyya, yang berisi narasi lisan mengenai topik tersebut.)Dalam hadis lain dilaporkan, Seorang pria mendatangi Rasulullah e dan berkata, Wahai Rasulullah e, hukum dan persyaratan dalam Islam terlalu banyak buatku. Katakanlah sesuatu yang dapat aku jaga selalu (yakni, khususnya sebagai ganti dari banyaknya aturan dan persyaratan yang harus dilaksanakan secara umum). [Dengan membaca hal itu pria tersebut berkata bahwa terlalu banyak persyaratan yang harus dipenuhi, orang harus mengerti bahwa dia tidak yakin kalau dia dapat menjaga semuanya. Dia menginginkan sesuatu yang dia yakin dapat dijaganya.] Rasulullah e bersabda, (Aku menasihatimu untuk melakukan satu hal) Jagalah lidahmu agar selalu basah dengan dzikir kepada Allah I. (Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hadis ini baik (hasan)).Dalam Islam telah dikenal bahwa pekerjaan terbaik di jalan Allah I adalah berjihad. Tetapi Rasulullah e tetap menempatkan dzikir di atas jihad dalam hadis yang autentik berikut ini.Abu al-Darda y meriwayatkan,Suatu ketika Rasulullah e bertanya kepada sahabatnya, Sudahkah Aku terangkan kepada kalian tentang amal yang paling baik, pekerjaan terbaik di mata Tuhanmu, yang akan mengangkat status kalian di Hari Kemudian, dan membawa lebih banyak kebajikan daripada membelanjakan emas dan perak sebagai pelayanan kepada Allah I atau ikut serta dalam jihad dan membunuh atau terbunuh di jalan Allah I? Ia adalah dzikir kepada Allah I.�� (diriwayatkan oleh Malik dalam Muwatta, juga Musnad-nya Ahmad, Sunan-nya Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Mustadrak-nya Hakim, al-Bayhaqi. Hakim dan yang lain menyatakan hadis itu sahih).Abu Saiid y berkata, Rasulullah e ditanya, Siapakah hamba Allah yang mempunyai peringkat terbaik di hadapan-Nya pada Hari Kebangkitan? Beliau menjawab, Orang yang paling banyak mengingat Allah I. Aku berkata, Wahai Rasulullah e, bagaimana dengan seseorang yang berperang di jalan Allah I? Beliau menjawab, Bahkan jika dia menghajar orang-orang kafir dan musyrikin dengan pedangnya hingga patah, dan menjadi merah dengan darah mereka, sesungguhnya mereka yang berdzikir lebih baik peringkatnya.�� (diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan Bayhaqi).Abd Allah bin Umar y berkata bahwa Rasulullah e bersabda, Segala sesuatu mempunyai semir atau pengkilap, dan semir untuk hati adalah dzikir kepada Allah I. Tak ada yang lebih diperhitungkan untuk menyelamatkan diri dari azab Allah I selain dzikir kepada Allah I. Beliau pernah ditanya apakah ini juga tidak diterapkan untuk jihad di jalan Allah I, dan beliau menjawab, Bahkan tidak untuk seseorang yang harus menghujani pedangnya hingga patah. (Bayhaqi meriwayatkannya dalam Kitab al-daawat al-kabir begitu juga dalam Shuab al-iman (1:396#522), juga al-Mundhiri dalam al-Targhib (2:396) dan Tabrizi menyebutkannya dalam Mishkat al-masabih, pada bagian terakhir buku doa). 

Kata Mereka Sih Gitu…

Pertanyaan yang banyak diutarakan mengenai zikir antara lain adalah:

Bagaimana pada umumnya para ulama dari keempat Mahzab berpendapat mengenai zikir? Apakah zikir mempunyai dasar dalam al-Quran dan hadis? “Salafi” menuduh orang yang duduk berzikir bersama–baik dengan keras maupun dalam hati–sebagai penyimpangan dan klenik.

Dapatkah zikir dilakukan dengan suara keras atau dalam hati? Beberapa “Salafi” berkeberatan dengan zikir dengan suara keras (zahar) dan menegaskan bahwa zikir harus dilakukan dalam hati (khafi), sementara yang lain berpendapat sebaliknya.

Dapatkah zikir dilakukan secara bersama-sama atau harus dilakukan secara individu? Beberapa “Salafi” keberatan jika dilakukan secara berkelompok, mereka menyatakan bahwa zikir harus dilakukan oleh setiap individu, tetapi yang lain keberatan kalau dilakukan secara individu sebab menurut mereka itu berarti anti sosial dan seperti di biara atau kuil.

Dapatkah zikir dilakukan secara teratur dan frekuentif? Beberapa “Salafi” keberatan dengan hal ini sebab penekanan yang berlebihan terhadap zikir dapat mengganggu seseorang dari usaha mencari uang, belajar, konferensi, atau jihad.

Dapatkah ada gerakan ketika berzikir? “Salafi” menginginkan agar orang tidak bergerak ketika melakukan zikir. Mereka akan keberatan jika ada yang melakukannya (bergerak atau bergoyang).

Dapatkah zikir dilakukan dalam suasana yang remang-remang?

Dapatkah nama “Allah” diucapkan selama berzikir? “Salafi” menyatakan tidak!

Dapatkah tasbih digunakan untuk menghitung bilangan-bilangan dalam zikir? Beberapa “Salafi” menuduh bahwa hal itu adalah bid’ah dan sesat.

Mengenang Akhlak Nabi Suci Kita : Muhammad SAW

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Setelah Nabi wafat, seketika itu pula kota Madinah hingar bingar dengan tangisan ummat Islam; antara percaya dan tidak, Rasul yang mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, “Ceritakan padaku akhlak Muhammad.” Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yang sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata : “ Ceritakan padaku keindahan dunia ini!” Badui ini menjawab, “Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini…” Ali menjawab, “ Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia ini, padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam 68: 4).”

Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi yang sering disapa Khumairah oleh Nabi. Aisyah menjawab,”Khuluquhu al-Quran (Akhlaknya Muhammad itu Al-Quran).” Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan Al-Quran berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat seluruh kandungan Quran. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Muminun (23: 1-11).

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi Penutup ini.

Kembali ke Aisyah. Ketika ditanya bagaimana perilaku Nabi, Aisyah menjawab “Semua perilakunya indah.” Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita tentang saat terindah baginya sebagai seorang isteri, “ Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, ‘Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.’ “ Apalagi yang lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.

Nabi Muhammad jugalah yang membuat khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, mengapa engkau tidur di sini. Nabi Muhammmad menjawab,” Aku pulang larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.” Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi mengingatkan, berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya. Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi.

Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Hanya menerima kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya.

Nabi Muhammad juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul selalu memujinya. Abu Bakar-lah yang menemani Rasul ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit. Tentang Umar, Rasul pernah berkata, syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka syetan lewat jalan yang lain. Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, “Ya Rasul apa maksud (tawil) mimpimu itu?” Rasul menjawab ilmu pengetahuan.

Tentang Utsman, Rasul sangat menghargai Ustman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi, hingga Utsman dijuluki dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. “Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.”

Lihatlah diri kita sekarang. jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

Saya pernah mendengar bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad. Buktinya, dalam Al-Quran Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad, Allah menyapanya dengan Wahai Nabi. Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.

Para sahabatpun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap rasul. Mereka ingin Rasul menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi memutuskan, Abu Bakar berkata: “ Angkat Al-Qaqa bin Mabad sebagai pemimpin.” Kata Umar ;” Tidak, angkatlah Al-Aqra bin Habis.” Abu Bakar berkata ke Umar, “Kamu hanya ingin membantah aku saja.” Umar menjawab “ Aku tidak bermaksud membantahmu.” Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap terhadap sesamamu. Agar tidak terhapus amal-amalmu sedangkan kamu tidak menyadarinya (al-hujurat 1-2)

Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata :”Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia. “ Umar juga berbicara kepada Nabi dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi takut akan terhapus amal mereka karena melanggar adab saat berada dalam hadirat Nabi.

Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabiah. Ia berkata pada Nabi,” Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami.”

Nabi mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, “ Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?” – “Sudah,” jawab Utbah. Nabi membalas ucapan Utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.

Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita.

Ketika Nabi tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji bahwa Nabi akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah sepeninggal Nabi. Selang beberapa waktu, seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi? “ Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu.” Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi berkata pada para sahabat, “ Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah! “ Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, “ Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat akan pergi perang, engkau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini.” Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap membereskan orang itu. Nabi melarangnya. Nabi pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah Nabi. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi keheranan ketika Nabi meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka.

Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi. Nabi berkata, “Lakukanlah!” Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, “Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu! Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah.” Seketika itu juga terdengar ucapan – Allahu Akbar – berkali-kali. sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil Nabi.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia. Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Naudzu billah…..

Nabi Muhammad ketika saat haji Wada, di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, “ Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian? “ Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi melanjutkan, “ Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah…..? “ Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, “ Benar ya Rasul! “

Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, “Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah!.” Nabi meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah.

Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu,

betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu,

betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah;

semua budi pekertinya yang agung,

betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad,

betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami.

Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah

 

[Diambil dari http://abuahsan.blogspot.com%5D

Mengapa Salat Taraweh 20 Rakaat Bukan 8 Rakaat

Apakah Anda Sudah Beribadah Terlalu Banyak ?
Maulana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani
Damaskus 7 Desember 2000

Bismillahir rohmanir rohim

Rasulullah saw bersabda,”Tiga orang yang shalatnya tidak diterima adalah budak yang melarikan diri, wanita yang meninggal ketika suaminya marah kepadanya, dan orang yang memimpin shalat sementara yang mengikutinya tidak menyukainya.”

Ketika saya berkunjung kesuatu tempat, saya mempersilahkan seseorang untuk memimpin shalat, namun saya melihat banyak orang tidak suka kepadanya, dan mereka lebih suka kalau saya yang menjadi Imam, dengan alasan inilah saya memimpin shalat Tarawih dan saya melakukannya dengan cepat.

Mereka banyak yang melakukan shalat Tarawih hanya 8 rakaat. Apakah 20 rakaat terlalu banyak untuk Allah SWT ? Bahkan 20.000 rakaatpun terlalu sedikit untuk Allah swt. Mereka yang melakukan shalat taraweh 8 rakaat mengatakan kepada dirinya sendiri,” Cukup, ini sudah terlalu banyak.” Mereka sudah kelelahan, tetapi mereka masih sanggup menghabiskan waktu didepan TV berjam-jam tanpa kelelahan. Mereka menghabiskan waktu 23 jam untuk ego mereka dan hanya 1 jam mereka habiskan waktu untuk beribadah, bila dijumlahkan seluruh waktu sholat mereka baik siang ataupun malam.

Alasan terakhir mereka yang melakukan shalat 8 rakaat adalah rasa malas. Dan kiasan bagi kaum munafiqun dalam Al-Quran yang suci berbunyi,” Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka bangun dengan malas” (4:142). “Malas dan Enggan” (9:54). Sayyidina Ubaydullah RA mengatakan ,” Siapapun yang merasa lelah dan berhenti, dia bukan salah satu dari kita,”. Kita disini adalah berarti para Pencari (Al Salikun). Ketika mereka merasa lelah , itulah tanda kemalasan. Namun demikian kita melanjutkan jalan menuju Tuhan kita. Seorang hamba harus selalu berada dalam perjalanan menuju Tuhannya LA BUDD MIN AL-SULUK.

Betapa beraninya mereka meninggalkan ijma/konsesus umat yang telah bertahan selama 15 abad mengenai shalat tarawih 20 rakaat, dan sunnah Rasulullah saw mengatakan,”Kalian harus mengikuti sunnahku, dan sunnahku dari kalifah2 yang terbimbing dengan benar setelahku.”. Apakah hadist ini shahih atau tidak?? ( mereka menjawab Shahih). Tetapi ketika mereka melihat orang melakukan shalat 20 rakaat atau menghabiskan waktu lebih banyak dalam beribadah, mereka mengatakan Bid’ah, tetapi mereka tak punya keberatan terhadap waktu menonton TV, bagi mereka ini bukan suatu bid’ah.

Sebuah hadist menyatakan ,” Siapa yang meniru seseorang, dia adalah salah satu dari mereka.”Mereka tidak berhak mengatakan hal itu, ketika Rasulullah saw memerintahkan kita untuk tinggal bersama massa terbesar, Sawad al A’zam. Dan Sawad al A’zam melalukan shalat 20 rakaat sejak 15 abad yang lalu. Berani sekali mereka menentangnya. Bi Hurmatil Habib, bihurmtil Fatiha

Wa min Allah at Tawfiq


Riwayat Salat taraweh 20 Rakaat, Bukan 8 Rakaat

Telah diriwayatkan dari Sayyidah A’isyah ra. bahwa Nabi Muhammad saw. keluar sesudah tengah malam pada bulan Ramadlan dan beliau melakukan shalat di masjid, maka para shahabat melakukan shalat dengan shalat beliau. Lalu pada pagi harinya para shahabat tersebut memperbincangkan shalat mereka dengan Rasulullah saw, sehingga pada malam kedua orang bertambah banyak. Kemudian Nabi saw. melakukan shalat dan orang-orang melakukan shalat dengan shalat beliau.

Pada malam ketiga tatkala orang-orang bertambah banyak sehingga masjid tidak mampu menapung para jama’ah, Rasulullah saw. tidak keluar pada para jama’ah sehingga beliau keluar untuk melakukan shalat shubuh. Dan setelah beliau shalat shubuh, beliau menghadap kepada para jama’ah dan bersabda: “Sesungguhnya tidaklah dikhawatirkan atas kepentingan kalian tadi malam; akan tetapi aku takut apabila shalat malam itu diwajibkan atas kamu sekalian, sehingga kalian tidak mampu melaksanakannya !”.

Kemudian Rasulullah saw. wafat dan keadaan berjalan demikian pada zaman kekhalifahan Abu Bakar dan permulaan kekhalifahan Umar bin Khattab ra. Kemudian Khalifah Umar bin Khattab ra. mengumpulkan orang-orang laki-laki untuk berjama’ah shalat tarawih dengan diimami oleh Ubai bin Ka’ab dan orang-orang perempuan berjama’ah dengan diimami oleh Usman bin Khatsamah. Oleh karena itu Khalifah Usman bin Affan berkata pada masa pemerintahan beliau: “Semoga Allah menerangi kubur Umar sebagaimana Umar telah menerangi masjid-masjid kita”. Yang dikehendaki oleh hadits ini adalah bahwa Nabi saw. keluar dalam dua malam saja.

Menurut pendapat yang masyhur adalah bahwa Rasulullah saw. keluar pada para shahabat untuk melakukan shalat tarawih bersama mereka tiga malam, yaitu tanggal 23, 25 dan 27, dan beliau tidak keluar pada mereka pada malam 29. Sesungguhnya Rasulullah saw tidak tiga malam berturut-turut adalah karena kasihan kepada para shahabat. Dan beliau shalat bersama para shahabat delapan raka’at; tetapi beliau menyempurnakan shalat 20 raka’at di rumah beliau dan para shahabat menyempurnakan shalat di rumah mereka 20 raka’at, dengan bukti bahwa dari mereka itu didengar suara seperti suara lebah. Sesungguhnya Nabi saw. tidak menyempurnakan bersama para shahabat 20 raka’at di masjid adalah karena kasihan kepada mereka.

Dari hadits ini menjadi jelas, bahwa jumlah shalat tarawih yang mereka lakukan itu tidak terbatas hanya delapan raka’at, dengan bukti bahwa mereka menyempurnakannya di rumah-rumah mereka. Sedang pekerjaan Khalifah Umar ra. telah menjelaskan bahwa jumlah raka’atnya adalah duapuluh, pada sa’at Umar ra. mengumpulkan orang-orang di masjid dan para shahabat menyetujuinya serta tidak didapati seorangpun dari orang-orang sesudah beliau dari para Khulafa’ur Rasyidun yang berbeda dengan Umar. Dan mereka terus menerus melakukan shalat tarawih dengan berjama’ah 20 raka’at.

Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. telah bersabda: “Wajib atas kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah dari Al- Khulafa’ur Rasyidun yang telah mendapat petunjuk; dan gigitlah sunnah-sunnah tersebut dengan gigi geraham (berpegang teguhlah kamu sekalian pada sunnah-sunnah tersebut). HR Abu Dawud

Nabi Muhammad saw. juga pernah bersabda sebagai berikut:

“Ikutlah kamu sekalian dengan kedua orang ini sesudah aku mangkat, yaitu Abu Bakar dan Umar”. HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah.

Telah diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab telah memerintahkan Ubai dan Tamim Ad Daari melakukan shalat tarawih bersama orang-orang sebanyak 20 raka’at. Dan Imam Al Baihaqi telah meriwayatkan dengan isnad yang shahih, bahwa mereka melakukan shalat tarawih pada masa pemerintahan Umar bin Khattab 20 raka’at, dan menurut satu riwayat 23 raka’at. Dan pada masa pemerintahan Usman bin Affan juga seperti itu, sehingga menjadi ijma’. Dalam satu riwayat, Ali bin Abi Talib ra. mengimami orang-orang dengan 20 raka’at dan shalat witir dengan tiga raka’at.

Imam Abu Hanifah telah ditanya tentang apa yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra., maka beliau berkata:”Shalat tarawih itu adalah sunnat mu’akkadah. Dan Umar ra. tidaklah menentukan bilangan 20 raka’at tersebut dari kehendaknya sendiri. Dalam hal ini beliau bukanlah orang yang berbuat bid’ah. Dan beliau tidak memerintahkan shalat 20 raka’at, kecuali berasal dari sumber pokoknya yaitu dari Rasulullah saw.”

Khalifah Umar bin Khattab ra. telah membuat sunnah dalam hal shalat tarawih ini dan telah mengumpulkan orang-orang dengan diimami oleh Ubai bin Ka’ab, sehingga Ubai bin Ka’ab melakukan shalat tarawih dengan berjama’ah, sedangkan para shahabat mengikutinya. Di antara para shahabat yang mengikuti pada waktu itu terdapat: Usman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, ‘Abbas dan puteranya, Thalhah, Az Zubair, Mu’adz, Ubai dan para shahabat Muhajirin dan shahabat Ansor lainnya ra. Dan pada waktu itu tidak ada seorangpun dari para shahabat yang menolak atau menentangnya, bahkan mereka membantu dan menyetujuinya serta memerintahkan hal tersebut. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. pernah bersabda: “Para shahabatku adalah bagaikan bintang-bintang di langit. Dengan yang mana saja dari mereka kamu sekalian mengikuti, maka kamu sekalian akan mendapatkan petunjuk”.

[Diambil dari http://abuahsan.blogspot.com%5D

Maulid Nabi Saw Menurut Para Sahabat RA

Dari buku An Nikmatul Kubro
oleh Al Imam ‘Alim Al Alamah Shabuddin Ahmad Ibnu Hajar al Haitami Asy Syafie

Apakah kata-kata Sahabat-sahabat ra dan
tabi’in-tabi’in tentang amalan-amalan Maulid ini.
Untuk itu kita lihat di dalam kitab An Nikmatul Kubro
Alal’Alami yang ditulis oleh Al Imam ‘Alim Al ‘Alamah
Shabuddin Ahmad ibnu Hajar AlHaitami Asy Syafie pada
muka surat 7

Telah berkata Sayidina Abu Bakar As Siddiq ra
Barangsiapa membelanjakan satu dirham atas membaca
Maulidin Nabi SAW, adalah dia sahabatku di dalam
Syurga.”
Saiyidina Umar r.a. pula berkata, “Barangsiapa
membesar-besarkan Maulidin Nabi SAW maka sesungguhnya
dia menghidupkan Islam.”

Saiyidina Usman r.a. menyebut, “Barangsiapa
membelanjakan satu dirham ke atas Maulidin Nabi maka
seolah-olahnya dia telah syahid di dalam peperangan
Badardan Hunain.”
Dan Saiyidina Ali k.w. berkata pula, “Barangsiapa
membesar-besarkan Maulid Nabi SAW, adalah iaitu
sebagai sebab bagi bacaannya itu, dia tidak akan
keluar daripada dunia ini melainkan dengan iman dan
masuk ke syurga tanpa hisab (perhitungan).

Hassan Al Basri r.a. berkata, “Jikalau adalah bagiku
seumpama gunung Uhud emas, nescaya aku akan
membelanjakannya ke atas bacaan Maulid Nabi SAW.”
Junaid Al Baghdadi menyebut pula, “Barangsiapa hadir
di dalam majlis Maulidin Nabi SAW dan
membesar-besarkan nilainya, maka sesungguhnya ia telah
berjaya dengan iman.”

Seterusnya berkata pula Ma’aruf Al Khurkhi,
Barangsiapa mendatangkan makanan bagi tujuan bacaan
maulidin Nabi SAW dan mengumpulkan saudara-saudara dan
menghidupkan pelita dan memakai pakaian baru dan
berwangi-wangian sebagai membesarkan bagi Maulidin
Nabi SAW itu, Allah SWT membangkitkannya di hari
kiamat, di firqah yang pertama bersama Nabi-Nabi. Dan
tempatnya adalah di tempat yang tertinggi.”

Dan telah berkata Fakhruddin Ar Razi, “Barangsiapa
yang membaca Maulid Nabi SAW atas garam, biji-bijian
atau sesuatu yang lain melainkan akan zahir padanya
berkat daripada benda itu.” Selanjutnya, sesiapa yang
memakan makanan tadi, maka Allah SWT menyempurnakan
dan menghilangkan kegelisahan darinya. Dan jika
dibacakan Maulidin Nabi SAW ke atas air, maka sesiapa
yang minum air tersebut telah masuk ke dalam hatinya
seribu cahaya dan rahmat, dan telah keluar daripadanya
seribu kesusahan dan penyakit. Dan tidak mati hati itu
ketika hari matinya hati-hati.” – Fakhruddin Ar Razi
adalah pengarang besar Tafsir Ar Razi.

Al Imam Asy Syafie Rahimahullahu Taala menyatakan,
Barangsiapa berkumpul kerana majlis Maulidin Nabi SAW
dengan mendatangkan makanan dan tempat serta membuat
baik dan jadilah sebagai sebab bacaan itu, Allah SWT
membangkitkannya pada hari kiamat kelak berserta para
siddiqin dan syuhada, para solehin dan adalah dia di
dalam syurga An Na’im.”

As Sariyus Saqatti pula berkata, “Barangsiapa yang
berkehendakkan tempat dibacakan padanya maulidin Nabi
SAW maka sesungguhnya dia berkehendak “raudhah” (taman
daripada taman-taman syurga), kerana sesungguhnya,
tidaklah dia berkehendakkan tempat itu melainkan
cintanya kepada Nabi SAW.”Rasulullah SAW ada bersabda
yang berbunyi ; “Barangsiapa mencintaiku, adalah dia
bersama-samaku di dalam syurga.”

Al Fadhil Jalaluddin Abdur Rahman Abu Bakar As Sayuti
berkata juga, “Dan telah bercahaya-cahaya kubur
siapa-siapa yang membaca Maulid Nabi SAW.” Kitab Al
Wasail Fis Syarhi Syamail juga ada menyebut, “Tidaklah
satu tempat dibacakan Maulid Nabi SAW melainkan
dipenuhi oleh para malaikat di tempat itu dan
malaikat-malaikat telah berselawat atas orang-orang
yang ada di tempat tersebut. Dan Allah SWT juga telah
memberikan rahmat dan keredhaan-Nya. Dan yang
memberikan cahaya itu ialah malaikat Jibrail,Mikail,
Israfil dan Izrael. Maka sesungguhnya mereka itulah
yang menselawatkan ke atas orang-orang yang membacakan
maulid Nabi SAW itu.”

Kata Imam As Sayuti lagi, “Tidak adalah daripada
muslim itu membaca Maulidin Nabi SAW itu di dalam
rumahnya melainkan Allah SWT angkat kemarau wabak,
kebakaran, karam, kebinasaan, kecelakaan, kebencian,
hasad dan pendengaran yang jahat dan pencuri daripada
ahli-ahli rumah itu. Maka apabila mati, Allah SWT
memudahkan ke atasnya menjawab soalan-soalan dari
Munkar dan Nakir.

Dan adalah dia ditempatkan di dalam tempat para
siddiqin dan di sisi raja-raja yang berkuasa. Maka
barangsiapa hendak membesarkan Maulidin Nabi SAW
memadai akannya dengan kadar ini. Dan barangsiapa
tidak membesarkan Maulid Nabi SAW, jikalau engkau
telah memenuhi baginya dunia ini bagi memujinya, maka
hatinya tidak digerakkan untuk mencintai Nabi SAW.”

Tidak syak lagi bahawasanya Maulid ini adalah
merupakan amalan yang mulia dan terpuji. Amalan yang
bernilai di dunia dan akhirat. Sebab itulah ia menjadi
amalan pewaris-pewaris agama (yakni ulama-ulama) yang
benar-benar cintakan Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Wa min Allah at tawfiq

Kisah Wanita Yang Selalu Berbicara Dengan Bahasa Al-Qur’an

Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta’ala :
Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke
makam Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Ketika saya berada disuatu
sudut jalan, tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat
dari bulu. Ia adalah seorang ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak
seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa
saat.

Dalam dialog tersebut wanita tua itu , setiap kali menjawab pertanyaan
Abdulah bin Mubarak, dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an.
Walaupun jawabannya tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena
tidak terlepas dari konteks pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Abdullah : “Assalamu’alaikum warahma wabarakaatuh. “
Wanita tua : “Salaamun qoulan min robbi rohiim.” (QS. Yaasin : 58) (artinya
: “Salam sebagai ucapan dari Tuhan Maha Kasih”)

Abdullah : “Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini?”
Wanita tua : “Wa man yudhlilillahu fa la hadiyalahu.” (QS : Al-A’raf : 186 )
(“Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya”)

Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan.

Abdullah : “Kemana anda hendak pergi?”
Wanita tua : “Subhanalladzi asra bi ‘abdihi lailan minal masjidil haraami
ilal masjidil aqsa.” (QS. Al-Isra’ : 1) (“Maha suci Allah yang telah
menjalankan hambanya di waktu malam dari masjid haram ke masjid aqsa”)

Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan
hendak menuju ke masjidil Aqsa.

Abdullah : “Sudah berapa lama anda berada di sini?”
Wanita tua : “Tsalatsa layaalin sawiyya” (QS. Maryam : 10) (“Selama tiga
malam dalam keadaan sehat”)

Abdullah : “Apa yang anda makan selama dalam perjalanan?”
Wanita tua : “Huwa yut’imuni wa yasqiin.” (QS. As-syu’ara’ : 79) (“Dialah
pemberi aku makan dan minum”)

Abdullah : “Dengan apa anda melakukan wudhu?”
Wanita tua : “Fa in lam tajidu maa-an fatayammamu sha’idan thoyyiban” (QS.
Al-Maidah : 6) (“Bila tidak ada air bertayamum dengan tanah yang bersih”)

Abdulah : “Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya? “
Wanita tua : “Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil.” (QS. Al-Baqarah : 187)
(“Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam”)

Abdullah : “Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa?”
Wanita tua : “Wa man tathawwa’a khairon fa innallaaha syaakirun ‘aliim.”
(QS. Al-Baqarah : 158) (“Barang siapa melakukan sunnah lebih baik”)

Abdullah : “Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir?”
Wanita tua : “Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta’lamuun.” (QS.
Al-Baqarah : 184) (“Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu
mengetahui”)

Abdullah : “Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya?”
Wanita tua : “Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiibun ‘atiid.” (QS.
Qaf : 18) (“Tiada satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib
Atid”)

Abdullah : “Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap
seperti itu?”
Wanita tua : “Wa la taqfu ma laisa bihi ilmun. Inna sam’a wal bashoro wal
fuaada, kullu ulaaika kaana ‘anhu mas’ula.” (QS. Al-Isra’ : 36) (“Jangan
kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan
hati, semua akan dipertanggung jawabkan”)

Abdullah : “Saya telah berbuat salah, maafkan saya.”
Wanita tua : “Laa tastriiba ‘alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum.”
(QS.Yusuf : 92) (“Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah
mengampuni kamu”)

Abdullah : “Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk
melanjutkan perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan.”
Wanita tua : “Wa maa taf’alu min khoirin ya’lamhullah. ” (QS Al-Baqoroh :
197) (“Barang siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya” )

Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata :
Wanita tua : “Qul lil mu’miniina yaghdudhu min abshoorihim. ” (QS. An-Nur :
30) (“Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka”)

Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia
mengendarai untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena
unta itu terlalu tinggi baginya. Wanita itu berucap lagi.

Wanita tua : “Wa maa ashobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum.”
(QS. Asy-Syura’ 30) (“Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu
sendiri”)

Abdullah : “Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu.”
Wanita tua : “Fa fahhamnaaha sulaiman.” (QS. Anbiya’ 79) (“Maka kami telah
memberi pemahaman pada nabi Sulaiman”)

Selesai mengikat unta itu sayapun mempersilahkan wanita tua itu naik.

Abdullah : “Silahkan naik sekarang.”
Wanita tua : “Subhaanalladzi sakhkhoro lana hadza wa ma kunna lahu
muqriniin, wa inna ila robbinaa munqolibuun. ” (QS. Az-Zukhruf : 13-14)
(“Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini pada kami sebelumnya
tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali pada tuhan kami”)

Sayapun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat
kencang. Wanita tua itu berkata lagi.
Wanita tua : “Waqshid fi masyika waghdud min shoutik” (QS. Lukman : 19)
(“Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu”)

Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair,
Wanita tua itu berucap.
Wanita tua : “Faqraa-u maa tayassara minal qur’aan” (QS. Al- Muzammil : 20)
(“Bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur’an”)

Abdullah : “Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak.”
Wanita tua : “Wa maa yadzdzakkaru illa uulul albaab.” (QS Al-Baqoroh : 269)
(“Dan tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu”)

Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya.

Abdullah : “Apakah anda mempunyai suami?”
Wanita tua : “Laa tas-alu ‘an asy ya-a in tubda lakum tasu’kum” (QS.
Al-Maidah : 101) (“Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan
menyusahkanmu” )

Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya kepadanya.

Abdullah : “Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?”
Wanita tua : “Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya.” (QS. Al-Kahfi :
46) (“Adapun harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia”)

Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak.

Abdullah : “Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?”
Wanita tua : “Wa alaamatin wabin najmi hum yahtaduun” (QS. An-Nahl : 16)
(“Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk”)

Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah
haji mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama wanita tua ini saya
menuju perkemahan.

Abdullah : “Adakah orang yang akan kenal atau keluarga dalam kemah ini?”
Wanita tua : “Wattakhodzallahu ibrohima khalilan” (QS. An-Nisa’ : 125)
(“Kami jadikan Ibrahim itu sebagai yang dikasihi”) “Wakallamahu musa
takliima” (QS. An-Nisa’ : 146) (“Dan Allah berkata-kata kepada Musa”) “Ya
yahya khudil kitaaba biquwwah” (QS. Maryam : 12) (“Wahai Yahya pelajarilah
alkitab itu sungguh-sungguh” )

Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah
anak-anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti
bulan yang baru muncul. Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang
maka berkatalah wanita itu.

Wanita tua : “Fab’atsu ahadaku bi warikikum hadzihi ilal madiinati
falyandzur ayyuha azkaa tho’aaman fal ya’tikum bi rizkin minhu.” (QS.
Al-Kahfi : 19) (“Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan
membawa uang perak ini, dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa
makanan itu untukmu”)

Maka salah seorang dari tiga anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu
menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata :

Wanita tua : “Kuluu wasyrobuu hanii’an bima aslaftum fil ayyamil kholiyah”
(QS. Al-Haqqah : 24) (“Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal
yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu”)

Abdullah : “Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya
sebelum kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya.”

Ketiga anak muda ini secara serempak berkata :

“Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun beliau hanya
berbicara mempergunakan ayat-ayat Al-Qur’an, hanya karena khawatir salah
bicara.”

Maha suci zat yang maha kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakinya. Akhirnya
saya pun berucap :

“Fadhluhu yu’tihi man yasyaa’ Wallaahu dzul fadhlil adhiim.” (QS. Al-Hadid :
21) (“Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah
adalah pemberi karunia yang besar”)

[Disarikan oleh: DHB Wicaksono, dari kitab Misi Suci Para Sufi, Sayyid
Abubakar bin Muhammad Syatha, hal. 161-168] dari Situs Al-Muhajir]

« Entri lama Entri Lebih Baru »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.