Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani
Ditranslasi dari The Approaching to Armageddon
Nabi saw. menyebutkan bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah pembangunan Bayt al-Maqdis di Yerusalem dan penghancuran Yatsrib (Madinah). Dari Mu’âdz ibn Jabal, Nabi saw. berkata (bahwa di antara tanda-tanda akhir zaman adalah), “Pembangunan kembali Bayt al-Maqdis, penghancuran Yatsrib dan penghancuran Yatsrib, munculnya pembantaian dan pertempuran dahsyat atau pertikaian berdarah, penaklukan Konstantinopel dan kemunculan Dajal.” Lalu Nabi saw. menepuk paha Mu’âdz sambil berkata, “Sungguh, itu merupakan kebenaran, seperti halnya kenyataan bahwa kamu sedang duduk saat ini.” Kita mungkin akan berpikir bahwa untuk membangun Yerusalem (Quds) berarti membangun gedung-gedung tinggi beserta tampilan peradabannya yang bisa kita saksikan saat ini, dan bahwa di Madinah tidak akan ada “peradaban” semacam itu. Namun, di Madinah telah dibangun gedung-gedung tinggi, pusat-pusat perbelanjaan, hotel-hotel, terowongan-terowongan menuju masjid, dan perluasan masjid. Semua ini tampaknya bertolak belakang dengan hadis yang menyebutkan bahwa Madinah akan hancur.
Ketika kita cermati hadis itu lebih dalam, kita melihat bahwa Nabi saw. tidak menyebutkan bahwa seluruh kota Yerusalem akan dibangun, tetapi Bayt al-Maqdis akan diperbaiki. Quds mencakup seluruh Yerusalem, dan Bayt al-Maqdis adalah kawasan suci tempat Nabi Muhammad saw. naik ke langit dalam rangka Isra dan Miraj. Ucapan Nabi saw. tidak mencakup seluruh bangunan di Yerusalem, seperti yang disebutkan dalam hadis, “pemugaran kembali Bayt al-Maqdis,” yang secara khusus menyebutkan bayt (rumah) untuk menekankan bangunan yang akan dipelihara dan dipugar, termasuk bangunan di sekelilingnya, seperti monumen dan benda-benda sejarah. Kawasan tersebut telah dijaga selama berabad-abad, dan dipelihara dalam bentuknya yang asli. Melalui pengetahuannya yang diberikan oleh Allah, Nabi Muhammad saw. telah melukiskan peristiwa itu 1400 tahun yang lalu. Seperti yang disebutkan terdahulu, situasi Madinah saat ini, dengan bangunan-bangunannya modern, tampak bertolak belakang dengan hadis yang menyebutkan bahwa Madinah akan mengalami penghancuran. Namun, dengan pencermatan yang lebih saksama, kita mengetahui bahwa Nabi saw. secara khusus menyebutkan bahwa Yatsrib, bukan Madinah, akan dirusak.
Pernyataan Nabi yang sangat akurat itu mengungkapkan makna yang bisa dipahami dalam konteks modern. Yatsrib adalah kota Nabi tempat munculnya cahaya pengetahuan yang menyinari dunia. Ia merupakan tempat berdirinya pemerintahan Islam yang pertama, dan sumber banyak prestasi para sahabat. Kharâb Yatsrib berarti bahwa peradaban kota tua Madinah (yang dulu dikenal dengan nama Yatsrib) akan rusak. Dampaknya adalah bahwa segala peninggalan klasik dan tradisional dalam Islam akan dihancurkan pada masa-masa sebelum datangnya Kiamat.
Pengrusakan Bangunan Monumental Islam oleh Wahabi
Pengrusakan itu dilakukan oleh sekelompok orang yang menyebarkan versi Islam mereka sendiri, yang mendiskreditkan dan meremehkan tradisi-tradisi klasik. Kini, kita menyaksikan kemunculan sekelompok orang yang menentang setiap aspek Islam tradisional, Islam arus utama, yang telah dipelihara oleh umat Islam selama lebih dari 1400 tahun. Kelompok tersebut ingin mengubah seluruh pemahaman keagamaan dengan menawarkan Islam “modernis” mereka. Orang-orang tersebut merupakan kelompok minoritas di tubuh umat Islam.Gagasan-gagasan mereka yang penuh penyimpangan telah disanggah dan ditolak dari berbagai sisi oleh para ulama Islam, seperti yang telah banyak ditulis orang. Tidak ada yang namanya Islam itu dimodernkan, diperbaiki, ataupun dibenahi. Islam adalah agama yang sempurna, sejak pertama kali dibawa oleh Nabi Muhammad saw. hingga Hari Kiamat. Allah berfirman: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan atasmu nikmatku, dan telah Kuridai Islam menjadi agama bagimu. (Q 5:3)
Islam adalah pesan terakhir dan pastilah mampu mengakomodasi semua kehidupan manusia hingga akhir masa. Islam dapat merangkul semua jenis kebudayaan tanpa sedikit pun menambah atau mengurangi makna Islam itu sendiri. Oleh karena itu, tidak ada reformasi, renovasi, penambahan, atau pengurangan dalam Islam. Sementara Islam tidak mengenal reformasi, orang-orang Islam sendiri perlu mereformasi diri sehingga mereka dapat memahami dan melaksanakan Islam dengan benar. Dalam kesempurnaannya, Islam mirip dengan bulan purnama: bulatnya tidak kurang dan tidak lebih. Kharâb (Penghancuran) Yatsrib disebutkan dua kali dalam hadis di atas. Kali pertama adalah penghancuran peradaban pengetahuan Nabi saw, yaitu pengrusakan agama dalam bentuk penyimpangan terhadap pesan-pesan Nabi saw. Mereka yang mengklaim diri sebagai “pembaharu Islam” berusaha menyuguhkan hal-hal baru untuk menggantikan dan menghapus hal-hal klasik dan tradisional dalam Islam. Sejak dari Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb hingga Jamâl al-Dîn al-Afghânî, al-Mawdûdî, Sayyid Quthb, dan yang lainnya, para “modernis” ini berusaha mengubah seluruh tradisi Islam yang diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi saw. di Yatsrib. Aliran Wahabi adalah yang pertama kali mengajukan pemahaman yang sepenuhnya baru tentang Islam, dengan kedok “pemurnian” Islam.
Ideologi Wahabi ini telah merusak Islam tradisional atas nama “pemurnian” Islam, seakan-akan semua orang Islam sebelum munculnya Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb telah tersesat. Alih-alih membawa pemurnian, ia justru telah menghancurkan ilmu-ilmu dan praktik keislaman yang telah berakar selama berabad-abad. Semua hal yang telah diwariskan Nabi saw. dan generasi Islam sepeninggal beliau tiba-tiba dicap sebagai bentuk penyembahan berhala (syirik) yang harus dimusnahkan. Orang-orang Islam yang melaksanakan ibadah haji dijejali dengan bahan-bahan bacaan dan propaganda mereka, sehingga para jemaah itu menganggap bahwa keyakinan dan praktik tradisional mereka bertentangan dengan Islam. Sekte Wahabi meragukan tradisi keilmuan yang telah berusia 1400 tahun, dan melontarkan tuduhan kufur, syirik, bidah, dan haram terhadap berbagai praktik dan pemahaman tradisional. Kerusakan pertama yang menimpa Yatsrib adalah ketika Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb menghancurkan ilmu-ilmu keislaman dengan cara meracuni pemahaman orang-orang Islam terhadap agama mereka. Ungkapan kharâb Yatsrib yang kedua merujuk pada penghancuran fisik terhadap bangunan dan monumen yang berasal dari masa Nabi di Yatsrib, kota Madinah klasik. Di Madinah memang telah terjadi perluasan Masjidil Haram, tetapi kenyataan tersebut tidak bertolak belakang dengan ungkapan “kharâb Yatsrib” karena hadis tersebut merujuk pada kota tua Madinah yang dikenal dengan Yatsrib, dan semua yang mewakilinya.
Segala sesuatu yang terkait dengan kehidupan Nabi telah dipelihara oleh orang-orang Islam selama bertahun-tahun, apakah masjid tua, benda-benda sejarah, atau makam rasul, para sahabat, istri, dan anak-anaknya. Meskipun orang-orang Islam selama berabad-abad sepakat bahwa situs-situs tersebut merupakan bagian penting dalam sejarah dan tradisi Islam, semuanya dihancurkan oleh aliran Wahabi dengan menggunakan dalih bahwa “semua itu bukan lagi Islam”. Pemahaman mereka yang dangkal terhadap Islam mengakibatkan penghancuran sejumlah benda peninggalan sejarah dan monumen. Kharâb berarti “penghancuran,” tetapi kata ini juga bermakna peruntuhan.” Memang, kantong-kantong tradisi klasik masih ada, dan hendak dibangun kembali oleh umat Islam, tetapi mereka tidak diperkenankan membangunnya kembali, sehingga yang tersisa hanyalah reruntuhan dan puing-puing bangunan.
Tidak ada lagi orang yang mengetahui lokasi kuburan para sahabat. Di Gunung Uhud dekat Madinah, kita bisa menyaksikan puing-puing bangunan yang awalnya merupakan makam yang dilengkapi dengan kubah dan hiasan-hiasan indah. Dengan makam yang terlihat jelas, bangunan suci itu mengenang para sahabat yang gugur bersama Hamzah di Gunung Uhud. Kini, hanya ada reruntuhan dinding yang diabaikan oleh para pengunjung. Demikian pula halnya, sudah tidak ada lagi bekas-bekas yang menunjukkan makam para syuhada Badar. Juga, tidak ada lagi tanda kuburan istri Nabi, Khadîjah al-Kubrâ di Jannat al-Mu’ala, Mekah. Di Jannat al-Baqî’ (permakaman yang bersebelahan dengan makam dan Masjid Nabi di Madinah), makam ‘Utsmân, ‘Â’isyah dan sejumlah sahabat telah dipelihara oleh penguasa ‘Utsmani hingga awal abad ke-20, namun jejak-jejaknya kini telah dihilangkan. Hal itu merupakan pengrusakan fisik terhadap peradaban Islam yang ada sejak Nabi saw. tinggal di Yatsrib. Dengan perlahan-lahan dan diam-diam, para pengikut sekte Wahabi telah melenyapkan semua hal yang terkait dengan Nabi saw. dan Islam tradisional, sehingga saat ini nyaris tak tersisa. Di samping Ka’bah di Mekah al-Mukarramah terdapat Maqâm Ibrâhîm, yang memuat jejak kaki Nabi Ibrâhîm ketika beliau membangun Ka’bah. Allah berfirman: Dan ingatlah ketika Kami menjadikan Baitullah sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian Maqâm Ibrâhîm sebagai tempat salat. (Q 2:125)
Meskipun demikian, otoritas keagamaan Wahabi atau salafi di Mekah pernah mencoba melenyapkan Maqâm Ibrâhim. Itu terjadi pada masa almarhum Syekh Mutawallî al-Sya’râwî dari Mesir yang memberi tahu Raja Faisal tentang rencana mereka, sehingga raja memerintahkan mereka agar membiarkan Maqâm Ibrâhîm di tempatnya semula. Raja berdiri menentang mereka dalam persoalan serius itu, tetapi banyak kejadian serupa di mana beliau hampir mustahil menahan gelombang pengrusakan terhadap benda-benda peninggalan dan tradisi Islam. Hingga 1960-an, makam ayah Nabi di Madinah ditandai dengan tulisan di dinding sebuah rumah dekat Masjid Nabawi, tetapi tanda itu kini sudah lenyap. Di Masjid Nabawi, semua dinding dan tiang masjid awalnya dihiasi dengan puisi-puisi pujian terhadap Nabi saw. Para pengikut aliran Wahabi kemudian menghilangkan hiasan-hiasan itu, baik dengan mengganti dinding marmer itu, atau menghapusnya hingga tidak terlihat lagi hiasan puisi yang tersisa. Satu-satunya hal yang tidak dapat mereka lenyapkan adalah tulisan di depan mimbar pada mihrab (tempat salat imam) yang berisi pujian kepada Nabi saw. dan 200 nama beliau. Pada tahun 1936, orang-orang Wahabi bahkan berusaha memisahkan Masjid Nabawi dari makam Nabi, tetapi negara-negara Muslim bersatu menentang rencana tersebut dan berhasil menggagalkannya, sebuah keberhasilan yang sangat jarang terjadi.
Di depan gerbang menuju makam Nabi (al-muwâjihâh al-syarîfah), pada awalnya terdapat tulisan: Yâ Allâh! Yâ Muhammad! Pengikut aliran Wahabi kemudian menghapus huruf yâ’ dalam ungkapan Yâ Muhammad, sehingga hanya tersisa huruf alif, Â Muhammad, atau Muhammad saja. Belakangan, mereka melangkah lebih jauh lagi dengan menempatkan kembali huruf yâ’ pada kata Yâ Muhammad, dan juga menambahkan titik di bawah huruf hâ’ sehingga menjadi huruf jim (ﺝ), dan menambahkan dua titik (di bawah huruf mîm) sehingga menjadi huruf yâ’. Dengan begitu, mereka telah mengubah nama Muhammad menjadi Majîd, salah satu asma Allah. Kini, tulisan tersebut menjadi: Yâ Allâh! Yâ Majîd! Persis seperti ketika melenyapkan makam para sahabat dan keluarga Nabi, mereka kini juga telah menghapus nama Nabi dari makamnya sendiri. Ini bertentangan dengan kenyataan bahwa Allah telah memuliakan Nabi saw. dengan menempatkan nama beliau bersanding dengan nama-Nya dalam kalimat syahadat, lâ ilâha illâ Allâh, Muhammad Rasûl Allâh. Khârab Yatsrib yang disebutkan dua kali dalam hadis di atas telah terpenuhi. Pertama, dari segi ideologi oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb dan para pengikutnya. Dan kedua, dengan kerusakan fisik yang terus berlangsung terhadap sisa-sisa Islam tradisional. Pembangunan kembali Bayt al-Maqdis, yang hanya sekali disebut, juga sedang berlangsung. Ungkapan ‘umrân Bayt al-Maqdis berarti pembangunan kembali peninggalan-peninggalan klasik di Yerusalem, sementara ungkapan kharâb Yatsrib berarti penghancuran terhadap cara-cara dan peninggalan klasik di kota YatsribWa min Allah at Tawfiq
Assalamu ‘alaikum wr. wb.Rekan-rekan yang diRahmati Alloh SWT, Saya hanya ingin menambahkan sedikit saja tentang kehancuran Kota Madinah, sepertimana yang baru-baru saya saksikan secara langsung ketika mengunjungi kota Madinah Al-Munawwaroh 17-20 Juli 2005. Itung-itung cerita ini sebagai oleh-oleh dari Madinah ya…Dari segi kemajuan tekhnologi tata ruang bangunan dan interior sebuah kota, saya menilai Madinah sangat cantik dan modern serta memiliki kemajuan yang sangat pesat sekali, terutama bangunan-bangunan diseputar Masjid Nabawi dan tempat-tempat sekitar radius 5-10 kilometer dari Masjid Nabawi. Namun dari sudut pandang sejarah, kota ini seakan-akan tidak memiliki lagi latar belakang sejarah kegemilangan Islam di masa lalu. Secara pribadi saya amat sangat menyayangkan situs-situs sejarah banyak yang dihilangkan oleh pemerintah KSA yang berfaham wahabi, seakan-akan kota ini ingin dirubah seperti newyork atau ala singapura. Perubahan ini terjadi dimulai sejak era tahun 1990-an, dimana kebetulan tahun 1993 saya juga pernah mengunjungi kota ini selama 9 hari.
Perubahan yang terjadi dari hasil pengamatan saya adalah :1. Pemakaman syuhada baqi, kalau dulu tahun 1993 kita masih bisa ziarah dan memandang ke makam baqi dengan hanya berdiri seperti halnya bila kita berdiri diluar tempat pemakaman umum di Indonesia. Tapi perubahan yang sekarang adalah, pemakaman baqi tidak bisa dilihat atau diziarahi hanya dengan berdiri karena pemakaman itu sekarang sudah dikurung dengan tembok berlapis marmer setinggi kira-kira 6-10 meter tingginya, sehingga kalau kita mau berziarah dan melihat makam syuhada baqi harus menaiki anak tangga dulu sekitar 5 meter. Disamping itu kalau dulu kita bebas berziarah kapan saja waktunya sesuai dengan keinginan kita, tapi sekarang tidak sembarang waktu bisa kita lakukan, kecuali antara pkl 07.00 sampai pkl.8.30 pagi waktu setempat. walaupun kita terlambat 5 menit saja, jangan berharap anda bisa menaiki anak tangga karena diujung anak tangga sudah di tutup pintu besi setinggi 3 meter-an, dan bilamana sudah pkl.08.30 anda masih saja berada di atas sana, askar2 kerajaan akan segera menarik-narik badan anda untuk segera keluar dari sana. Jadi memang sekarang sangat dibatasi ruang maupun waktu dalam menziarahi maqam baqi ini.
Dan yang menggenaskan saya adalah, dibawah tembok setinggi 6-10 meter itu sekarang sudah dibuat kios-kios kecil sebagai tempat usaha para pedagang menjajakan barang dagangannya. Entahlah… mungkin 15-20 tahun kedepan Maqam baqi mungkin sudah tidak ada lagi dan areal pemakamannya sudah dijadikan gedung pasar yang modern. Menurut penilaian saya, penutupan areal pemakaman dengan tembok setinggi 6-10 meter saat ini hanya sebagai awal saja, dengan maksud supaya orang tidak lagi secara bebas berziarah kesana, sehingga lama-kelamaan orang akan lupa untuk berziarah ke maqam Baqi ini. Akhirnya setelah orang melupakan areal ini, generasi berikut tak ada lagi yang mengetahui dimana areal pemakaman baqi, selanjutnya mungkin akan dijadikan gedung pertokoan, siapa tahu…?
2. Masjid Qiblatain, (masjid 2 kiblat), dulu tahun 1993 masjid ini memiliki 2 mimbar, satu menghadap Makkah, satu lagi menghadap Baytul Maqdis.Pada mimbar baytul maqdis tertulis dengan berbagai bahasa termasuk dalam bahasa indonesia, yang menceritakan bahwa mimbar ini sebelumnya digunakan sebagai mimbar Rosululloh SAW ketika sholat menghadap baqtul maqdis, namun setelah turun ayat (al-Isro..?) yang memerintahkan untuk merubah qiblat dari menghadap masjidil aqsho ke masjidil harom, Rosululloh SAW berpindah ke mimbar yang sekarang menghadap Masjidil harom (mimbar ke 2).Tapi sekarang ; mimbar yang menghadap Masjidil Aqso sudah dihilangkan sehingga tidak ada tanda lagi bahwa masjid ini memiliki 2 kiblat, sehingga sudah hilang nilai sejarahnya. “Masjid qiblatain” hanyalah tinggal sebuah nama saja, mimbarnya tinggal 1, sepantasnya namapun berubah menjadi Masjid Qiblat, karena mimbarnya hanya satu.
3. Parit Handak, yang pernah digunakan Rosululloh SAW untuk menghalau musuh dalam peperangan, dulu tahun 1993 masih ada berupa gundukan tanah yang digali seperti lobang saluran air yang panjang, tapi kini khandak hanya tinggal nama, lokasinya sudah diuruk rata.4. “Tanah basah” tempat dimana Syadina Hamzah terbunuh pada perang uhud, sekarang sudah ditutup dengan aspal yang tebal dan dijadikan lokasi parkir kendaraan. Tapi anehnya, walupun sudah dilapisi dengan aspal, aspalnya tetap basah hingga sekarang walaupun sudah 14 abad terpanggang sinar matahari. Konon tanah ini tetap menangis selama-lamanya karena ditumpahi darah Saydina Hamzah Rodiallohu-anhu, seorang yang sangat gagah berani di medan Uhud, sehingga terus-menerus basah walaupun sudah ditutup dan dilapisi aspal yang tebal.
5. Kota Madinah sebetulnya memiliki sebuah sumur abadi seperti halnya sumur zam-zam di Makkah, perbedaannya kalau sumur zam-zam itu asalnya adalah peninggalan Nabi Ibrahim AS, ketika Siti Hajar istrinya mencarikan air untuk memberi minum putranya Nabi Ismail AS. Tapi kalau di Madinah adalah peninggalan Rosululloh SAW, yang masih tetap mengeluarkan air hingga sekarang. Namanya adalah sumur “Tuflah”, lokasinya dipinggiran kota Madinah. Tuflah asal katanya berarti air ludah, konon kata kuncen penjaga sumur ini, sumur ini dibuat semasa Rosululloh SAW dalam perjalanan menuju kota Madinah, namun ketika itu kehabisan persediaan air.Akhirnya Rosululloh SAW dengan mu’jizatnya meludahi dengan air ludahnya sendiri suatu tempat di padang pasir yang gersang itu, dan saat itu juga tanah itu mengeluarkan air dan hingga sekarang dijadikan sebuah sumur yang airnya sangat jernih sejernih zam-zam, dan tetap mengalirkan air hingga sekarang. Saya mencoba minum dan berwudhu dari air sumur ini, memang terasa sangat nikmat bagaikan meminum air zam-zam. Tapi sangat disayangkan, sumur ini sudah jelas sebagai peninggalan sejarah dimasa Rosululloh SAW, tidak dilestarikan sama-sekali bahkan dibiarkan saja oleh Pemerintah KSA sehingga nampak kusam dan tidak terurus sama-sekali. Mungkunkah wahabi tidak terlalu suka peninggalan Rosululloh SAW?
Kata kuncen penjaga, kebanyakan orang-orang yang mengunjungi sumur ini adalah orang-orang ahlus-sunnah yang mencintai ahlul bait, termasuk anda, anda dari Indonesia?, katanya…Tapi maaf, disini anda tidak boleh berlama-lama melancong, karena setiap 2 jam sekali ada patroli dari Askar kerajaan dan mata-matanya (spionase) yang mengawasi orang-orang yang berkunjung kesini. Saya khwatir anda ditangkap oleh tentara wahabi. Maka bila anda sudah minum dan berwudhu silakan anda segera pergi dari sini.
Wa min Allah at Tawfiq
qowimul Iman berkata,
Juli 10, 2007 pada 4:32 am
Asslamu’alaikum wr.wb
terus terang saya sangat berterima kasih atas keberadaan situs ini, karena telah memberikan banyak informasi yang menurut saya masih langka. khusus untuk tulisan syekh Hisyam al Kabbani saya mohon agar bisa dikirim ke email saya karena disamping saya sangat mengagumi beliau sebagai seorang mursyid, tulisannya akan saya jadikan sebagai bahan untuk dakwah menyebarkan Islam secara benar.
Mohon redaksi berkenan mengabuklkan permintaan saya. sekian
wasalamu’alaikum Wr Wb
Rudi berkata,
Juli 11, 2007 pada 3:47 am
hm, menarik…. tapi amanah amanah ilmiyah dari tulisan ini masih perlu dipertanyakan,.. sebab terlalu banyak tuduhan-tuduhan dusta dan tak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiyah.. hm tudahan org ini terhadp wahaby, maka hendaknya kita lansung melihat kitab2 yg mereka karang, buktikan apakah sesuai dg omong kosong yg ditudingkan ini….
maaf, ya perlu sy tekankan, sekalipun sy bukan wahaby dan tidak pula sufi, tapi bagaimanapun kita mesti menghidupkan kembali amanah ilmiyah yg saat ini mulai hilang dari dada-dada kaum muslimin,diantara merka yg lebih menekankan sikap puas apa adanya yg mereka dengar dari nenek moyang merka atau dari guru-guru mereka tanpa tabayyun dan tatsabbut. hm, bukanlah Islam ini Tinggi, dan tidak ada yg dapat menandingi ketingiannya, bahkan dalam masalah keilmiyahan Islam sangat menekankan hal itu. sekian
terima kasih… ayoo, kita sama-sama baca
“Satubdy laka al ayyam maa kunta jaahilan
wa ya`tiika bil anbaa`i man lam tuzawwidu”
eddy kusuma berkata,
September 19, 2007 pada 10:31 am
saya sangat senang dan mengacung jempol dan semoga penulis mendapatkan imbalan dari Allah SWT dan kalau boleh tulisan ini akan kami copy ataupun anda kirim ke email kami yang selanjutnya akan kami tampilkan pada situs kami http://www.sriwijayanet.org... atas kebaikannya kami ucapkan terimakasih
Penghancuran Situs Situs Sejarah Oleh Kaum Wahabi Saudi * « berkata,
November 12, 2007 pada 1:49 am
[...] * Sumber : http://barrynuqoba.wordpress.com/2007/07/01/penghancuran-madinah-yatsrib-oleh-wahabi/ [...]
maksum berkata,
September 10, 2008 pada 12:13 am
sungguh kata2 yang dusta!.salafi setiap kata mempunyai dasar yang jelas dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.saya mengingatkan bertakwalah dan takutlah kepada ALLAH. ingat hari pembalasan nanti,
kombayana berkata,
September 23, 2008 pada 3:39 pm
dusta gmn maksud ente maksum..
ibrahim berkata,
November 30, 2008 pada 3:06 pm
saya heran, kepada sekumpulan manusia yang mengaku bermanhaj salaf dan mengikuti ajaran ibnu wahhab..
mereka hanya mau mendengar omongan dari ustadz/syeikh mereka saja,,,
ketika ada berita yg mencoba mengungkapkan kebenaran akan kesalahan2 muhammad bin abd wahhab dan penerusnya, yg bersumber dari ulama di luar mereka, dengan nada penuh emosi dan sok pintar, mereka selalu menolak kebenaran tsb.
saran saya bwt kaum yg sangat terpesona kepada ajaran ibnu wahhab, cobalah anda sedikit terbuka dan berwawasan luas, jangan melulu berfikiran sempit ….
biarlah Allah SWT yg menvonis siapa yg terbaik diantara manusia di akhirat kelak, janganlah anda selalu meng-kafir2-kan atau mem-bid’ah2-kan orang yang tidak sefaham dengan anda (kaum wahhabi)…
Pertanda Alam Semesta » Sejarah Peradaban Islam Dihancurkan Rezim Wahabi Saudi Arabia berkata,
Juli 3, 2009 pada 5:02 am
[...] Inikah nubuwwah Rasulullah saw. ? Penghancuran Madinah (Yatsrib) oleh Wahabi [...]
Zen berkata,
Juli 4, 2009 pada 3:24 pm
Sekilas, tulisan ini menarik.
hmm tapi kalo di pahami dengan seksama, terlalu banyak tuduhan pada wahaby dan salafy, lagi pula penafsiran2 ayat dan hadits tidak merujuk pada tafsir para ulama.
sekedar mengingatkan, takutlah kepada Alloh dan bertobatlah atas apa yang anda tuduhkan. karena Alloh akan menghisab amal perbuatan kita meskipun sebesar biji zarah
habib wahid ibnu bayanillah berkata,
Agustus 25, 2009 pada 2:43 pm
Islamku islam anda adalah islam kita,menurut itiqodku islam sy lah yg paling benar(sunni),menurut mereka (wahabi)islam merekalah yg paling benar,yg terpenting bg sy adalah mereka(wahabi)jng diri merasa paling benar hingga gampang sekali mengkafirkan,membidahkan memfasikkan ,menzindikkan muslim lainya,karena itu akan berbalik pd dirinya.semoga ALLAHswt mengampuni kebodohan kita.AminDimata kalian Ulama kami (NU) adalah kaum kafir yg harus diluruskan seolah olah hanyalah kaum kalian yg mempunyai tiket masuk syurga,pdhal merasa paling benar itu sudah salah menurut Alquran dan Hadist,mau tau dalilnya? cari sendiri biar pinter!selamat belajar.
dhani berkata,
September 27, 2009 pada 6:18 am
ana cuman mau kasih saran ma nt semua..
kalau islam itu agama Allah yang tauhid…
dan jangan kalian semua memecah belah islam..
coba deh baca kalian baca al-qur’an dan tafsirnya,,,
jangan kalian menghina suatu kaum karena belum tentu amalan2 kalian lebih baek dari amalan2 kaum itu…
coba liat surat hujurat…
ini untuk kaum muslimin dan muslimah kalau mau menghakimi atau menuduh seseorang itu harus dilihat dulu dan diamati, serta kita harus tau betul bagaimana mereka.. jangan menafsirkan sesuatu sekehendak nafsu dan harus kita kembalikan kepada alqur’an dan al-hadist… karena kita dituntut Allah untuk melihat dan berfikir dalam al-qur’an…