Sifat-sifat Wahabi / Salafi yang Tercela

Dari Kitab DURARUSSANIYAH FIR RADDI ALAL WAHABIYAH Syeikhul Islam Allamah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan Asy-Syafi’i.

Diantara sifat-sifatnya yang tercela ialah kebusukannya dan kekejiannya dalam melarang orang berziarah ke makam Nabi saw dan membaca sholawat atas Nabi saw, bahkan Muhammad bin Abdul Wahhab sampai menyakiti orang yang hanya sekedar mendengarkan bacaan sholawat dan yang membacanya dimalam Jum’at serta yang mengeraskan bacaannya di atas menara-menara dengan siksaan yang amat pedih.

Pernah suatu ketika salah seorang lelaki buta yang memiliki suara yang bagus bertugas sebagai muadzin, dia telah dilarang mengucapkan shalawat di atas menara, namun lelaki itu selesai melakukan adzan membaca shalawat, maka langsung seketika itu pula dia diperintahkan untuk dibunuh, kemudian dibunuhlah dia. Setelah itu Muhammad bin Abdul Wahhab berkata : “perempuan-perempuan yang berzina dirumah pelacuran adalah lebih sedikit dosanya daripada para muadzin yang melakukan adzan di menara-menara dengan membaca shalawat atas Nabi.

Kemudian dia memberitahukan kepada sahabat-sahabatnya bahwa apa yang dilakukan itu adalah untuk memelihara kemurnian tauhid. Maka betapa kejinya apa yang diucapkannya dan betapa jahatnya apa yang dilakukanya Tidak hanya itu saja, bahkan diapun membakar kitab Dalail ul-Khairat. Kitab Dalail Khairat adalah kitab yang memuat 200 Nama-nama Nabi saw, kitab inilah yang dibaca para pejuang Afghanistan sehingga mampu mengusir Uni Sovyet / Rusia, seperti juga Salahuddin al Ayubi yang menghidupkan Mawlid Nabi sehingga tentaranya mampu menahan pasukan Nasrani.

Namun kemudian Wahabi mengirim Taliban yang akan membakar kitab-kitab tsb) dan juga kitab-kitab lainnya yang memuat bacaan-bacaan shalawat serta keutamaan membaca salawat Nabi saw ikut dibakar, sambil berkata apa yang dilakukan ini semata-mata untuk memelihara kemurnian tauhid.

Dia juga melarang para pengikutnya membaca kitab-kitab fiqih, tafsir dan hadits serta membakar sebagian besar kitab-kitab tsb, karena dianggap susunan dan karangan orang-orang kafir. Kemudian menyarankan kepada para pengikutnya untuk menafsirkan Al Qur’an sesuai dengan kadar kemampuannya, sehingga para pengikutnya menjadi BIADAB dan masing-masing menafsirkan Al Qur’an sesuai dengan kadar kemampuannya, sekalipun tidak secuilpun dari ayat Al Qur’an yang dihafalnya.

Lalu ada seseorang dari mereka berkata kepada seseorang : “Bacalah ayat Al Qur’an kepadaku, aku akan menafsirkanya untukmu, dan apabila telah dibacakannya kepadanya maka dia menafsirkan dengan pendapatnya sendiri. Dia memerintah kepada mereka untuk mengamalkan dan menetapkan hukum sesuai dengan apa yang mereka fahami serta memperioritaskan kehendaknya diatas kitab-kitab ilmu dan nash-nash para ulama, dia mengatakan bahwa sebagian besar pendapat para imam keempat madzhab itu tidak ada apa-apanya.

Sekali waktu, kadang memang dia menutupinya dengan mengatakan bahwa para imam ke empat madzhab Ahlus Sunnah adalah benar, namun dia juga mencela orang-orang yang sesat lagi menyesatkan. Dan dilain waktu dia mengatakan bahwa syari’at itu sebenarnya hanyalah satu, namun mengapa mereka (para imam madzhab) menjadikan 4 madzhab.

Ini adalah kitab Allah dan Sunnah Rasul, kami tidak akan beramal, kecuali dengan berdasar kepada keduanya dan kami sekali-kali tidak akan mengikuti pendapat orang-orang Mesir, Syam dan India. Yang dimaksud adalah pendapat tokoh-tokoh ulama Hanabilah dll dari ulama-ulama yang menyusun buku-buku yang menyerang fahamnya.

Dengan demikian, maka faham Wahabi adalah orang yang membatasi kebenaran, hanya yang ada pada sisinya, yang sejalan dengan nash-nash syara’ dan ijma’ ummat, serta membatasi kebathilan di sisinya apa yang tidak sesuai dengan keinginannya, sekalipun berada diatas nash yang jelas yang sudah disepakati oleh ummat.

Dan mereka wahabi adalah orang yang mengurangi keagungan Rasulullah saw dengan banyak sekali atas dasar memelihara kemurnian tauhid mereka mengatakan bahwa Nabi saw itu tak ubahnya :”THORISY”. Thorisy adalah istilah kaum orientalis yang berarti seseorang yang diutus dari suatu kaum kepada kaum yang lain. Artinya, bahwa Nabi saw itu adalah pembawa kitab, yakni puncak kerasulan beliau itu seperti “Thorisy” yang diperintah seorang amir atau yang lain dalam suatu masalah untuk manusia agar disampaikannya kepada mereka, kemudian sesudah itu berpaling.

Mereka menganggap Rasulullah saw tak ubahnya seperti seorang tukang pos yang bertugas menyampaikan surat kepada orang yang namanya tercantum dalam sampul surat, kemudian sesudah menyampaikannya kepada yang bersangkutan, maka pergilah dia. Dengan ini maka jelaslah bahwa kaum Wahabi hanya mengambil al Qur’an sebagian dan sebagian dia tinggalkan.

Dan meraka (para pengikutnya itu) pun memberitahukan apa yang mereka ucapkan itu kepadanya namun dia menampakkan kerelaannya, serta boleh jadi mereka juga mengucapkan kata-kata itu dihadapan gurunya, namun rupa-rupanya dia juga merestuinya, sehingga ada sebagian pengikutnya yang berkata :”SESUNGGUHNYA TONGKATKU INI LEBIH BERGUNA DARIPADA MUHAMMAD, KARENA TONGKATKU INI BISA AKU PAKAI UNTUK MEMUKUL ULAR, SEDANG MUHAMMAD SETELAH MATI TIDAK ADA SEDIKITPUN KEMANFA’ATAN YANG TERSISA DARINYA, KARENA DIA (RASULULLAH S A W) ADALAH SEORANG THORISY DAN SEKARANG SUDAH BERLALU”.

Sebagian ulama’ yang menyusun buku yang menolak faham ini mengatakan bahwa ucapan-ucapan seperti itu adalah “KUFUR” menurut ke empat madzhab, bahkan kufur menurut pandangan seluruh para ahli Islam.

Catatan :

Jika perlakuan Abdul Wahhab dan pengikutnya kepada Nabi s a w sedemikian rupa, maka apakah masuk akalkah orang-orang kayak ini setia kepada sahabat dan kaum Salafush-Sholihin ? Sungguh sangat berbeda antara Salfus Solihin dengan mereka saat ini, jadi pengakuannya sebagai akidah yang mengikuti Salaf-Sholeh / Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah penipuan untuk mengelabuhi orang-orang awam.

Jika Nabi s a w dikatakan “Thorisy karena sudah berlalu”, mengapa para pengikut Wahabi itu tidak juga mengatakan Muhammad bin Abdul Wahhab itu “sudah berlalu”, mengapa mereka masih diangung-agungkan dan diikuti dengan taklid. Inilah yang dinamakan “PELARANGAN PENGKULTUSAN YANG MELAHIRKAN PENGKULTUSAN BARU”.

- Wahabi membid’ahkan Mawlid Salawat Nabi, semntara dalam Al-Qur’an Allah berfirman, Innalloha wa malaikatuhu yu sholluna alan Nabi, Ya ayyuhal ladzina amanu shollu alaiihi wa salimu taslima. “Aku dan Malaikatku bersalawat untuk nabi, wahai orang yang beriman, bersalawatlah kalian dan menucapkan salam kepada nabi saw”. Allah swt menyuruh kita solat, puasa, zakat, haji, tetapi Allah tak perlu dan tak butuh solat kita, Allah menuruh kita bersalawat atas nabi, dan Allah sendiri bersalawat kepada Nabi saw.

- Orang-orang Wahabi yang membenci Mawlid Nabi ini nantinyapun minta syafa’at pada Nabi saw di Hari Mahsyar nanti, sementara didunia ini mereka membenci orang2 yang bersalawat.

- Mereka membid’ahkan ziarah ke makam Nabi saw, sementara mereka sendiri menziarahi makam Abdul Wahab. Mereka pun berziarah kemakam orang tuanya ketika puasa akan dimulai, atau ketika lebaran. Sementara mereka membid’ahkan ziarah. Ziarah dalam hadist Nabi saw bahkan dianjurkan untuk mengingat mati. Apakah kita tak boleh berziarah kemakam orang tua kita, memeliharanya, mendoakan guru-guru kita yang mengajarkan Islam kepada kita. Inilah Islam sejati yang penuh cinta, bukan seperti Islam Wahabai salafi yang penuh kemarahan dengan kata-kata Bid’ah. Ucapannya menyakiti hati sesama muslim lainnya.

- Wahabi melarang Mawlid Nabi saw yang artinya memperingati Kelahiran Nabi tercinta saw, tetapi mereka merayakan hari ulang tahun anaknya , orang tuanya. Bila mereka mengatakan tak tak merayakan, lihatlah bahkan betapa keringnya hati mereka, tak ada cinta samasekali. Bukan Islam yang kering seperti ini yang dianut Mayoritas Muslim dunia. Ahlul Sunah wal Jamaah hampir 90% masyarakat muslim dunia merayakan mawlid, di Yaman , Damascus, Yordania, Negara- afrika, Asia Tenggara, Timur Tengah dll.

Wahabi di Indonesia sangat sedikit dan minoritas, tetapi lihatlah teriakan mereka begitu menantang para Ahlul Sunah wal Jamaah, Islam tradisional (90%) mereka telah menabuh genderang peperangan kepada kaum muslim yang lain di Indonesia dan di negara2 lain. Mereka diusir di Eropa Amerika karena faham fundamentalis radikalnya.

48 Komentar

  1. Rudi Edwaldo said,

    Juni 29, 2007 at 12:45 pm

    salam akhy :-)
    hm, menarik ni.. ttg wahaby ya?
    hm, sy ingin penjelasan donk. siapa tu Syekh Dahlan? anda kenal?maksud sy manhaj atau aqidahnya dan karya2 nya?! hm, juga… anda dah pernah baca kitab2nya org2 yg anda sebut dg “Wahaby” itu? atau ikut dalam majlis mereka? sehingga anda dapati pernyataan2 sepeti itu? atau bila memang mrk mengatakan hal itu, apa anda tahu konteks perkataan itu? :-) hm, ini penting, sebab terkadang kita sering salah menuduh suatu kaum, padahal apa yg mereka maksud kan bukan seperti apa yg kita fahami. baca: “Yaa Ayyuha `I-ladziina 2aamanu in jaa2akum faasiqun bi nabain fatabayyanuu….” (al ayah) juga firman -Nya yg lain: “wa laa taqfu ma laisa laka bihi 3ilm…” (al ayah). ok, ini dulu komentar sy… tapi ingat ya??? jgn ngaku2, ntar malu2in :-) hehe. syukran :-)

    • Virus Wahabi .com said,

      April 21, 2012 at 1:21 pm

      wahabi saudi memang sesat dan menyesatkan…

    • Ibet Kelana said,

      April 4, 2013 at 5:25 am

      syeh ahmad zaini dahlan seorang pendusta dia bertaqlid pada orang yang bertaqlid orang orang jahil mutaakhirin

      • SEMPRUL said,

        September 24, 2013 at 4:36 pm

        kaum lo wahabi yg pendusta dasar bloon lo wahabi

  2. ayah nabiil said,

    Agustus 21, 2007 at 4:45 am

    terimakasih posting nya

  3. muhammad affan said,

    September 4, 2007 at 12:36 pm

    assalamualaikum…mohon maaf bila saya kurang faham dalam menyimak

  4. suprapto said,

    November 19, 2007 at 5:22 pm

    wallahu a’lam

  5. blogsalafi said,

    November 30, 2007 at 10:05 am

    kok pertanyaan Rudi Edwaldo gak dijawab-jawab??? lagi cari referensi buku yang mencela wahabby yah? khan dah dicetak puluhan kali buku sirajuddin abbas dll.

    Takutlah ant.. dimana hari yang tiada naungan selain pertolongan Alloh azza wa jalla… Perlu antum ketahui fitnahan ant ini akan dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh ta’ala…

    Sadarlah… kembalilah kepada pemahaman ahlussunnah wal jama’ah sesuai dengan manhaj salaf. Wallohu musta’an

    • SEMPRUL said,

      September 24, 2013 at 4:40 pm

      ngaku y ahlulsunnah lo wahabi kelakuan kya babi… lo mgkafir kan orang pa itu seorang yg sholeh mngkafirkaan sesama muslim, ngaca dl makan y ru koment,jenggot z di tebalin tp otak botak kecil korengan para wahabi…

  6. Mei 24, 2008 at 11:17 am

    Itu semua dah dijawab di blog abusalafy.wordpress.com pak…lihat juga di sana ada beberapa link lagi kalau masih kurang.

  7. brainstalker said,

    Mei 28, 2008 at 8:41 am

    saya pernah jumpa orang-orang yang “termasuk” wahabi di Indonesia. mereka kebanyakan gak fasih baca al-Qur’an. bisanya menjatuhkan lawan bicara. dengar orang baca shalawat aja dikatakan bid’ah. kasihan tuh anak-anak mereka. baru lahir udah disuruh jihad, nggak minum susu. kebanyakan dari keluarga broken yang nggak kenal islam dari kecil. lihat aja nama asli mereka. saya sih sebenarnya enjoy aja, kalau mereka nggak main paksa soal pakaian dan aqidah. emang surga udah dikapling?

  8. September 16, 2008 at 4:11 pm

    assalamu’alaykum warohmatulloh
    wahai jiwa-jiwa yang ingin menjunjung tinggi agama Alloh
    menegakkan kalimat Tauhid….
    mengagungkan syiar islam…
    atas manhaj yang hak,…..
    ketahuilah, akhuna…
    bahwa yang hak itu akan dinilai hak
    dan yang bathil tetap seperti keadaannya
    kecuali Alloh menghendaki kembali kepada Sunnah
    ya, akhi…. saudaraku sesama muslim..
    apakah patut, seandainya hujatan tanpa referensi yang sohih kalian tebarkan lewat tulisan2 ini…. jawab….
    apakah pernah, kami menghujat-mu, menggunjingmu, memperlakukanmu seperti kami memakan daging kalian….
    apakah lebih rendah seandainya pengikut Sunnah menyebarkan sunnah Nabi… jawab….
    Sungguh indah perkataan Ibnu Abbas :”Sederhana didalam Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam mengerjakan bid’ah”
    berapa sunnah yang telah kalian kerjakan…
    lihat celana kalian… masih ISBAL atau sudah Nyunnah?
    lihat cara ibadah kalian….. jangan melihat orang lain….
    lihat dulu perilaku kalian, cocokkan dengan shohih bukhary, shohih muslim, riyadhus shalihin, majmu’ fatawa, dan bimbingan Ulama khibar
    jangan cukup dengan perkataan mbah kiyai… mbah Gus, percayalah bahwa hidayah kebenaran itu tidak terletak di Organisasi, tetapi insya Alloh selalu tersedia dalam Hadist Nabi Muhammad Sholollohu’alaihi wassallam

    • SEMPRUL said,

      September 24, 2013 at 4:45 pm

      lucu lo wahabi kya kebakaran jenggot lo hahahahaahaha blajar agama dl lg mas y ru komen, blajar yg bnr di pesantren sna mas mslah bidah ru komentarrr lg

  9. abujuga said,

    September 18, 2008 at 12:28 am

    Abu abdullah istuqumah….

    Tidak ada yang merendahkan orang yng menyebarkan sunnah,menyebarkan sunnah sangat mulia.Hanya saja tekhnik penyebaran yang kadang masih tidak sesuai dengan yang diajarkan sunnah itu sendiri.

    kenapa anda bertanya “pernahkan kami menghujatmu,mengggunjingmu….?”..Jika yng ditanya ulama atau orang2 yang pernah dihujat,pasti jawabannya “ya !!!”..

    Tinggal kembali pada sesuatu yang “sangat” biasa terjadi,bila terjadi reaksi tentu timbul sebab adanya aksi.Merasa paling benar dan paling sunnah sendiri,itu juga bisa menjadi pemicu keluarnya kata-kata maupun anggapan yang subyektif kepada orang lain yang di “anggap” sedikit mengerjakan sunnah.Padahal sangat banyak amalan2 sunnah Nabi yang sudah disepakati para ulama dan banyak pula dikerjakan oleh kaum muslimin.

    Kenapa akhi hanya menonjolkan hadits tentang ISBAL aaupun soal jenggot.Padahal dalam kedua hadits tersebut memiliki qoyyid yang oleh sebagian muhaddits masih diperselisihkan penempatan dan perlakuan maknanya.Bukan soal haditsnya,karena memang semua muhadditsin mengakui keabsahannya.Tapi justru dalam memahaminyalah yang berbeda.

    Mungkin anda termasuk yang tidak setuju dengan penafsiran sebagian ulama,bahwa ISBAL jika tidak disertai kesombongan,bukanlah sesuatu yang terlarang atau anda juga termasuk yang anti pada pendapat ulama yang mengatakan bahwa dipeliharanya jenggot adalah agar tidak tasyabbuh/serupa dengan yahudi,karena saat itu orang2 yahudi tidak berjenggot.Bukankah hadits Nabi SAW tersebut diakhiri dengan kalimat agar tidak tasyabbuh dengan yahudi.Kini anda lihat para rabi yahudi,semuanya berjenggot,pendeta dan para pastur ditimur tengah semuanya berjenggot (lihat dibanyak TV arab),bahkan di prancis semua pendeta dan pastur wajib berjenggot…Lalu apa yang mesti kita lakukan agar kita jangan tasyabbuh dengan mereka sebagaimana nabi SAW melarang tasyabbuh.

    masing-masing ulama punya pendapat yang berbeda,jika demikian halnya masihkah kita masih menuding yang lain salah,bid’ah,sesat tidak nyunnah seperti yang ente katakan?…

    Coba lihat ya akhi…masih banyak sekali para muslimin,khususnya santri yang tiap saat dan waktu selalu aktif mengamalkan sunah nabi SAW seperti sholat berjamaah,taklim,tahajjud,baca Al qur’an,hadits,setiap hendak dan sestelah makan baca doa,masuk dan kelur WC doa,masuk dan keluar masjid doa,mau dan setelah tidur doa,dzikir,banyak bertasbih,tahmid,tahlil dan lain-lain…

    Kenapa ungkapan ente seperti merasa paling nyunnah dengan hanya tidak ISBAL nya ente,terus yang lain sedikit mengamalkan sunnah.Adakah patut orang yang yang merasa nyunnah,timbul ‘ujub dalam hatinya yang jelas dilarang sunnah?…

    amalkan yang ente yakini kebenarannya dengan ikhlas dan semata-mata karena Allah…dan jangan campuri dengan sikap dan perasaan merendahkan orang lain.

    Wallhoohu a’lam bishshowab.

    • abu sahl said,

      Juni 13, 2011 at 7:29 am

      bismillah,
      berdasarkan pemahaman saudara saya, “abujuga berkata”
      tentang tasyabbuh….
      skrg orang2 yahudi telah BERJENGGOT, maka kita tidak perlu berjenggot.

      bagaimana dgn orang2 yahudi yg mulai masuk ISLAM, apakah kita harus menyelisihinya dgn meninggalkan ISLAM ? mohon jawab

      smoga Allah menjauhi kita dari ber-jiddal, dan memberikan kita hidayah di atas sunnah.

  10. reyang said,

    September 18, 2008 at 12:55 am

    kalau si rudi sama bloglafay ga tahu syekh sayyid ahmad zaeni dahlan yo wajar sekali,papalagi ngaji kitab2 karngan beliau…simpel aja nih,beliau itu pernah jadi mufti madzhab syafi’i di makkah.

    Ente mah cuma taunya bin baaaaaazzz aja,utsaimin,ibnu taymiyyah,fauzan dan cs nya.Lagian jangan dikira kami juga ga baca kitab2 mereka…banyak juga sy punya kitab2 orang2 yang dikultuskan antum tuh.Sekarang masalahnya antum tahu dan baca2 ga kitab2 selain ulama2 antum itu/…jangan kurang2 bacaan yah.

    Untuk brainstalker….orang2 yang ente temui itu adalah oknum saja,ga semua wahabiyyin ga fasih baca al qur’annya,karena yang hafal qur’anpun banyak.Emang sih masih banyak yang non wahaby kalau di indonesia mah yang hafal qur’an.

    temen ana juga salafy,berjenggot dan no ISBAL…tapi jarang sholat berjmaah…kasihan…

  11. rudi said,

    Oktober 2, 2008 at 3:10 pm

    erm.. si renyang berkata:
    kalau si rudi sama bloglafay ga tahu syekh sayyid ahmad zaeni dahlan yo wajar sekali,papalagi ngaji kitab2 karngan beliau…simpel aja nih,beliau itu pernah jadi mufti madzhab syafi’i di makkah.

    Ok , Ahmad Zaini Dahlan pernah jadi mufti di Mekkah, madzhab Syafi’i :)
    Tolong donk jawab lagi pertanyaan ana -kalau antum benar-benar tahu tentang Ahmad Zaini Dahlan. Sebutin donk nama-nama kitab beliau kepada ana. terus…. Nah kalau antum menuduh kami tahunya hanya kitab Bin Bazz, Fauzan cs doang, tentu antum tahu donk kitab ulama-ulama yang lebih populer dari mereka. Ohya, ngomong-ngomong mereka yang antum cela itu ada kajian haditsnya lho, seperti mereka mengkaji kitab Fath al Baari, karya al Hafizh Ibnu Hajar, antum tahu gak siapa itu Ibnu Hajar? pernah baca gak kitab ini? juga ana tahu disini juga dibuka kajian Syarh Shahih Muslim, juga Riyadhush Shaalihin karya Imam Nawawi, antum tentu sangat kenal dengan beliau ini, tapi pertanyaannya, antum dah pelajari gak? Ini hanyalah segelintir kitab yang jelas membuktikan bahwa mereka yang antum bual-bualkan itu ternyata tidak hanya kenal dengan kitabnya Bin Bazz cs. Dan ini baru ditempat ana. Bagaimana lagi ditempat yg lain. Kalau udah, erhm… ana ingin diajari donk :P tolong kirim alamat e mail antum ya?! mungkin ana berminat untuk belajar pada antum atau hehe… jsutru sebaliknya.
    Kemudian mengenai jumlah bacaan… ermh… boleh donk ana tahu sebutkan semua bacaan mengenai Islam, misalnya Tafsir, Hadits dan Ilmunya, kitab Aqidah dan lain sebagainya yang antum telah baca. Sebutin donk atu per atu pada ana. Nanti boleh donk ana sebutin pula jumlah bacaan ana kepada antum. Kemudian boleh pula kita saling uji apakah benar masing-masing kita telah membaca kitab-kitab itu -bukan hanya sekedar ngaku-ngaku ya?! ntar malu-maluin :P

    Ohya, kalau antum merasa keberatan atau kebanyakan bacaannya, sehingga malu disebutin disini, ya gak apa deh, tolong kirimin aja email antuim. Biar kita bisa lanjutin deh diskusinya, dan mungkin antum yg buaaaaaaaaaaanyak kali bacaannya sampai sampai si kali aja gak sebanyak antum mau donk mengajari ane … atau sebaliknya :P
    Terserah deh, mau kitab kalangan mana yg ingin antum sebutin, mau kitabnya Imam Syafi’i dan para ulama-ulama Syafi’iah, mau itu kitab-kitab hadits atau bahkan kitabnya Ahmad Zaini Dahlan boleh juga tuh dibahas. Ana ingin tahu sejauh mana pengetahuan antum terhadap Dahlan ini.
    Bolehlah tak usah pake kitab-kitabnya Bin Bazz cs seperti yg antum sebutin. hmm… kitab-kitab ulama Syafi’iyah boleh juga tuh.Gimana…??? tooooooooooooooolong ya??!!! keciiiian deh ane kalau antum tidak menerima TANTANGAN ana eh… maksud ana permintaan ane, sorry…..
    pleeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeaaaaaaaaaaaaaaaaseeeeee!!!!

    Ohya, komentar ana juga tentang masalah temen antum yg salafy yg berjenggot dan no Isbal itu tapi jarang solat berjamaah… aduuuh ana pun merasa kasihaaaaaaaaan… Hm, tapi ana juga punya teman yg ngaku-ngaku bermadzhab Syafi’i, bahkan rajin tahlilan bersama dan semisalnya tapi kok….. Erhmm… ah,,,,, ngerti sendiri lah. Bahkan lebih buruk dari apa yg antum bicarakan! Lalu apakah lantas dengan enteng ana katakan bahwa semua kalian seperti dia??????????
    Wassalam, and please untuk reyang, peuhilah permintaan ana, peliiiizzzz deh.

  12. Desember 5, 2008 at 3:48 pm

    Aduuuh….. Nih kenape pade adu congor sih……
    Sodare2 mendingan kite keroyok lewat blog yoo (maksudnye dunia maya) blog ajaran.wordpress, disono orang kafir penduduk indonesia pade kurang ajar, nabi kite MUHAMMAD S.A.W lagi dihujjat mulu , di fitnah, dicaci maki, ame kafir sialan tuh pade……
    Yoo tolongin saye yoo….
    Di blog ajaran wordpress…

  13. Desember 5, 2008 at 5:00 pm

    Ooh iye kelupaan…..
    Buat sodare saye yang ganteng nih …RUDI..
    ini saye mo nimbrung permintaannye nih masalah kitab bulughul maraam ame kitab riyadhus shalihin nih…..

    Saye udeh hatam tuh kitabnye waktu smp ….

    Guru ngaji saye HABIB ALI ASEGAF tinggalnye di meruya persis depan kampus mercubuana…… kage salah lagi dah…..

    Saye mo bilangin rician tuh kitab…. Tapi saye cuma kasih tau yang terjemahannye aje nih biar yang baca nih blog gampang nyarinye…..
    Asli kitab gundulnye ade nih ame saye jl.pejuangan no.10 jak-bar mao pinjem……

    KITAB RIYADHUS SHALIHIN
    Diterbitkan oleh pustaka amani – jakarta, cetakan IV, rabiul awal 1420 H/juli 1999 M
    penerjemah = Ahmad sunarto,
    penyunting = Husin abdullah,
    setting & lay out = amy print,
    desain cover = Pro graphic studio,
    tebal halaman = 684 lmbr
    terbagi menjadi 2 jilid

    KITAB BULUGHUL MARAM
    Diterbitkan oleh = pustaka tamaam bangil 09-04-1422 H/01-07-2001 M
    penerjemah oleh = A. Hassan…..
    Tebal halaman = 722 lmbr
    catatan: saye diberi konfirmasi ame guru saye kalo di halaman 625 ame 626 ada kekeliruan pentafsiran, mohon yang bace ini kitab baiknye ade yang tuntun (punye guru ngaji kitab) biar engge keder,

    sekian terime kasih,assalamualaikum…., da ahh……. ….

    • rudi edwaldo said,

      April 25, 2011 at 4:25 pm

      Hayyak Allah, bagus kalau enta telah “menamatkan” kitab Bulugh al Maaram karya al Hafiz Ibn Hajar al Asqalani dan Riyad al Salihin karya Imam al Nawawi, namun sekiranya ente tambahkan utk memahami kitab-kitab Syarahnya tentu lebih baik lg, dan tentunya jauh lebih baik lg belajar dari orang yang ahlinya!

  14. boytoock said,

    Februari 4, 2009 at 12:30 am

    Diambil dari Kitab Tashhihul Mafahimil Khoti’ati
    Karya: Syaikh DR. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindy
    ( Dosen Aqidah Universitas Islam Madinah )

    Diterjemahkan oleh: Nur Kholis Kurdian, Lc.
    (Dosen Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafii, Jember, Jawa Timur)
    Dikoreksi ulang oleh: Abdullah Zaen, Lc. & Muhammad Yasir, Lc.

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.

    Dari dulu hingga sekarang, perdebatan serta perbincangan seputar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah dan jalan dakwahnya, terus berkecamuk antara mereka yang pro dan yang kontra.

    Dan yang mengherankan dari dakwaan mereka yang kontra -yang melontarkan tuduhan-tuduhan kepada Syaikh- adalah: omongan mereka yang kosong dari dalil berupa bukti dari perkataan Syaikh atau tulisan beliau di dalam kitab-kitabnya, yang ada hanyalah tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang terdahulu, lalu ‘difotokopi’ oleh para pewaris mereka.

    Kami kira setiap orang yang obyektif sepakat bahwa jalan yang paling tepat untuk mengenal hakikat pemikiran seseorang adalah dengan cara kembali langsung kepada orang tersebut atau kepada referensi-referensi yang otentik.

    Alhamdulillah tulisan-tulisan serta ucapan-ucapan Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab -ed) sampai saat ini masih ada dan mudah untuk didapatkan. Dengan menelaah tulisan-tulisan tersebut, benar tidaknya isu-isu yang sementara ini tersebar di masyarakat akan terlihat. Adapun tuduhan-tuduhan yang tanpa bukti, maka ini bagaikan fatamorgana yang tidak ada hakikatnya.

    Di tulisan ini, kami akan memaparkan ucapan-ucapan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang kami nukil dengan penuh amanah dari referensi-referensi otentik yang menghimpun perkataan-perkataan beliau. Peran kami dalam buku ini hanyalah sebagai penyusun.

    Buku ini memuat jawaban-jawaban Syaikh sendiri, atas tuduhan-tuduhan utama yang dilontarkan ‘para lawan’ dakwah beliau. Kami amat yakin insya Allah dengan taufik dari Allah, tulisan ini akan cukup untuk menjelaskan al-Haq bagi mereka yang memang menginginkannya.

    Adapun mereka yang memusuhi dan menentang perjuangannya, yang tidak henti-hentinya menebarkan tuduhan-tuduhan dusta, maka kami katakan kepada mereka: ‘Sadarlah, karena sesungguhnya kebenaran telah jelas, agama Allah ta’ala akan menang dan cahaya matahari yang bersinar terang tidak bisa dihalangi dengan kedua telapak tangan.’

    Perkataan-perkataan beliau dalam buku ini meluluhlantakkan tuduhan-tuduhan mereka. Jika mereka memiliki bukti dari perkataan beliau yang menguatkan tuduhan tersebut maka keluarkanlah dan jangan disembunyikan. Jika mereka tidak bisa mendatangkannya, maka kami menasihatkan, “Telusurilah jalan Allah ta’ala dengan hati yang bersih dari hawa nafsu dan kefanatikan terhadap suatu golongan. Mohonlah kepada-Nya agar Dia menunjukkan kebenaran lalu ikutilah kebenaran itu. perhatikanlah perkataan-perkataan beliau, kemudian renungkanlah; apakah beliau datang membawa ajaran baru yang tidak ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah?

    Kemudian renungkan kembali: Adakah jalan keselamatan selain dengan mengucapkan kebenaran serta membenarkannya?

    Jika telah datang kebenaran kepadamu maka terimalah dan ikutilah kebenaran tersebut; karena yang demikian lebih baik dari pada bersikeras dalam kebatilan.

    Hanya kepada Allah-lah semuanya akan kembali…

    Hakikat Dakwah Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab

    Alangkah baiknya kami paparkan terlebih dahulu penjelasan singkat tentang hakikat dakwah yang beliau serukan. Karena hingga saat ini ‘para musuh’ dakwah beliau masih terus membangun dinding tebal di hadapan orang-orang awam, sehingga mereka terhalang untuk melihat hakikat dakwah sebenarnya yang diusung oleh beliau.

    Syaikh berkata,

    “Segala puji dan karunia dari Allah, serta kekuatan hanyalah bersumber dari-Nya. Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikan hidayah kepadaku untuk menempuh jalan lurus, yaitu agama yang benar; agama Nabi Ibrahim yang lurus, dan Nabi Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Alhamdulillah aku bukanlah orang yang mengajak kepada ajaran sufi, ajaran imam tertentu yang aku agungkan atau ajaran orang filsafat.

    Akan tetapi aku mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, dan mengajak kepada sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diwasiatkan kepada seluruh umatnya. Aku berharap untuk tidak menolak kebenaran jika datang kepadaku. Bahkan aku jadikan Allah, para malaikat-Nya serta seluruh makhluk-Nya sebagai saksi bahwa jika datang kepada kami kebenaran darimu maka aku akan menerimanya dengan lapang dada. Lalu akan kubuang jauh-jauh semua yang menyelisihinya walaupun itu perkataan Imamku, kecuali perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau tidak pernah menyampaikan selain kebenaran.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/37-38).

    “Alhamdulillah, aku termasuk orang yang senantiasa berusaha mengikuti dalil, bukan orang yang mengada-adakan hal yang baru dalam agama.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/36).

    “Dan yang aku dakwahkan sebenarnya adalah: Kita tidak boleh menyembah kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana firman-Nya,

    فَلا تَدْعُو مَعَ اللَّهِ أَحَداً

    “Maka kamu janganlah menyembah seorang pun di samping menyembah Allah”. (QS. Al-Jin: 18).

    Allah ta’ala juga memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    قُلْ إِنِّي لا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرّاً وَلا رَشَداً (الجـن:21)

    “Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak ( pula)kuasa memberikan suatu kemanfaatan.” (QS. Al-Jin: 21)

    Inilah firman Allah ta’ala yang telah disampaikan dan diwasiatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita… Inilah yang akan menjadi hakim antara kalian dan diriku. Jika kalian mendengar tentang dakwahku selain yang kukatakan tadi, maka ketahuilah bahwa hal itu adalah dusta.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/90-91).

    Poin Pertama: Keyakinan Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Di antara tuduhan besar yang dilontarkan ‘musuh-musuh’ dakwah Syaikh kepada beliau dalam masalah ini adalah:

    1. Beliau dituduh tidak meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup Para Nabi dan Rasul.

    Demikianlah tuduhan yang tersebar, padahal semua kitab karangan beliau telah membuktikan dustanya tuduhan ini. Di antara perkataan beliau yang membantah tuduhan tersebut:

    “Aku beriman bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup Para Nabi dan Rasul. Keimanan seseorang tidak dianggap sah hingga dia beriman dengan kenabian dan kerasulannya.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/32).

    “Orang yang paling bahagia, paling besar kenikmatannya dan paling tinggi derajatnya adalah orang yang paling setia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengamalkan ajaran beliau.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/21).

    2. Beliau dituduh tidak memenuhi hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak memosisikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana mestinya.

    Untuk menjelaskan hakikat tuduhan ini, kami akan kutip perkataan Syaikh yang menjelaskan keyakinan beliau tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Beliau berkata, “Ketika Allah ta’ala berkehendak untuk menampakkan Tauhid dan menyempurnakan agama-Nya di atas muka bumi, serta meninggikan kalimat Allah dan merendahkan kalimat orang-orang kafir; maka Allah ta’ala mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para rasul dan kekasih Rabb alam semesta. Beliau senantiasa dikenal setiap masa, bahkan disebutkan pula dalam kitab Taurat Nabi Musa ‘alaihis salam dan kitab Injil Nabi Isa ‘alaihis salam. Hingga Allah ta’ala memunculkan mutiara tersebut di antara kabilah Bani Kinanah dan Bani Zahrah. Allah mengutus beliau di masa-masa terputusnya (pengiriman) rasul-rasul, lalu menunjukinya jalan yang lurus.

    Sebelum beliau diutus menjadi Rasul, telah tampak pada dirinya tanda-tanda kenabian yang tidak bisa ditiru oleh siapapun yang hidup di zamannya. Allah ta’ala menumbuhkan beliau dengan sebaik-baiknya hingga menjadi orang yang paling mulia akhlaknya, paling tinggi budi pekertinya, paling tangguh kesabarannya, paling baik dengan para tetangganya, serta paling jujur tutur katanya, sehingga kaumnya menjulukinya sebagai al-amin (yang dipercaya); karena di dalam pribadinya terdapat perilaku yang baik dan sifat-sifat yang terpuji.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/90-91).

    “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin para pemberi syafaat, dan pemberi syafaat agung (di padang mahsyar), Nabi Adam ‘alaihis salam dan keturunannya kelak berada di bawah benderanya.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/86).

    “Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam, dan rasul yang terakhir dan yang paling utama adalah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam“. (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/143).

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalah kepada umatnya dengan sempurna dan menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Beliau adalah penasihat terbaik bagi para hamba Allah, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, berjihad dengan sebenar-benarnya di jalan Allah ta’ala, serta beribadah kepada Allah ta’ala hingga ajalnya tiba.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/21).

    Syaikh menjelaskan bahwa sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Salah seorang dari kalian tidak dianggap beriman hingga aku lebih dia cintai daripada orang tua dan anak-anaknya serta seluruh manusia”, menunjukkan akan wajibnya mengedepankan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas kecintaan kepada diri sendiri, keluarga dan harta bendanya. (Kitab at-Tauhid: hal. 108).

    3. Beliau dituduh mengingkari syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Syaikh menjawab tuduhan ini dengan berkata, “Mereka menuduh kami mengingkari syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Subhanallah! ini adalah kedustaan yang besar. Bahkan kami menjadikan Allah ta’ala sebagai saksi, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang diberi izin Allah ta’ala untuk memberikan syafaat dan pemilik syafaat agung (di padang mahsyar). Kami memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah agar mengizinkan beliau untuk memberikan syafaatnya kepada kita, dan semoga Allah ta’ala mengumpulkan kita bersamanya kelak.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/63-64).

    “Yang mengingkari adanya syafaat adalah ahlul bid’ah dan orang yang sesat. Akan tetapi syafa’at tersebut tidak akan bisa diraih kecuali setelah kita mendapatkan izin serta ridha dari Allah ta’ala. Sebagaimana firman-Nya,

    وَلا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى (الانبياء: 28)

    “Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah.” (QS. Al-Anbiya’: 28).

    Allah ta’ala juga berfirman.

    مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ (البقرة: 255)

    “Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa seizin dari-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255).

    (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/31).

    Kemudian beliau menjelaskan sebab timbulnya tuduhan dusta tersebut, “Tatkala kusebutkan kepada mereka apa yang difirmankan Allah ta’ala, apa yang disabdakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta apa yang dijelaskan para ulama dari berbagai mazhab, tentang perintah untuk memurnikan ibadah untuk Allah ta’ala semata serta larangan untuk menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani yang menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahib sebagai tuhan selain Allah ta’ala, mereka pun berkata, “Kamu telah melecehkan para nabi, orang-orang shalih dan para wali.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/50).

    Poin Kedua: Tentang Ahlul Bait (Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

    Di antara tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Syaikh: mereka mengatakan bahwa beliau membenci ahlul bait serta tidak memenuhi hak-hak mereka sebagaimana mestinya.

    Jawabannya: tuduhan tersebut tidak sesuai dengan fakta; karena kenyataannya beliau mengakui kedudukan mereka dan mencintai serta menghormati mereka, bahkan beliau mengingkari orang yang benci terhadap mereka, beliau berkata, “Allah ta’ala telah mewajibkan kepada umat ini untuk memenuhi hak-hak keluarga Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk mengabaikan hak-hak mereka, dengan prasangka bahwa hal itu adalah bagian dari tauhid. Keyakinan seperti itu termasuk dalam sikap ghuluw (berlebih-lebihan). Yang kami ingkari adalah model pemuliaan ahlul bait dengan cara meyakini bahwa dalam diri mereka terdapat sifat-sifat ketuhanan, juga aku mengingkari orang-orang yang menghormati oknum-oknum yang mendakwakan hal tersebut.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/284).

    Siapapun yang membaca biografi beliau, niscaya dia akan mengetahui kebenaran apa yang diucapkannya. Cukuplah sebagai bukti akan kebenaran ucapan beliau; tatkala beliau menamai enam dari tujuh orang putra-putranya dengan nama-nama ahlul bait. Mereka adalah: Ali, Abdullah, Husain, Hasan, Ibrahim dan Fatimah. Ini merupakan salah satu bukti yang jelas tentang besarnya kecintaan beliau terhadap ahlul bait.

    Poin Ketiga: Tentang Karamah Para Wali

    Sebagian orang menyebarkan isu bahwa beliau mengingkari adanya karamah para wali.

    Perkataan beliau di berbagai pembahasan dalam kitab-kitabnya membuktikan dustanya tuduhan ini. Di antara ucapan beliau, “Aku meyakini keberadaan karamah para wali.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/32).

    Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin beliau dituduh demikian, padahal beliau adalah orang yang menyifati golongan yang mengingkari karamah para wali dengan sebutan ahlul bid’ah dan golongan sesat?! Beliau berkata, “Dan tiada yang mengingkari karamah para wali melainkan ahlul bid’ah dan golongan yang sesat.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: I/169).

    -bersambung insya Allah-

    ***

    Artikel http://www.muslim.or.id

    Dukung Dakwah

    Saudaraku, kami mengajak Anda untuk menjadi bagian dari tugas dakwah ini, dengan meluangkan sedikit waktu, menumpahkan sedikit pikiran, mengerahkan sedikit tenaga, dan menyisihkan sedikit harta Anda. Peran Anda tentu sangatlah berarti bagi dakwah ini. Semoga dengan amalan yang sedikit tersebut menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak. Peran apa yang dapat Anda berikan ? Baca selengkapnya…

    • SEMPRUL said,

      September 24, 2013 at 4:59 pm

      keyataan y ga sesuai di lpangan mas kaum ente dngan yg ente tuliskan…. jd ente ga usah munafik ini realita fakta. lo kaum wahabi mmbidahkan semua di haram kan yg ga sesuai maux aliran nte… dah salah msh ngotot z kaum ente ujung2 y kmbali ke Alquran. tau gak lo Alquran ntu bIdah ?? krn Rassull tdk pernah myuruh sahabat mgumpulkan ayat demi ayat Alquran, kan smua bidah sesat untuk aliran anda trs knp mesti rujuk Alquran kitab anda seharus y bkn Alquran kitab anda lo bgtu…

  15. boytoock said,

    Februari 4, 2009 at 12:39 am

    Poin Keempat: Tentang Pengkafiran

    Di antara tuduhan terbesar yang tersebar adalah: bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab beserta pengikutnya mengkafirkan kaum muslimin, dan meyakini bahwa nikah dengan mereka hukumnya tidak sah, kecuali jika menikah dengan orang yang sepaham dengannya atau orang yang hijrah kepadanya.

    Beliau telah membantah tuduhan ini di berbagai bukunya, antara lain ucapannya, “Tuduhan bahwa aku telah mengkafirkan kaum muslimin adalah dusta besar yang diada-adakan orang yang memusuhiku; untuk menghalang-halangi orang dari agama ini. Maka aku katakan, “Maha suci Engkau (wahai Rabbku), ini adalah kedustaan yang besar.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/100).

    “Bermacam-macam tuduhan telah dilontarkan kepada kami, fitnah pun makin menjadi-jadi, mereka mengerahkan pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki dari kalangan iblis untuk menyerang kami. Dan di antara kebohongan yang mereka sebarkan, adalah tuduhan bahwa aku mengkafirkan seluruh kaum muslimin kecuali pengikutku, dan nikah dengan mereka hukumnya tidak sah. Untuk menukil tuduhan tersebut saja orang yang berakal merasa malu, apalagi untuk mempercayainya. Bagaimana mungkin orang yang berakal memiliki keyakinan seperti itu? Apakah mungkin seorang muslim meyakini keyakinan demikian?. Aku berlepas diri dari tuduhan itu. Tuduhan itu tidaklah dilontarkan melainkan dari orang yang tidak waras dan linglung. Semoga Allah ta’ala memerangi orang-orang yang bermaksud jelek.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/80).

    “Yang aku kafirkan adalah orang yang telah mengerti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia menghinanya, menghalangi manusia darinya, serta memusuhi penganutnya. Inilah yang aku kafirkan, dan alhamdulillah kebanyakan umat ini tidaklah demikian keadaannya.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/73).

    Poin Kelima: Tentang Pemikiran Khawarij

    Sebagaian orang menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berpemikiran Khawarij, yaitu mengkafirkan orang yang berbuat maksiat.

    Beliau menjawab, “Aku tidak akan mengatakan tentang seorang pun dari kaum muslimin bahwa dia pasti masuk surga atau neraka, kecuali orang yang telah dipersaksikan demikian oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berharap semoga orang yang baik masuk surga, dan aku mengkhawatirkan orang yang berbuat jelek akan masuk neraka. Aku tidak mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin, serta mengeluarkannya dari agama ini, hanya karena dia terjerumus ke suatu perbuatan dosa.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/32).

    Poin Keenam: Tentang Menyifati Allah Ta’ala Dengan Sifat Tubuh, Seperti Tubuhnya Makhluk

    Di antara isu-isu yang tersebar di publik, bahwasanya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mensifati Allah ta’ala dengan sifat tubuh, yakni menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya.

    Beliau telah menjelaskan keyakinannya dalam masalah ini, dan kenyataannya beliau amat jauh dari keyakinan batil di atas. Beliau berkata, “Termasuk bagian dari keimanan kepada Allah ta’ala adalah: mengimani sifat-sifat-Nya yang telah disebutkan dalam Kitab dan Sunnah, tanpa mengotori keimanan tersebut dengan tahrif (merubah lafaz maupun makna) dan ta’thil (pengingkaran secara total maupun parsial). Aku meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah subhanahu wa ta’ala, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Aku tidak mengingkari sifat-sifat Allah yang disebutkan di dalam al-Qur’an maupun Sunnah. Aku juga tidak menyelewengkan makna sifat-sifat tersebut, atau berupaya untuk mereka-reka keadaan serta bentuk yang hakiki dari sifat-sifat itu. Aku tidak menyerupakan sifat-sifat Allah ta’ala dengan sifat-sifat makhluk-Nya; karena tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Dia tidak dianalogikan dengan para makhluk-Nya.

    Sesungguhnya Allah ta’ala Maha Mengetahui Dzat-Nya serta makhluk-Nya juga Maha benar firman-Nya. Allah telah berlepas diri dari keyakinan-keyakinan golongan takyif (yang berupaya untuk mereka-reka keadaan serta bentuk yang hakiki dari sifat-sifat Allah), maupun golongan tamtsil (yang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya). Juga Allah telah berlepas diri dari keyakinan-keyakinan golongan tahrif (yang merubah lafazh maupun makna sifat-sifat-Nya) maupun golongan ta’thil (yang mengingkari sifat-sifat-Nya secara total maupun parsial). Allah ta’ala berfirman,

    سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (الصافات:180-182)

    “Maha suci Rabb-mu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Rabb sekalian alam”. (QS.Ash-Shafat: 180-182).” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/29).

    “Sebagaimana telah maklum bahwa ta’thil (pengingkaran sifat-sifat Allah secara total maupun parsial) adalah lawan dari tajsim (menyifati Allah ta’ala dengan sifat jasmani seperti jasmani makhluk). Dua keyakinan ini saling bermusuhan. Dan keyakinan yang benar adalah sikap yang tengah di antara keduanya (yaitu: meyakini sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya).” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, III/11).

    Poin Ketujuh: Tentang Menyelisihi Pendapat Para Ulama

    Sebagian orang mengatakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam dakwahnya telah menyelisihi para ulama, tidak menghiraukan perkataan mereka, tidak pula merujuk kepada kitab-kitab mereka. Bahkan beliau dituduh telah menciptakan ajaran baru dan membawa pemahaman madzhab yang kelima.

    Sebaik-baik bantahan atas tuduhan ini adalah pengakuan beliau sendiri, “Aku adalah orang yang bertaqlid kepada Kitab dan Sunnah, serta para salafus salih. Aku juga bergantung dengan perkataan para imam madzhab yang empat; Imam Abu Hanifah al-Nu’man bin Tsabit, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Semoga Allah merahmati mereka semua.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/97).

    “Seandainya kalian mendapatkan fatwaku menyelisihi ijma’ para ulama, maka tunjukkan padaku.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/53)

    “Jika kalian mengira bahwa para ulama telah menyelisihi apa yang aku ajarkan, sesungguhnya di hadapan kalian ada kitab-kitab mereka, (bacalah dengan seksama dan bandingkan dengan apa yang kuajarkan).” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/58).

    “Aku selalu membandingkan perkataan orang yang bermadzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i maupun Hambali dengan perkataan ulama yang mu’tamad (terpercaya) dalam madzhab tersebut.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/82).

    “Walhasil yang aku ingkari adalah pengkultusan terhadap selain Allah ta’ala. Maka jika ajaranku bersumber dari pendapatku sendiri, atau dari buku yang tidak tepercaya, atau semata-mata dari hasil taqlidku kepada para ulama mazhabku (mazhab Hambali); maka buanglah jauh-jauh ajaranku. Namun jika ajaranku bersumber dari Kitab dan Sunnah serta Ijma’ para ulama dari berbagai mazhab; maka tidak layak bagi orang yang beriman terhadap Allah ta’ala dan hari akhir, untuk menolaknya; hanya gara-gara kebanyakan orang di zamannya, atau di negerinya menyelisihi ajaran tersebut.” (Kitab ad-Durar as-Saniyah: I/76).

    Penutup

    Di penghujung tulisan ini, kami akan mempersembahkan nasihat yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab:

    Nasehat pertama adalah untuk orang-orang yang memusuhi dakwah ini dan para pengikutnya, yang senantiasa berusaha untuk menghalanginya, serta melontarkan berbagai macam tuduhan batil kepadanya.

    Beliau berkata, “Aku ingatkan orang-orang yang menyelisihiku: Seluruh manusia berkewajiban untuk mengikuti apa yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Bukankah kitab-kitab agama ada pada kalian? Bacalah! Janganlah kalian mengambil sedikitpun dari perkataanku! Namun jika kalian mendapatkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam kitab-kitab tersebut, maka amalkanlah! Meskipun kebanyakan manusia tidak mengamalkannya…

    Jangan kalian menaatiku! Namun taatilah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah disebutkan di dalam kitab-kitab kalian…

    Ketahuilah bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian melainkan hanya berpegang teguh kepada tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hidup di dunia ini hanyalah sementara. Tidak pantas bagi orang yang berakal untuk melupakan surga dan neraka.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/89-90).

    “Aku mengajak orang-orang yang menyelisihiku untuk berpegang dengan empat perkara: Kitabullah, Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ijma’ para ulama. Jika kalian tetap keras kepala, maka aku mengajak kalian untuk mubahalah (masing-masing pihak di antara orang-orang yang berbeda pendapat berdoa kepada Allah ta’ala dengan sungguh-sungguh, agar Allah ta’ala menjatuhkan laknat kepada pihak yang salah).” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/55).

    Nasehat kedua adalah bagi orang yang sedang merasa bingung, tidak mengerti mana yang benar dan mana yang salah dalam perkara ini.

    Syaikh berkata, “Mohonlah (petunjuk) dengan sungguh-sungguh kepada Allah ta’ala, dengan merendahkan diri kepada-Nya, terutama pada waktu-waktu yang mustajab; di antaranya pada waktu sepertiga malam yang terakhir, di akhir shalat, dan antara azan dengan iqamat.

    Bacalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terutama yang tertera dalam hadits shahih. Seperti doa yang senantiasa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam baca,

    اللهم رب جبرائيل وميكائيل وإسرافيل, فاطر السماوات والأرض, عالم الغيب والشهادة, أنت تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يختلفون, اهدني لما اختلف فيه من الحق بإذنك, إنك تهدي من تشاء إلى صراط مستقيم.

    “Wahai Rabb Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Engkaulah yang memutuskan perselisihan di antara hamba-hamba-Mu. Dengan izin-Mu, tunjukkanlah kepadaku kebenaran yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Engkaulah yang menunjuki orang yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.”

    Hendaknya engkau sering memanjatkan doa tersebut, kehadirat Dzat yang mengabulkan doa orang yang sedang tertimpa kesusahan. Dialah Yang menunjukkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam kepada kebenaran, meskipun menyelisihi seluruh manusia pada zamannya. Ucapkan pula, “Wahai Dzat yang mengajari Nabi Ibrahim, ajarilah aku.”

    Dan jika kamu merasa berat (ketika akan mengamalkan kebenaran) gara-gara menyelisihi masyarakatmu, maka renungkanlah firman Allah ta’ala,

    ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ. إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئاً وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ (الجاثـية: 18-19).

    “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sama sekali tidak akan dapat melindungimu dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang dzalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Jatsiyah: 18-19).

    Juga firman Allah ta’ala,

    وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ (الأنعام:116)

    “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)

    Renungkanlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Islam pertama kali datang dianggap asing, dan (di akhir zaman) akan kembali dianggap asing.”

    Juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah ta’ala tidak mencabut ilmu dari muka bumi ini dengan begitu saja, akan tetapi mencabutnya dengan meninggalnya para ulama. Jika tiada lagi ulama di muka bumi, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemuka agama; sehingga mereka sendiri sesat dan menyesatkan.”

    Begitu pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ikutilah sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasidin sesudahku (Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib).”

    Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan jauhilah hal-hal baru dalam agama (bid’ah), karena semua bid’ah dalam agama adalah sesat.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/42-43).

    “Dan jika telah jelas bagimu bahwa inilah kebenaran, yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya, maka wajib bagimu untuk menyampaikan kebenaran itu kepada umat manusia dan mengajarkannya kepada kaum muslimin dan muslimat.

    Semoga Allah ta’ala merahmati orang yang menunaikan kewajibannya, bertaubat kepada-Nya, dan mengakui kesalahannya. Ketahuilah bahwa orang yang bertaubat dari suatu kesalahan, bagaikan orang yang tidak memiliki dosa.

    Semoga Allah ta’ala menunjukkan kepada kami, kalian dan seluruh saudara-saudara kita jalan yang dicintai dan diridhai-Nya. Wassalam.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/43).

    Shalawat, salam serta barakah Allah semoga tetap tercurahkan kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi kita dan kekasih kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya.

  16. usman said,

    Februari 5, 2009 at 4:19 am

    wahabi ngentottt aja lue

    • rudi edwaldo said,

      April 25, 2011 at 4:03 pm

      Sekiranya apa yg ada dalam akal dan hatiku bersih, niscaya tidak akan keluar dari lisanku kata-kata keji dan kotor yg dapat merusak muruahku

    • rudi edwaldo said,

      April 25, 2011 at 4:18 pm

      Sekiranya apa yg ada dalam akal dan hatiku bersih serta sadar bhwa Allah pasti memperhatikanku, niscaya tidak akan keluar dari lisan dan penaku kata-kata keji dan kotor yg dapat merusak muruahku. Smoga Allah melindungi kita dan menutupin aib2 serta menjauhkan kita dari perkara2 yg dapat menghancurkan kehormatan kita sndiri.

  17. khaeruman al-kaelani said,

    April 22, 2009 at 6:35 pm

    yang jelas hanya dari Allah. mengkritik itu tdk ada salahnya krn yang paling benar hanyalah Allah dan para nabinya yang paling utama yang perlu adalah sikap kita sblm memberi komentar, da’wah islamiyah hukumnya wajib setiap yang bertentangan menurut al-qur’an dan hadis itulah yang sesat. sesuatu yang baik tetap dibilang baik dan yang sesat tetap sesat,saya ingin berusaha menengahi dlm maslh ini kita tak perlu salaing merendahkan dan meremehkan satu sama lain liat disekeliling kita mash bnyak orang yang nyembah patung2, judi, mabuk2kan dan mash bnyk lagi sekarang yang palg perlu adalah meluruskan mereka kejalan Tuhan kenapa kita harus saling memperotes. laksanakan rukun islam pegang rukun iman.

  18. Adi said,

    Mei 1, 2009 at 3:21 am

    Assalamualaikum
    Saya hanya ingin bertanya kira kira antara Imam Syafi’i dan Imam Ibn Abdul Wahab yang mana yang lebih IMAM? Dan mana yang lebih dekat kepada zaman terbaik(zaman sahabat)?
    wassalamualaikum

    • rudi edwaldo said,

      April 25, 2011 at 3:44 pm

      Kalaulah ana yg bertanya, Imam Syafi’i dg Kiyai enta mana yg lebih IMAM? tapi coba konfirmasikan amalan al Imam dengan amalan kiayi enta, apa yg enta dapatkan? Adakah sama amalan beliau dg apa yg diamalkan kiyai enta? mana yg sebenarnya enta pelajari kitab al Imam, atau kitabnya dari ustaznya kiyai enta? Bukan begitu ya akhy, cara berargumentasi!! semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita, bukan hanya saya, tapi kita termasuk enta!

      • tubagus said,

        Januari 31, 2013 at 9:41 am

        Kenapa wahabbi mengharamkan orang membaca sholawat kepada baginda nabi? Dan kenapa membenci Wali songo?

  19. hilman said,

    Mei 28, 2010 at 10:29 pm

    damai…..damai…..damai…….Alohumma sholi ‘ala sayyidina Muhammad

  20. herman said,

    Juli 21, 2010 at 4:22 am

    Assalamulaikum ,

    Saudaraku sesama Ahlul Sunnah Wal Jamaah ( Salafy, NU, dan yang lainnya) jangan kita saling membenci atau menghujat. contohlah ahlak para imam 4 yang walaupun berbeda pendapat tetapi saling menyayangi:
    1. Imam Asyafei berbeda pendapat dengan gurunya Imam Malik, dan berdirilah Mazhab Syafiiyah, apakah Imam Malik marah dalam hal ini? tentu tidak, karena perbedaan adalah masalh fikih, bukan AQIDAH.

    2. Imam Ahmad berbeda pendapat dengan Gurunya dalam bidang fikih Imam Syafei dan muridnya dalam bidang hadits (Imam Syafei), tapi perbedaan itu hanya masalah furu, bukan AQIDAH.

    Jadi STOP perdebatan , musuh kita yang sebenarnya adalah:
    1. KAFIR YAHUDI DAN NASRANI.
    2. SYIAH
    3. ISLAM LIBERAL dan yang lain.

    Bersatulah AHLUL SUNNAH.

    NOTE:
    ADMIN tolong komentar sesat dan bodoh serta tolol dari USMAN dan sejenisnya sebaiknya jangan dimasukkan, karena dia ini berbicara tidak ilmiah, tapi sangat KOTOR dan JOROK, sangat tidak ISLAMI. dan amat memalukan bagi semua AHLUL SUNNAH WAL JAMAAH.

    • ocha said,

      Januari 21, 2011 at 2:46 am

      ass. mohon maaf sdrku. sedikit ralat musuh kita adalah sebenarnya dalam diri kita sendiri yaitu hawanafsu, jadi jangan kita bermain dihawanafsu, syiah adalah sdr.kita, yang mengucapkan sahadat, naik haji dimekkah, kalau anda memusuhi sdrmu yg sudah bersahadat, maka anda sama dgn org yang berbuat dholim, sama dgn mengingkari sunnah, Rasulullah bersabda barang siapa yang mengucapkan 2 kalimat sahadat dia adalah bersaudara. hati2 sdrku. binatang saja perlu disayang apalagi sdr. seiman. hati2 faham sdr.ku jangan bersembunyi dibalik ahlu sunnah, ahlu sunnah tdk berfaham begitu.
      mohon maaf bila tidak berkenan.wassalam

      • rudi edwaldo said,

        April 25, 2011 at 3:48 pm

        Bagaimana sdr ku begitu yakin ttg syiah hanya krn sdr melihatnya berhajji ke Mekkah, padahal tidak tersembunyi bagi kita betapa caci maki dan laknat mereka terhadap para sahabat Rasulullah shallallah ‘alayh wa sallam, sedang kita tahu dari melalui mereka lah wahyu Allah sampai kepada kita, apabila keadilan para sahabat telah di permasalahkan bahkan sampai di laknat, apakah patut bagi kita menjadikan mereka saudara?! semoga Allah menyayangi dan memberikan hidayah kepada kita!

  21. Diky Rismana said,

    November 14, 2010 at 6:58 am

    lantas menurut antum sendiri apakah maulid nabi itu ada contohnya dari para sahabat rasulullah saw.?

    • contohwahaby/ahli bid'ah said,

      Januari 14, 2011 at 1:47 pm

      , tuduhan kotor = ucapan kotor fuck u

      • rudi edwaldo said,

        April 25, 2011 at 3:53 pm

        Sungguh bagus perkataan:
        فحسبكم هذا التفاوت بيننا
        وكل إناء بما فيه ينضح
        “Cukuplah bagi kamu perbedaan ini diantara kita
        Setiap bejana memercikan isinya”

  22. wahabi bo Oke said,

    Januari 14, 2011 at 2:02 pm

    pake motor/mobil bid’ah mending gue ke mana-mana jalan kaki he he he he ga kebeli cuy…

    • rudi edwaldo said,

      April 25, 2011 at 3:59 pm

      Tentu saja diam atas apa yg tidak diketahui lebih baik daripada memaksakan diri utk mengatakan apa yg tdk diketahuinya.
      لو كنت تعلم ما أقول عذرتني
      أو كنتُ أعلم ما تقول عذلتك
      لكن جهلت مقالتي فعذلتني
      وعلمت أنك جاهل فعذتك
      “Sekiranya engkau tau apa yang aku katakan, niscaya engkau akan memaafkanku
      atau aku mengetahui apa yang engkau kata, maka aku pun mengkritikmu
      Tapi… engkau tidak mengerti ucapanku, maka engkaupun mencelaku
      sedangkan aku tahu bhw engkau ini tidak tahu, maka aku memaafkanmu.”

  23. wahab said,

    April 9, 2011 at 11:51 pm

    sdr2ku sesama muslim..perdebatan apapun alasan & bentuknya ujung-ujungmya psti menjurus jadi saling menghina! alangkah indahnya jk kekuatan kita kaum muslimin di satukan utk mendidik umat@perangi maksiat!

  24. rudi edwaldo said,

    April 25, 2011 at 10:40 am

    gak d sangka ternyata blg ni msh exist. Sbnrnya tuduhan tersebut tlah di jawab, adapn pertanyaan ana zaman baheula utk menjelaskan kalau mayoritas para penuduh sering menisbatkan sesuatu padahal dia tidak tau terhadap yg d nisbatkannya, hanya dikarenakan punya prinsip “musuh dari musuhku adalah temanku” sering kali kita serta merta “menelan” apapun yg keluar dari ucapan orang yg telah menjadi teman sepermusuhan tsb tanpa mengetahui juga bhwa org tersebut telah tersalah dlm tuduhannya, baik d karenakn faktor ketergesa2annya dalam menerima suatu berita tanpa menseleksinya dan mengkonfirmasikannya terlebih dahulu padahal Allah berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
    “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. al Hujurat (49): 6).
    Kebiasaan mendahulukan su’u al zhan dan rakus pada umpatan, menjadikan orang ini selalu menutup diri dr kebenaran yang datang di depan matanya. Apa saja akan di gunakannya utk “membela” pendapatnya selama itu sesuai kehendak nafsunya, tanpa menghiraukan datangnya dari siapapun, termasuk orang-orang yg dg mudah percaya kepada blog ini walaupn sama sekali tidak kenal keilmuan dan agama si penulis blog (maaf).
    Hm, cukup deh rasanya mewakili kita apa yang dikatakan oleh al Syeikh Muhammad Rasyid Ridha dalam mengomentari Risalah Syaikh Ahmad Zaini Dahlan Muqaddimah Kitab Shiyanah al Insan ‘An Waswasah al Syaikh Dahlan oleh Muhammad Basyir al Sahsawani al Hindi, tnpa prlu mempertajam perdebatan yg di khawatirkan pd kesia-siaan. Syaikh Muhammad Rasyid Ridha -semoga Allah menyayangi beliau- menyebutkan sbb:
    تصدى للطعن في الشيخ محمد بن الوهاب والرد عليه أفراد من أهل الأنصار المختلفة , منهم رجل من أحد بيوت العلم في البغداد قد عهدناه يفتخر بأنه من دعاة التعطيل والإلحاد . وكان أشهر هؤلاء الطاعنين مفتي مكة المكرمة الشيخ أحمد زيني دحلان المتوفي سنة 1304 ألف رسالة في ذلك ندور جميع مسائلها على قطبين اثنين : قطب الكذب والافتراء على الشيخ , وقطب الجهل بتخطئته فيما هو مصيب فيه. أنشئت أول مطبعة في مكة المكرمة في زمن هذا الرجل فطبع رسالته وغيرها من مصنفاته فيها وكانت توزع بمساعدة أمراء مكة ورجال الدولة على حجاج الآفاق فعم نشرها , وتناقل الناس مفترياته وبهائته في كل قطر , وصدقها العوام وكثير من الخواص , كما اتخذ المبتدعة والحشوية الخرافيون رواياته ونقوله الموضوعة والوهية والمنكرة وتحريفاته للرويات الصحيحة , حججا يعتمدون عليها في الرد على دعاة السنة المصلحين , وقد فنيت نسخ رسالته تلك ولم يبق منها شيء بين الأيدي ولكن الألسن والأقلام لا تزال تتناقل كل ما فيها من غير عزو , ودأب الشر العناية بنقل ما يوافق أهوائهم , فكيف اذا وافقت هوى ملوكهم وحكامهم . كنا نسمع في صغيرنا أخبار الوهابية المستمدة من رسالة دحلان هذا ورسائل أمثاله فنصدقها بالتيع لمشائخنا وأبائنا , ونصدق أن الدولة العثمانية هي حامية الدين ولأجله جاربتهم وخضدت شوكتهم , وأنا لم أعلم بحقيقة هذه الطائفة الا بعد الهجرة الى مصر ولاطلاع على تأريخ الاستقصا في الاخبار المغرب الأقصى , فعلمت منهما أنهم هم الذين كانوا على هداية الاسلام دون مقاتلهم , وأكده الاجنماع بالمطلعين على التاريخ من أهلها ولا سيما تواريخ الأفرنج الذين بحثوا عن حقيقة الأمر فعلموها وصرحوا أن هؤلاء الناس أرادوا تجديد الاسلام واعادته الى ما كان عليه في الصدر الأول , واذا لتجدد مجده وعادت اليه قوته وحضارته , وأن الدولة العثمانية ما حاربتهم الا خوفا من تجديد ملك العرب , واعادة الخلافة الاسلامية سيرتها الأولى. على أن العلامة الشيخ عبد الباسط الفاخوري مفتي بيروت كان ألف كتابا في تاريخ الاسلام ذكر فيه الدعوة التى دعا اليها الشيخ محمد بن عبد الوهاب وقال انها عين ما دعا اليه النبيون والمرسلون , واكنه قال ان الوهابيين في عهده متشددون في الدين , وقد عجبنا له كيف تجرأ على مدحهم في عهد السلطان عبد الحميد . ورأيت شيخنا الشيخ محمد عبده في مصر على رأيه في هداية سلفهم , وتشدد خلفهم , وأنه لولا ذلك لكان اصلاحهم عظيما ورجي أن يكون عاما . وقد ربى الملك عبد العزيز الفيصال أيده الله غلاتهم المتشددين منذ سنتين بالسيف تربية يرجى أن تكون تمهيدا لا صلاح عظيم. ثم اطلعت على أكثر كتب الشيخ محمد عبد الوهاب ورسائله وفتاوية وكتب الأولاده وأحفاده ورسائلهم ورسائل غيرهم من علمآء نجد في عهد هذه النهضة التجديدية فرأيت أنه لم يصل اليهم اعترض ولا طعن فيهم الا وأجابوا عيه , فما كان كذبا عليهم قالوا (سبحانك هذا بهتان عظيم) وما كان صحيحا أو له أصل بينوا حقيقته وردوا عليه , وقد طبعت أكثر كتبهم وعرف الألوف من الناس أصل تلك المفتريات عنهم . ومن المستبعد جدا أن يكون اشيخ أحمد دحلان لم يطلع على شيء من تلك الكتب والرسائل وهو في مركزه بمكة على مقربة منهم فان كان قد اطلع عليها ثم أصر على ما عزاه اليهم من الكذب والبهتان -ولا سيما مانفوه صريحا وتبرؤا منه- فأي قيمة لنقله ولدينه وأمانته؟ و هل هو الا ممن باعوا دينهم بدنياهم ؟ ولقد نقل عنه بعض العلمآء الهند ما يؤيد مثل هذا فيه . فقد قال صاحب كتاب (البراهين القاطعة على ظلام الأنوار الساطعة) المطبع بالهند : ان شيخ علمآء مكة في زماننا (قريب من سنة 1303) قد حكم -أي أفتى- بايمان أبي طالب وخالف الأحاديث الصحيحة لأنه أخذ الرشوة الربابي القليلة من الرافضي بغدادي أه..”
    “Sebagian penduduk kota yang menyelisihi (Muhammad Ibn Abd Wahhab) telah menyerang Syaikh Muhammad Ibn Abd Wahab utk menfitnah dan membantah beliau. Diantara mereka itu adalah seorang pengasuh majlis ilmu di Baghdad (yakniJamil al Zahawi) yang membanggakan diri bahwa ia itu termasuk seorang yang mendakwahkan kepada ta’thil (menafikan sifat-sifat Allah) dan ilhad (kufur). Dan mereka, orang-orang yang mencela (menfitnah Muhammad Abd Wahhab) itu yang paling terkenal adalah seorang Mufti Mekkah Mukarramah, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan (d. 1304 H) yang telah mengarang risalah (tulisan) tentang hal itu yang kesemua permasalahannya berkisar pada dua hal: kebohongan dan fitnah (kedustaan, mengada-ngada) terhadap Syaikh (Muhammad Ibn Abd Wahab), dan kejahilan yang menimpanya. Pada zaman orang ini (Ahmad Zaini Dahlan) cetakan pertama telah tersebar d Mekkah Mukarramah, kemudian ia menerbitkan tulisan dan karya-karyanya dan dengan bantuan para umara (penguasa) Mekkah serta para pejabat pemerintahannya ikut ambil bagian membagi-bagikannya kepada jema’ah haji yang datang dari berbagai belahan dunia sehingga tersebar luas. Orang-orang itupun kemudian saling menukilkannya scr estafet (menceritakannya dari satu mulut ke mulut lain) kebohonganya itu merata ke setiap daerah, dan masyarakat awam dan mayoritas orang-orang khususpun malah membenarkannya, sbagaiman yang dilakukan oleh para mubtadi’ah (ahli bid’ah) yang suka membuat-buat riwayat palsu dan munkar dan menyelisihi riwayat yang shahih yang mereka bersandar kepadanya sebagai hujjah utk membantah para da’i sunnah yang melakukan perbaikan. Saya telah membuang naskh tulisannya tersebut., dan tidak tersisa sedikitpun padaku, tetapi lisan dan pena senantiasa memindahkan (menukilkan, mengutip) apa saja yang ada padanya dengan tidak porposional, serta perhatian manusia selalu terfokus pada apa-apa yang sesuai dengan hawa nafsu mrk. Lalu bgmn jika hal itu dilakukan oleh para penguasa dan hakim mereka. Pada waktu kecil, kami telah dengar berita tentang wahabiyah dari tulisannya Dahlan ini dan tulisan-tulisan sepertinya, lalu kami ikutan membenarkannya ikut-ikutan pada para guru dan nenek moyang kami. kami juga membenarkan bahwa Dinasti Uthmaniyah adalah pelindung (penjaga) agama. karnanya memerangi dan mematahkan penghalang mereka. sedangkan saya belum mengetahui hakikat dari kelompok ini kecuali setelah hijrah ke Mesir. Kemudian saya mentelaah Tarikh al Jibrati dan Tarikh al Istiqsha Fi Akhbar al Maghrib al Aqsha, maka dari kedua kitab ini, baru saya mengetahui bahwa mereka adalah orang yang berada diatas hidayah Islam, bukan orang-orang yang memerangi (memusuhi) mereka. saya memperkuatnya dengan bergaul bersama para pengkaji sejarah dari ahlinya terutama para sejarawan Perancis yang meneliti mengenai hakikat perkara ini, maka mereka memberitahukan dan menegaskan bahwa mereka (wahabiyah) adalah orang-orang yang bertujuan utk melakukan tajdid (pembaharuan) Islam dan mengembalikannya kepada keadaannya semula. tujuan merekapun telah tercapai karena kekuatan dan peradaban telah kembali. Sedangkan dinasti Uthmaniyah tidaklah memerangi mereka kecuali karena takut karena (itu juga) akan melakukan pembaharuan kerajaan (kuasaan) Arab, serta mengembalikan Khilafah Islam sebagaimana awalnya. Menurut al ‘Allamah Syaikh Abd al Basith al Fakhuri, Mufti Beirut yang telah menulis kitab tentang tarikh (sejarah) Islam menceritakan didalamnya dakwah Syaikh Muhammad Ibn Wahhab dan mengatakan bahwa dakwah tersebut adalah apa yang telah didakwahkan oleh para Nabi dan para Rasul, tetapi beliau juga mengatakan bahwa orang-orang wahabi pada masa beliau (Syaikh Abd al Basith al Fakhuri) adalah org-orang yang mutasyaddid (ketat,ekstrim) dalam agama. Kami (Syaikh Muhammad Rasyid Ridha) merasa kagum kepada beliau yang dengan berani memuji mereka di zaman Sultan Abd al Hamid. Saya melihat guru kami, Syaikh Muhammad Abduh di Mesir terhadap pemikirannya mengenai hidayah salaf mereka, dan keras menentang mereka. Sekiranya tidak demikian, tentulah beliau melakukan perbaikan yang besar dengan mereka. Kemudian saya melakukan telaah atas kitab-kitab Syaikh Muhammad Abd al Wahhab dan tulisan-tulisan beliau serta fatwa-fatwa beliau dan juga kitab-kitab dan tulisan-tulisan anak cucu beliau, juga selain mereka dari Ulama Najd pada masa kebangkitan gerakan pembaharuan. Maka saya mengetahui bahwa tidaklah sanggahan dan celaan (fitnah) tentang mereka melainkan mereka telah menjawabnya. Jika hal itu dusta, maka mereka berkata: “Maha Suci Engkau (Ya Allah), sesungguhnya ini adalah kedustaan yang besar” sdngkan jika (isu) itu benar atau memang ada asalnya, maka mereka jelaskan hakikatnya dan menjawabnya. Sesungguhnya kitab-kitab mereka telah banyak di terbitkan (dicetak) dan ribuan manusia telah mengetahui pangkal dari kedustaan terhadap mereka. Sangat disayangkan sekali, bahwa Syaikh Ahmad Dahlan tidak membaca (menelaah) kitab-kitab dan tulisan-tulisan tersebut sedikitpun padahal ia berada di pusatnya, di Mekkah. Kalaulah ia telah membacanya, lalu ia tetap bersikukuh percaya dg kedustaan tersebut -terlebih pd apa yang telah mereka jelaskan dan berlepas diri darinya- maka bgmn dengan kapasitas yang ada padanya (sbg seorang ulama dan mufti besar) serta amanahnya? bhkn bukankah ia termasuk orang yang menjual agama dan dunia mereka? Sesungguhnya sebagian ulama telah India telah menukilkannya apa yang akan mengukuhkan hal ini. Pengarang kitab, al Barahin al Qathi’ah ‘ala Zhulam al Anwar al Sathi’ah yang dicetak di India, berkata: Sesungguhnya Syaikh ulama Mekkah pada zaman kami (sktr 1303) telah memberikan fatwa ttg keimanan Abu Thalib sedangkan ia menyelisihi hadith-hadith shahih, dikarenakan ia telah menerima rasyuah (sogokan) dari sekelompok orang Rafidhah Baghdad (selesai) …” Selanjutnya lihat: al ‘Allamah al Kabir, al Muhaddith al Faqih, Muhammad Basyir al Sahsawani al Hindi (1975), Shiyanah al Insan ‘An Waswasah al Syaikh Dahlan,Cet. 5, h. 12-13. lihat juga: Prof. Dr. Nashir Ibn Abd al Karim al ‘Aql (2006), Hanya Islam Bukan Wahabi. (terj), Jakarta: Darul Falah, h. 211-213.
    Ok, bye! Wassalam

  25. kampret said,

    Oktober 14, 2011 at 2:35 am

    Blog Sampah.

  26. AHMAD ZAENI said,

    April 7, 2012 at 4:09 pm

    sungguh sebenarnya umat islam sekarang dalam keadaa bercerai berai….. hanya karena isu… atau berita miring yang tidak jelas…. ini adalah ulah yahudi dalam upaya memecah belah kaum muslim sadarlah dan berhati hatilah dalam menerima berita….. tidaklah mungkin seorang muslim memilikihati sekejiitu… terhadap nabinya sendiri…

  27. yyyyyyy said,

    September 5, 2012 at 5:03 pm

    Sebaiknya anda yang berkomentar pedas tentang syaih Abdul Wahab dengan gerakan wahabinya berfikir terlebih dahulu dalam-dalam. Jangan sampai nanti pernyataan yang anda posting ini menjadi fitnah yang bisa memberatkan anda di akhirat. Bagaimana jika tuduhan terhadap syaih Abdul Wahab dan wahabiyah itu tidak benar, lalu Syaih Abdul Wahab menuntut anda kelak di akhirat? Berani masuk neraka ga?

    • SEMPRUL said,

      September 24, 2013 at 5:05 pm

      dah di pikir mas dalam2 mas, kaum ente yg seharus y berfikir lg lbh dlm … blajar dl mas

  28. H.Muhkam said,

    Januari 1, 2013 at 6:00 am

    Rudy komentar ente menunjukan ente ngajak bermusuhan, mari kita sama2 istigfar, kalo ana satu aja mau nanya “kenapa bersholawat atas Baginda Nabi Muhammad diharamkan”? kenapa ente begitu mencemooh para kyai? Astagfirullah

  29. H.Muhkam said,

    Januari 1, 2013 at 6:09 am

    Rudy kalo emang tdk mau bermusuhan “mari sama2 kita berabaur dengan satu sama lain”! kenapa bnyak yg marah terhdp faham Salafi Wahabi, diantaranya ente sendiri yng bikin api permusuhan

  30. SEMPRUL said,

    September 24, 2013 at 5:07 pm

    BGT LAH WAHABI SLL NGOTOT MREKA YG PALING BNR WKWKWKWKWKWK MUKA DUA MEREKA BAEK DI DEPAN BUUUUUSUUUUKKKKKKKKKKKK DI BLAKANG


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: