Sesatnya Salafi, Wahabi dan Khawarij

Membaca Sesatnya Salafi, Wahabi dan Khawarij
Oleh: Mukhtar Luthfi

Dalam melihat faktor kemunculan pemikiran untuk kembali kepada pendapat Salaf menurut Imam Ahmad bin Hanbal dapat diperhatikan dari kekacauan pada zaman itu. Sejarah membuktikan, saat itu, dari satu sisi, kemunculan pemikiran liberalisme yang diboyong oleh pengikut Muktazilah, yang meyakini keikutsertaan dan kebebasan akal secara ekstrem serta radikal dalam proses memahami agama. Sedang di sisi lain, munculnya pemikiran filsafat yang banyak diadopsi dari budaya luar agama, menyebabkan munculnya rasa putus asa dari beberapa kelompok ulama Islam, termasuk Ahmad bin Hanbal. Untuk lari dari pemikiran-pemikiran semacam itu, lantas Ahmad bin Hanbal memutuskan untuk kembali kepada metode para Salaf dalam memahami agama, yaitu dengan cara tekstual.Akhir-akhir ini, di Tanah Air kita muncul banyak sekali kelompok-kelompok pengajian dan studi keislaman yang mengidentitaskan diri mereka sebagai pengikut dan penyebar ajaran para Salaf Saleh.Mereka sering mengatasnamakan diri mereka sebagai kelompok Salafi. Dengan didukung dana yang teramat besar dari negara donor, yang tidak lain adalah negara asal kelompok ini muncul, mereka menyebarkan akidah-akidah yang bertentangan dengan ajaran murni keislaman baik yang berlandaskan al-Quran, hadis, sirah dan konsensus para salaf maupun khalaf.Dengan menggunakan ayat-ayat dan hadis yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir, zindiq dan munafiq, mereka ubah tujuan teks-teks tersebut untuk menghantam para kaum muslimin yang tidak sepaham dengan akidah mereka. Mereka beranggapan, bahwa hanya akidah mereka saja yang mengajarkan ajaran murni monoteisme dalam tubuh Islam, sementara ajaran selainnya, masih bercampur syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul yang harus dijauhi, karena sesat dan menyesatkan. Untuk itu, dalam makalah ringkas ini akan disinggung selintas tentang apa dan siapa mereka. Sehingga dengan begitu akan tersingkap kedok mereka selama ini, yang mengaku sebagai bagian dari Ahlusunnah dan penghidup ajaran Salaf Saleh.

Definisi Salafi jika dilihat dari sisi bahasa, Salaf berarti yang telah lalu.2 Sedang dari sisi istilah, salaf diterapkan untuk para sahabat Nabi, tabi’in dan tabi’ tabi’in yang hidup di abad-abad permulaan kemunculan Islam.3 Jadi, salafi adalah kelompok yang ‘mengaku’ sebagai pengikut pemuka agama yang hidup di masa lalu dari kalangan para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Baik yang berkaitan dengan akidah, syariat dan prilaku keagamaan.4 Bahkan sebagian menambahkan bahwa Salaf mencakup para Imam Mazhab, sehingga salafi adalah tergolong pengikut mereka dari sisi semua keyakinan keagamaannya.5 Muhammad Abu Zuhrah menyatakan bahwa Salafi adalah kelompok yang muncul pada abad keempat hijriyah, yang mengikuti Imam Ahmad bin Hanbal. Kemudian pada abad ketujuh hijriyah dihidupkan kembali oleh Ibnu Taimiyah.6Pada hakikatnya, kelompok yang mengaku sebagai salafi, yang dapat kita temui di Tanah Air sekarang ini, mereka adalah golongan Wahabi yang telah diekspor oleh pemuka-pemukanya dari dataran Saudi Arabia.Dikarenakan istilah Wahabi begitu berkesan negatif, maka mereka mengatasnamakan diri mereka dengan istilah Salafi, terkhusus sewaktu ajaran tersebut diekspor keluar Saudi. Kesan negatif dari sebutan Wahabi buat kelompok itu bisa ditinjau dari beberapa hal, salah satunya adalah dikarenakan sejarah kemunculannya banyak dipenuhi dengan pertumpahan darah kaum muslimin, terkhusus pasca kemenangan keluarga Saud—yang membonceng seorang rohaniawan menyimpang bernama Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi—atas semua kabilah di jazirah Arab atas dukungan kolonialisme Inggris. Akhirnya keluarga Saud mampu berkuasa dan menamakan negaranya dengan nama keluarga tersebut. Inggris pun akhirnya dapat menghilangkan dahaga negaranya dengan menyedot sebagian kekayaan negara itu, terkhusus minyakbumi. Sedang pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, resmi menjadi akidah negara tadi yang tidak bisa diganggu gugat. Selain menindak tegas penentang akidah tersebut, Muhammad bin Abdul Wahab juga terus melancarkan aksi ekspansinya ke segenap wilayah-wilayah lain di luar wilayah Saudi.Sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf, salah satu ulama Ahlusunnah yang sangat getol mempertahankan serangan dan ekspansi kelompok wahabisme ke negara-negara muslim, dalam salah satu karyanya yang berjudul “as-Salafiyah al-Wahabiyah” menyatakan: “Tidak ada perbedaan antara salafiyah dan wahabiyah. Kedua istilah itu ibarat dua sisi pada sekeping mata uang. Mereka (kaum salafi dan wahabi) satu dari sisi keyakinan dan pemikiran. Sewaktu di Jazirah Arab mereka lebih dikenal dengan al-Wahhabiyah al-Hanbaliyah. Namun, sewaktu diekspor keluar (Saudi), mereka mengatasnamakan dirinya sebagai Salafy.” Sayyid as-Saqqaf menambahkan: “Maka kelompok salafi adalah kelompok yang mengikuti Ibnu Taimiyah dan mengikuti ulama mazhab Hanbali. Mereka semua telah menjadikan Ibnu Taimiyah sebagai imam, tempat rujukan (marja’), dan ketua. Ia (Ibnu Taimiyah) tergolong ulama mazhab Hanbali. Sewaktu mazhab ini berada di luar Jazirah Arab, maka tidak disebut dengan Wahabi, karena sebutan itu terkesancelaan.”

Dalam menyinggung masalah para pemuka kelompok itu, kembali Sayyid as-Saqqaf mengatakan: “Pada hakikatnya, Wahabiyah terlahir dari Salafiyah. Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang yang menyeru untuk mengikuti ajaran Ibnu Taimiyah dan para pendahulunya dari mazhab Hanbali, yang mereka kemudian mengaku sebagai kelompok Salafiyah.” Dalam menjelaskan secara global tentang ajaran dan keyakinan mereka, as-Saqqaf mengatakan: “Al-Wahabiyah atau as-Salafiyah adalah pengikut mazhab Hanbali, walaupun dari beberapa hal pendapat mereka tidak sesuai lagi (dan bahkan bertentangan) dengan pendapat mazhab Hanbali sendiri. Mereka sesuai (dengan mazhab Hanbali) dari sisi keyakinan tentang at-Tasybih (Menyamakan Allah dengan makhluk-Nya), at-Tajsim (Allah berbentuk mirip manusia), dan an-Nashb yaitu membenci keluarga Rasul saw. (Ahlul-Bait) dan tiada menghormati mereka.”8Jadi, menurut as-Saqqaf, kelompok yang mengaku Salafi adalah kelompok Wahabi yang memiliki sifat Nashibi(pembenci keluarga Nabi saw.), mengikuti pelopornya, Ibnu Taimiyah.Pelopor Pemikiran “Kembali ke Metode Ajaran Salaf”Ahmad bin Hanbal adalah sosok pemuka hadis yang memiliki karya terkenal, yaitu kitab “Musnad”. Selain sebagai pendiri mazhab Hanbali, ia juga sebagai pribadi yang menggalakkan ajaran kembali kepada pemikiran Salaf Saleh. Secara umum, metode yang dipakai oleh Ahmad bin Hanbal dalam pemikiran akidah dan hukum fikih, adalah menggunakan metode tekstual. Oleh karenanya, ia sangat keras sekali dalam menentang keikutsertaan dan penggunaan akal dalam memahami ajaran agama.Ia beranggapan, kemunculan pemikiran logika, filsafat, ilmu kalam (teologi) dan ajaran-ajaran lain—yang dianggap ajaran di luar Islam yang kemudian diadopsi oleh sebagian muslim—akan membahayakan nasib teks-teks agama.Dari situ akhirnya ia menyerukan untuk berpegang teguh terhadap teks, dan mengingkari secara total penggunaan akal dalam memahami agama, termasuk proses takwil rasional terhadap teks. Ia beranggapan, bahwa metode itulah yang dipakai Salaf Saleh dalam memahami agama, dan metode tersebut tidak bisa diganggu gugat kebenaran dan legalitasnya. Syahrastani yang bermazhab ‘Asyariyah dalam kitab “al-Milal wa an-Nihal” sewaktu menukil ungkapan Ahmad bin Hanbal yang menyatakan: “Kita telah meriwayatkan (hadis) sebagaimana adanya, dan hal (sebagaimana adanya) itu pula yang kita yakini.”9 Konsekuensi dari ungkapan Ahmad bin Hanbal di atas itulah, akhirnya ia beserta banyak pengikutnya—termasuk Ibnu Taimiyah—terjerumus ke dalam jurang kejumudan dan kaku dalam memahami teks agama.

Salah satu dampak konkret dari metode di atas tadi adalah, keyakinan akan tajsim (anthropomorphisme) dan tasybih dalam konsep ketuhanan, lebih lagi kelompok Salafi kontemporer, pendukung ajaran Ibnu Taimiyahal-Harrani yang kemudian tampuk kepemimpinannya dilanjutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi.Suatu saat, datang seseorang kepada Ahmad bin Hanbal. Lantas, ia bertanya tentang beberapa hadis. Hingga akhirnya, pertanyaan sampai pada hadis-hadis semisal: “Tuhan pada setiap malam turun ke langit Dunia.”, “Tuhan bisa dilihat.”, “Tuhan meletakkan kaki-Nya ke dalam Neraka.” dan hadis-hadis semisalnya. Lantas ia (Ahmad bin Hanbal) menjawab: “Kita meyakini semua hadis-hadis tersebut. Kita membenarkan semua hadis tadi, tanpa perlu terhadap proses pentakwilan.”10Jelas metode semacam ini tidak sesuai dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah itu sendiri. Jika diperhatikan lebih dalam lagi, betapa al-Quran dalam ayat-ayatnya sangat menekankan penggunaan akal dan pikiran dalam bertindak.11Begitu juga hadis-hadis Nabi saw. Selain itu, pengingkaran secara mutlak campur tangan akal dan pikiran manusia dalam memahami ajaran agama akan mengakibatkan kesesatan dan bertentangan dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah itu sendiri. Dapat kita contohkan secara singkat penyimpangan yang terjadi akibat penerapan konsep tadi. Jika terdapat ayat semisal “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arasy.”12 atau seperti hadis yang menyatakan “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada setiap malam.”13 Lantas, di sisi lain kita tidak boleh menggunakan akal dalam memahaminya, bahkan cukup menerima teks sebagaimana adanya, maka kita akan terbentur dengan ayat lain dalam al-Quran seperti ayat “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.”14 Apakahayat dari surat Thoha tadi berartikan bahwa Allah bertengger di atas singgasana Arasy sebagaimana Ibnu Taimiyah duduk di atas mimbar, atau turun ke langit dunia sebagaimana Ibnu Taimiyah turun dari atas mimbarnya, yang itu semua berarti bertentangan dengan ayat dari surat as-Syuura di atas.Jadi akan terjadi kontradiksi dalam memahami hakikat ajaran agama Islam. Mungkinkah Islam sebagai agama paripurna akan terdapat kontradiksi? Semua kaum muslim pasti akan menjawabnya dengan negatif, apalagi berkaitan dengan al-Quran sebagai sumber utama ajaran Islam.Melihat kelemahan metode dasar yang ditawarkan oleh Ahmad bin Hanbal semacam ini, meniscayakan adanya pengeroposan ajaran-ajaran yang bertumpu pada metode tadi. Dalam masalah ini, kembali as-Sahrastani mengatakan: “Berbagai individu dari Salaf telah menetapkan sifat azali Tuhan, semisal; sifat Ilmu, Kemampuan (Qudrat) … dan mereka tidak membedakan antara sifat Dzati dan Fi’li. Sebagaimana mereka juga telah menetapkan sifat khabariyah buat Tuhan, seperti; dua tangan dan wajah Tuhan. Mereka tidak bersedia mentakwilnya, dan mengatakan: itu semua adalah sifat-sifat yang terdapat dalam teks-teks agama.

Semua itu kita sebut sebagai sifat khabariyah.” Dalam kelanjutan dari penjelasan mengenai kelompok Salafi tadi, kembali as-Sahrastani mengatakan: “Para kelompok Salafi kontemporer meyakini lebih dari para kelompok Salaf itu sendiri. Mereka menyatakan, sifat-sifat khabari bukan hanya tidak boleh ditakwil, namun harus dimaknai secara zahir. Oleh karenanya, dari sisi ini, merekatelah terjerumus ke dalam murni keyakinan tasybih. Tentu, permasalahan semacam ini bertentangan dengan apa yang diyakini oleh para salaf itu sendiri.”15 Jadi sesuai dengan ungkapan Syahrastani, bahwa mayoritas para pengikut kelompok Salafi kontemporer telah menyimpang dari keyakinan para Salaf itu sendiri. Itu jika kita telaah secara global tentang konsep memahami teks. Akibatnya, mereka akan terjerumus kepada kesalahan fatal dalam mengenal Tuhan, juga dalam permasalahan-permasalahan lainnya. Padahal, masih banyak lagi permasalahan-permasalahan lain yang jelas-jelas para Salaf meyakininya, sedang pengaku pengikut salaf kontemporer (salafi) justru mengharamkan dengan alasan syirik, bidah, ataupun khurafat. Perlu ada tulisan tersendiri tentang hal-hal tadi, dengan disertai kritisi pendapat dan argumentasi para pendukung kelompok Wahabisme.16Itulah yang menjadi alasan bahwa para pengikut Salafi (kontemporer) itu sudah banyak menyimpang dari ajaran para Salaf itu sendiri,termasuk sebagian ajaran imam Ahmad bin Hanbal sendiri.17Faktor Munculnya Kelompok SalafiDalam melihat faktor kemunculan pemikiran untuk kembali kepada pendapat Salaf menurut Imam Ahmad bin Hanbal dapat diperhatikan dari kekacauan pada zaman itu. Sejarah membuktikan, saat itu, dari satu sisi, kemunculan pemikiran liberalisme yang diboyong oleh pengikut Muktazilah, yang meyakini keikutsertaan dan kebebasan akal secara ekstrem dan radikal dalam proses memahami agama. Sedang di sisi lain, munculnya pemikiran filsafat yang banyak diadopsi dari budaya luar agama, menyebabkan munculnya rasa putus asa dari beberapa kelompok ulama Islam, termasuk Ahmad bin Hanbal. Untuk lari dari pemikiran-pemikiran semacam itu, lantas Ahmad bin Hanbal memutuskan untuk kembali kepada metode para Salaf dalam memahami agama, yaitu dengan cara tekstual.Syeikh Abdul Aziz ‘Izzuddin as-Sirwani dalam menjelaskan faktor kemunculan pemikiran kembali kepada metode Salaf, mengatakan: “Dikatakan bahwa penyebab utama untuk memegang erat metode itu—yang sangat nampak pada pribadi Ahmad bin Hanbal—adalah dikarenakan pada zamannya banyak sekali dijumpai fitnah-fitnah, pertikaian dan perdebatan teologis. Dari sisi lain, berbagai pemikiran aneh, keyakinan-keyakinan yang bermacam-macam dan beraneka ragam budaya mulai bermunculan. Bagaimana mungkin semua itu bisa muncul di khasanah keilmuan Islam. Oleh karenanya, untuk menyelamatkan keyakinan-keyakinan Islam, maka ia menggunakan metode kembali ke pemikiran Salaf.”18 Hal semacam itu pula yang dinyatakan oleh as-Syahrastani dalam kitab al-Milal wa an-Nihal.Fenomena semacam ini juga bisa kita perhatikan dalam sejarah hidup Abu Hasan al-Asy’ari pendiri mazhab al-Asyariyah. Setelah ia mengumumkan diri keluar dari ajaran Muktazilah yang selama ini ia dapati dari ayah angkatnya, Abu Ali al-Juba’i seorang tokoh Muktazilah di zamannya.

Al-Asy’ari dalam karyanya yang berjudul “al-Ibanah” dengan sangat jelas menggunakan metode mirip yang digunakan oleh Ahmad bin Hanbal. Namun karena ia melihat bahwa metode semacam itu terlampau lemah, maka ia agak sedikit berganti haluan dengan mengakui otoritas akal dalam memahami ajaran agama, walau dengan batasan yang sangat sempit. Oleh karenanya, dalam karya lain yang diberi judul “al-Luma’” nampak sekali betapa ia masih mengakui campur tangan dan keturutsertaan akal dalam memahami ajaran agama, berbeda dengan metode Ahmad bin Hanbal yang menolak total keikutsertaan akal dalam masalah itu. Dikarenakan al-Asy’ari hidup di pusat kebudayaan Islam kala itu, yaitu kota Baghdad, maka sebutanAhlusunnah pun akhirnya diidentikkan dengan mazhabnya. Sedang mazhab Thohawiyah dan Maturidiyah yang kemunculannya hampir bersamaan dengan mazhab Asyariyah dan memiliki kemiripan dengannya, menjadi kalah pamor di mata mayoritas kaum muslimin, apalagi ajaran Ahmad bin Hanbal sudah tidak lagi dilirik oleh kebanyakan kaum muslimin. Lebih-lebih pada masa kejayaan Ahlusunnah, kemunculan kelompok Salafi kontemporer yang dipelopori oleh Ibnu Taimiyah yang sebagai sempalan dari mazhab ImamAhmad bin Hanbal, pun tidak luput dari ketidaksimpatian kelompok mayoritas Ahlusunnah. Ditambah lagi dengan penyimpangan terhadap akidah Salaf yang dilakukan Salafi kontemporer (pengikut Ibnu Taimiyah)—yang dikomandoi oleh Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi—serta tindakan arogan yang dilancarkan para pengikut Salafi tersebut terhadap kelompok lain yang dianggap tidak sependapat dengan pemikiran mereka.Kecurangan Kelompok SalafiSetiap golongan bukan hanya berusaha untuk selalu mempertahankan kelangsungan golongannya, namun mereka juga berusaha untuk menyebarkan ajarannya. Itu merupakan suatu hal yang wajar. Akan tetapi, tingkat kewajarannya bukan hanya bisa dinilai dari sisi itu saja, namun juga harus dilihat dari cara dan sarana yang dipakai untuk mempertahankan kelangsungan dan penyebaran ajaran golongan itu. Dari sisi ini, kelompok Salafi banyak melakukan beberapa kecurangan yang belum banyak diketahui oleh kelompok muslim lainnya.Selain kelompok Ahlusunnah biasa, kelompok Ahli Tasawwuf dari kalangan Ahlusunnah dan kelompok Syiah (di luar Ahlusunnah) merupakan kelompok-kelompok di luar Wahabi (Salafi) yang sangat gencar diserang oleh kelompok Salafi. Kelompok Salafi tidak segan-segan melakukan hal-hal yang tidak ‘gentle’ dalam menghadapi kelompok-kelompok selain Salafi, terkhusus Syiah. Menuduh kelompok lain dari saudara-saudaranya sesama muslim sebagai ahli bid’ah, ahli khurafat, musyrikadalah kebiasaan buruk kaum Salafi, walaupun kelompok tadi tergolong Ahlusunnah. Di sisi lain, mereka sendiri terus berusaha untuk disebut dan masuk kategori kelompok Ahlusunnah. Berangkat dari sini, kaum Salafi selalu mempropagandakan bahwa Syiah adalah satu kelompok yang keluar dari Islam, dan sangat berbeda dengan pengikut Ahlusunnah. Mereka benci dengan usaha-usaha pendekatan dan persatuan Sunnah-Syiah, apalagi melalui forum dialog ilmiah. Mereka berpikir bahwa dengan mengafirkan kelompok Syiah, maka mereka akan dengan mudah duduk bersama dengan kelompok Ahlusunnah.

Padahal realitanya tidaklah semacam itu. Karena mereka selalu menuduh kelompok Ahlusunnah sebagai pelaku Bid’ah, Khurafat, Takhayul dan Syirik. Mereka berpikir, sewaktu seorang pengikut Ahlusunnah melakukan ziarah kubur, tahlil, membaca salawat dan pujian terhadap Nabi, istighotsah, bertawassul dan mengambil berkah (tabarruk) berarti ia telah masuk kategori pelaku syirik atau ahli bid’ah yang telah jelaskonsekuensi hukumnya dalam ajaran Islam.Cara itu juga yang mereka lakukan terhadap para pengikut tasawuf dan tarekat yang banyak ditemui dalam tubuh Ahlusunnah sendiri, khususnya di Indonesia.Segala bentuk makar dan kebohongan untuk menghadapi rival akidahnya merupakan hal mubah di mata pengikut Salafi (Wahabi), karena kelompok Salafi masih terus beranggapan bahwa selain kelompoknya masih dapat dikategorikan pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Perlakuan mereka terhadap kaum muslimin pada musim haji merupakan bukti yang tidak dapat diingkari.Yang lebih parah dari itu, para pendukung kelompok Salafi—yang didukung dana begitu besar—berani melakukan perubahan pada kitab-kitab standar Ahlusunnah, demi untuk menguatkan ajaran mereka, yang dengan jelas tidak memiliki akar sejarah dan argumentasi (tekstual dan rasional) yang kuat. Dengan melobi para pemilik percetakan buku-buku klasik agama yang menjadi standar ajaran—termasuk kitab-kitab hadis dan tafsir—mereka berani mengeluarkan dana yang sangat besar untuk mengubah beberapa teks (hadis ataupun ungkapan para ulama) yang dianggap merugikan kelompok mereka.Kita ambil contoh apa yang diungkapkan oleh Syeikh Muhammad Nuri ad-Dirtsawi, beliau mengatakan: “Mengubah dan menghapus hadis-hadis merupakan kebiasaan buruk kelompok Wahabi. Sebagai contoh, Nukman al-Alusi telah mengubah tafsir yang ditulis oleh ayahnya, Syeikh Mahmud al-Alusi yang berjudul Ruh al-Ma’ani. Semua pembahasan yang membahayakan kelompok Wahabi telah dihapus. Jika tidak ada perubahan, niscaya tafsirbeliau menjadi contoh buat kitab-kitab tafsir lainnya. Contoh lain, dalam kitab al-Mughni karya Ibnu Qodamah al-Hanbali, pembahasan tentang istighotsah telah dihapus, karena hal itu mereka anggap sebagai bagian dari perbuatan Syirik. Setelah melakukan perubahan tersebut, baru mereka mencetaknya kembali.Kitab Syarah Shahih Muslim pun (telah diubah) dengan membuang hadis-hadis yang berkaitan dengan sifat-sifat (Allah), kemudian baru mereka mencetaknya kembali.”20Namun sayang, banyak saudara-saudara dari Ahlusunnah lalai dengan apa yang mereka lakukan selama ini. Perubahan-perubahan semacam itu, terkhusus mereka lakukan pada hadis-hadis yang berkaitan dengan keutamaan keluarga (Ahlul-Bait) Nabi saw. Padahal, salah satu sisi kesamaan antara Sunni-Syiah adalah pemberian penghormatan khusus terhadap keluarga Nabi. Dari sinilah akhirnya pribadi seperti Sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf menyatakan bahwa mereka tergolong kelompok Nashibi (pembenci keluarga Rasul).Dalam kitab tafsir Jami’ al-Bayan, sewaktu menafsirkan ayat 214 dari surat as-Syu’ara: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabat-mu yang terdekat,” di situ, Rasulullah mengeluarkan pernyataan berupa satu hadis yang berkaitan dengan permulaan dakwah.

Pada hadis yang tercantum dalam kitab tafsir tersebut disebutkan, Rasul bersabda: “Siapakah di antara kalian yang mau menjadi wazir dan membantuku dalam perkara ini—risalah—maka akan menjadi saudaraku…(kadza…wa…kadza)….” Padahal, jika kita membuka apa yang tercantum dalam Tarikh at-Thabari kata “kadza wa kadza” (yang dalam penulisan buku berbahasa Indonesia, biasa digunakan titik-titik) sebagai ganti dari sabda Rasul yang berbunyi: “Washi (pengganti) dan Khalifahku.” Begitu pula hadis-hadis semisal, “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya,” yang dulu tercantum dalam kitab Jaami’ al-Ushul karya Ibnu Atsir, kitab Tarikh al-Khulafa’ karya as-Suyuthi dan as-Showa’iq al-Muhriqoh karya Ibnu Hajar yang beliaunukil dari Shahih at-Turmudzi, kini telah mereka hapus. Melakukan peringkasan kitab-kitab standar, juga sebagai salah satu trik mereka untuk tujuan yang sama.Dan masih banyak usaha-usaha licik lain yang mereka lancarkan, demi mempertahankan ajaran mereka, terkhusus ajaran kebencian terhadap keluarga Nabi. Sementara sudah menjadi kesepakatan kaum muslimin, bahwa mencintai keluarga Nabi adalah suatu kewajiban, sebagaimana Syair yang pernah dibawakan oleh imam Syafi’i:“Jika mencintai keluarga Muhammad adalah Rafidhi (Syiah), maka saksikanlah wahai ats-Tsaqolaan (jin dan manusia) bahwa aku adalah Rafidhi.”21Salafi (Wahabi) dan KhawarijTidak berlebihan kiranya jika sebagian orang beranggapan bahwa kaum Wahabi (Salafi) memiliki banyak kemiripan dengan kelompok Khawarij. Melihat, dari sejarah yang pernah ada, kelompok Khawarij adalah kelompok yang sangat mirip sepak terjang dan pemikirannya dengan kelompok Wahabi.Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa kelompok Wahabi adalah pengejawantahan kelompok Khawarij di masa sekarang ini. Di sini, secara singkat bisa disebutkan beberapa sisi kesamaan antara kelompok Wahabi dengan golongan Khawarij yang dicela melalui lisan suci Rasulullah saw., di mana Rasul memberi julukan golongan sesat itu (Khawarij) dengan sebutan “mariqiin”, yang berarti ‘lepas’ dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya.22Paling tidak ada enam kesamaan antara dua golongan ini yang bisa disebutkan. Pertama, sebagaimana kelompok Khawarij dengan mudah menuduh seorang muslim dengan sebutan kafir, kelompok Wahabi pun sangat mudah menuduh seorang muslim sebagai pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Yang semua itu adalah ‘kata halus’ dari pengkafiran, walaupun dalam beberapa hal memiliki kesamaan dari konsekuensi hukumnya. Abdullah bin Umar dalam menyifati kelompok Khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir, lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman.”23 Ciri-ciri semacam itu juga akan dengan mudah kita dapati pada pengikut kelompok Salafi (Wahabi) berkaitan dengan saudara-saudaranya sesama muslim.

Bisa dilihat, betapa mudahnya para rohaniawan Wahabi (muthowi’) menuduh para jamaah haji sebagai pelaku syirik dan bid’ah dalam melakukan amalan yang dianggap tidak sesuai dengan akidah mereka.Kedua, sebagaimana kelompok Khawarij disifati sebagaimana yang tercantum dalam hadis Nabi: “Mereka membunuh pemeluk Islam, sedang para penyembah berhala mereka biarkan.”24 maka sejarah telah membuktikan bahwa kelompok Wahabi pun telah melaksanakan prilaku keji semacam itu. Sebagaimana yang pernah dilakukan pada awal penyebaran Wahabisme oleh pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab. Pembantaian berbagai kabilah dari kaum muslimin mereka lakukan di beberapa tempat, terkhusus di wilayah Hijaz dan Irak kala itu.Ketiga, sebagaimana kelompok Khawarij memiliki banyak keyakinan yang aneh dan keluar dari kesepakatan kaum muslimin, seperti keyakinan bahwa pelaku dosa besar dihukumi kafir, kaum Wahabi pun memiliki kekhususan yang sama.Keempat, seperti kelompok Khawarij memiliki jiwa jumud (kaku), mempersulit diri dan mempersempit luang lingkup pemahaman ajaran agama, maka kaum Wahabi pun mempunyai kendala yang sama.Kelima, kelompok Khawarij telah keluar dari Islam dikarenakan ajaran-ajaran yang menyimpang, maka Wahabi pun memiliki penyimpangan yang sama. Oleh karenanya, ada satu hadis tentang Khawarij yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahih-nya, yang dapat pula diterapkan pada kelompok Wahabi. Rasul bersabda: “Beberapa orang akan muncul dari belahan bumi sebelah timur. Mereka membaca al-Quran, tetapi (bacaan tadi) tidak melebihi batas tenggorokkan. Mereka telah keluar dari agama (Islam), sebagaimana terkeluar (lepas)-nya anak panah dari busurnya.Tanda-tanda mereka, suka mencukur habis rambut kepala.”25 Al-Qistholani dalam mensyarahi hadis tadi mengatakan: “Dari belahan bumi sebelah timur,” yaitu dari arah timur kota Madinah semisal daerah Najd.26 Sedang dalam satu hadis disebutkan, dalam menjawab perihal kota an-Najd: “Di sana terdapat berbagai guncangan, dan dari sana pula muncul banyak fitnah.”27 Atau dalam ungkapan lain yang menyebutkan: “Di sana akan muncul qornsetan.” Dalam kamus bahasa Arab, kata qorn berartikan umat, pengikut ajaran seseorang, kaum atau kekuasaan.28Sedang kita tahu, kota Najd adalah tempat lahir dan tinggal Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi, pendiri Wahabi. Kota itu sekaligus sebagai pusat Wahabisme, dan dari situlah pemikiran Wahabisme disebarluaskan ke segala penjuru dunia. Banyak tanda zahir dari kelompok tersebut. Selain mengenakan celana atau gamis hingga betis, mencukur rambut kepala sedangkan jenggot dibiarkan bergelayutan tidak karuan adalah salah satu syiar dan tanda pengikut kelompok ini.Keenam, sebagaimana kelompok Khawarij meyakini bahwa “negara muslim” (Daar al-Salam) jika penduduknya banyak melakukan dosa besar, maka dapat dikategorikan “negara zona perang” (Daar al-Harb), kelompok radikal Wahabi pun meyakini hal tersebut.Sekarang ini dapat dilihat, bagaimana kelompok-kelompok radikal Wahabi—seperti al-Qaedah—melakukan aksi teror di berbagai tempat yang tidak jarang kaum muslimin juga sebagai korbannya.Tulisan ringkas ini mencoba untuk mengetahui tentang apa dan siapa kelompok Salafi (Wahabi). Semoga dengan pengenalan ringkas ini akan menjadi kejelasan akan kelompok yang disebut-sebut sebagai Salafi ini, yang mengaku penghidup kembali ajaran Salaf Saleh. Sehingga kita bisa lebih berhati-hati dan mawas diri terhadap aliran sesat dan menyesatkan yang telah menyimpang dari Islam Muhammadi tersebut.

Penulis: Adalah mahasiswa pasca sarjana Perbandingan Agama dan Mazhab di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran.Rujukan:2 Lisan al-Arab, jil. 6, hal. 330.3 As-Salafiyah Marhalah Zamaniyah, hal. 9, karya Dr. M Said Ramadhan Buthi.4 As-Shohwat al-Islamiyah, hal. 25, karya al-Qordhowi.5 Al-Aqoid as-Salafiyah, hal. 11, karya Ahmad bin Hajar Aali Abu Thomi.6 Al-Madzahib al-Islamiyah, hal. 331, karya Muhammad Abu Zuhrah.7 Untuk lebih jelasnya, dapat ditelaah lebih lanjut kitab tebal karya penulis Arab al-Ustadz Nasir as-Sa’id tentang sejarah kerajaan Arab Saudi yang diberi judul “Tarikh aali Sa’ud.” Karya ini berulang kali dicetak. Di situ dijelaskan secara detail sejarah kemunculan keluarga Saud di Jazirah Arab hingga zaman kekuasaan raja Fahd. Dalam karya tersebut, as-Said menetapkan bahwa keluarga Saud (pendiri) kerajaan Arab Saudi masih memiliki hubungan darah dan emosional dengan Yahudi Arab.8 Selengkapnya silakan lihat: As-Salafiyah al-Wahabiyah, karya Hasan bin Ali as-Saqqaf, cet. Daar al-Imam an-Nawawi, Amman-Yordania.9 Al-Milal wa an-Nihal, jil. 1, hal. 165, karya as-Syahrastani.10 Fi ‘Aqo’id al-Islam, hal. 155, karya Muhammad bin Abdul Wahab (dalam kumpulan risalah-nya).11 Ayat-ayat al-Quran yang berbunyi “afalaa ta’qiluun” (Apakah kalian tidak memakai akal) atau “Afalaa tatafakkarun” (Apakah kalian tidak berpikir) dan semisalnya akan sangat mudah kita dapati dalam al-Quran.Ini semua salah satu bukti konkret bahwa al-Quran sangat menekankan penggunaan akal dan mengakui keikutsertaan akal dalam memahami kebenaran ajaran agama.12 Q.S. Thoha: 5.13 Al-Washiyah al-Kubra, hal. 31 atau Naqdhu al-Mantiq, hal. 119 karya Ibnu Taimiyah.14 Q.S. as-Syura: 11.15 Al-Milal wa an-Nihal, jil. 1, hal. 84.16 Banyak hal yang terbukti dengan argumen teks yang mencakup ayat, riwayat, ungkapan dan sirah para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in diperbolehkan, namun pada kelompok Salafi (Wahabi) mengharamkannya, seperti masalah; membangun dan memberi cahaya lampu pada kuburan, berdoa di samping makam para kekasih Ilahi (waliyullah), mengambil berkah dari makam kekasih Allah, menyeru atau meminta pertolongan dan syafaat dari para kekasih Allah pasca kematian mereka, bernazar atau sumpah atas nama para kekasih Allah, memperingati dan mengenang kelahiran atau kematian para kekasih Allah, bertawassul, dan melaksanakan tahlil (majelis fatihah)…semua merupakan hal yang diharamkan oleh para kelompok Salafi, padahal banyak ayat dan riwayat, juga prilaku para Salaf yang menunjukkan akan diperbolehkannya hal-hal tadi.17Salah satu bentuk penyimpangan kelompok Wahabi terhadap ajaran Imam Ahmad bin Hanbal adalah pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap berbagai hadis berkaitan dengan keutamaan keluarga Rasul saw., yang Imam Ahmad sendiri meyakini keutamaan mereka dengan mencantumkannya dalam kitab Musnad-nya. Dari situ akhirnya Ibnu Taimiyah bukan hanya mengingkari hadis-hadis tersebut, bahkan melakukan pelecehan terhadap keluarga Rasul, terkhusus Ali bin Abi Thalib as. (lihat: Minhaj as-Sunnah, jil. 8, hal. 329.) Dan terbukti, kekhilafahan Ali sempat “diragukan” oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “Minhaj as-Sunnah” (lihat: jil. 4, hal. 682), dan ia termasuk orang yang menyebarluaskan keraguan itu. Padahal, semua kelompok Ahlusunnah “meyakini” akan kekhilafahan Ali. Lantas, masihkah layak Ibnu Taimiyah beserta pengikutnya mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah?18Al-Aqidah li al-Imam Ahmad bin Hanbal, hal. 38.19 As-Salafiyah baina Ahlusunnah wa al-Imamiyah, hal. 680.20 Rudud ‘ala Syubahaat as-Salafiyah, hal. 249.21 Diwan as-Syafi’i, hal. 55.22 Musnad Ahmad, jil. 2, hal. 118.23 Shahih Bukhari, jil. 4, hal. 197.24 Majmu’ al-Fatawa, jil. 13, hal. 32, karya Ibnu Taimiyah.25 Shahih Bukhari, “kitab at-Tauhid”, bab 57, hadis ke-7123.26 Irsyad as-Saari, jil. 15, hal. 626.27 Musnad Ahmad, jil. 2, hal. 81 atau jil. 4, hal. 5.28 Al-Qomuus, jil. 3, hal. 382, kata: “Qo-ro-na.”Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An Nisaa’ : 48)Dari Abu Dzar ra., Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jibril berkata kepadaku, ‘Barangsiapa diantara umatmu yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk surga'” (HR. Bukhari) [Hadits ini terdapat pada Kitab Shahih Bukhari]

diambil dari : http://dervishwarrior.blogspot.com

164 Komentar

  1. Mansyur said,

    Juli 31, 2007 at 10:36 am

    Pantesan, wong Syiah. Ya kerjanya ngecam dan fitnah terhahap para
    ulama ahlus sunnah wal jama’ah. Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyyah itu
    orang yang sangat mencintai ahlul bait Rasulullah saw. Tapi mereka memang
    membenci orang-orang Syiah, yang telah mengorbankan ahlul bait demi
    kepentingan politik mereka.

    Jangan disamakan ahlul bait dengan syiah. Ahlul bait itu para penganut sunnah Rasulullah saw.

    Ahlus sunnah wal jamaah itu lebih mencintai Rasulullah saw. dan ahlul baitnya dibanding orang-orang Syiah.

    Lihat saja, betapa kejinya orang-orang Syiah mengorbankan Husein bin Ali, seorang manusia agung, dengan meninggalkan Husein dan ahlul bait Rasulullah saw. sendirian menghadapi Yazid si zalim. Padahal Husein datang ke Iraq atas “kompor” orang-orang yang mengaku Syiah pembela ahlul bait.

    • AL WABAH-I (No Al Wahabi) said,

      Desember 14, 2011 at 6:21 pm

      Salah!!! Ibnu taimiyah justru menghina Ali Bin Abi Tholib RA. Dan Usman juga!! Nih baca kitab انباء الغمر juz 1 hal 49-50 dan uraian ini mulai dari jaman dulu sampai sekarang blum da yg bantah.. kcuali ente mungkin..
      لقوله في علي ما تقدم ولقوله أنه كان مخذ ولا حيث ما توجه وأنه حاول الخلافة مراراً فلم ينلها وإنما قاتل للرياسة لا للديانة ولقوله أنه
      كان يحب الرياسة وأن عثمان كان يحب المال ولقوله أبو بكر أسلم شيخاً يدري ما يقول وعلي أسلم صبياً والصبي لا يصح إسلامه
      Artinya.. krn ucapan Ibnu Taimiyah ttg ALI RA yg tadi dan ucapannya bhw “Ali ORANG YG TERHINA KEMANAPUN MENUJU. DAN ALI MENGUPAYAKAN KURSI KEHALIFAHAN BERKALI2 TP SLLU GAGAL DAN DIA BERPERANG TUK KEPEMIMPINAN BUKAN TUK NILAI AGAMA. ALI CINTA KEPEMIMPINAN DAN USMAN CINTA HARTA” …..Dst
      Siapa g menghina ALI RA maka dia terlaknat sbgaimana sabda Muhammad SAW

    • muslim said,

      Desember 27, 2011 at 9:53 am

      WAHAI BLOGGER…

      BLOG INI ADALAH TEMPAT IBLIS BERSEMAYAM, DIA PANDAI MENYULUT ADU DOMBA KE SESAMA MUSLIM
      BLOG INI PENUH DENGAN API SYEITAN
      DIA TIDAK PANTAS DAN TIDAK LAYAK MEMAKAI NAMA ABU SALAFY KARENA DIA TIDAK TAHU SAMA SEKALI APA ITU SALAFY

      KALIAN WAHAI KAUM MUSLIMIN,

      JANGANLAH KALIAN SALING MENGHUJAT SATU SAMA LAINNYA DI KARENA PERBEDAAN YANG DIBESAR2KAN OLEH BLOG INI. UNTUK PERBEDAAN WALLAHU’ALAM

      INGATLAH DOSA UNTUK SETIAP KATA YANG TERUCAPKAN TANPA ADANYA KEBENARAN DAN ITU ADALAH FITNAH YANG BESAR

      HANYA KEPADA ALLAH KITA BERSERAH DAN MENYERAHKAN SEMUA KEBENARAN, CUKUP DENGAN KITA MENCARI KEBENARAN DENGAN CERITA ATAU KISAH YANG BERLAKU.

      KARENA DENGAN KITA BERSETERU DI BLOG INI, ORANG KAFIR AKAN BERTEPUK TANGAN DAN TERTAWA SERTA GEMBIRA KARENA BLOG INI JADI RAMAI

    • muslim said,

      Desember 27, 2011 at 9:58 am

      WAHAI BLOGGER…….

      PERGILAH KE MAJELIS ILMU DI PENGAJIAN PENGAJIAN DI MESJID

      BLOG INI ADALAH TEMPAT IBLIS BERSEMAYAM, DIA PANDAI MENYULUT ADU DOMBA KE SESAMA MUSLIM
      BLOG INI PENUH DENGAN API SYEITAN
      DIA TIDAK PANTAS DAN TIDAK LAYAK MEMAKAI NAMA ABU SALAFY KARENA DIA TIDAK TAHU SAMA SEKALI APA ITU SALAFY

      KALIAN WAHAI KAUM MUSLIMIN,

      JANGANLAH KALIAN SALING MENGHUJAT SATU SAMA LAINNYA DI KARENA PERBEDAAN YANG DIBESAR2KAN OLEH BLOG INI. UNTUK PERBEDAAN WALLAHU’ALAM

      INGATLAH DOSA UNTUK SETIAP KATA YANG TERUCAPKAN TANPA ADANYA KEBENARAN DAN ITU ADALAH FITNAH YANG BESAR

      HANYA KEPADA ALLAH KITA BERSERAH DAN MENYERAHKAN SEMUA KEBENARAN, CUKUP DENGAN KITA MENCARI KEBENARAN DENGAN CERITA ATAU KISAH YANG BERLAKU.

      KARENA DENGAN KITA BERSETERU DI BLOG INI, ORANG KAFIR AKAN BERTEPUK TANGAN DAN TERTAWA SERTA GEMBIRA KARENA BLOG INI JADI RAMAI

  2. orang awam said,

    Agustus 1, 2007 at 10:45 pm

    Tulisan yang manfaat.. baru tahu tentang kecurangan orang-orang salafy/wahaby tentang kitab-kitab standard.

    Mohon ijin mengutib.
    Kunjungi blog kami juga.
    Terima kasih.

    • muslim said,

      Desember 27, 2011 at 9:54 am

      WAHAI BLOGGER…

      BLOG INI ADALAH TEMPAT IBLIS BERSEMAYAM, DIA PANDAI MENYULUT ADU DOMBA KE SESAMA MUSLIM
      BLOG INI PENUH DENGAN API SYEITAN
      DIA TIDAK PANTAS DAN TIDAK LAYAK MEMAKAI NAMA ABU SALAFY KARENA DIA TIDAK TAHU SAMA SEKALI APA ITU SALAFY

      KALIAN WAHAI KAUM MUSLIMIN, …………………………….

      JANGANLAH KALIAN SALING MENGHUJAT SATU SAMA LAINNYA DI KARENA PERBEDAAN YANG DIBESAR2KAN OLEH BLOG INI. UNTUK PERBEDAAN WALLAHU’ALAM

      INGATLAH DOSA UNTUK SETIAP KATA YANG TERUCAPKAN TANPA ADANYA KEBENARAN DAN ITU ADALAH FITNAH YANG BESAR

      HANYA KEPADA ALLAH KITA BERSERAH DAN MENYERAHKAN SEMUA KEBENARAN, CUKUP DENGAN KITA MENCARI KEBENARAN DENGAN CERITA ATAU KISAH YANG BERLAKU.

      KARENA DENGAN KITA BERSETERU DI BLOG INI, ORANG KAFIR AKAN BERTEPUK TANGAN DAN TERTAWA SERTA GEMBIRA KARENA BLOG INI JADI RAMAI

  3. Ahlul Bait berkata said,

    September 29, 2007 at 7:34 pm

    Subhanallah, Kenapa Syiah Menentang Sahabat Rasulullah, masya Allah kembalilah kepada Aa-Qur’an dan Assunnah. anda telah dikotori oleh faham Syiah yang melenceng dari Alquran. lihat masak solatnya harus nunggu imam mahdi masya Allah pantasan Syiah selalu ngotot dengan fitnah karena anda terjerumus dalam ideologi YAHUDI…TAUBATLAH SAUDARAKU

    • muslim said,

      Desember 27, 2011 at 9:55 am

      WAHAI BLOGGER…

      BLOG INI ADALAH TEMPAT IBLIS BERSEMAYAM, DIA PANDAI MENYULUT ADU DOMBA KE SESAMA MUSLIM
      BLOG INI PENUH DENGAN API SYEITAN
      DIA TIDAK PANTAS DAN TIDAK LAYAK MEMAKAI NAMA ABU SALAFY KARENA DIA TIDAK TAHU SAMA SEKALI APA ITU SALAFY

      KALIAN WAHAI KAUM MUSLIMIN, …………………………………………..

      JANGANLAH KALIAN SALING MENGHUJAT SATU SAMA LAINNYA DI KARENA PERBEDAAN YANG DIBESAR2KAN OLEH BLOG INI. UNTUK PERBEDAAN WALLAHU’ALAM

      INGATLAH DOSA UNTUK SETIAP KATA YANG TERUCAPKAN TANPA ADANYA KEBENARAN DAN ITU ADALAH FITNAH YANG BESAR

      HANYA KEPADA ALLAH KITA BERSERAH DAN MENYERAHKAN SEMUA KEBENARAN, CUKUP DENGAN KITA MENCARI KEBENARAN DENGAN CERITA ATAU KISAH YANG BERLAKU.

      KARENA DENGAN KITA BERSETERU DI BLOG INI, ORANG KAFIR AKAN BERTEPUK TANGAN DAN TERTAWA SERTA GEMBIRA KARENA BLOG INI JADI RAMAI

  4. Abd halim said,

    Februari 14, 2008 at 7:52 am

    memang tepat sekali,kata saudara ahlu bait berkata kata…telah disepekati oleh 4 mahzab ahlu sunnah wal jammah bahawa puak syiah adalah golongan yang sesat yang telah terkeluar dari ahlu sunnah wal jamaah begitu juga dengan puak wahabi/salafi..kedua duanya adalah golongan yang termasuk celaka yang akan mati dalam suul khotima..mohon supaya kita dijauhkan dari 2 golongan ini dan juga terjauh dari rasa simpati terhadap fahaman sesat keduanya….

    • Abu husna said,

      Oktober 27, 2013 at 1:49 am

      Anda silahkan pelajari dan amati dulu amalan orang2 salafy baru bikin penilaian.masak orang memelihara jenggot,sholat berjama’ah dimasjid dan berusaha mengamalkan sunnah dituduh sesat,sementara orang2 yg manghujat salafy rata mereka jauh dari sunnah kicuali JT

  5. yazid said,

    April 29, 2008 at 11:34 pm

    saya tanya pada anda sudahkah anda membaca keseluruhan buku minhajus sunnah dan kitab-kita rujukan yang anda tulis ini??kalo belum membaca tolong dibaca lagi dan ditelaah lagi. agar apa yang anda katakan disini memang benar-benar anda sudah paham. yang saya takutkan adalah anda hanya copy paste dari orang lain yang anda sendiri juga masih belum paham. wa laa taqfu ma laisa laka bihi ilmun…..

  6. Idyllic said,

    Juni 20, 2008 at 12:28 pm

    Somehow i missed the point. Probably lost in translation :) Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Idyllic!

  7. abdullah habasyi said,

    Juni 20, 2008 at 3:26 pm

    nah..sebaiknya kembali ke alqur’an dan al-hadits, inget…nanbi perintah kepada kita agar berpegang pada dua perkara itu, tapi kenapa temen2 dari salafi hanya berpegang pada hadits mereka dan alqur’an mereka sendiri? sedangkan para ulama yang dulu mereka sangat mempercayai hadits2 terutam yang kita kenal dengan kutubbusittah???? kembalilah…wahai saudara2ku yang disalafi kembalilah kejalan yang benar!!!!

  8. Agustus 13, 2008 at 4:57 am

    aku jadi bingung .ke manakah kaki ini akan aku langkahkan
    jadi orang salafy ada yang mencelanya
    jadi orang ldii begitu juga
    jadi orang syi’ah???
    akh aku sih pingin jadi orang yang benar benar dapat hidayah dari Alloh SWT.

    http://jurjaniku.multiply.com/

    • dedi said,

      Februari 25, 2012 at 3:56 am

      nabi saw telah bersabda “islam awal’y asing dan akan kembali menjadi asing,maka bahagialah orang yg di sebut asing itu”hr muslim.
      jadi kebanyakan orang tidak tau islam itu awal’y seperti apa,di jaman nabi saw banyak orang yg tidak terima dengan dakwah kepada tauhid,dan akan terus sampai kiamat akan selalu ada orang2 yg menentang dakwah illallah,di cela bukan berarti kita menyerah,itulah bukti kita teguh di atas sunnah di mata orang2 jahil.

      • alaika bil la'nat said,

        Januari 6, 2013 at 5:53 am

        oh yang bunyinya “badaal islaamu ghoriiban fasayaudu ghoriiban” ko dpake untuk menyatakan wahabi yang benar

  9. Agustus 13, 2008 at 4:59 am

    aku jadi bingung .ke manakah kaki ini akan aku langkahkan
    jadi orang salafy ada yang mencelanya
    jadi orang ldii begitu juga
    jadi orang syi’ah???
    akh aku sih pingin jadi orang yang benar benar dapat hidayah dari Alloh SWT.

    http://jurjani.multiply.com/

    • muslim said,

      Desember 27, 2011 at 9:57 am

      WAHAI BLOGGER………….

      PERGILAH KE MAJELIS ILMU DI PENGAJIAN PENGAJIAN DI MESJID

      BLOG INI ADALAH TEMPAT IBLIS BERSEMAYAM, DIA PANDAI MENYULUT ADU DOMBA KE SESAMA MUSLIM
      BLOG INI PENUH DENGAN API SYEITAN
      DIA TIDAK PANTAS DAN TIDAK LAYAK MEMAKAI NAMA ABU SALAFY KARENA DIA TIDAK TAHU SAMA SEKALI APA ITU SALAFY

      KALIAN WAHAI KAUM MUSLIMIN,

      JANGANLAH KALIAN SALING MENGHUJAT SATU SAMA LAINNYA DI KARENA PERBEDAAN YANG DIBESAR2KAN OLEH BLOG INI. UNTUK PERBEDAAN WALLAHU’ALAM

      INGATLAH DOSA UNTUK SETIAP KATA YANG TERUCAPKAN TANPA ADANYA KEBENARAN DAN ITU ADALAH FITNAH YANG BESAR

      HANYA KEPADA ALLAH KITA BERSERAH DAN MENYERAHKAN SEMUA KEBENARAN, CUKUP DENGAN KITA MENCARI KEBENARAN DENGAN CERITA ATAU KISAH YANG BERLAKU.

      KARENA DENGAN KITA BERSETERU DI BLOG INI, ORANG KAFIR AKAN BERTEPUK TANGAN DAN TERTAWA SERTA GEMBIRA KARENA BLOG INI JADI RAMAI

  10. mydin said,

    September 18, 2008 at 1:14 am

    Dahulukanlah Allah dan Rasul, sunnatullah… barulah gunakan Akal pikiranmu, tiada perintah yg melarang menggunakan akal pikiran(pada tempatnya kecuali yang sudah ditentukan oleh Allah niscaya akal dan pikiranmu tidak akan pernah sampai bahkan akan menjadi sesat dan menyesatkan.
    Wallahu alam bisawab..

  11. dibyochemeng said,

    Oktober 17, 2008 at 8:20 am

    mARI DAKWAH BERANTAS ALIRAN SESAT WAHABY/SALAFY/AHLUSUNNAH PALSU, LIBERAL, SYIAH DSB ….. DI :

    http://salafytobat.wordpress.com

    • salafi said,

      September 11, 2009 at 10:24 am

      Ente masuk aliran apa ?????????????????????????????????

      • 1 said,

        Maret 28, 2010 at 6:20 am

        mungkin aliran tidak jelas.

      • oewie al fakiir said,

        Februari 2, 2012 at 6:47 pm

        MENURUT SAYA MEREKA ALIARAN YANG BENAR ASSUNAH WAL JAMAAH

    • abu hafiz said,

      Juni 17, 2010 at 6:48 am

      Ya Allah Ampuni hamba, antum pasti orang yahudi yang mencoba menghanguskan Alquran dan Assunah dengan mengadu domba kaum muslimin, semoga Allah memberi hidayah kepada antum agar segera bertobat karena antum masih bimbang, nyangkut ditengah-tengah, blom tahu mana yang haq dan mana yang bathil…

      • oewie al fakiir said,

        Februari 2, 2012 at 6:46 pm

        asslamualaikum wr wb,

        klo menurut ana akhi harus banyak berguru dengan orang2 terdahulu akhi jgn dari buku karena buku itu buat manusia blum ntu pembutanya muslim…. AKHI HARUS BELAJAR SAMA GURU-GURU LUHUR YANG TERDAHULU… BUKAN LEWAT BUKU

  12. berkata said,

    November 25, 2008 at 11:40 pm

    halo apa kabar

  13. Wendi M Akhirudin said,

    Januari 12, 2009 at 10:50 am

    saya mau tahu karena saya tidak terlalu mengetahui tentang wahabi atau salafi, atau lainnya (syiah, sunni, dll). saya pernah baca buku tentang di dalam ada tulisan tentang muta’azilla, syiah, sunni dengan apa perbedaanya. lalu perbandingannya dengan yang ada di Indonesia aliran (sekte) atau pun istilahlainnya (beberapa golongan Islam dengan dasar pemikirannya itu). hal yang benar itu seperti apa?

  14. Akhmad said,

    Maret 30, 2009 at 3:25 am

    Banyak kesalahan tentang pemahaman anda terhadap salaf, salaf tidak hanya merujuk paad satu imam !jangan lah kekurang tahuan menimbulkan perpecahan, tulisan anda malah akan mengadu domba sesama muslim. Janganlah hanya mencari sumber diinternet, tapi carilah langsung pada A;-qur’an dan hadits yang shahih. Semoga Allah menyatukan kita semua umat Islam, jangan lah membuat para kafir diluar sana tertawa melihat perpecahan kita. Berbeda boleh, tapi saling menghormati, jangankan kita, para imam pun berbeda antar pemahaman.

    • salafi said,

      September 11, 2009 at 10:26 am

      Saya mendukung sepenuhnya pendapat saudaraku………………………….

      • 1 said,

        Maret 28, 2010 at 6:27 am

        saya sangat setuju, imam syafii sendiri pesan kalau salah jangan diikuti tapi ikutilah sunnah. Itulah imam yang perlu kita contoh

      • abu hafiz said,

        Juni 17, 2010 at 6:49 am

        Afwan, kalo boleh tahu, imam syafi’i itu mazhab nya apa ya? ada yang tahu?

  15. April 22, 2009 at 10:53 am

    betapa banyak orang yang ingin memperlihatkan kehebatannya, tetapi yang muncul adalah ketidak tahuannya. manusia selalu memusuhi apa yang dia tidak tahu

    • Hamba Allah SWT said,

      September 11, 2009 at 10:29 am

      Lanjutkan perjuangan mu……………….

  16. jang ono said,

    Mei 11, 2009 at 5:26 pm

    Berarti anda belum termasuk syi’ah dong. karena kemunafikan anda mudah terbongkar. Kalau begitu belajar lagi berbohongnya ! Agar anda benar-benar menjadi syi’ah sejati. Seandainya ulama2 syi’ah hidup di zaman Rasululloh saw, tentu mereka akan belajar bermuka dua kepada Abdullah bin Ubay bin Salul. Karena dia rajanya bohong. Maka dialah orang no 1 dari kalangan syi’ah. Coba renungkan ah !!!!!! Tapi jangan emosi.

  17. jil said,

    Mei 11, 2009 at 5:42 pm

    ooooooooooooooooooooooooooooh?

    • Hamba Allah SWT said,

      September 11, 2009 at 10:28 am

      kok cuma bs bilang ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooh?

  18. Wahhaby Watcher said,

    Oktober 23, 2009 at 5:51 pm

    Googling nama ini : Abu Khalid Aljakarti pelawak wahhaby :D

  19. Malreb said,

    Oktober 28, 2009 at 1:46 pm

    Kuno…kuno..kuno….hari gini masih ribut Syiah-Sunni. Itu perselisihan yang sudah kuno bung, sudah berabad-abad, yang tidak perlu lagi kita warisi. Awas, hati-hati adu domba antar umat Islam, yang biasanya dilakukan oleh orang yang merasa paling Islam dan paling benar sendiri !

  20. BIN BASS said,

    November 7, 2009 at 8:06 pm

    yang di telanjangin Wahabi atau salafi/y palsu..kenapa syiah yang dituduh..tolol bangetl u pade,baca judulnya..kecuali judulnya ttg syiah..apa lu wahabi2 nuduh blog ini syiah? lagu lu mentah WAHABI DONGO`

    • Mr. Takur said,

      Januari 8, 2014 at 12:28 pm

      Ente SYIAH GEMBEL Bin TOLOL…..

  21. iwan said,

    November 11, 2009 at 12:29 pm

    inilah kesalahnnya ..ketika agama dijadikan sebagai tujuan , seharusnya di jadikan sebagai jalan. yg menentukan surga itu bukan salafi atau syiah atau yg lainnya ,kita tidak akan pernah mampu mengklaim kebenaran ada pada kita , kita hanyalah belajar memahami kebenaran , dan kebenaran itu milik Allah.Kalian tidak akan masuk surga dengan menjadi salafi atau syiah atau aliran lainnya. Yang bisa menjadikan Allah ridho kepada kalian adalah ketakwaannya tanpa harus menjadi salafi atau yg lainnya.

  22. abu ulil said,

    Desember 9, 2009 at 8:25 am

    Bismillah..
    Kebenaran milik Alloh S.W.T dan yang benar ato salah sudah dijelaskan kepada kita semua dalam firmanNya disertai penjelasannya oleh Baginda Rosululloh S.A.W, Kebenaran itu malamnya bagaikan siangnya terang benderang tidaklah samar kalau kita kembalikan kepada Al-Qur’an Dan sunnah sebagaimana pemahaman Rosululloh S.A.W dan para sahabatnya yg telah diridloi Alloh S.W.T.
    Siapapun orangnya yang mengikuti jalan para sahabat dengan lurus/ihsan dalam mengikuti jalan Rosululloh S.A.W dalam kehidupannya itulah yg dijamin Alloh S.W.T seperti FirmanNya dalam surat At-Taubah:100.
    Baca dengan benar fahami sesuai bagaimana Rosululloh S.A.W memahaminya, maka anda sekalian akan gamblang bahwa jalan yg lurus tidaklah bercabang-cabang, tidaklah ada banyak jalan tapi hanya satu (sesuai hadits ttg iftiroqul ummah).
    Salafi hanyalah sebutan untuk orang-orang yang mengikuti jalan Rosululloh S.A.W dan para sahabatnya yg Sholih R.A untuk memahami Agama ini sebagaimana beliau memahaminya. Tidak ada ketuanya,organisasinya,dll.
    yang ada da’wah ilalloh..dengan hujjah yang nyata.
    Wallohua’lam bishowwab..

    • suka damai said,

      Oktober 4, 2011 at 4:52 am

      yang satu itu yang mana aaaaaaaaa?

      • aji said,

        Oktober 29, 2011 at 4:53 am

        yaitu jalan yang Rosulullah dan sahabat beliau berjalan di atasnya

  23. alhaq said,

    Desember 22, 2009 at 6:28 pm

    @salafy tobat
    @abu salafy
    ataupun anda syi’ah

    saya berpendapat apa yang anda tulis dalam blok ini semua hanya kedustaan dan anda menambah -nambah cerita naudzubilah apakah anda tidak takut berbicara dalam hal agama apakah anda akan mempertanggung jawabkan apa yang telah anda perbuat ilmu anda cuma secuil dan anda berani berkoar-koar mengklaim anda ini adalah seorang ulama mana dakwah yang kau bawa apa fatwa mu yang bisa kami dengar dan dimana anda mengajar apakah anda sudah menerbitkan buku dakwah islam saya rasa anda hanya seorang kanibal dan sungguh apibila hari kiamat anda akan menepati pintu jahannam karna anda adalah da’i palsu dan rasa kebencian anda kepada salafy sampai hati anda buta

    bertobatlah
    bertobatlah

    tangan allah selalu terbentang untuk hamba-hambanya yang bertobat

    dan allah menghalngi tobatnya pelaku bid’ah karna menaggap perbuatan nya itu baik mak kembalilah kepada ajaran rasulullah.

    • suka damai said,

      Oktober 4, 2011 at 5:02 am

      ajaran rasulullah yang kamu bawa dari mana ? carilah sanadnya !jangan salahkan sanad saudara muslimmu!

  24. ammar said,

    Desember 23, 2009 at 2:54 am

    hanya sebuah komentar yang berasal dari ahwa penulis, yidak ada hujjah sama sekali yang ada hanyalah caci maki dan hinaan tanpa didasari dalil. sipa antum mencela para ulama. dari mana antum belajar agama, siapa guru antum, kalau memang antum berpijak pada al quran dan hadits tunjukan dalil2nya jangan membuat karangan cerita berdasar akal antum yang membuat umat bingung. omongan antum bakal antum pertanggung jawabkan kelak.

  25. safrudin said,

    Desember 25, 2009 at 9:02 pm

    penulisnya orang sesat, orang sudah mati dimintai do’a (amalannya sudah putus bozzz )…dasar penyembah kubur….

    • wawan said,

      November 4, 2010 at 1:45 pm

      hadisnya kan menyebutkan bahwa “jika seseorang mati maka putuslah amalnya kec.. dst..”
      artinya yang putus amalnya ya si mati,
      kira2 amal si hidup, putus ga?

      • Mr. Takur said,

        Januari 8, 2014 at 12:38 pm

        Dasar bego…., kalo masih hidup ngapain minta2 sama yg udeh mati…??? MINTA SAMA ALLAH……..!!! Di masjid, langgar, mushola, rumah,…. ngapain di kuburan……
        Belum tentu juga yg mati slamet di alam sono……

  26. safrudin said,

    Desember 25, 2009 at 9:46 pm

    penulis(pemuja akal) tapi justru akalnya paling dangkal…….tidak cocok nulis sama sekali alias kacangan.

  27. R@den Sayyid said,

    Desember 29, 2009 at 8:38 am

    Tulisan yang mencerahkan dan ilmiah, harusnya ditanggapi dengan tulisan lagi jika apa yg ditulis diatas ada data yang tidak benar alias fitnah, data dibalas dengan data. Cara ini lebih mencerminkan aklak muslim. Daripada mengeluarkan komen-2 yg penuh dengan kata-2 celaan,hujatan,caci maki tuduhan. Yah… mungkin wajarlah lisannya jarang dipakai dzikir & baca sholawat. Yang keluar dari dalam lewat lisan banyak sumpah serapah & kata-2 sampah.Mungkin itu salah satu dari sekian banyak ciri-2 salafi gadungan alias wahabi disamping ciri katok cingkrang jenggot panjang batuk belang.

    Daripada lisan dipakai untuk caci maki dan olok-2 lebih baik intropeksi diri
    lalu banyak-2 istiqfar,dzikir & sholawat. Katanya paling ahlus sunah tapi kok anti baca sholawat,membenci keluarga nabi lagi, wah musang berbulu domba.

  28. indi said,

    Januari 27, 2010 at 8:25 am

    bentar – bentar di bilang bid’ah, melakukan suatu kebaikan di bilang bid’ah cape deh………………………

    • jamil said,

      Februari 11, 2010 at 10:26 pm

      Membongkar kesesatan Syiah : Rangkuman

      Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari

      Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan.

      Apa Itu Syi’ah?
      Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji)

      Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm)

      Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (Al-Milal Wan Nihal, hal. 147, karya Asy-Syihristani)
      Dan tampaknya yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah sekte Imamiyyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin.

      Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus menerus menebarkan berbagai macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya.
      Rafidhah , diambil dari yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna , meninggalkan (Al-Qamus Al-Muhith, hal. 829).

      Sedangkan dalam terminologi syariat bermakna: Mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakr dan ‘Umar radiyallahu ‘anhum, berlepas diri dari keduanya, dan mencela lagi menghina para shahabat Nabi radiyallahu ‘anhu. (Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 1/85, karya Abdullah Al-Jumaili)
      Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar’.” (Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hal. 567, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)

      Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)
      Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari berkata: “Zaid bin ‘Ali adalah seorang yang melebihkan ‘Ali bin Abu Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakr dan ‘Umar, dan memandang bolehnya memberontak terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka: “Kalian tinggalkan aku?” Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (13/36).

      Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah.
      Rafidhah ini terpecah menjadi beberapa cabang, namun yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan kali ini adalah Al-Itsna ‘Asyariyyah.

      Siapakah Pencetusnya?
      Pencetus pertama bagi faham Syi’ah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ Al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan.
      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Asal Ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, pen). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ Az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrim di dalam memuliakan ‘Ali, dengan suatu slogan bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa, pen).” (Majmu’ Fatawa, 4/435)

      Sesatkah Syi’ah Rafidhah ?
      Berikut ini akan dipaparkan prinsip (aqidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka.

      a. Tentang Al Qur’an
      Di dalam kitab Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata : “Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam (ada) 17.000 ayat.”

      Di dalam Juz 1, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata: ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata: ‘Mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al Qur’an kalian…’.”
      (Dinukil dari kitab Asy-Syi’ah Wal Qur’an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi Dzahir).

      Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

      b. Tentang shahabat Rasulullah
      Diriwayatkan oleh Imam Al-Jarh Wat Ta’dil mereka (Al-Kisysyi) di dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13) dari Abu Ja’far (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata: “Siapa tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi…” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah Fi Mizanil Islam, hal. 89)
      Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.” (Al-Kafi, 8/248, dinukil dari Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 45, karya Ihsan Ilahi Dzahir)
      Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir Al-Husaini Al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 46)
      Adapun shahabat Abu Bakr dan ‘Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan do’a mereka (Miftahul Jinan, hal. 114), wirid laknat untuk keduanya:
      “Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah)”
      (Dinukil dari kitab Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18, karya As-Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib)

      Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ Al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Dan hari kematian ‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari barakah, serta hari suka ria. (Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18)

      Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah lainnya, mereka yakini sebagai pelacur -na’udzu billah min dzalik-. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hal. 57-60) karya Ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan shahabat Abdullah bin ‘Abbas terhadap ‘Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah…” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin Al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hal. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)

      Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, Al-Imam Malik bin Anas berkata: “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para shahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad) adalah seorang yang jahat, karena kalau memang ia orang shalih, niscaya para shahabatnya adalah orang-orang shalih.” (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul, hal. 580)

      c. Tentang Imamah (Kepemimpinan Umat)
      Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan dari Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (2/18) dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata: “Islam dibangun di atas lima perkara:… shalat, zakat, haji, shaum dan wilayah (imamah)…” Zurarah berkata: “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata: “Yang paling utama adalah wilayah.” (Dinukil dari Badzlul Majhud, 1/174)

      Imamah ini (menurut mereka -red) adalah hak ‘Ali bin Abu Thalib radiyallahu ‘anhu dan keturunannya sesuai dengan nash wasiat Rasulullah. Adapun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakr, ‘Umar dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah para perampas (kekuasaan). (Lihat Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 16-17)

      Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia Al-Imam Al-Mahdi, sang penguasa zaman -baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam- yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192)

      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar secara rinci membantah satu persatu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini.

      d. Tentang Taqiyyah
      Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1/195 dan Asy-Syi’ah Al-Itsna ‘Asyariyyah, hal. 80)
      Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kaafi (2/175) dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A’jami: “Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya sembilan per sepuluh dari agama ini adalah taqiyyah, dan tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/196). Oleh karena itu Al-Imam Malik ketika ditanya tentang mereka beliau berkata: “Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.” Demikian pula Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)

      e. Tentang Raj’ah
      Raj’ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ‘Ahli tafsir’ mereka, Al-Qummi ketika menafsirkan surat An-Nahl ayat 85, berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj’ah, kemudian menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini: ‘Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian’.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘Alar Riwayatit Tarikhiyyah, hal. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali)

      f. Tentang Al-Bada’
      Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa Al-Bada’ ini terjadi pada Allah Ta’ala. Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (1/111), meriwayatkan dari Abu Abdullah (ia berkata): “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi Al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252). Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4.
      Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi’ah Rafidhah, yang darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang, tanpa rasa malu Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen) di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan lebih utama dari masyarakat Kufah dan Iraq di masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 192)

      Perkataan Ulama tentang Syi’ah Rafidhah
      Asy-Syaikh Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili di dalam kitabnya Al-Intishar Lish Shahbi Wal Aal (hal. 100-153) menukilkan sekian banyak perkataan para ulama tentang mereka. Namun dikarenakan sangat sempitnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa ternukil sebagiannya saja.
      1. Al-Imam ‘Amir Asy-Sya’bi berkata: “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam Ahmad)
      2. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, beliau berkata: “Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253)
      3. Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i, telah disebut di atas.
      4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493, karya Al-Khallal)
      5. Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)
      6. Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata: “Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi)

      Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran…Amin.

    • ali gomez anabil said,

      Maret 15, 2011 at 3:09 am

      kebaikan menurut udelmu

      • ali gomez anabil said,

        Maret 15, 2011 at 6:33 am

        agama Syi’ah adalah orang yang sesat sesesat sesatnya dan bingung sebingung bingungnya, mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah. bisa jadi penganut Syi’ah 99% saat ini adalah anak zina (mut’ah), juga bisa jadi anak2 dari komplek2 pelacuran yang mereka anggap halal.

    • Mr. Takur said,

      Januari 8, 2014 at 12:43 pm

      Baik menurut siape…?? Baik menurut ente…?? Baik tuh menurut Rasulullah…!!
      Ibnu Mas’uud Radhiallahu ‘anhu, berkata:
      “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan akan tetapi tidak meraihnya”

  29. jamil said,

    Februari 11, 2010 at 10:28 pm

    Membongkar kesesatan Syi’ah : Benci pada Istri Nabi

    enulis: Bulletin Islam Al Ilmu Edisi 30/I/II/142

    Bara api kebencian terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memang telah tertanam kuat di dada kaum Syi’ah Rafidhah. Bara api tersebut terus menerus menyala sehingga satu demi satu orang-orang terdekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi bahan gunjingan dan cercaan mereka.

    Setelah Ahlul Bait beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kini mereka mengarahkan cercaan yang tidak kalah kejinya kepada para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka melontarkan tuduhan-tuduhan dusta kepada orang-orang yang telah mengorbankan waktu dan raganya untuk membela dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setia menemani dan menghibur beliau ketika ditimpa berbagai musibah di dalam mengemban amanah dakwah.

    Kedudukan Para Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Alangkah mulianya kedudukan mereka tatkala Allah subhanahu wa ta’ala sendiri yang mengangkat derajat mereka di atas wanita lainnya. Allah jalla jalaaluhu berfirman yang artinya:
    يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ
    “Wahai istri Nabi, (kedudukan) kalian bukanlah seperti wanita-wanita yang lainnya.” (Al Ahzab: 32)

    Allah ‘Azza wa Jalla telah meridhai mereka sebagai pendamping Nabi-Nya yang termulia, sampai-sampai melarang beliau untuk menceraikan mereka. Allah berfirman :
    لاَ يَحِلُّ لَكَ النِّسَاءُ مِنْ بَعْدُ وَلاَ أَنْ تَبَدَّلَ بِهِنَّ مِنْ أَزْوَاجٍ وَلَوْ أَعْجَبَكَ حُسْنُهُنَّ
    “Tidak halal bagimu wahai Nabi, untuk mengawini wanita-wanita lain sesudahnya, dan tidak halal (pula) bagimu untuk mengganti mereka dengan wanita-wanita lain walaupun kecantikan mereka memikat hatimu.” (Al Ahzab: 52)

    Para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibu-ibu kaum mukminin yang tentu saja wajib untuk dimuliakan dan dihormati. Oleh karena itu para istri beliau mendapat gelar Ummahatul Mu`minin.

    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
    النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
    “Nabi itu lebih berhak untuk dicintai kaum mukminin daripada diri mereka sendiri, sedangkan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka (kaum mukminin).” (Al Ahzab: 6)

    Nama Para Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Telah tertulis di dalam buku-buku sejarah Islam nama-nama istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mendampingi perjuangan beliau. Mereka itu adalah:
    1. Khadijah binti Khuwailid
    2. Saudah binti Zam’ah
    3. Aisyah binti Abi Bakr Ash Shiddiq
    4. Hafshah binti Umar Al Khaththab
    5. Ummu Habibah yang bernama Ramlah binti Abi Sufyan
    6. Ummu Salamah yang bernama Hindun binti Abi Umayyah
    7. Zainab binti Jahsyin
    8. Zainab binti Khuzaimah
    9. Juwairiyah binti Al Harits
    10. Shafiyah binti Huyai
    11. Maimunah binti Al Harits
    Masing-masing mereka ini memiliki keutamaan yang tidak dimiliki lainnya, hanya saja yang paling utama diantara mereka adalah Khadijah dan Aisyah.

    Para Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut Tinjauan Syi’ah Rafidhah

    Tinjauan Syi’ah Rafidhah terhadap para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat sarat dengan kebencian dan kedengkian. Hal ini sebagaimana yang mereka terangkan dalam tulisan-tulisan yang luar biasa kekejiannya.

    Kalau seandainya kekejian tersebut mereka tuduhkan terhadap istri seorang muslim biasa tentu orang tersebut akan murka dan marah.

    Diantara kekejian itu adalah:
    1. Jeleknya perangai dan akhlak para istri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Ali bin Ibrahim Al Qummi di dalam tafsirnya 2/192 ketika menerangkan sebab turunnya ayat ke 28 dari surat Al Ahzab, mengatakan: “Sebab turun ayat itu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari perang Khaibar. Beliau membawa harta keluarga Abul Haqiq. Maka mereka (para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata: “Berikan kepada kami apa yang engkau dapatkan!” Beliaupun berkata: “Aku akan bagikan kepada kaum muslimin sesuai perintah Allah.” Marahlah mereka (mendengar itu) lalu berkata: “Sepertinya engkau menganggap kalau seandainya engkau menceraikan kami, maka kami tidak akan menemukan para pria berkecukupan yang akan menikahi kami.” Maka Allah menentramkan hati Rasul-Nya dan memerintahkan untuk meninggalkan mereka. Maka akhirnya beliaupun meninggalkan mereka.”

    Sungguh tidak!! Tidak akan terlintas di benak seorang muslim pun bahwa istri seorang muslim yang taat akan mengucapkan kata-kata seperti itu kepada suaminya. Lalu bagaimana perbuatan itu dilakukan oleh istri seorang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah Allah puji di dalam Al Qur`an?! Demi Allah, tidaklah mereka tulis kecuali kedustaan belaka!!

    2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia karena diracun oleh sebagian mereka.

    Didalam Tafsirul Iyasy 1/200, karya Muhammad bin Mahmud bin Iyasy mengatakan -dengan dusta- bahwa Abu Abdillah Ja’far Ash Shidiq rahimahullah pernah berkata: “Tahukah kalian apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia atau dibunuh?” Sesungguhnya Allah telah berfirman yang artinya: “Apakah jika dia (Muhammad) mati atau dibunuh, kalian akan murtad?” (Ali Imran: 144). Beliau sebenarnya telah diberi racun sebelum meninggalnya. Sesungguhnya dua wanita itu (Aisyah dan Hafshah) telah meminumkan racun kepada beliau sebelum meninggalnya. Maka kami menyatakan: “Sesungguhnya dua wanita dan kedua bapaknya (Abu Bakar dan Umar) adalah sejelek-jelek makhluk Allah.”

    3. Mereka menghukumi bahwasanya para istri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pelacur.

    Dinukilkan secara dusta di dalam kitab Ikhtiyar Ma’rifatur Rijal karya At Thusi hal. 57-60 bahwa Abdullah bin Abbas pernah berkata kepada Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah…”

    Diantara para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah radhiyallahu ‘anha-lah yang paling dibenci kaum Syi’ah Rafidhah. Mereka merendahkan kehormatan istri yang paling dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut dengan kedustaan-kedustaan yang nyata. Celaan kepada beliau akan mengakibatkan dua ribu lebih hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beberapa ayat Al Qur`an gugur. Beliaulah wanita yang paling banyak, menghafal dan meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diantara para sahabat yang lainnya.

    Beberapa celaan kaum Syi’ah Rafidhah terhadap kehormatan Aisyah:
    1. Aisyah telah keluar dari iman dan menjadi penghuni jahannam. (Tafsirul Iyasi 2/243 dan 269)
    2. Aisyah digelari Ummusy Syurur (ibunya kejelekan) dan Ummusy Syaithan (ibunya syaithan), hal ini dikatakan oleh Al Bayadhi di dalam kitabnya Ash Shirathal Mustaqim 3/135 dan 161.
    3. Riwayat-riwayat beliau bersama Abu Hurairah dan Anas bin Malik tertolak di sisi Syi’ah Rafidhah (Al Khishal 1/190 karya Ibnu Babuyah Al Qumi).
    4. Aisyah telah menggerakkan kaum muslimin untuk memerangi Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu (Minhajul Karamah hal. 112, karya Ibnu Muthahhar Al Hilali).
    5. Aisyah sangat memusuhi dan membenci Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sampai meletuslah perang Jamal (An Nushrah hal. 229 karya Al Mufid).
    6. Aisyah tidak mau bertaubat dan terus menerus memerangi Ali sampai meninggal. (At Talkhishusy Syafi hal. 465-468).
    Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’un!! Kesesatan apa yang menghinggapi hati mereka? Sedemikian besarkah kedengkian dan kebencian mereka terhadap para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terutama Aisyah?

    Tuduhan-tuduhan Dusta Syi’ah Rafidhah kepada Aisyah Berkaitan dengan Perang Jamal

    1. Aisyah tidak menerima dan dengki terhadap pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Utsman bin Affan. (Siratul A`immah Itsna Asyar 1/4222)
    2. Pemberontakan Aisyah terhadap kekhilafahan Ali bin Abi Thalib dan keinginannya untuk saudara sepupunya yaitu Thalhah bin Ubaidillah menjadi khalifah. (Syarhu Nahjil Balaghah 2/460)
    3. Aisyah menolak tawaran Ali bin Abi Thalib untuk damai dan pulang ke Madinah. (Al Khishal 2/377)
    4. Aisyah-lah yang memulai perang Jamal melawan Ali bin Abi Thalib. (Siratul A`immah 1/456)

    Jawaban terhadap Kedustaan Mereka
    1. Aisyah menerima bahkan memerintahkan kaum muslimin untuk berbai’at kepada Ali bin Abi Thalib. (Al Mushannaf 7/540)
    2. Keluarnya Aisyah bersama Thalhah dan Az Zubair bin Al Awwam ke Bashrah dalam rangka mempersatukan kekuatan mereka bersama Ali bin Abi Thalib untuk menegakkan hukum qishash terhadap para pembunuh Utsman bin Affan. Hanya saja Ali bin Abi Thalib meminta penundaan untuk menunaikan permintaan qishash tersebut. Ini semua mereka lakukan berdasarkan ijtihad walaupun Ali bin Abi Thalib lebih mendekati kebenaran daripada mereka. (Daf’ul Kadzib 216-217)
    3. Tawaran Ali bin Abi Thalib kepada Aisyah semata-mata untuk menyatukan cara pandang bahwa hukum qishash baru bisa ditegakkan setelah keadaan negara tenang. Beliaupun sangat mengetahui bahwa Aisyah bersama Thalhah dan Az Zubair tidaklah datang ke Bashrah dalam rangka memberontak kekhilafahannya. Akhirnya hampir terbentuk kesepakatan diantara mereka. (Tarikh Ath Thabari 5/158-159 dan 190-194)
    4. Akan tetapi melihat keadaan seperti ini, beberapa kaum Saba’iyah (pengikut faham Abdullah bin Saba’-pendiri Syi’ah) mulai memancing konflik diantara pasukan Aisyah dan Ali. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa salah satu pasukan telah berkhianat. Maka terjadilah perang Jamal. (Tarikh Ath Thabari 5/195-220)

    Pujian Ali bin Abi Thalib terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anha

    Didalam Tarikh Ath Thabari 5/225 diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata di saat perang Jamal: “Wahai kaum muslimin! Dia (Aisyah) adalah seorang yang jujur dan demi Allah dia seorang yang baik. Sesungguhnya tidak ada antara kami dengan dia kecuali yang demikian itu. Dan (ketahuilah -pen) dia adalah istri Nabi kalian di dunia dan di akhirat.”

    Hadits-hadits Palsu dan Lemah yang Tersebar di Kalangan Umat

    Hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:
    إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا، فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا … حَتَّى يَطْلُعَ الفَجْرُ …
    “Jika telah datang malam Nishfu Sya’ban, hendaklah kalian shalat di malamnya dan shaum (puasa) di siang harinya, karena sejak terbenam matahari sampai terbitnya fajar Allah ‘azza wa jalla turun pada malam tersebut ke langit dunia. Kemudian Dia berkata: “Adakah yang meminta ampun kepada-Ku sehingga Aku ampuni dia, adakah yang meminta rizki kepada-Ku sehingga Aku beri rizki kepadanya, adakah yang tertimpa bala` sehingga Aku hilangkan bala` tersebut…”

    Keterangan:
    Hadits ini palsu, disebabkan adanya seorang rawi yang bernama Ibnu Abi Sabrah. Al Imam Ahmad dan Ibnu Ma’in dan juga Al Hafizh ibnu Hajr menyatakan bahwa dia adalah pemalsu hadits. (Lihat Silsilah Adh Dha’ifah no. 2132 karya Asy Syaikh Al Albani)
    Al Imam An Nawawi menyatakan di dalam Al Majmu’ bahwa shalat malam Nishfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat adalah bid’ah yang munkar.

    Sumber: Bulletin Islam Al Ilmu Edisi 30/I/II/1425, Yayasan As-Salafy Jember.

    (Dikutip dari Bulletin Al Wala’ wa Bara’,Edisi ke-12 Tahun ke-3 / 18 Februari 2005 M / 09 Muharrom 1426 H. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung. Url sumber : http://salafy.iwebland.com/fdawj/awwb/read.php?edisi=12&th=3)

  30. jamil said,

    Februari 11, 2010 at 10:32 pm

    Sikap Tengah Ahlus Sunnah
    Selasa, 17 Juni 2003 – 05:56:08 :: kategori Manhaj
    Penulis: Ustadz Muhammad Umar as Sewed
    .: :.
    Ahlus Sunnah adalah umat Islam yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengikuti Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman generasi pertama mereka. Mereka berjalan di atas Ash Shirath Al Mustaqim (jalan yang lurus) yang digariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan telah dijalani oleh para shahabat dan para pengikut mereka (tabi’in).

    Mereka adalah satu jamaah, tidak berbilang dan berjalan di satu jalan tidak bercabang. Siapa yang berjalan di atas jalan tersebut maka dia termasuk jamaah Ahlus Sunnah
    sedangkan yang menyimpang darinya maka dia termasuk firqah-firqah bid’ah yang sesat.

    Jalan Ahlus Sunnah adaah jalan tengah yang adil, mereka berjalan berdasarkan ilmu sedangkan firqah-firqah bid’ah berjalan dengan sikap ekstrim kanan dan kiri. Mereka
    berada di di antara sikap ifrath dan tafrith.

    Ifrath adalah melampaui batas dalam beribadah dan beramal tanpa ilmu. Sedangkan tafrith adalah sebaliknya, yaitu melalaikan dan meremehkan ibadah bahkan menentang ilmu Al Haq yang telah diketahui.

    Syaithan menggoda anak Adam dengan dua jalan ini, yaitu ifrath dan tafrith. Pertama, dia mengajak manusia kepada kekufuran dan pengingkaran terhadap Rasulullah shallallahu
    ‘alaihi wa sallam (tafrith). Kalau hal ini tidak berhasil maka dia akan mendorong mereka untuk beramal dan beribadah dengan melampaui batas (ifrath) sehingga terjerumus ke
    dalam berbagai macam bid’ah sehingga menyimpang dari jalan yang lurus dan akhirnya amembawa mereka kepada kesesatan dan kekufuran. (Lihat Makaidus Syaithan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah)

    Gambaran mereka yang tersesat dalam sikap tafrith adalah seperti Yahudi, sedangkan yang tersesat dalam sikap ifrath adalah seperti Nashara.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Yahudi tidak melaksanakan Al Haq sedangkan Nashrani berlebih-lebihan padanya. Adapun Yahudi dicap dengan kemurkaan (Al Maghdhub Alaihim) sedangkan Nashrani dengan kesesatan (Adh Dhaallin).”

    Secara ringkas kekafiran Yahudi adalah karena mereka tidak beramal dengan ilmunya. Mereka mengetahui Al Haq tetapi tidak menyertainya dengan amal, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Sedangkan kekafiran Nashrani adalah dari sisi amal mereka tanpa ilmu. Mereka berusaha mengamalkan berbagai macam ibadah tanpa syari’at dari Allah. Dan mereka berbicara tentang Allah apa-apa yang tidak mereka ketahui.” (Iqtidha Shiratil Mustaqim oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 1/67)

    Demikianlah Yahudi dan Nashrani, dua contoh kesesatan dan dua model kekufuran.

    Yahudi terjerumus dalam sikap tafrith sehingga membunuh para Nabi dan mencela Isa bin Maryam ‘alaihis salam hanya karena nafsu dan kedengkian mereka. Mereka tahu dan
    mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti mengenal anak mereka sendiri. Mereka mengenal namanya, sifat-sifatnya, dan lain-lain tentangnya, tapi mereka mengingkari dan menentang beliau.

    Allah berfirman :

    “Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapatkan kemenangan atas orang-orang kafir. Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar.” (QS. Al Baqarah : 89 )

    Demikianlah Allah murka dan melaknat Yahudi karena sikap tafrith, mengetahui Al Haq tapi mengingkarinya. Maka Allah mengatakan tentang mereka :

    Katakanlah : “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasiq) itu di sisi Allah? Yaitu orang-orang yang dilaknat dan dimurkai oleh Allah dan di antara mereka ada yang dijadikan kera-kera dan babi-babi dan penyembah thaghut.” (QS. Al Maidah : 60 )

    Dari ayat inilah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa Yahudi dijuluki dengan Al Maghdhub Alaihim (yang dimurkai).

    Sedangkan Nashrani tersesat dalam sikap ifrath dengan menuhankan Isa dan menyembah pendeta-pendeta. Allah berfirman tentang mereka :

    “Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas (ghuluw) dalam agamamu dan janganlah kalian mengatakan atas (nama) Allah kecuali yang haq. Sesungguhnya Al Masih Isa putra Maryam adalah Rasulullah … .” (QS. An Nisa’ : 171 )

    Itulah sikap ifrath (berlebih-lebihan dalam agama) mereka, berbicara tentang Allah dan atas nama Allah tanpa ilmu. Sehingga terucap dari mereka kalimat kufur yang sangat
    besar yaitu mengatakan bahwa Isa adalah jelmaan Allah atau Isa adalah anak Allah atau Isa, Maryam, dan Allah adalah satu yang tiga, tiga yang satu. Subhanallah, Maha Suci
    Allah dari apa yang mereka ucapkan!! Allah adalah satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan!

    Maka kafirlah mereka dengan ucapan itu dan gugurlah amalan mereka dan ibadah mereka. Walaupun mereka beribadah kepada Allah dengan khusyu’ dan menangis, berdzikir menyebut nama Allah, dan memujinya dengan ikhlas. Demikianlah
    orang-orang yang berusaha untuk beribadah kepada Allah tetapi tanpa ilmu akhirnya mereka tersesat dan amalannya sia-sia.

    Allah berfirman setelah mengatakan kekafiran orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah satu dari yang tiga :

    “Wahai ahli kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat terdahulu (sebelum kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Mereka menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al Maidah : 77 )

    Dari sinilah nashrani dijuluki dengan Adh Dhaallin (yang sesat).

    Dari uraian tersebut di atas kita dapat melihat tiga jalan :

    Yang pertama jalan yang lurus (shirathal mustaqim), yang kedua jalan Al Maghdhubi Alaihim, dan yang ketiga jalan Adh Dhaallin. Maka penyimpangan dari jalan yang lurus
    berarti masuk kepada salah satu dari dua jalan yang lain.

    Kita berdoa setiap hari, setiap shalat, bahkan setiap rakaat agar diberi petunjuk ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat, yaitu jalan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang yang shalih. Dan berdoa agar jangan terjerumus ke jalan orang-orang yang dimurkai yang tidak mengamalkan Al Haq. Dan jangan pula terjerumus ke jalan orang-orang yang sesat, yang beramal tanpa ilmu. Kita ucapkan dalam Al Fatihah :

    “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka. Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan
    orang-orang yang sesat.” (QS. Al Fatihah : 6-7 )

    Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini : “Al Maghdhub Alaihim adalah orang-orang yang rusak niatnya. Mereka mengetahui Al Haq tapi menyeleweng darinya. Sedang Adh Dhaallin adalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu sehingga mereka bingung dalam kesesatan, tidak mendapatkan petunjuk kepada Al Haq, … dan seterusnya.” (Tafsir Ibnu
    Katsir 1/31-32 )

    Al Maghdhub dan Adh Dhaallin Dalam Umat Ini

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang perpecahan umat yang sudah sering disinggung dalam edisi-edisi yang lalu. Kemudian Rasulullah shallallahu
    ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa semuanya akan masuk neraka kecuali satu.

    Dalam riwayat lain dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggaris satu garis dengan tangannya kemudian berkata :

    “Ini adalah jalan yang lurus.”

    Kemudian menggaris beberapa garis di kanan dan kirinya, kemudian berkata :

    “Ini jalan-jalan, tidak ada satu jalan pun daripadanya kecuali ada syaithan yang mengajak kepadanya.”

    Kemudian membacakan ayat :

    “Ini jalanku yang lurus maka ikutilah dia dan janganlah mengikuti jalan-jalan (lain) … .” (QS. Al An’am : 153 ) [HR. Ahmad, Ad Darimi, Al Hakim]

    Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa umat beliau akan berpecah dalam berbagai macam jalan dan yang selamat hanya satu kelompok. Hadits di atas juga menunjukkan bahwa yang selamat adalah mereka yang tetap berada dalam shirathal mustaqim (jalan yang lurus) sedangkan jalan-jalan yang lain adalah jalan-jalan syaithan. Dengan demikian hanya ada dua kemungkinan yaitu mengikuti jalan keselamatan atau jalan kesesatan, mengikuti jalan Allah atau jalan syaithan.

    Dalam riwayat dari Abi Said Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa sebagian umat ini akan mengikuti model yahudi dan nashrani.

    “Pasti kalian akan mengikuti sunnah-sunnah (jalan/kebiasaan) orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta.” (Muttafaqun Alaihi)

    Ketika para shahabat bertanya apakah yang dimaksud mengikuti yahudi dan nashrani beliau mengatakan : “Siapa lagi?”

    Dari sini kita pahami bahwa dalam umat ini pun terdapat dua kesesatan model yahudi dan nashrani sebagai kaum yang dilaknat dan kaum yang sesat. Sufyan bin Uyainah dan para
    ulama Salaf berkata :

    “Sesungguhnya orang yang rusak dari ulama kita, maka padanya ada penyerupaan terhadap yahudi. Dan orang yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita maka padanya ada
    penyerupaan dengan nashrani.” (Dinukil dari Kitab Iqtidha Shirathil Mustaqim oleh Syaikh Islam 1/68 )

    Kerusakan Orang-Orang Berilmu Karena Sikap Tafrith

    Kerusakan sebagian orang-orang yang berilmu adalah karena sikap tafrith, tidak mengamalkan ilmunya bahkan menggunakan ilmu mereka untuk kepentingan hawa nafsunya. Mereka menutupi kebenaran padahal mereka tahu, mencampurkan yang haq dengan yang bathil agar menjadi samar bagi manusia, merubah-rubah kalimat Qur’an dari
    tempat-tempatnya agar sesuai dengan hawa nafsu, menjual fatwa dan mengorbankan ayat-ayat Allah untuk mendapatkan harta dunia. Ini semua adalah sifat-sifat yahudi yang
    terlaknat dan kebiasaan mereka.

    Allah berfirman tentang mereka :

    “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit mereka itu sebenarnya tidak
    memasukkan ke dalam perut-perut mereka kecuali api (neraka).” (QS. Al Baqarah : 174 )

    Allah juga berfirman :

    “Dari orang-orang yahudi mereka merubah-rubah ucapan dari tempat-tempatnya.” (QS. An Nisa’ : 46 )

    Allah berfirman lagi :

    “Wahai ahli kitab, mengapa kalian mencampuradukkan yang hak dengan yang bathil. Dan menyembunyikan kebenaran padahal kalian mengetahui.” (QS. Ali Imran : 71 )

    Dari ayat-ayat di atas terdapat beberapa sifat yahudi :

    1. Menyembunyikan Ilmi (Menyembunyikan Ilmu)

    Syaikhul Islam berkata : “Allah menggambarkan mereka yang dimurkai oleh Allah dengan sifat “menyembunyikan ilmu”. Kadang-kadang karena pelit (QS. An Nisa’ : 36-37 ), kadang-kadang karena mencari dunia dan kadang-kadang karena takut ilmu tersebut menjadi hujjah untuk menyalahkan mereka (QS. Al Baqarah : 76 ).”

    Selanutnya beliau mengatakan : “Dan beberapa golongan yang dianggap sebagai ulama (dari umat ini, pent. ) tertimpa musibah ini. Kadang-kadang mereka menyembunyikan ilmu karena pelit, khawatir orang lain akan mendapatkan keutamaan seperti mereka. Kadang-kadang karena mencari kedudukan atau harta atau kadang-kadang karena berhadapan dengan kelompok yang menyelisihi dalam satu masalah kemudian menutup ilmu yang dapat dijadikan hujjah oleh kelompok tersebut. Walaupun tentu kelompok yang menyelisihinya adalah bathil.” (Iqtidha Shirathil Mustaqim 1/73)

    2. Tahrif Kalimah (Merubah-rubah Perkataan)

    Syaikhul Islam berkata : “Tahrif ada dua macam. Tahrif tanzil (merubah kalimat) dan tahrif ta’wil (merubah makna). Adapun tahrif ta’wil banyak sekali (terjadi, pent.). Berapa kelompok dari umat ini telah terfitnah dengannya. Sedangkan tahrif tanzil telah terjadi pada kebanyakan manusia dalam lafadz-lafadz hadits, mereka meriwayatkan hadits dengan riwayat-riwayat yang munkar.”
    (Iqtidha Shirathil Mustaqim 1/76 )

    Sifat ini sangat jelas terlihat pada ahli bid’ah dari kalangan mu’tazilah dan rasionalis. Mereka merubah-rubah kalimat, merubah makna, menolak atau menyelewengkan ayat dan hadits agar sesuai dengan hawa nafsunya (baca : akalnya).

    3. Talbis Al Haq (Penyamaran Al Haq)

    Menyamarkan Al Haq atau mencampurkan Al Haq dengan yang bathil adalah sifat yahudi yang juga menimpa beberapa kelompok ahli bid’ah dari umat ini. Mereka mengerti Al Haq tetapi berusaha menyamarkannya dan mencampurinya dengan yang bathil sesuai kepentingan hawa nafsu atau manhaj mereka yang rusak.

    4. Menjual Belikan Ayat

    Sifat ini juga menimpa sebagian umat ini khususnya orang-orang yang diulamakan ternyata hati-hati mereka rusak dan niat mereka rusak dan mereka memakai sifat-sifat yahudi di atas dalam perkara ini. Na’udzubillah !!

    Syiah Menyerupai Yahudi

    Di antara firqah-firqah yang paling mirip dengan kesesatan yahudi adalah syiah rafidlah “Al Maghdhubi Alaihim.” Mereka merubah-rubah Al Qur’an, membuang surat Al Lahab, menambah surat wilayah, dan lain-lain.

    Mereka membuat hadits-hadits palsu atas nama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdusta atas nama Ali radliyallahu ‘anhu seperti yahudi berdusta atas nama Musa ‘alaihis salam. Mereka mencampurkan Al Haq dengan al bathil untuk menyamarkan kebenaran persis seperti yahudi.

    Mereka selalu menunda shalat Maghrib sampai waktu Isya seperti yahudi yang tidak shalat kecuali setelah muncul bintang-bintang.

    Mereka menganggap Jibril berkhianat memberikan wahyu kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang semestinya kepada Ali radliyallahu ‘anhu seperti yahudi yang memusuhi Jibril hingga Allah mengatakan : “Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Jibril, dan Mikail maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang yang kafir.” (QS. Al Baqarah : 98 )

    Mereka juga mengagungkan bahkan menganggap suci kelompoknya dan tokoh-tokohnya dengan melampaui batas seperti yahudi dan nashrani yang membanggakan golongannya secara berlebih-lebihan hingga mengatakan :
    Berkata yahudi dan nashrani : “Kami adalah anak-anak Allah dan kecintaan-kecintaan-Nya.” (QS. Al Maidah : 18 )

    Mereka menggunakan taqiyyah (baca: nifaq) yaitu menyembunyikan aqidah sesat dan pemahaman bathil mereka dengan berdusta hingga tokoh mereka, Al Kulaini dalam Ushulul Kafi membawakan riwayat yang dusta mengatasnamakan Ja’far Shadiq bahwa : “Taqiyyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku. Tidak ada keimanan bagi siapa yang tidak memiliki taqiyyah.” Ini persis seperti yahudi yang mempergunakan nifaq untuk menyembunyikan agamanya.

    Allah berfirman ketika membicarakan yahudi :

    “Apabila mereka menjumpai kalian mereka berkata kami beriman dan apabila mereka menyendiri mereka menggigit ujung jari mereka lantaran marah dan benci terhadap kalian.” (QS. Ali Imran : 119 )

    (Lihat Badzlul Majhud oleh Syaikh Jumaili 2/631 sampai dengan 658 )

    Maka tepat sekali kalau kita mengatakan tentang syiah :

    “Telah tampak nyata kebencian dari mulut-mulut mereka dan apa yang mereka sembunyikan dalam hati-hati mereka lebih besar lagi … .” (QS. Ali Imran : 118 )

    Setelah jelas demikian maka kita katakan kepada harakiyyin yang mengajak persatuan dengan syiah dengan ayat selanjutnya :

    “Beginilah kalian, kalian menyukai mereka padahal mereka tidak menyukai kalian. Padahal kalian beriman pada kitab seluruhnya.” (QS. Ali Imran : 119 )

    Selain yang tersebut di atas masih banyak lagi persamaan syiah rafidlah dengan yahudi hingga Syaikh Abdullah Al Junaidi menulis kitab khusus dua jilid dengan nama Badzul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidlah lil Yahud yang artinya Upaya Menetapkan (Menjelaskan) Persamaan Rafidlah Dengan Yahudi.” Hanya saja yahudi masih lebih baik dari syiah (rafidlah) dalam satu masalah, yaitu : Ditanyakan kepada yahudi : Siapa orang terbaik dalam agama mereka? Yahudi mengatakan : Para shahabat Musa. Tapi tanyakanlah pada syiah tentang orang-orang terjelek dalam agama mereka, niscaya mereka akan mengatakan : Shahabat-shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Ini sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Sya’bi rahimahullah, lihat Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah oleh Al Lalika’i juz 8 halaman terakhir).

    Kerusakan Ahli Ibadah Karena Sikap Ifrath

    Adapun kerusakan ahli ibadah adalah karena sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan melampaui batas dalam beribadah tanpa ilmu. Di antaranya :

    1. Bersikap ifrath terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Kepada Nabi mereka dengan memujinya berlebihan hingga memberikan kepadanya sifat uluhiyyah dan rububiyyah. Kadang-kadang dengan perbuatan seperti berdoa, beristighatsah (mengadu), beristi’anah (meminta pertolongan, dan bertawassul kepadanya atau kepada kuburannya. (Akan dibahas masalah ini pada edisi mendatang, Insya Allah))

    2. Bersikap Ifrath Terhadap Ulama.

    Mereka juga berlebih-lebihan terhadap ulama mereka dengan menganggap mereka ma’shum (tidak memiliki kesalahan), taqlid buta (mengikuti tanpa dalil), menganggap mereka boleh merubah-rubah hukum dan menambah-nambahnya. Di antara mereka ada yang membuat patung-patung atau memasang gambar-gambarnya, bahkan membangun kuburan-kuburannya, mengagung-agungkannya kemudian mereka thawaf mengelilinginya, memakan tanahnya, mengusap dindingnya, i’tikaf (tirakatan) di sampingnya dan lain-lain. Semuanya mereka lakukan tanpa ilmu dan tanpa perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Dalil mereka hanyalah dzan (prakiraan) hasil dugaan pikirannya dan tebakan perasaannya. Mereka menganggap dengan perbuatannya tadi mereka mendapat berkah dan petuah atau mendapatkan yang mereka harapkan, melepaskan kesulitan, memberikan jalan keluar, memberikan jodoh dan lain-lain dari anggapan-anggapan mereka tanpa ilmu.

    3. Ifrath Dalam Ibadah dan Zuhud.

    Selain itu mereka juga berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah, puasa terus-menerus tanpa berbuka atau shalat malam terus-menerus tanpa tidur. Mereka juga tidak mau menikahi wanita karena dianggap mengganggu ibadah. Mereka tidak mau memakan daging dan makanan mewah (hanya memakan sayuran dan sejenisnya) juga karena mereka menganggap akan mengganggu ibadah (yang mereka menamakannya zuhud) bahkan mereka berusaha untuk menyengsarakan dirinya dengan berpuasa di tengah terik matahari atau tidak mau bernaung sampai berbuka atau tidak mau berpakaian kecuali yang paling jelek dan lain-lain dengan anggapan bahwa yang demikian lebih besar pahalanya.

    Semua anggapan tadi muncul dari dzan (dugaan pikiran dan perasaannya) tanpa berdasarkan ilmu sama sekali. Maka inilah yang dinamakan bid’ah, muhdatsah, dhalalah yang membawa mereka kepada kesesatan!

    Semua sifat-sifat di atas adalah persis dengan sifat-sifat nashrani. Allah menjelaskan sifat ghuluw mereka di dalam Al Qur’an :

    “Wahai ahli kitab, janganlah kalian melampaui batas (ghuluw) dalam Dien kalian dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali kebenaran. Sesungguhnya Al Masih Isa bin Maryam adalah Rasulullah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam dan ruh (ciptaan)-Nya.” (QS. An Nisa’ : 171 )

    Dan Allah menceritakan tentang sikap ifrath mereka terhadap ulama, hingga menjadikan mereka sebagai rabb-rabb yang menghalalkan dan mengharamkan :

    “Mereka menjadikan pendeta-pendeta mereka dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah dan juga (mempertuhankan) Isa bin Maryam.” (QS. At Taubah : 31 )

    Kemudian tentang ifrath mereka dalam ibadah dan zuhud, Allah berfirman :

    “Dan mereka mengada-adakan bid’ah rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya atas mereka tapi mereka sendirilah yang mengada-adakan untuk mencari ridla Allah … .”

    Rahbaniyyah adalah sikap kependetaan, tidak beristri atau bersuami dan mengurung diri di biara-biara dan mengkhususkan diri hanya beribadah kepada Allah. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath Thabari dan Nasa’i dari Ibnu Abbas bahwa ketika penguasa-penguasa nashrani merubah-rubah Injil, orang-orang yang beriman (baca: ahli ibadah) yang membaca Injil membantah dan menegur mereka. Kemudian mereka diancam dan disuruh agar berhenti bicara.

    Maka sebagian mereka meminta dibuatkan tempat yang tinggi (untuk beribadah) dan agar diantarkan kepada mereka makanan dan minuman. Sebagian yang lain meminta ijin untuk mengembara memakan pohon-pohonan dan meminum air seperti binatang ternak (juga untuk beribadah) dan sebagian yang lain meminta dibaratkan rumah khusus untuk ibadah dan bercocok tanam. Inilah rahbaniyyah yang mereka ada-adakan. (Dinukil secara makna dari Tafsir Ibnu Katsir juz 4 halaman 333 )

    Sedangkan tentang sifat ifrath nashrani terhadap ulama dan ahli ibadah hingga membangun kuburan-kuburan sebagai masjid dan memasang foto-foto dan patung-patung mereka telah diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Aisyah radliyallahu ‘anha sebagai
    berikut :

    “Dari Aisyah radliyallahu ‘anhu: Bahwa Ummu Salamah menyebutkan kepada Rasulullah tentang gereja yang dia lihat di Habasyah yang dinamakan Maria. Dan apa yang dia lihat padanya berupa gambar-gambar. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mereka adalah kaum yang jika ada seorang shalih di antara mereka mati atau hamba yang shalih, mereka membangun masjid di atas kuburannya dan menggambar padanya gambar-gambarnya. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.” (HR. Bukhari Kitabus Shalah bab Shalat fil Bi’ah dan Muslim kitab Masajid bab An Nahyu an Bina’il Masajid Alal Qubur)

    Hampir semua ahli ibadah terjerumus dalam kesesatan model nashrani ini, terutama aliran sufi yang hampir semua sifat-sifat nashrani di atas ada pada mereka.

    Kesesatan model seperti ini lebih berbahaya dari yang sebelumnya, karena para pelakunya tidak mengetahui dan tidak merasa bahwa mereka dalam kesesatan, bahkan sebaliknya mereka merasa sedang berbuat baik dan beramal shalih. Lantas kapan mereka akan bertaubat!

    Allah berfirman :

    “Katakanlah : Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi perbuatannya? Yaitu orang yang sia-sia (sesat) usahanya dalam kehidupan dunia sedangkan mereka mengira bahwa mereka sedang berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi : 103-104 )

    Sikap Tengah Ahlus Sunnah

    Ahlus Sunnah berjalan lurus di antara dua kesesatan tadi. Mereka tidak bersikap tafrith terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. Mereka mengamalkan yang wajib-wajib dan berusaha menambah dengan yang mandub (jika dikerjakan dapat pahala dan jika ditinggalkan tidak apa-apa, pent.).

    Mereka meninggalkan yang haram dan berusaha mengurangi yang makruh-makruh. Kalau mereka berdosa dengan melanggar yang wajib atau mengerjakan yang haram, mereka cepat bertaubat dan tidak mencari dalil untuk membenarkan perbuatannya. Mereka mengamalkan ilmu yang mereka dapatkan dari Allah dan Rasul-Nya dengan ikhlas dalam mencari keridlaan-Nya.

    Di sisi lain, mereka tidak bersikap ifrath dalam beramal. Mereka tidak berani mengharamkan yang makruh apalagi yang halal. Tidak berani pula mewajibkan yang mandub apalagi yang haram. Mereka mengucapkan persis seperti apa yang mereka dapatkan dari ilmu (hujjah/dalil). Jadi kalau ada kekeliruan pada mereka dalam masalah ini, ingatkanlah dengan hujjah dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shahihah!
    Niscaya mereka akan segera rujuk kepadanya dan meninggalkan kesalahannya. Mereka tidak berani menambah-nambah satu bentuk ibadah kecuali jika mendapatkan perintah. Mereka memegang kuat ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

    “Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada atasnya perintahku maka dia tertolak.”

    Inilah Ahlus Sunnah, syiar mereka ialah berilmu dan beramal, tidak seperti yahudi yang berilmu tanpa amal dan tidak seperti nashrani yang beramal tanpa ilmu. Wallahu
    A’lam.

    Maraji’
    1. Badzlul Majhud oleh Syaikh Abdullah Al Jumaili.
    2. Fathul Bari Syarh Shahihul Bukhari oleh Ibnu Hajar.
    3. Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid oleh Syaikh
    Abdurrahman Ali Syaikh.
    4. Iqtidha Shirathil Mustaqim oleh Ibnu Taimiyyah.
    5. Shahih Muslim dengan Syarh Imam Nawawi.
    6. Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah oleh Al Lalika’i.

    (Dikutip dari tulisan al Ustadz Muhammad Umar as Sewed, judul asli Sikap Tengah Ahlus Sunnah, Sumber Majalah Salafy VI/Muharram/1417/1996. Dikirim al Akh Uuh Muhdy Zaeny pada hari Selasa, 17 Juni 2003 – 05:56:08)

    • suka damai said,

      Oktober 4, 2011 at 7:32 am

      sebenarnya kita juga taqlid pada guru kita.Walahua’lam bishawab

    • oewie al fakiir said,

      Februari 2, 2012 at 6:53 pm

      KALO YAHUDI DAN NASRANI GAK PERCAYA BAHWA BAGINDA ROSULLULAH SAW

  31. Nuruddin said,

    Februari 12, 2010 at 12:07 am

    ahahaha… kalau ilmu yang begitu banyak hanya untuk menyesatkan sodara kita yang lain (entah apapun firqohnya)… berarti yang dicap sesat dan yang men cap sesat tidaklah berbeda….

  32. AtthoriqBudi afriadi Zhofara said,

    Maret 19, 2010 at 3:27 pm

    Saudaraku ingat ketika Rasulullah mengabarkan tentang perpecahan ummat,hanya satu yang selamat.Siapa mereka? Jawab nabi orang orang yang mengikutiku dan para sahabatku atau al-jama’ah. Jadi jangan ikuti nafsu untuk memvonis Salafi atau Wahhabi sesat. Menurut saya yang selamat siapapun dimanapun kapanpun dan apapun nama kelompok atau pengajiannya selagi dia berpegang teguh dengan al-Quran dan Sunnah dengan pehaman para sahabat yaitu menjauhi segala Bid’ah maka dia orang yang selamat. Maka jika sesorang nyang seperti saya katakanlah tak pernah berkumpul dengan kelompok salafi atau wahabi namun jika pemahaman mereka seperti diatas maka saya rela dikatakan salafi atau wahabi. Dan jika anda menuduh Imam Ahmad dan ibnu tamiyyah sesat maka jelas andalah orang yang sesat karena biasanya orang seperti anda selalu berdalih dengan “Bid’ah ada yang hasanah dan juga dalih anda biasanya jangan membahas hal yang bersipat Furuiyyah karena akan memecah ummat, betul bukan?” Padahal Anda perlu tahu Bid’ah harus di bahas dan dibrantas karena sepakat seluruh ulama salaf dan imam yang empat termasuk Imam Syafe’i RA yang mungkin anda kira mengikuti beliau berpendapat Semua Bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan ada dineraka. Lepaskan Hizibiyyah dan prangsangka buruk anda dan cb pelajari betul karya ulama salaf jangan hanya kata orang lain. Saya akui terkadang mungkin ada beberapa aktifis salafi yang masih mudah sangat keras dan cara mereka terkadang salah dalam menghadapi masyarakat awam. Namun itu hanya kesalahan invidu tak bisa anda menjudge bahwa semua salafi begitu, apalagi memvonis bahwa mereka sesat. Bertobatlah saudaraku yang ku sayang

    • suka damai said,

      Oktober 4, 2011 at 7:41 am

      emang perlu belajar politik juga nih. biar komprehensip.apalagi sosial kultural jangan dulu perintah tobat. dan berkutat pada satu guru/buku

  33. islam said,

    April 15, 2010 at 6:48 am

    bisa di bedakan mana yang mengikuti hawa nafsu dan mana yang mengikuti agama yang dibawa Rasulullah.Saw.sebaiknya kita sama2 berdoa untuk smua muslim smoga rahmat dan hidayahnya slalu terlimpahkan untuk kita smua

  34. maulana said,

    April 22, 2010 at 3:13 am

    hahahahah

    ini tulisan, tanggapannya jauh lebih banyak dari pada tulisannya itu sendiri.

    sungguh luar biasa.

    lucunya ummat ini.

    makanya kalo mau nulis itu kudu ngeliat dulu audience ngerti kagak. kalo kagak, yah jadi kayak gini deh.

    saya yakin, seandainya penulis berhadapan langsung dengan para penanggap, maka penulis bakal bebek belur(heheheheheh) menghadapi mereka para fanatikus wahhabi dll.
    yup. best regards. semoga jadi masukan berarti buat penulis.

    • suka damai said,

      Oktober 4, 2011 at 7:52 am

      ini malah ngajak perang.debat kusir kali.jangan dibesr-besarkan.kita kan dah beda lama dengan Nabi logikanya .ada jutaan kalimat yang telah tertulis berapa persen si yang kita baca. terus berapa yang kita yakini dan amalkan

    • Neo said,

      Januari 8, 2014 at 12:46 pm

      Ternyata ente bagian dari Syiah juga ya, hehehe…….. Slamet deh, slamet ber mut’ah ria, hehehe………

  35. yayat bin sarwidi said,

    April 22, 2010 at 2:16 pm

    Alhamdulillah,bagus skali tulisan yg ente buat…mdh2an para wahabi yg ada d group ini bs terbuka hati dan pikiranya.N jangan kabur dr group ini,klo para wahabi kabur brarti keimananya d ragukan.Rosululloh SAW z dlm berdakwah d lemparin batu,kotoran,d ludain,d caci,d hina dll GA TAKUT,klo Alloh n rosulNya bersama qt ga da tuh yg namanya takut.Klo ada yg mo nantangi ana,g perlu pk teori mulu,qt lomba z dlm hal kebaikan,qt praktekin tuh ajaran rosululloh SAW,sdh sejauh mana qt bermanfaat bagi masyarakat,bangsa n negara qt indonesia….Allohuakbar….

    • azzam said,

      November 11, 2011 at 4:39 am

      silahkan antum buka kitab al-kabair (imam Ad Dzahabi) tentang larangan jiddal, n pahami juga syarah y terdapat didalamnya. semoga Allah memberikan hidayahnya

    • Neo said,

      Januari 8, 2014 at 1:02 pm

      Ajaran Rasul yg mane…?? Ngalap berkah dikuburan…?? Tahlilan kematian..?? apa ngasih sajen ke Jin laut / gunung…??
      Apa iya Rasul melakukan ritual ibadah spt itu..??

  36. abu fadiyah said,

    Mei 6, 2010 at 2:51 am

    Bismillah. kayaknya penulis harus benar-benar banyak belajar tentang salafy, jangan hanya copy paste aja, kalau bisa bertanya langsung kepada orang salafy sendiri tentang akidahnya. Karena apa yang anda tulis sangat bertolak belakang dengan akidah seorang salafy. Akhir2 ini banyak orang yang mengaku salafy (bahkan imam samudrapun mengaku dirinya salafi), karena nama ini penisbatan yang sangat agung dalam memahami ajaran Islam yang benar, tetapi tindak tanduknya tidak seperti para salaf. Saya mengira jangan2 anda salah menilai tentang salafi sesungguhnya. Perlu anda ketahui orang khowarij seperti imam samudra dan teman2 juga juga mengaku dirinya salafi, lantas salafy mana yang anda maksud?. Orang2 sururiyun juga mengaku salafi, kelompok wahdah Islamiyyahpun di sulawesi mengaku salafi, orang-orang mu’tazilah dari HT juga mengaku salafi murji’ah jua mengaku salafy. Makanya kalau anda ingin menulis selidiki dulu ajaran sesungguhnya salafi. Salafy itu bukan aliran atau ajaran baru, tetapi dia adalah penisbatan terhadap seseorang yang memahami alqur’an dan assunnah dengan pemahaman para salaf.
    Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dan bersatu di atasnya. Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak mengedepankan akal. Disebut juga Al Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash), disebut juga Ath Thaifah Al Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Tsauban). (Untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul Manshurah An Najiyyah, karya Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali).

    Manhaj salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pemahaman Salafush Shalih. Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, walaupun berada di belahan bumi yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

    Manhaj salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap muslim di dalam memahami agamanya. Mengapa? Karena demikianlah yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran dan demikian pula yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam Sunnahnya. Sedang kan Allah telah berwasiat kepada kita: “Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa’: 59)

    Adapun ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan agar kita benar-benar mengikuti manhaj salaf adalah sebagai berikut: 1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (Al Fatihah: 6-7)

    Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya…, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah.” (Madaarijus Saalikin, 1/72).

    Penjelasan Al Imam Ibnul Qayyim tentang ayat di atas menunjukkan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mereka itu adalah Salafush Shalih, merupakan orang-orang yang lebih berhak menyandang gelar “orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah” dan “orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus”, dikarenakan betapa dalamnya pengetahuan mereka tentang kebenaran dan betapa konsistennya mereka dalam mengikutinya. Gelar ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami dienul Islam ini adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj yang benar, dan berada di atas jalan yang lurus pula.

    2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam,, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’: 115)

    Al Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin disini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah menanyakan segala apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah menjawabnya dengan jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui merekalah hubungan kita bisa tersambungkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dengan Allah Ta’ala.’” (Al Marqat fii Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin –red) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.” (Majmu’ Fatawa, 7/38).

    Setelah kita mengetahui bahwa orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (As Salaf), dan juga keterkaitan yang erat antara menentang Rasul dengan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, maka dapatlah disimpulkan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti “manhaj salaf”, jalannya para sahabat.

    Sebab bila kita menempuh selain jalan mereka di dalam memahami dienul Islam ini, berarti kita telah menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan akibatnya sungguh mengerikan… akan dibiarkan leluasa bergelimang dalam kesesatan… dan kesudahannya masuk ke dalam neraka Jahannam, seburuk-buruk tempat kembali… na’udzu billahi min dzaalik.

    3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (At-Taubah: 100).

    Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengkhususkan ridha dan jaminan jannah (surga)-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar (As Salaf) semata, akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha Allah dan jaminan surga seperti mereka.

    Al Hafidh Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkhabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan ia juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/367). Ini menunjukkan bahwa mengikuti manhaj salaf akan mengantarkan kepada ridha Allah dan jannah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
    فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْلِ مَا ءَامَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ Artinya : “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu).” [QS Al Baqoroh: 137]

    Adapun hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai berikut: 1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455). Dalam hadits ini dengan tegas dinyatakan bahwa kita akan menyaksikan perselisihan yang begitu banyak di dalam memahami dienul Islam, dan jalan satu-satunya yang mengantarkan kepada keselamatan ialah dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin (Salafush Shalih). Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan agar kita senantiasa berpegang teguh dengannya. Al Imam Asy Syathibi berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -sebagaimana yang engkau saksikan- telah mengiringkan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dengan sunnah beliau, dan bahwasanya di antara konsekuensi mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka…, yang demikian itu dikarenakan apa yang mereka sunnahkan benar-benar mengikuti sunnah nabi mereka  atau mengikuti apa yang mereka pahami dari sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik secara global maupun secara rinci, yang tidak diketahui oleh selain mereka.”(Al I’tisham, 1/118).

    2. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Shahih, HR Al Bukhari dan Muslim, lafadz hadits ini adalah lafadz Muslim dari sahabat Tsauban, hadits no. 1920).

    Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata (tentang tafsir hadits di atas): “Kalau bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka?!” (Syaraf Ashhabil Hadits, karya Al Khatib Al Baghdadi, hal. 36).

    Al Imam Ibnul Mubarak, Al Imam Al Bukhari, Al Imam Ahmad bin Sinan Al Muhaddits, semuanya berkata tentang tafsir hadits ini: “Mereka adalah Ahlul Hadits.” (Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 26, 37). Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini merupakan tanda dari tanda-tanda kenabian (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), di dalamnya beliau telah menyebutkan tentang keutamaan sekelompok kecil yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan setiap masa dari jaman ini tidak akan lengang dari mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendoakan mereka dan doa itupun terkabul. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla menjadikan pada tiap masa dan jaman, sekelompok dari umat ini yang memperjuangkan kebenaran, tampil di atasnya dan menerangkannya kepada umat manusia dengan sebenar-benarnya keterangan. Sekelompok kecil ini secara yakin adalah Ahlul Hadits insya Allah, sebagaimana yang telah disaksikan oleh sejumlah ulama yang tangguh, baik terdahulu ataupun di masa kini.” (Tarikh Ahlil Hadits, hal 131).

    Ahlul Hadits adalah nama lain dari orang-orang yang mengikuti manhaj salaf. Atas dasar itulah, siapa saja yang ingin menjadi bagian dari “sekelompok kecil” yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits di atas, maka ia harus mengikuti manhaj salaf.

    3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “…. Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: golongan yang aku dan para sahabatku mengikuti.” (Hasan, riwayat At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).

    Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini sebagai nash (dalil–red) dalam perselisihan, karena ia dengan tegas menjelaskan tentang tiga perkara: – Pertama, bahwa umat Islam sepeninggal beliau akan berselisih dan menjadi golongan-golongan yang berbeda pemahaman dan pendapat di dalam memahami agama. Semuanya masuk ke dalam neraka, dikarenakan mereka masih terus berselisih dalam masalah-masalah agama setelah datangnya penjelasan dari Rabb Semesta Alam. – Kedua, kecuali satu golongan yang Allah selamatkan, dikarenakan mereka berpegang teguh dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengamalkan keduanya tanpa adanya takwil dan penyimpangan. – Ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menentukan golongan yang selamat dari sekian banyak golongan itu. Ia hanya satu dan mempunyai sifat yang khusus, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri (dalam hadits tersebut) yang tidak lagi membutuhkan takwil dan tafsir. (Tarikh Ahlil Hadits hal 78-79). Tentunya, golongan yang ditentukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu adalah yang mengikuti manhaj salaf, karena mereka di dalam memahami dienul Islam ini menempuh suatu jalan yang Rasulullah dan para sahabatnya berada di atasnya.

    Berdasarkan beberapa ayat dan hadits di atas, dapatlah diambil suatu kesimpulan, bahwa manhaj salaf merupakan satu-satunya manhaj yang harus diikuti di dalam memahami dienul Islam ini, karena: 1. Manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus. 2. Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berakibat akan diberi keleluasaan untuk bergelimang di dalam kesesatan dan tempat kembalinya adalah Jahannam. 3. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf dengan sebaik-baiknya, pasti mendapat ridha dari Allah dan tempat kembalinya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, kekal abadi di dalamnya. 4. Manhaj salaf adalah manhaj yang harus dipegang erat-erat, tatkala bermunculan pemahaman-pemahaman dan pendapat-pendapat di dalam memahami dienul Islam, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. 5. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah sekelompok dari umat ini yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 6. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah golongan yang selamat dikarenakan mereka berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika: 1. Al Imam Abdurrahman bin ‘Amr Al Auza’i berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun banyak orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy Syari’ah, karya Al Imam Al Ajurri, hal. 63). 2. Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia adalah bid’ah.” (Shaunul Manthiq, karya As Suyuthi, hal. 322, saya nukil dari kitab Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 54). 3. Al Imam Abul Mudhaffar As Sam’ani berkata: “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al Intishaar li Ahlil Hadits, karya Muhammad bin Umar Bazmul hal. 88). 4. Al Imam Qawaamus Sunnah Al Ashbahani berkata: “Barangsiapa menyelisihi sahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.” (Al Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, 2/437-438, saya nukil dari kitab Al Intishaar li Ahlil Hadits, hal. 88) 5. Al-Imam As Syathibi berkata: “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf, maka ia adalah kesesatan.” (Al Muwafaqaat, 3/284), saya nukil melalui Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 57). 6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa, 4/149). Beliau juga berkata: “Bahkan syi’ar Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa, 4/155).

    Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dienul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lamu bish shawaab.

    • suka damai said,

      Oktober 4, 2011 at 8:19 am

      Duh.kalau liat realita sekarang yang salafiyyun emang dikit. tapi kalau ulama nya cuma pandai berdebat dan tidak uswatun hasanah dalam berdakwah.alias menyiasati realita apa jadinya umat???

  37. faisal said,

    Juni 15, 2010 at 9:45 pm

    WAH
    TERNYATA ORANG SYIAH MEMANG SELALU HOBINYA BIKIN FITNAH

    NAMUN GAK PERNAH MAU NGAKU KALO LU ORANG SYIAH

    KARENA LU PUNYA AKIDAH “TAQIYAH”
    KERJANYA KAWIN MUT’AH
    SAMPE2 LU KAWININ IBU LU SENDIRI
    ADEK LU, NENEK LU, DAN SEKAMPUNG LU MUT’AH

    IMAM KHOMAINI AJA TEGA MENYETUBUHI ANAK BALITA, INI KESAKSIAN MANTAN PENGIKUT SETIANYA

    maha benar Alloh dengan segala firmannya,
    barang siapa yang Alloh sesatkan maka tiada yang dapat memberi petunjuk

    mohon hidayah sana lu sama Alloh, dan rujuk ke manhaj salaf
    jangan sampai di akhirat menjadi orang yang menyesal

  38. Ubay said,

    Agustus 2, 2010 at 4:21 pm

    Awrwb.. Orang wahabi, yang didukung oleh orang-orang celana cingkrang dan jenggot panjang, senang membunuh untuk masuk surga padahal keblinger, sedangkan orang syiah senang menyakiti diri sendiri di saat as syura.. Jadi yang bener yang mana nih.. Tp kalo dipikir-pikir mendingan menyakiti diri sendiri daripada membuh orang lain seperti orang-orang salafi/wahabi/khawarij.. Wwrwb

    • Neo said,

      Januari 8, 2014 at 1:18 pm

      Maksud ente wahabi yg mane nih…??? Abdul Wahab bin Abdurahman bin Rustum, memang mereka Khawarij, tukang jagal dan tukang Teror….. Banyak ulama2 Mekkah dahulu di bunuh dan di bantai oleh gerombolannya …..

      Kalo maksud Ente Wahabi itu Muhammad bin Abdul Wahab.., wah ente SALAH BESAR, Salah sasaran, salah orang & Salah Alamat.., mirip kayak judul lagu dangdut Ayu thing thing……

  39. bektisetiono said,

    Agustus 12, 2010 at 7:22 am

    Mohon ijin mengutib tulisan

  40. vendra said,

    Agustus 18, 2010 at 8:47 pm

    Klo memang yg nulis ini orang syi’ah,kenapa ada di blog NU,memang syi’ah sama NU sama ya..??
    Atau cuma fitnah dari mereka yg kebakaran jenggot,karena kesesatan nya terbongkar…??

    tolong kasih pencerahan dong…??
    sebenarnya siapa yg sedang berselisih disini..??

    NU vs WAHABI salafy atau SYI”AH vs WAHABI salafy…??

    • Neo said,

      Januari 8, 2014 at 1:44 pm

      Masalahnya sebagian NU itu sudah kesusupan Syi’ah…… Bahkan beberapa amalan2 Syi’ah sudah masuk di NU seperti Maulidan, Tawasulan Kubur, dsb, dst, dll…….
      Padahal kalo mau balik lagi ke ajaran Nabi Muhammad, serta para sahabatnya, mana pernah mereka Maulidan, Tawasulan Kubur, Tahlilan org mati, dsb, dst, dll…….

      Orang2 Yahudi lah, yang suka membaca kitab suci mereka (Taurat), di makam Nabi2 mereka (Seperti Nabi Daud), apakah kita mau mencontoh mereka…?? Ingat sabda Nabi untuk menyelisihi ibadah mereka….

      Wahai kaum Naddiyyin, kembalilah kalian ke ajaran Rasul yg ASLI……. Islam itu agama sempurna, nggak perlu ditambah2….

      Kalau tulisan ini ada di Blog NU, mungkin karena mereka takut Hegemoni nya dan pengaruh ajaran nya di Indonesia berkurang, sehingga masuk lah tulisan ini di blog mereka…….

  41. September 30, 2010 at 3:15 am

    Kaum Muslimin ini Blog Orang Syiah Sesat. Jangan tertipu…

  42. ahmadsyahid said,

    Oktober 12, 2010 at 4:17 pm

    salafi + wahabi = Khowarij sekelompok orang bodoh “dalam agama” yang giat dan gigih serta mengajak kepada Hukum Allah (qur`an hadist) hanya sayang karena kejahilan dan hawa nafsunya mereka tersesat lebih parah lagi mereka mengajak orang lain dalam kesesatan bahkan bisa menghancurkan agama islam. sementara syi`ah hanya mengakui hadist-hadist yang diriwayatkan oleh golongannya saja sehingga mereka pun tersesat bahkan sebagian sektenya mendekati kekafiran, sementara ahli sunnah (sunni) adalah Ahlul hadist Ahli Tashowuf Asy`ariyah dan maturidiyah mereka lah golongan yang selamat, insya allah.

    • Neo said,

      Januari 8, 2014 at 2:13 pm

      “dalam agama” yang mana nih…??? apa agama majusi, hindu, buddha, shinto, tao, konghucu, atau yg mana nih…??

      Kalau maksudnya adalah Islam, apa pernah Nabi ngajarin ilmu Tashowuf..?? apa pernah Nabi ngajarin Barzanji..?? Apa pernah Nabi menyuruh berdzikir beramai2…???

      Golongan yang selamat adalah golongan yg menjalankan Islam sesuai dengan Al Quran dan Sunnah, secara MURNI, ASLI, dan tidak bercampur dgn ajaran agama lain. Serta selalu ittiba’ kepada Rasulullah dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan di dalam perkara-perkara yang ditinggalkan oleh beliau……..

      “Sesungguhnya orang sebelum kalian dari ahli kitab telah berpecah-belah dalam 72 golongan, dan sungguh umat ini akan berpecah-belah menjadi 73 golongan; 72 golongan di dalam neraka, dan satu di syurga; yaitu al-Jama’ah. [HR Abu Dawud]

  43. sujono said,

    Oktober 20, 2010 at 4:30 am

    marilah sama-sama kita meredam diri, apakah yang kita lakukan selama ini sudah sesuai dengan ajaran Allah swt dan Rasul-Nya. sebagai contoh menegakkan sholat lima waktu berjamaah.sudahkah kita menjaganya.belum yang lainya. hidup ini penuh dosa, pengampunann-Nya adalah harapan kita,semoga Allah swt selalu memberikan hidayah kepada kita semua.Amin

    • abu afifah said,

      Juli 4, 2012 at 3:43 am

      setelah kita memperbaiki diri sendiri, kita memperbaiki orang lain, menunjukkan mana tauhid murni mana tauhid yang yang dinodai, mana sunnah mana bid’ah. kita mengetahui keburukan agar tidak terjatuh padanya, bukan utk melakukannya

  44. abdulloh said,

    November 24, 2010 at 3:30 am

    yg menjelek-jelekkn salafi adlh org yg belm paham tntng hakikat salafi gek kbnran tntg manhaj salaf yg merupakn suatu kebnran yg tdk terbantahkn

  45. Hamba Allah said,

    Desember 7, 2010 at 4:22 pm

    Surga dan Neraka adalah rahasia Allah…..kita punya satu tujuan yang sama Laa ilaha illallah

  46. Hamba Allah said,

    Desember 7, 2010 at 4:24 pm

    surga dan neraka adalah rahasia Allah, kita punya tujuan yang sama laa ilaaha illallah..

  47. Hamba Allah said,

    Desember 7, 2010 at 4:27 pm

    surga dan neraka adalah rahasia Allah, kita punya tujuan dn akidah yg sama mari dipertahankan…insya Allah..Allah ridho !

  48. uban said,

    Desember 14, 2010 at 4:03 pm

    wahaby tdk pernah tahlillan utk orang mati 1hr 7hr 40hr 100hr dan 1000hr … la wong itu ternyata adanya diajaran hindu kitab weda selamatan orang mati, looked me http://sportvideosite.com/Tahlillan/ atau di youtube …. ogah kembali lagi ke jahiliyah

  49. ibnu said,

    Desember 18, 2010 at 9:27 am

    sa rasa ente belum paham betul ttg salafi, salafi tidak bersifat monoteisme. kenyataan di indonesia ini masih banyak org2 melkukan ibadah tanpa ada dalil yg jelas dari Rasulullah SAW contohny ; tahlilan, yasinan, semedi, dll.. anda jangan sekali2 mencoba untuk menamakan suatu kelompok sesat jika anda belum sama sekali memahami inti dari ajaran agama anda sendiri

  50. Taufik said,

    Januari 3, 2011 at 10:30 am

    Bantahan Abu Salafy/Salafytaubat oleh Ustd. Firanda:
    Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik dan hidayah kepada Barry, Abu Salafy dkk.

    http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs

    • oewie al fakiir said,

      Februari 2, 2012 at 6:31 pm

      dan semoga anda juga mendapat kan hidayah dari allah swt di tujnjukan jalan yg benar amin

  51. HambaNYA said,

    Januari 6, 2011 at 6:36 am

    Wahai kau yang punya blog ini, sebenarnya siapa yang anda maksudkan Salafi, Wahabi dan Khawarij itu ?, apakah orang – orang yang mengatakan bahwa perayaan Maulid itu bid’ah, perayaan Isro’ Mi’roj itu Bid’ah, Tahlilan itu Bid’ah… dan sejenisnya ?.

    • oewie al fakiir said,

      Februari 2, 2012 at 6:29 pm

      menurut ane…iya mereka lah orang nya…

      • Neo said,

        Januari 8, 2014 at 2:40 pm

        wajar Bid’ah, karena memang nggak ada dalil nya dan contohnya dari Nabi & para sahabat Nabi….

  52. darda said,

    Januari 18, 2011 at 12:50 pm

    DASAR WAHABY GA’ TAU MALU,GA’ SADAR DIRI…. UDAH MNYIMPANG,MASIH AJA NGATAKAN DIRI PALING BNR,PALING SUNNAH,PALING…………GILA….. SADAR LAH WAHAI PARA WAHABY YG NGAKU2 SALAFY…….DMN ADA WAHABY/SALAFY PALSU INI,PASTI AJA BIKIN MASALAH DG MASYARAKAT SETEMPAT…….

    • ali gomez anabil said,

      Maret 15, 2011 at 8:13 am

      Salafy dianggap bikin masalah kepada masyarakat setempat ? harusnya anda bersyukur dengan adanya mereka yang meluruskan akidah dilingkungannya yg beramal sesuai dengan amalan hindu, meminta kekuburan, kirim2 amal yg jelas bertentangan dengan firman2 Allah. semoga anda kembali ke ajaran/ tuntuna islam yg benar ( Al Qur’an dan As Sunnah)

    • oewie al fakiir said,

      Februari 2, 2012 at 6:26 pm

      sangat setuju sekali saya dengan pendapat anda, bahwa mereka adalah perusak aqidah2 yang di bawa oleh leluhur2 kita…coba mereka berpikir kmn aja mereka dulu.. apakah orang2 tua terdahulu mengajarkan paham seperti itu???? pikir.coba berpikir dari mana kalian menganut paham wahabi dan salafi….????

      • Neo said,

        Januari 8, 2014 at 3:16 pm

        Dasar Bodoh….. Apa aqidah2 leluhur dan para orang tua dahulu sudah benar, apa mereka berada di jalan kebenaran, apa mereka sudah dijamin masuk syurga…???

        Kalau leluhur dan para orang tua dahulu penuh dengan kejahilan dan kesyirikan, mengapa kita justru mengikuti mereka..??

        Lihat Nabi Ibrahim yg berusaha menyadarkan kesalahan orang tuanya, kenapa ente nggak belajar dari case Nabi Ibrahim..??

        Lihat Nabi Muhammad yang berjuang untuk melawan kejahilan dan kesyirikan kaum Quraisy yg menyembah berhala, dengan harta & darah beliau, kenapa ente tidak mengambil pelajaran
        dari perjuangan beliau…??

        “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. An Nisa’ [4] : 36 )

  53. Abu Ukkasyah said,

    Januari 25, 2011 at 5:26 pm

    hati-hatilah terhadap bahaya DUSTA & BERBICARA TANPA ILMU….

    • ali gomez anabil said,

      Maret 16, 2011 at 4:50 am

      pendusta sudah pasti syi’ah, karena berdusta = taqiyyah yang merupakan rukun iman bagi orang syi’ah, yg hebat lagi dusta bagi syi;ah 9/10 agama, imamnya melebihi Allah sampai menguasai hingga atom terkecil dan tunduk pada imam robot gedeknya, kalo belum sodomi maka belum sempurna syi’ahnya. betul2 agama iblis laknatullah.

  54. saifuddin said,

    Januari 28, 2011 at 1:58 am

    Yang pada marah2 berarti Salafy alias Wahaby,…..
    Bukti,….Masjid di tempat aku bekerja sejkarang dah dikuasainya salah satu contohnya khotib2 jum’at yang biasa wirid dan do’a bersama sehabis salat jum’at pada dihapus dari Jadwal,…….dan yang lebih aneh lagi pengurunya malah mendukung padahal PT tempat saya bekerja itu berbasis di Jatim

    • ali gomez anabil said,

      Maret 15, 2011 at 9:01 am

      Harusnya antum bersyukur, insya Allah jalan hidayah telah ada dilingkungan antum, saya jamin amalan2 mereka sesuai Al qur’an dan sunnah. kalo antum melihatnya dengan kaca mata iman, begitulah amalan yg diajarkan Rasulullah dan parta sahabat.

      • suka damai said,

        Oktober 4, 2011 at 8:49 am

        lana a’maluna walakum a’malukum. damai saudaraku

    • abu arfa said,

      Desember 14, 2011 at 1:23 am

      makanya belajar agama dlu mas,,,jgn bantah az…islam itu tegak d atas alquran dan sunnah..ad g dalil hadist yg shahih,,inget mas dalil hadist yg shahih setelah jumatan itu wiridan da doa bersama..cba cr,,,,??????

  55. gondrong said,

    Januari 28, 2011 at 4:31 pm

    mao tanya..adakah blog salafy/wahaby yg nggak meng cut postingan comment walau tak sefaham dgn nya ? adakah ? bisa tunjukkan..?

  56. Ilham syadat said,

    Februari 26, 2011 at 11:26 pm

    Kalian yang membenci salafy adalah orang awam kami aggap perbuatan bid’ah adalah semua yang tdk sesuai dgn al-qur’an,assunah,dah hadist makanya ke ajaran yang benar jgn ke ajaran yang tdk di tau asal usul nya okee

  57. Joko Nugroho said,

    April 11, 2011 at 3:18 am

    Ketika aku putuskan untuk beramal sesuai AlQuran & Sunnah dengan faham As Salafush Shaleh, Akupun dipanggil Wahabi
    Ketika aku minta segala hajatku hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’ala tidak kepada Nabi & Wali .… Akupun dituduh Wahabi

    Ketika aku meyakini Alquran itu kalam Ilahi, bukan makhluq …. Akupun diklaim sebagai Wahabi
    Ketika aku takut mengkafirkan dan memberontak penguasa yang dzalim, Akupun dipasangi platform Wahabi

    Ketika aku tidak lagi shalat, ngaji serta ngais berkah di makam-makam keramat… Akupun dijuluki Wahabi
    Ketika aku putuskan keluar dari tarekat sekte sufi yang berani menjaminku masuk surga… Akupun diembel-embeli Wahabi

    Ketika aku katakan tahlilan dilarang oleh Imam Syafi’i
    Akupun dihujat sebagai Wahabi
    Ketika aku tinggalkan maulidan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah ajarkan … Akupun dikirimi “berkat” Wahabi

    Ketika aku takut mengatakan bahwa Allah subhaanahu wa ta’ala itu dimana-mana sampai ditubuh babipun ada… Akupun dibubuhi stempel Wahabi
    Ketika aku mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjangkan jenggot, memotong celana diatas dua mata kaki, …,…., Akupun dilontari kecaman Wahabi

    Ketika aku tanya apa itu Wahabi…?
    Merekapun gelengkan kepala tanda tak ngerti
    Ketika ku tanya siapa itu wahabi…?
    merekapun tidak tahu dengan apa harus menimpali

    Tapi…!
    Apabila Wahabi mengajakku beribadah sesuai dengan AlQuran dan Sunnah… Maka aku rela mendapat gelar Wahabi !
    Apabila Wahabi mengajakku hanya menyembah dan memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala … Maka aku Pe–De memakai mahkota Wahabi !

    Apabila Wahabi menuntunku menjauhi syirik, khurafat dan bid’ah… Maka aku bangga menyandang baju kebesaran Wahabi !
    Apabila Wahabi mengajakku taat kepada Allah subhaanahu wa ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam … Maka akulah pahlawan Wahabi !

    Ada yang bilang.…. Kalau pengikut setia Ahmad shallallahu ‘alaihi wa sallam digelari Wahabi, maka aku mengaku sebagai Wahabi.
    Ada yang bilang….. Jangan sedih wahai “Pejuang Tauhid”, sebenarnya musuhmu sedang memujimu, Pujian dalam hujatan….!

    Oleh: Ahmad Zainuddin

    • EDO said,

      April 24, 2012 at 10:56 am

      barakallahu fiik akhi

  58. pengamat said,

    April 12, 2011 at 5:25 am

    hallo, yg nulis di blog ini msh hidup apa sdh mati to?

  59. hero tasikmalaya said,

    Mei 7, 2011 at 2:32 pm

    joko,basi kata2 kau tak laku lah jgn cari publitis murahan,pendusta umat wahabi yahudi mosad

    • Neo said,

      Januari 8, 2014 at 3:26 pm

      Ente gembel….., ane jamin ente hobby sama yg namanya bakar menyan pake keris, sajen kopi pahit, rokok lisong & kembang 7 rupa… apalagi di depan kuburan / pohon beringin
      POOOL Musyrik….!!

  60. M.Arif said,

    Mei 8, 2011 at 4:36 pm

    Hero, engkau muslim tapi tuduhan mu itu lho, kok d dasari emosi dan kebencian ? Kamu dan Joko itu adalah sdr muslim ku, kalian jg bersaudara. Syahadat kalian kan sama ? Innamal mu’minun na ikhwatun ! Kalau ada perbedaan fikiyah atau masalah furu’ , sedari dulu jg sdh ada. Marilah kita jaga akhlak kita kepada Allah dan kepada sesama sdr kita. Boleh berargumen tapi yg sopan yang ilmiyah. Kalau umat islam begini , maka musuh2 islam akan bertepuk tangan melihat kita. Astghfirullah. Wass.

  61. yrenza said,

    Mei 30, 2011 at 2:28 pm

    Asslammualaikum wr wb,
    salam kenal bagi yang merasa diri nya sesorang muslim dan mengaku cinta kepada allah swt dan rasullah saw
    Dengan Hormat
    yang mempunyai blog ini atau yang telah membaca tulisan saya ini:
    Tahukah kalian bagaimana iblis telah berjanji kepada allah swt…….?
    mungkin bukan suatu kebetulan saya datang ke blog ini cuma saya ingin mebrikan saran kepada yang telah menulis blog atau yang menulis pesan2 di atas saya,
    cukup sudah perdebatan antara kalian, untuk apa kalian membesar2kan masalah, sekian tahun saya berkliling 3hari,40hari,4bulan, saya melihat kondisi umat saat ini semakin hari semakin menjauh dari agama allah kenpa kalian tidak berfikir dan dewasa, coba lah kalian berfikir untuk membantu agama allah sejenak saja anda memohon perlindungan kepada allah dan meminta kepada allah agar di berikan jalan yang lurus dan benar, marilah kita sama2 untuk bersatu, marilah kita menegakan agama allah sampai keseluruh dunia, coba renungkanlah kembali
    dari sekian banyak yang pernah saya ikuti a,b,c,d,e sekali pun saya tetap akan membela agama allah sampai akhir hayat saya, untuk apa kalian memperdebatkan toh yang nnti nya akan mengetahui benar salah ny adalah allah swt
    Bila memang kalian cinta kepada allah dan rasullah maka tunjukanlah
    rasa islam kalian bila itu pun kalian telah menikmati nikmat islam, wahai saudara ku semuslim marilah kita bersatu kembali sekian abad,sekian tahun kita telah di tingalkan oleh baginda kita, kegagahan,kekuatan,keperkasaan ada di agama islam, coba kita lihat sekarang kebodohan,kemunduran dan di cemohkan ada di mana? banyak yang mengakui saya islam tapi tidak melakukan sholat, baru2 ini saya ke jakarta tidak ku sangka seseorang menghampiri saya dan berkata,
    Islam sekarang tidak usah sholat juga tidak apa2? saya kaget dan merasa heran ajaran dari mana ini, baru saat ini saya bertemu dengan seseorang mengatakan seperti itu, padahal rasullah saw berkata sudah ku tinggalkan 2 perkara yang tidak akan tersesat yaitu alquran assunah,setalah saya ngobrol jauh akhir nya sya tahu yaitu sufinews (silahkan di google), ini baru saya temui bagaimana yang kita tidak ketahui di luar sana……?
    Wahai saudara ku seiman yang yakin dengan kalimat Laailaha illah muhamaddurrasullah Marilah kita bersatu,marilah kita raih kemenangan,
    insyallah akan ada itjima di cikampek pada tanggal 23 s/d 27 juni mohon untuk kehadiran nya di sana akan ada perkembangan islam di sana, kami tidak membawa bendera mana pun entah itu NU,muhamadiyah,apapun itu kami menyatu dan bersatu memikirkan bagaimana agama islam saat ini
    Wass
    salam Kenal
    yrenza (yadi)
    022-92807494
    bandung (dayeuh kolot)

  62. Juli 9, 2011 at 3:17 am

    Mari kita menjadi muslim saja. Allah saja yang menjadi Tuhan kita sekaligus sesembahan kita. Muhammad Rasulullah hamba Allah dan teladan kita. Al Qur’an pedoman hidup kita dan Islam adalah agama kita ^ ^

  63. Javad Al-Kadzim said,

    Agustus 13, 2011 at 3:34 am

    Yang merasa Salafy?Wahhaby pasti pecinta Ibnu Taimiyah. Yang merasa mencintai Ibnu Taimiyah wajib membalas mubahalah ane “Jika tidak satupun ucapan Ibnu Taimiyah yang tercantum dalam Kitab Minhaj as-Sunnah yang menghina Imam Ali maka ane akan dila’nat Alloh dengan hukuman yang sanagt pedih mulai detiik ini juga sampai akhir hayat ane” Jika antum tidak berani membalas mubahalah ane dan tetap mengikuti Ibnu Taimiyah maka antum termasuk golongan Nawashib (pembenci ahlul bayt seperti Ibnu Taimiyah dan Muawiyah la’natullah)!

    • oewie al fakiir said,

      Februari 2, 2012 at 6:51 pm

      SETUJA SAMA AKHI….ALLAHUAKBAR

      • Neo said,

        Januari 8, 2014 at 3:33 pm

        Ternyata ente Syi’ah tohh…. Pantes sesat nya……

    • abu faiq said,

      Maret 16, 2012 at 6:42 am

      Beginikah ucapan ahli sunnah wal jamaah?????saya pikir antum adalah bukan ahlussunnah tapi syiah tuleen!!!mana bukti kitab kitab ibnu taimiyah menjelekkan Ali ra?tunjukkan sekarang!!!kami di saudi 13 th belum pernah mendengar mereka menjelekkan Ali ra,yang saya dengar bahwa orang orang NU kelakuannya melebihi kaum musyrikin dan hoby mengobrolkan kejelekan manusia serta mengadu domba sesama muslim seperti ketua PBNU said aqil.

      • EDO said,

        April 24, 2012 at 6:17 am

        HMM..ANTUM SUDAH FAHAM BERARTI KALAU SI AQIL SIRAD ITU MEMANG IMAM-NYA KESESATAN HE..HE….ALHAMDULILLAH

  64. Rohman Nisa said,

    Oktober 10, 2011 at 2:58 am

    lanjut…..

  65. Oktober 10, 2011 at 3:45 am

    [...] dari : http://dervishwarrior.blogspot.com Suka Be the first to like this [...]

  66. abdul manap said,

    November 10, 2011 at 10:54 am

    penulis artike diatas kalau nulis jangan jelek2in dong kan sama2 Islam

    • oewie al fakiir said,

      Februari 2, 2012 at 6:49 pm

      MENURUT SAYA BUKAN JELEK” SOB TAPI MEMBENARKAN MANA YANG BENAR

      • Neo said,

        Januari 8, 2014 at 3:36 pm

        Dan yang pasti menutupi-nutupi kebusukan Syi’ah nya……

  67. orin said,

    November 22, 2011 at 3:43 am

    penulis katroooooooooooo

  68. orin said,

    November 22, 2011 at 3:46 am

    setelah saya baca artikel dr penulis yg d maksud sesatnya salafi itu salafinya amrozi cs

  69. oewie al fakiir said,

    Februari 2, 2012 at 6:48 pm

    Wahabi & Salafi (WS):
    “Maulid dan tahlilan itu haram, dilarang didalam agama.”
    Ahlussunnah (AJ) : “Yang dilarang itu bid’ah, bukan Maulid atau tahlilan, bung!”

    WS : “Maulid dan tahlilan tidak ada dalilnya.”
    AJ : “Makanya jangan cari dalil sendiri,nggak bakal ketemu. Tanya dong sama guru, dan baca kitab ulama, pasti ketemu dalilnya.”

    WS : “Maulid dan tahlilan tidak diperintah didalam agama.”
    AJ : “Maulid dan tahlilan tidak dilarang didalam agama.”

    WS : “Tidak boleh memuji Nabi Saw. secara berlebihan.”
    AJ : “Hebat betul anda, sebab anda tahu batasnya dan tahu letak berlebihannya. Padahal, اللّه saja tidak pernah membatasi pujian-Nya kepada Nabi Saw. dan tidak pernah melarang pujian yang berlebihan
    kepada beliau.”

    WS : “Maulid dan tahlilan adalah sia-sia, tidak ada pahalanya.”
    AJ : “Sejak kapan anda berubah sikap seperti Tuhan, menentukan suatu
    amalan berpahala atau tidak, Allah saja tidak pernah bilang bahwa Maulid dan tahlilan itu sia-sia.”

    WS : “Kita dilarang mengkultuskan Nabi Saw. sampai- sampai menganggapnya seperti Tuhan.”
    AJ : “Orang Islam paling bodoh pun tahu, bahwa Nabi Muhammad Saw. itu Nabi dan Rasul, bukan Tuhan.”

    • abu faiq said,

      Maret 16, 2012 at 6:28 am

      SILAHKAN ANTUM BACA KITAB IMAM SYAFII DAN JUMHUR ULAMA SYAFII.ATAU DI BLOGNYA ABDULLAH ABU FAIQ ABU TENTANG PENDAPAT IMAM SYAFII DAN SYEH ABD QODIR ZAELANI YANG MEMAKRUHKAN DAN MENGHARAMKAN TAHLILAN

    • EDO said,

      April 24, 2012 at 6:36 am

      YA ROBBI….ORG INI TERNYATA BENCI SEKALI TERHADAP SUNNAH….ENTE MENGERTI NGGAK? BAHWA ALLAH SWT HARUS DAN HANYA DI IBADAHI DENGAN CARA2 YANG ALLAH MAUI/INGINKAN BUKAN SEMAU2NYA SEPERTI NAFSU ENTEEE….TAHU KAH ENTE…YA…PENDENGKI….!!! HANYA NABI MUHAMMAD SAW LAH YANG MENGERTI CARA BERIBADAH TERHADAP ALLAH SWT YANG BENAR, KALAU ENTE BERIBADAH DENGAN MENGGUNAKAN PANDANGAN ENTE YANG DHOLAL ITU, MEMANG…..MENURUT ENTE BAIK…. TAPI MENURUT ALLAH SWT TIDAK BAIK!… TAHU DARI MANA TIDAK BAIKNYA HA…..? KARENA NABI MUHAMMAD SAW KALAULAH TAHU BAHWA MAULID DAN TAHLILAN INI BAIK DAN MEMBAWA KEMASLAHATAN BAGI UMMAT PASTI BELIAU DAN PARA SAHABATNYALAH YANG AKAN PERTAMA2 DULU MENGAMALKAN TAHLILAN DAN MAULID…FAHM TA???? BUKTINYA NABI MUHAMMAD DAN SAHABAT TIDAK ADA YANG MENGAMALKANNYA….
      LHA KALAU ENTE TETAP MENGAMALKANNYA…. ENTE BERARTI MENGANGGAP PERBUATAN NABI MUHAMMAD DAN PARA SAHABAT DALAM BERIBADAH MASIH BELUM CUKUP…MASIH KURANG, MASIH DIBAWAH STANDAR IYA BEGITU….ENTE BERARTI LEBIH HEBAT DARI NABI MUHAMMAD BEGITU HA….???PADAHAL ENTE KAN TAHU NABI MUHAMMAD SEBAIK2NYA TUNTUNAN, YANG WAJIB KITA IKUTI…TAPI KALAU ENTE MASIH NGEYEL BERARTI NAFSU ENTE YANG MENGUASAI DIRI ENTE… RENUNGKANLAH…YA FULAN

    • Neo said,

      Januari 8, 2014 at 3:59 pm

      Wajarlah dia ini ahlul Bid’ah atau Syi’ah, berbicara cuman asbun…..
      Nggak bermutu dan nggak berbobot, penuh dengan kebodohan….

      Dari Sa’id bin Musayyab Radhiyallahu anhu, bahwa ia melihat seseorang mengerjakan lebih dari dua rakaat shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau melarangnya. Maka orang itu berkata, “Wahai Sa’id, apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?”, lalu Sa’id menjawab :”Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi Sunnah”

      [SHAHIH. HR Baihaqi dalam "As Sunan Al Kubra" II/466, Khatib Al Baghdadi dalam "Al Faqih wal mutafaqqih" I/147, Ad Darimi I/116].

      Pertanyaan nya : Rasul tidak pernah mengadakan Tahlilan, Rasul tidak pernah mengadakan Maulidan, layakkah kita mengerjakan ibadah yg Rasul tidak pernah kerjakan…???

  70. abu mughits said,

    April 3, 2012 at 3:09 pm

    anda telah memfitnah secara keji pendapat anda tidak mendasar sama sekali dan tidak ada buktisetahu saya salafiyah itu mencintai ahlulbait.bertaubat lah anda takutlah pada ALLOH SWT.

  71. Zidni Wijaya said,

    April 18, 2012 at 10:45 am

    ah…orang setres kog didengar..kalo tidak salah yang membuat blok ini…dia itu pintar tapi sayang pintarnya…kebablasan kenegri setan jadi yah…otaknya selalu mengatas namakan setan dan akalnya…aja…maaf bukan SAYA tidak tau dengan masalah islam karna saya sendiri orang islam dari keluarga besar NU dan MUHAMMADYAH…tapi saya tidak mengedepankan organi sasi…tapi saya mengededepankan AL-QUR’AN yang wajib di imani DAN SUNAH rosululloh dan cara cara IBADAH yang dikerjakan olleh rosulullah para sahabat tabi,in dan para imam yang terdahulu…karna mereka lebih tau dari pada kita sekarang ini…apa lagi pusat islam di negara arab saudi…yah pasti mereka dan orang orang terdahulu lebih ngerti dari pada kita yang tinggal di indonesia…tapi kalo saya teliti…dari catatan dan pemikiran yang membuat artikel diatas…seperti pemikiran orang orang yang benci dengan persatuan islam di indonesia…salah satunya…orang orang YAHUDI..kenapa saya bilang begitu karna orang yahudi sangat paham sekali dengan namanya islam dan bagaimana islam itu…karna mereka orang orang pintar tapi mereka sangat mengingkari dengan kebenaran islam itu sendiri…

    • EDO said,

      April 24, 2012 at 6:49 am

      MASYA ALLAH ANTUM BENAR2 MENGINGATKAN PADA ANA TENTANG ORANG2 YANG DIANGGAP ULAMA MUSLIM , KYAI, CERDIK PANDAI MUSLIM OLEH KEBANYAKAN ORANG… MEREKA RAMAI2 DATANG KE NEGARA KAAFIR MENDALAMI ILMU AGAMA ISLAM DI SANA (ANEH SEKALI KALAU MAU MENIMBA ILMU AGAMA YA HARUS KEPUSAT AGAMA ITU JADI AKAN MENJADI LEBIH TEPAT, LHA INI MENIMBA AGAMA ISLAM DI NEGARA AMERIKA SERIKAT, PENGAJARNYA NASRANI DAPAT GELAR DR. BANGGA SEKALI…ANEHHHH), DIA PULANG2 KE INDONESIA MEMBAWA GELAR YANG MENTERENG….DARI HASILNYA DIA MENIMBA ILMU SAMA ORANG KAAFIR PADAHAL TENTANG AGAMA ISLAM… SETIBANYA DI SINI LANGSUNG BERKOAR2 TENTANG AGAMA ISLAM BUAT STATEMENT INI, BUAT STATEMENT ITU….SEOLAH2 DIA AHLI HADIST AHLI FIKH ANEH BIN LUCU

  72. anismujiono mahasiswa iain semarang said,

    Mei 14, 2012 at 4:53 pm

    saya belum jelas tentang Imam Ahmad bin Hambal dan Ibnu Taimiyyah. tolong anda terangkan. apakah anda berpendapat bahwa paham mereka sama dengan paham wahabi? apakah akidah imam Ahmad menurut anda sama seperti wahabi? kalau anda berpendapat demikian, maka sy katakan bahwa anda kurang ajar. anda ingin mencemarkan NU. NU itu sangat menghormati Imam Ahmad bin Hambal. bahkan NU mengakui bahwa beliau adalah salah satu madzhab empat. tetapi anda malah menuduh beliau sebagai Wahabi

  73. Firdaus said,

    Juni 2, 2012 at 1:18 am

    dari pada ngeributin mana nama golongan yg salah dan benar. Mending kita selamatkan orang-orang islam di negeri kita yg sedang diperdaya oleh bangsa zionis yahudi lewat media dan entertaiment untuk mengikuti agama mereka dan menghapuskan umat islam dan yang lainnya dari dunia kembali pada wasiat rasulullah saw,yaitu AL-QURAN DAN SUNAH

  74. abu afifah said,

    Juli 4, 2012 at 3:23 am

    penulisnya kok belajar di negri syiah ya? jangan-jangan sdh tercemar ajarannya dan corongnya Syiah.

  75. Mantan KALAF said,

    Agustus 3, 2012 at 7:46 am

    MEWASPADAI MISSIONARIS NASRONI BERBAJU ISLAM: SALAFY WAHABI
    Assalaamu’alaykum diberitahukan kepada ummat islam di mana pun berada, agar selalu waspada karena Missionaris Nasroni zaman sekarang bernama salafy wahabi akan menghancurkan islam dari dalam, ia berusaha dengan berbagai macam cara agar ummat islam di luar kelompoknya mau mengkuti ajaran, menjadikan nabi dan menyembah ulama-ulama mereka. Di antara ciri-cirinya yag paling jelas adalah selalu berkicau bid’ah, sesat, kafir n musyrik. dan berdalih sebagai penngikut salaf dan sunnah rosul. ini persis sebagaimana di isyaratkan dalam al Qur’an: Yahudi dan Nasroni tak kan rela/ridho kepadamu wahai ummat Islam, sehingga kamu mengikuti millah-millah mereka.

    • EDO said,

      September 4, 2012 at 9:55 am

      setahu saya yang berpenampilan seperti salah satu partai islam indonesia yg terkenal itu tapi sekarang sudah menjadi partai bukan islam adalah kristen ortodok indonesia…dia orangnya bersongkok putih, jenggot sih ada…. tapi dipotongin dan disisain sedikit biar keliatan rapih…tapi celana masih isbal..dia juga sering mengucap kata2 yang sering di ucapkan umat muslim, kitab injil nya menggunakan bahasa arab, lagu2 gerejanya juga nampak seperti lagu2 islami. waspadai itu..dan setahu saya pula yang menamai wahabi itu adalah orang2 barat yang kristen dan yang membenci islam, sehingga sering mengadu domba ummah…pada akhirnya orang islam pun sangat populer dengan istilah wahabi, dan ikut2 mempropagandakannya

    • Neo said,

      Januari 8, 2014 at 4:38 pm

      “Wahai orang-orang yang beriman ketika datang kepada kalian orang yang fasik dengan membawa suatu berita maka tabayunlah (mencari kebenaran berita)”.(QS. Al Hujurot : 6)

      Lebih baik ente cari tau itu yang namanya Salafi Wahabi, apakah mereka membikin-bikin ajaran Islam baru, atau justru mengembalikan ajaran Islam nya Nabi…..

      Masalahnya adalah, apakah umat Islam di Indonesia ini yang katanya TERBESAR DI DUNIA ini sudah Islam sesuai dengan Islam nya Nabi Muhammad, atau cuman Islam KTP…??? Kalau cuman besar, secara Quantity tapi kecil secara Quality for what…????
      Dari sisi Allah itu tidak bernilai…….

      Yang repot itu kalau aqidah Islam nya nggak kuat, memahami Islam nya nggak bener, campur-campur dengan ajaran agama lain, campur-campur dengan animisme & dinamisme leluhur, bertoleransi yg berlebihan & keblabasan, kaum Nashoro & Yahudi dgn mudahnya memurtadkan umat Islam….

  76. Zaenal Abidin said,

    September 5, 2012 at 7:13 am

    Kebenaran adalah dasar setiap permusuhan dan kebencian di muka bumi ini. Saya salut kepada setan yang telah berhasil menebarkan isu dan wacana tentang kebenaran.

  77. September 5, 2012 at 7:19 am

    Hmmmm Memang setan itu cerdas! Bayangkan saja orang membaca dan mengerti Al-Qur`an bisa berantem dan lupa bahwa mereka itu manusia biasa yang selalu mendambakan kebaikan dari Allah dan manusia lain.

  78. Abu lebay said,

    Oktober 5, 2012 at 4:45 am

    Buat muslim

    Gamana sih saudara muslim ini kok seperti orang linglung mengajak orang lain untuk tidak saling menghujat “TAPI DIA SENDIRI MELAKUKAN NYA“ sadar saudaraku!!! Hehehe…

  79. Oktober 29, 2012 at 2:37 pm

    [...] Sesatnya Salafi, Wahabi dan Khawarij [...]

  80. Adrian said,

    Desember 12, 2012 at 2:50 am

    Really Appreciate this post, can I set it up so I receive an email
    sent to me whenever you write a fresh article?

  81. Mustamar.d said,

    Desember 26, 2012 at 8:18 am

    sayang diblog Syi’ah setiao komentar saya, selalu dihapus karena memang tidak jujur. Salafi bearti orang yang melaksanakan agama islam bersama rasulnya dan bagi yang betul berimanan waktu itu sudah dijamin masuk syorga. khusus kepda sahabat yang berempat kalau ada yang mengutuknya salah satu bearti orang itu tidak berterima kasih kepada beliau itu. Abu bakar telah menyelamat budak bilal dg dibeli kepada tuannya, Umar bin Khatab di do’akan nabi agar ALLah memberi petunjuk kepada Umar untuk masuk islam, Utsman bin sebagian besar hartanya disumbangkan untuk membela islam, Ali bin Abi Thalib terkenal dengan “PEDANG ALLAH”. Tapi setelah nabi meninggal khalifah berempat itu tak pernah berbantahan dan saling menghormat. Tau-tau setelah khalifah Utsman r.a ada saja yang menjangjung Ali diluar kewajaran, dan memfitnah Abu Bakar, Umar bin Khatab dan Utsman sebagai orang munafik, dan di iakan oleh syi’ah sampai hari ini. maka saya saran kepada generasi muda ada miss informasi antara pengikut Ali dg pengikut ketiga kalifah tsb, siapa yang yang menyebarkan informasi fitnah itu sampai sekarang pelajarilah dg cermat dan redakan kemarahan didada, serta hilangkanlah rasa benci yang tak beralasan kepada khalifah tersebut, kalau tak mau bertanyalah kepda diri masing2 siapa yang sesat “MEREKA ATAU SAYA”?

  82. clothing said,

    April 20, 2013 at 6:39 pm

    As the admin of this website is working, no hesitation very
    rapidly it will be famous, due to its quality contents.

  83. April 28, 2013 at 1:26 pm

    Every weekend i used to visit this web site, because i want
    enjoyment, as this this site conations in fact good funny data too.

  84. Mei 9, 2013 at 6:55 pm

    I’m amazed, I must say. Seldom do I encounter a blog that’s equally
    educative and interesting, and without a doubt, you have hit the nail on the head.

    The issue is something not enough people are speaking intelligently about.
    Now i’m very happy I came across this in my hunt for something regarding this.

  85. good advice said,

    Juni 9, 2013 at 2:06 pm

    Everything is very open with a clear description of the issues.
    It was definitely informative. Your site is very helpful.
    Many thanks for sharing!

  86. budi said,

    Juli 3, 2013 at 9:12 am

    inilah ajaran penulis yg dia bilang jalan yg benar

  87. muslim said,

    Juli 13, 2013 at 7:23 am

    Ketika kalian menganggap diri kalian sebagai bagian dari golongan tertentu maka sebenarnya kalian semua sesat……hanya muslim…hanya islam….ƔαNg benar

  88. hanya salafy said,

    Agustus 17, 2013 at 1:30 pm

    Semua yang di luar salafy sesat, cuma salafy yang benar!

    • Alfaqir said,

      September 29, 2013 at 4:38 pm

      Nabi pernah bersabda siapa yang merasa Ahli Surga itulah Ahli Neraka dan Siapa yang merasa Ahli Neraka itulah Ahli Surga. begitujuga siapa yang merasa dirinya sudah benar (Takabbur) itulah yang sesat dan siapa yang merasa lemah untuk mendapatkan kebenaran (tawadhu) itulah kebanaran yang hakiki.

      • Neo said,

        Januari 8, 2014 at 4:57 pm

        “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

        “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)

        “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i)

        “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676)

        “Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 54)

        “Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’ “
        (HR. Bukhari no. 6576, 7049).

        “(Wahai Rabb), sungguh mereka bagian dari pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sungguh engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku”(HR. Bukhari no. 7050).

        Ibnul Majisyun berkata: Aku pernah mendengar Malik berkata, “Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam Islam suatu bid’ah yang dia anggap baik (baca: bid’ah hasanah), maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah. Sebab Allah berfirman (yang artinya), “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian.” Apa-apa yang pada hari itu bukan termasuk ajaran agama, maka hari ini hal itu bukan termasuk agama.” (lihat al-Arba’una Haditsan fi Minhaj ad-Da’wah, hal. 69 dan al-I’tisham, [1/64-65])

        Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Pokok-pokok as-Sunnah dalam pandangan kami adalah berpegang teguh dengan apa-apa yang diyakini oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meneladani mereka dan meninggalkan bid’ah-bid’ah. Kami meyakini bahwa semua bid’ah adalah sesat.” (lihat ‘Aqa’id A’immah as-Salaf, hal. 19)

  89. Abdul 'Arifin said,

    September 16, 2013 at 6:15 am

    Coba tolong dari bin bass bin jin jass bin tajin ora jelas, jgn emosi jika anda memang islam sejati.

    • Alfaqir said,

      September 29, 2013 at 4:00 pm

      Kebenaran hanya milik Allah, merasa diri benar hanyalah hawa nafsu kesombongan yang akan membinasakan diri. perbedaan pandangan dalam setiap kehidupan merupakan sunnatullah dan sesuatu yang sudah ditakdirkan Allah. Hanya orang-orang yang diberi petunjuklah yang akan selamat dari fitnah syaitan yang senantiasa mengelabui diri dan pemahaman kita sehingga merasa paling benar. kembalikan semuanya kepada Allah dengan hati yang tawakkal bukan dengan logika dan kekuatan diri. sesungguhnya orang-orang yang benar tauhidnya bukanlah orang yang merasa sudah mentaati dan mentauhidkan Allah dan Rasulnya, tetapi sebenar-benar tauhid adalah orang yang tenggelam didalam penyaksian nyata tentang rahasia-rahasia yang tidak akan dirasakan oleh siapun jua yang masih terikat hatinya dengan selain Allah.

      • Alfaqir said,

        September 29, 2013 at 4:30 pm

        kesesatan umat islam bukan karena tidak punya dalil, tetapi keliru dan salah dalam memahami dalil. Kekeliruan memahami dalil ditentukan banyak faktor diantaranya tingkat keilmuan dengan berbagaimacam aspek penunjangnya, metodologi dalam memahami dalil serta kedangkalan dalam memahami maksud Allah dan Rasulnya yang ada pada dalil. Oleh karenanya dari sinilah yang akan memunculkan perbedaan pandangan sehingga masing-masing golongan merasa paling benar. Oleh karenanya Apabila terjadi perbedaan dalam memahami dalil kembalikanlah kepada Allah dan Rasulnya. Kembali disini maksudnya Allah memerintahkan kita sebagaimana didalam Al-Quran untuk bertanya kepada Ahli Zikir (Ahli Ilmu yang khusuk hatinya hanya kepada Allah), bukan ahli dalil yang hanya berpegang teguh pada dalil yang difahami dengan logika keilmuan semata.

      • Neo said,

        Januari 8, 2014 at 5:12 pm

        Komentar Imam As Syafi’i Rahimahullah soal Shufiyah (Tasawuf)

        “Seandainya seorang menjadi sufi (bertasawwuf) di pagi hari, niscaya sebelum datang waktu Zhuhur, engkau tidak dapati ia, kecuali menjadi orang bodoh”.[13] (2/503)

        “Saya sama sekali tidak mendapatkan seorang sufi berakal, kecuali Muslim al-Khawash”.[14] (2/503)

        “Asas tasawwuf adalah kemalasan.”[15] (2/504)

        “Tidaklah seorang sufi menjadi sufi, hingga memiliki empat sifat: malas, suka makan, sering merasa sial, dan banyak berbuat sia-sia”.[16] (2/504)

  90. pembela sunnah said,

    Oktober 17, 2013 at 3:00 am

    Masih ingatkah kalian ketika Gus Dur si Mata Satu menghina Al-Quran, ketika dia menyatakan bahwa Al-Quran adalah buku paling porno sedunia? Sampai dia mampus, tidak pernah terdengar dia bertobat dari ucapannya itu. Tokoh NU bermulut najis itu tega berucap kotor terhadap Kitab Suci kami, lalu bagaimana lagi dengan mulut-mulut bau para pengikut si Buta itu dari kalangan cecunguk kroco-kroco NU seperti kalian? Semoga Allah melindungi kami umat Islam dari makar kaum munafik. Amin

  91. Abu husna said,

    Oktober 27, 2013 at 1:22 am

    Selain keburukan salafy,mungkin mas abu salafi punya sedikit info tentangkebaikai salafy.mohon infonya

  92. Abu husna said,

    Oktober 27, 2013 at 1:29 am

    Selain keburukan salafy yg mas ubu salafi tahu,munakin ente panya info yg baik tentang salafy

  93. Yoga Permana said,

    Juni 11, 2014 at 12:52 pm

    hmmm… di sini lah lemahnya islam.. ana beri 2 clue yang simpel…. dan kebenaranya hanya bisa di nilai oleh diri sendiri.
    Ada 2macam Tipe Pendapat Para saudara ku seiman…. mohon… bagi yang memang sedang mencari kebenaran bukan kemenangan golongan maka coba pelajari ini….
    1. Pendapat Berdasarkan NAFSU :
    Pendapat yang satu ini Didasari oleh NAFSU, di rasakan ketika kita merasa kita paling benar, dalil yang di lihat, di pakai , di bela hanyalah dari golongan kita sendiri, Enggan menengok dalil yang lain… tidak peduli golonganya menggunakan dalil Maudhu (palsu), & tidak peduli pula golongan lain memiliki dalil sohih (benar). Ketika kita merasakan diri kita seperti nomer 1 ini maka Demi Allah ana yakin kita tahu ini salah atau benar.

    2. Pendapat Berdasarkan IMAN :
    Pendapat yang satu ini Di dasari oleh IMAN, Dapat di rasakan ketika kita merasa ingin mencari tahu ketika dari golongan lain ada dalil yang sohih (benar) namun bertentangan dengan prinsip golongan kita sendiri, selalu meneliti mencari tahu ke absahan & ke sohihan dari dalil golongan lain DAN juga dari golongan sendiri… Ketika kita berada pada posisi Nomer 2 ini… Demi ALLAH yang menggenggam roh ku kita Bisa mengenal semua jenis golongan dari sini kita bisa melihat mana yang benar…

    Dengan Catatan Dalilnya S H A H I H Itu yang terpenting Seperti Dalil” yang di gunakan oleh komentar pada tggal Januari 8, 2014 pada 4:57 pm. Silahkan saling menela’ah….
    Salam Saudara Seiman Semoga ALLAH selalu memberi kita petunjuk… AAMIIN…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: