Pengakuan ulama besar fiqh tentang tasawwuf dan ulama sufi

Imam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 CE)

Imam Abu Hanifa (r) (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak
karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun
saya bersama Sayyidina Ja’far as-Sadiq dan mendapatkan
ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui
jalan yang benar”.

Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa Ibn ‘Abideen
said, “Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim
an-Nasarabadi, dari ash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati
dari Ma’ruf al-Karkhi, dari Dawad at-Ta’i, yang
mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa
(r), yang mendukung jalan Sufi.” Imam berkata sebelum
meninggal: lawla sanatan lahalaka Nu’man, “Jika tidak
karena dua tahun, Nu’man (saya) telah celaka.” Itulah
dua tahun bersama Ja’far as-Sadiq

Imam Malik (94-179 H./716-795 CE)

Imam Malik (r): “man tassawaffa wa lam yatafaqah
faqad tazandaqa wa man tafaqaha wa lam yatsawwaf faqad
fasadat, wa man tafaqaha wa tassawafa faqad tahaqqaq.
(Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasauf tanpa fikh
maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari
fikh tanpa tasauf dia tersesat, dan siapa yang
mempelari tasauf dan fikh dia meraih kebenaran).”
(dalam buku ‘Ali al-Adawi dari keterangan Imam
Abil-Hassan, ulama fikh, vol. 2, p. 195

Imam Shafi’i (150-205 H./767-820 CE)

Imam Shafi’i: “Saya bersama orang sufi dan aku
menerima 3 ilmu:
1. mereka mengajariku bagaimana berbicara
2. mereka mengajariku bagaimana meperlakukan orang
dengan kasih dan hati lembut
3. mereka membimbingku ke dalam jalan tasawwuf
[Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, Imam 'Ajluni, vol.
1, p. 341.]

Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H./780-855 CE)

Imam Ahmad (r): “Ya walladee ‘alayka bi-jallassati
ha’ula’i as-Sufiyya. Fa innahum zaadu ‘alayna
bikathuratil ‘ilmi wal murqaba wal khashiyyata
waz-zuhda wa ‘uluwal himmat (Anakku jika kamu harus
duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah
mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam
hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka
memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi,” –Tanwir
al-Qulub, p. 405, Shaikh Amin al-Kurdi). Imam Ahmad
(r) tentang Sufi:”Aku tidak melihat orang yang lebih
baik dari mereka” ( Ghiza al-Albab, vol. 1, p. 120)

Imam al-Muhasibi (d. 243 H./857 CE)

Imam al-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul, “Umatku akan
terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan
menjadi kelompok yang selamat” . Dan Allah yang lebih
mengetahui bahwa itu adalah Golongan orang tasawwuf.
Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab al-Wasiya
p. 27-32.

Imam al-Qushayri (d. 465 H./1072 CE)

Imam al-Qushayri tentang Tasawwuf: “Allah membuat
golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan Dia
mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya
sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati
mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih
mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya.
Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan
diri dari segala hubungan dengan dunia dan
Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam
penampakan (kasyf). Dan Dia membuka kepada mereka
Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat mereka untuk
melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Dia
membuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan
menampakkan mereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya .”
[ar-Risalat al-Qushayriyya, p. 2]

Imam Ghazali (450-505 H./1058-1111 CE)

Imam Ghazali, hujjat ul-Islam, tentang tasawwuf:
“Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para
pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang
terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan
akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati
mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka
sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran
Ilahi [al-Munqidh min ad-dalal, p. 131].

Imam Nawawi (620-676 H./1223-1278 CE)

Dalam suratnya al-Maqasid: “Ciri jalan sufi ada 5:
1. menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai
dan sendiri
2. mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata
3. menghindari ketergantungan kepada orang lain
4. bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit
5. selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid
at-Tawhid, p. 20]

Imam Fakhr ad-Din ar-Razi (544-606 H./1149-1209 CE)

Imam Fakhr ad-Din ar-Razi: “Jalan para sufi adalah
mencari ilmu untuk memutuskan diri mereka dari
kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu
sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat
Allah, pada seluruh tindakan dan perilaku” .”
[Ictiqadat Furaq al-Musliman, p. 72, 73]

Ibn Khaldun (733-808 H./1332-1406 CE)

Ibn Khaldun: “Jalan sufi adalah jalan salaf,
ulama-ulama di antara Sahabat, Tabi’een, and Tabi’
at-Tabi’een. Asalnya adalah beribadah kepada Allah dan
meninggalkan perhiasan dan kesenangan dunia”
[Muqaddimat ibn Khaldan, p. 328]

Tajuddin as-Subki

Mu’eed an-Na’eem, p. 190, dalam tasauf: “Semoga
Allah memuji mereka dan memberi salam kepada mereka
dan menjadikan kita bersama mereka di dalam sorga.
Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan
terlalu banyak orang-orang bodoh yang mengatakan
hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang
benar adalah bahwa mereka meninggalkan dunia dan
menyibukkan diri dengan ibadah”. Dia berkata: “Mereka
dalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa
dan shalatnya diterima Allah, dan melalui mereka Allah
membantu manusia.

Jalaluddin as-Suyuti

Dalam Ta’yad al-haqiqat al-‘Aliyya, p. 57: “tasawwuf
dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan
terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah
Nabi dan meninggalkan bid’ah”

Ibn Taymiyya (661-728 H./1263-1328 CE)

Majmaca Fatawa Ibn Taymiyya, Dar ar-Rahmat, Cairo,
Vol, 11, page 497, Kitab Tasawwuf: “Kamu harus tahu
bahwa syaikh-syaikh terbimbing harus diambil sebagai
petunjuk dan contoh dalam agama, karena mereka
mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Tariqat para
syaikh itu adalah untuk menyeru manusia ke Kehadiran
Allah dan ketaatan kepada Nabi.”

Juga dalam hal 499: “Para syaikh dimana kita perlu
mengambil sebagai pembimbing adalah teladan kita dan
kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita dalam
Haji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai
Ka’ bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal)
menuju Allah dan Nabi kita.

Di antara para syaikh yang dia sebut adalah: Ibrahim
ibn Adham, Ma’ruf al-Karkhi, Hasan al-Basri, Rabia
al-Adawiyya, Junaid ibn Muhammad, Shaikh Abdul Qadir
Jilani, Shaikh Ahmad ar-Rafa’i, and Shaikh Bayazid al-
Bistami. Ibn Taymiyya mengutip Bayazid al-Bistami pada
510, Volume 10: “…Syaikh besar, Bayazid al-Bistami,
dan kisah yang terkenal ketika dia menyaksikan Tuhan
dalam kasyf dan dia berkata kepada Dia:” Ya Allah,
bagaimana jalan menuju Engkau?”. Dan Allah menjawab:
“Tinggalkan dirimu dan datanglah kepada-Ku”.

Ibn Taymiah melanjutakan kutipan Bayazid al-Bistami,
” Saya keluar dari diriku seperti seekor ular keluar
dari kulitnya”. Implisit dari kutipan ini adalah
sebuah indikasi tentang perlunya zuhd
(pengingkaran-diri atau pengingkaran terhadap
kehidupan dunia), seperti jalan yang diikuti Bayazid
al-Bistami ( Mursyid Tariqah Naqshbandi).

Kita melihat dari kutipan di atas bahwa Ibn Taymiah
menerima banyak Syaikh dengan mengutipnya dan meminta
orang untuk mengikuti bimbingannya untuk menunjukkan
cara menaati Allah dan Rasul saas.

Apa kata Ibn Taymiah tentang istilah Tasawwuf :

Berikut adalah pendapat Ibn Tamiah tentang definisi
Tasawwuf dari strained, Whether you are gold or
gold-plated copper.” Sanai. Following is what Ibn
Taymiyya said about the definition of Tasawwuf, from
Volume 11, At-Tasawwuf, of Majmu’a Fatawa Ibn

Taymiyya al-Kubra, Dar ar-Rahmah, Cairo:
“Alhamdulillah, penggunaan kata tasauf telah
didiskusikan secara mendalam. Ini adalah istilah yang
diberikan kepada hal yang berhubungan dengan cabang
ilmu (tazkiyat an-nafs and Ihsan).” “Tasawwuf adalah
ilmu tentang kenyataan dan keadaan dari pengalaman.
Sufi adalah orang yang menyucikan dirinya dari segala
sesuatu yang menjauhkan dari mengingat Allah dan orang
yang mengisi dirinya dengan ilmu hati dan ilmu pikiran
di mana harga emas dan batu adalah sama saja baginya.

Tasawwuf menjaga makna-makna yang tinggi dan
meninggalkan mencari ketenaran dan egoisme untuk
meraih keadaan yang penuh dengan Kebenaran. Manusia
terbaik sesudah Nabi adalah Shidiqin, sebagaimana
disebutkan Allah: “Dan barangsiapa yang menta’ati
Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama
dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah,
yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang yang mati
syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman
yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)” Dia melanjutkan
mengenai Sufi,”mereka berusaha untuk menaati Allah..
Sehingga dari mereka kamu akan mendapati mereka
merupakan yang terdepan (sabiqunas-sabiqun) karena
usaha mereka. Dan sebagian dari merupakan golongan
kanan (ashabus-syimal).”

Imam Ibn Qayyim (d. 751 H./1350 CE)

Imam Ibn Qayyim menyatakan bahwa, “Kita menyasikan
kebesaran orang-orang tasawwuf dalam pandangan salaf
bagaimana yang telah disebut oleh by Sufyan ath-Thawri
(d. 161 H./777 CE). Salah satu imam terbesar abad
kedua dan salah satu mujtahid terkemuka, dia berkata:
“Jika tidak karena Abu Hisham as-Sufi (d. 115 H./733
CE) saya tidak pernah mengenal bentuk munafik yang
kecil (riya’) dalam diri (Manazil as-Sa’ireen). Lanjut
Ibn Qayyim:”Diantara orang terbaik adalah Sufi yang
mempelajari fiqh”

‘Abdullah ibn Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab (1115-1201
H./1703-1787 CE)

Dari Muhammad Man ar Nu’mani’s book (p. 85), Ad- ia’at
al-Mukaththafa Didd ash-Shaikh Mu ammad ibn ‘Abdul
Wahhab: “Shaikh ‘Abdullah, anak shaikh Muhammad ibn
‘Abdul Wahhab, mengatakan mengenai Tasawwuf: ‘Anakku
dan saya tidak pernah menolak atau mengkritik ilmu
tasawwuf, tetapi sebaliknya kami mendukungnya karena
ia menyucikan baik lahir maupun batin dari dosa
tersembunyi yang berhubungan dengan hati dan bentuk
batin. Meskipun seseorang mungkin secara lahir benar,
secara batin mungkin salah; dan untuk memperbaikinya
tasauf diperlukan.”

Dalam volume 5 dari Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab
entitled ar-Rasa’il ash-Shakhsiyya, hal 11, serta hal.
12, 61, and 64 dia menyatakan: “Saya tidak pernah
menuduh kafir Ibn ‘Arabi atau Ibn al-Fari karena
interpretasi sufinya”

Ibn ‘Abidin

Ulama besar, Ibn ‘Abidin dalam Rasa’il Ibn cAbidin
(p. 172-173) menyatakan: ” Para pencari jalan ini
tidak mendengar kecuali Kehadiran Ilahi dan mereka
tidak mencintai selain Dia. Jika mereka mengingat Dia
mereka menangis. Jika mereka memikirkan Dia mereka
bahagia. Jika mereka menemukan Dia mereka sadar. Jika
mereka melihat Dia mereka akan tenang. Jika mereka
berjalan dalan Kehadiran Ilahi, mereka menjadi lembut.
Mereka mabuk dengan Rahmat-Nya. Semoga Allah merahmati
mereka”. [Majallat al-Muslim, 6th ed., 1378 H, p. 24].

Shaikh Rashad Rida

Dia berkata,”tasawwuf adalah salah satu pilar dari
pilar-pilar agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan
diri dan mempertanggungjawabkan perilaku sehari-hari
dan untuk menaikan manusia menuju maqam spiritual yang
tinggi” [Majallat al-Manar, 1st year, p. 726].

Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi

Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi anggota the
Islamic-Arabic Society of India and Muslim countries.
Dalam, Muslims in India, , p. 140-146, “Para sufi ini
memberi inisiasi (baiat) pada manusia ke dalam keesaan
Allah dan keikhlasan dalam mengikuti Sunah Nabi dan
dalam menyesali kesalahan dan dalam menghindari setiap
ma’siat kepada Allah SWT. Petunjuk mereka merangsang
orang-orang untuk berpindah ke jalan kecintaan penuh
kepada Allah”

“Di Calcutta, India, lebih dari 1000 orang mengambil
inisiasi (baiat) ke dalam Tasawuf”
“Kita bersyukur atas pengaruh orang-orang sufi, ribuan
dan ratusan ribu orang di India menemukan Tuham merka
dan meraih kondisi kesempurnaan melalui Islam”

Abul ‘Ala Mawdudi

Dalam Mabadi’ al-Islam (p. 17), “Tasawwuf adalah
kenyataan yang tandanya adalah cinta kepada Allah dan
Rasul saw, di mana sesorang meniadakan diri mereka
karena tujuan mereka (Cinta), dan seseorang meniadakan
dari segala sesuatu selain cinta Allah dan Rasul”.
“Tasawwuf mencari ketulusan hati, menyucikan niat dan
kebenaran untuk taat dalam seluruh perbuatannya.”

Ringkasnya, tasawwuf, dahulu maupun sekarang, adalah
sarana efektif untuk menyebarkan kebenaran Islam,
memperluas ilmu dan pemahaman spiritual, dan
meningkatkan kebahagian dan kedamaian. Dengan itu
manusia dapat menemukan diri sendir dan, dengan
demikian, menemukan Tuhannya. Dengan itu manusia dapat
meningkatkan, merubah dan menaikan diri sendiri dan
mendapatkan keselamatan dari kebodohan dunia dan dari
godaan keindahan materi. Dan Allah yang lebih
mengetahui niat hamba-hamba-Nya.

Posted by iwang_q at

About these ads

97 Komentar

  1. Dimas said,

    Mei 18, 2007 at 6:03 pm

    Alhamdulillah…Terima Kasih untuk postingnya yang mencerahkan.

  2. corrie said,

    Juni 29, 2007 at 12:53 am

    bagus….ini yang aku cari!!!
    syukron!!!

  3. eka suryadi kaum cils said,

    Desember 17, 2007 at 4:19 am

    alhamdulilah saya bisa lebih mengerti tenteang tasawuf syukron terima kasih ya allah……???????????????????????????????????????

  4. tuhan berkata said,

    Desember 19, 2007 at 4:44 am

    apa benar tasawuf membawa keselamatan buktinya banyak yang bertasawuf tetapi gak sholat bahkan merasa diri yang paling pinter tapiiiiiiiiiiiiiiii aku juga pengikut tasawuf loh……….?

    • subhanallah said,

      Juli 25, 2012 at 2:37 pm

      bukan nya dia merasa pinter tapi anday kata ada jalan yg jauh dan di situ ada taksi apa kita milih taksi atau jalan kaki pasti nya memilih taksi
      justru pengamat tasawwuf memilih solat yg sbner nya sholat kalau ada yg lebih cepat untuk apa kita masih sholat, sholat itu pekerjaan cari lah sbner nya sholat

  5. budiman said,

    Maret 23, 2008 at 4:47 pm

    saya belajar tasawwuf, dengan metode yang mudah dan langsung di praktekan di kehidupan sehari2, belajar untuk menjernihkan hati dan menyadari tidak ada daya kecuali Allah SWT. berminat? http://www.ridhoallah.com semoga kita mendapat hidayah-Nya.

  6. Dedy Adiansyah said,

    September 18, 2008 at 12:30 am

    Tasawwuf itu adalah mengosongkan hati dari sifat2 tercela dan mengisinya dengan sifat2 yang terpuji dan tetap menjalankan syariat itulah cara yang selamat Insya Allah

    • You_say said,

      Februari 21, 2012 at 5:11 pm

      ya baguslah,…

      tapi klo amalan wajib aja belum di sempurnaain, kenapa bikin amalan buatan manusia..

      dahulukan yang wajib, baru yang sunah
      Sesungguhnya Allah menyukai amalan wajib dari yang sunah

      • sando-go said,

        Februari 23, 2012 at 9:05 am

        tassawuf bukan amalan buatan manusia bro… ilmu ini datangnya langsung dari Allah dan hanya untuk orang orang terpilih, yaitu orang yang mau mempelajari dan mengamalkannya.. ingat, ilmu fiqh tanpa tasawwuf akan tersesat.. mari kita perdalam ilmu, semoga kita masuk kedalam golongan orang-orang terpilih itu.. Insya Allah..

      • oZie VRC said,

        Juli 25, 2012 at 2:44 pm

        ya tasawwuf bukan buatan manusia
        bener kata km bro fiqh tanpa tasawwuf akan tersesat
        ibarat kan sholat
        sungguh rugi orang yg gak pernah sholat seperti saya
        tapi lebih rugi lagi orang yg sholat gak tau sama tuhan nya
        untuk siapa dia sholat…, subhanallah mari sama2 kita mencari diri kita baru kita akan mnjadi manusia yg sempurna dan mengenal allah, jgan mencari allah makin jauh kita tersesat nya sama diri kita aja kita gak tau
        apa lagi sama allah

  7. muchtar sedayu said,

    Desember 27, 2008 at 12:34 pm

    saya seorang santri yang sekarang telah terjerumus di lembah kemaksiatan dan tak bisa untuk menghentikannya(dosa bagaikan candu)…..

    • barrynuqoba said,

      Juli 17, 2009 at 1:11 am

      Semangat kawan… ga usah larut dalam kesedihan ketika berbuat dosa… tapi cukup sadari kalo kita telah berdosa dan mohonlah ampunan… insya allah diampuni

  8. wahid said,

    Februari 10, 2009 at 1:53 am

    baik

  9. muhammad sahuri said,

    Mei 2, 2009 at 10:29 am

    Semoga manfaat lahir dan bathin bagi hambanya yang merindukan mengenal siapa diri ini hingga mengenal Alloh swt.

    Kunjungi Web Ibadah Umroh dan Haji Plus GRATIIIIIIIISSSSSSSSSS
    http://www.bankilmu-epos.blogspot.com
    http://www.arminarekaperdana.com
    email : unibrask@gmail.com
    Hp. 0812 3020 5728
    Flexy : 031 700 521 88

  10. haris said,

    Mei 5, 2009 at 1:46 pm

    catatan dan ungkapam yang tepat dan semangat bagi yang menenggalamkan dirinya kedalamnya

  11. musadri said,

    September 20, 2009 at 10:14 pm

    Alhamdulillah…………saya….lebih mengerti sedikit

  12. doclo said,

    Maret 3, 2010 at 6:57 am

    1. Kata Tasawuf sekali pun tidak pernah disebut di
    dalam Al Qur’an dan Hadits yang sahih. Bukankah jika
    Tasawuf itu begitu penting dalam Islam tentu Allah dan
    Rasulnya akan memerintahkan manusia untuk belajar
    Tasawuf? Tidak mungkin Nabi yang bersifat “Balligh”
    (menyampaikan) menyembunyikan perintah Allah bukan?
    Sebaliknya Nabi berkata bahwa setiap hal yang
    baru/diada-adakan (di bidang agama) adalah bid’ah dan
    sesat:
    “Sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab
    Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ,dan perkara
    yang paling buruk adalah perkara yang baru dan setiap
    bid’ah adalah tersesat” ( H.R Muslim ) .
    Allah mengatakan agama Islam sudah sempurna. Jadi tak
    perlu lagi ditambah bid’ah seperti Tasawuf:
    “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu
    agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan
    telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu….” [Al
    Maa-idah:3]

    2. Tasawuf tidak jelas artinya. Ada yang menyebut dari
    shuffah, bulu domba, shof terdepan, bahkan dari kata
    Yunani: Theo Sophos. Bagaimana mungkin orang
    mempelajari sesuatu yang tidak jelas sebagai ajaran
    dari Islam yang penting?

    3. Jika sumber agama Islam adalah Al Qur’an dan Hadits
    yang sahih (yang dloif/maudlu ditolak):
    “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
    taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.
    Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
    maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan
    Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman
    kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu
    lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. “ [An
    Nisaa”:59]
    Sabda Rasulullah Saw: “Aku tinggalkan padamu dua hal,
    yang tidak akan sesat kamu selama berpegang teguh
    kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan sunnah
    Nabi-Nya.”(HR Ibnu ‘Abdilbarri)
    Maka sumber Tasawuf bisa dari mana saja. Istilah
    Abdurrahman Abdul Khaliq yang mereka jadikan sumbernya
    adalah bisikan yang dida`wahkan datang kepda para wali
    dan kasyf (terbukanya takbir hingga mereka tahu yang
    ghoib) yang mereka da`wahkan, dan tempat-tempat tidur
    (mimpi-mimpi), perjumpaan dengan orang-orang mati yang
    dulu-dulu, dan (mengaku berjumpa) dengan Nabi Khidir
    a.s, bahkan dengan melihat Lauh Mahfudh, dan mengambil
    (berita) dari jin yang mereka namakan para badan halus
    (Rohaniyyin). Banyak sekali ajaran Tasawuf yang
    memakai cerita-cerita yang tidak jelas sahih/dloifnya
    serta dari mimpi-mimpi orang yang mereka anggap wali.
    Belajar Tasawuf bisa membuat kita lupa dari
    mempelajari Al Qur’an dan Hadits yang justru merupakan
    sumber ajaran Islam yang asli.

    4. Adapun sumber pengambilan syari`ah bagi ahli Islam
    adalah Al Kitab (Al Qur`an), As Sunnah (Al Hadits),
    Ijma` (kesepakatan para ulama terdahulu mengenai awal
    Islam), dan Qiyas (perbandingan, yaitu pengambilan
    hukum dengan membandingkan kepada hukum yang sudah ada
    ketegasannya dari Nash/text Al Qur`an atau Al Hadits,
    dengan syarat kasusnya sama, misalnya beras
    bisa untuk zakat fitrah karena diqiyaskan dengan
    gandum yang udah ada nash haditsnya). Sedangkan bagi
    orang-orang tasawuf , perbuatan syariat mereka
    didirikan diatas mimpi-mimpi (tidur), khidhir, jin,
    orang-orang mati,syaikh-syaikh, semua mereka itu
    dijadikan pembuat syariat. Oleh karena itu,
    jalan-jalan dan cara-cara pembuatan syariat tasawuf
    itu bermacam-macam. Sampai-sampai
    mereka mengatakan jalan-jalan menuju Allah SWT itu
    sebanyak bilangan nafas
    makhluk-makhluk. Maka tiap-tiap syaikh memiliki
    tarekat dan manhaj/jalan untuk pendidikan dan dzikir
    khusus. Jika dalam Islam sumber dzikir dan do’a
    berasal dari Al Qur’an dan Hadits, maka dalam Tasawuf
    berdasarkan ajaran para syekhnya (yang mungkin berasal
    dari mimpi mereka)

    5. Islam itu adalah agama yang Muhaddad/jelas
    (ditegaskan batasan ketentuan) aqidahnya, ibadahnya,
    dan syari`atnya. Dalam Islam dijelaskan apa itu rukun
    Iman, rukun Islam, cara shalat, puasa, dzikir, doa
    berdasarkan Al Qur’an dan Hadits yang sahih. Selama
    ada sumber Al Qur’an dan Hadits diterima, jika tidak
    ada ditolak.

    6. Sedangkan tasawuf itu agama yang tidak ada
    batasannya, tidak ada pengertian (yang ditentukan
    secara pasti) dalam aqidah ataupun
    syari`at-syari`atnya. Sumber yang berasal dari mimpi
    orang yang dianggap wali sudah cukup bagi mereka untuk
    diamalkan sehingga amalan Nabi Muhammad SAW seperti
    dzikir, doa, sholat Tahajjud, dsb justru terlupakan.
    Karena ketidak-jelasan sumber dan syari’ah Tasawuf,
    maka orang-orang kafir memakai Tasawuf terutama untuk
    menghilangkan ajaran jihad dari ummat Islam. Contohnya
    ada di http://www.libforall.org di mana para pendeta
    bekerjasama dengan para sufi berusaha menghilangkan
    jihad dari ummat Islam lewat Tasawuf.

    7. Paham Tasawuf seperti Wihdatul Wujud (bersatunya
    manusia dengan Allah) itu menyesatkan. Al Hallaj
    mengaku sebagai Allah. Ana al Haq (Akulah Allah)
    begitu katanya. Demikian pula tokoh sufi lain seperti
    Syekh Siti Jenar yang mengaku sebagai Allah. Terakhir
    Ahmad Dhani, Dewa, dalam lagunya “Satu” berkata “Aku
    ini adalah diriMu (Allah).” Mungkin orang sufi
    berpendapat itu karena teramat dekatnya mereka dengan
    Allah sehingga sampai mengaku sebagai Allah. Padahal
    Nabi Muhammad SAW yang merupakan manusia sempurna dan
    paling dekat kepada Allah SWT tidak pernah sekalipun
    mengaku sebagai Allah. Bukankah Nabi dan ummat Islam
    selalu berkata “Iyyaka na’budu” (kepadaMu kami
    menyembah)? Itulah salah satu arogansi sufi. Mengaku
    Tuhan seperti Fir’aun. Al Hallaj dan Syekh Siti Jenar
    difatwa sesat dan dihukum mati oleh para ulama.
    8. Sufi Abu Yazid al-Bustami (meninggal
    diBistam,Iran,261 H/874 M.) Dia adalah pendiri tarekat
    Naqsyabandiyah. Mengaku berguru pada Imam Ja’far
    padahal dia baru lahir 40 tahun setelah Imam Ja’far
    meninggal dunia. Pada suatu waktu dalam
    pengembaraannya, setelah shalat Subuh Yazid Al-Bustami
    berkata kepada orang-orang yang mengikutinya,”Innii
    ana Allah laa ilaaha illaa ana fa`budnii (Sesungguhnya
    aku ini adalah Allah,tiada Tuhan melainkan aku, maka
    sembahlah aku).” Mendengar kata-kata itu, orang-orang
    yang menyertainya mengatakan bahwa al-Bustami telah
    gila.Menurut pandangan para sufi, ketika mengucapkan
    kata-kata itu,al-Bustami sedang berada dalam keadaan
    ittihad, suatu maqam (tingkatan) tertinggi dalam paham
    tasawuf.

    9. Al-Bustami juga pernah mengucapkan
    kata-kata,”Subhani, subhani, ma a`dhama sya`ni
    (mahasuci aku,mahasuci aku, alangkah maha agungnya
    aku).” Nah jika Nabi mengajarkan dzikir “Subhanallahu”
    (Maha Suci Allah), maka syekh Tasawuf mengajarkan
    “dzikir” Subhani” (Maha Suci aku). Ini jelas
    kesombongan yang besar yang dibenci Allah:

    “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia
    (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka
    bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
    orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
    [Luqman:18]
    Al-Bustami juga berkata,”Laisa fi al-jubbah illa Allah
    (tidak ada didalam jubah ini kecuali Allah).”
    10. Paham Tasawuf, kasyf (tersingkapnya hijab, hingga
    seorang sufi
    bisa mengetahui hal ghaib), juga bertentangan dengan
    ayat Al Qur’an. Padahal Nabi SAW sendiri tidak
    mengetahui yang ghaib, bahkan jelas-jelas menegaskan
    bahwa Nabi SAW tidak tahu apa yang diperbuat Allah
    SWT untuk Nabi SAW sendiri esok (lihat dalam Bab
    Aqidah). Allah SWT berfirman:

    “Katakanlah ! Tidak ada yang dapat mengetahui perkqara
    yang ghaib dilangit dan
    di bumi kecuali Allah .” (An-Naml:65)
    Ada sebagian delegasi yang datang ke Nabi SAW, mereka
    menganggap bahwa Nabi SAW termasuk orang yang mengaku
    bisa melihat yang ghaib, maka mereka menyembunyikan
    sesuatu didalam (genggaman) tangan mereka untuk
    beliau. Dan mereka berkata kepada beliau,” Kabarkanlah
    kepada kami, apa dia (yang ada dalam gemgaman kami
    ini) ? Lalu beliau menjawab kepada mereka dalam
    keadaan berteriak, “Aku bukan seorang dukun.
    Sesungguhnya dukun dan perdukunan serta dukun-dukun
    itu didalam neraka.” ( Diriwayatkan Abu Daud: 286 ).

    11. Diantaranya sufi ada yang menganggap bahwa
    Rasulullah SAW tidak sampai pada derajat dan keadaan
    mereka (orang-orang sufi). Dan Nabi SAW (dianggap)
    jahil (bodoh) terhadap ilmu tokoh-tokoh tasawuf
    seperti perkataan Busthami,” Kami telah masuk lautan,
    sedang para nabi berdiri ditepinya.” Abu Bakar Jabir
    Al-Jazairi, pengarang kitab Ila At-Tashawwuf
    ya`Ibadallaah menisbatkan perkataan tersebut kepada
    At-Tijani (pendiri tarekat At-Tijaniyah).

    12. Diantara orang-orang sufi ada yang mempercayai
    bahwa Rasulullah SAW itu adalah kubah alam, dan dia
    itulah dan dia itulah Allah yang bersemayam diatas
    arsy; sedangkan langit-langit, bumi, arsy, kursi, dan
    semua alam itu dijadikan dari nurnya (Nur Muhammad),
    dialah awal kejadian, yaitu yang bersemayam diatas
    Arsy Allah SWT. Inilah aqidah Ibnu Arabi dan
    orang-orang yang datang setelahnya/pengikutnya. Para
    sufi ini mengangkat derajad Nabi sedemikian tinggi
    sehingga seolah-olah sama kedudukannya dengan Yesus
    (Anak Allah) dengan Tuhan Bapak menurut kepercayaan
    agama Kristen.
    Padahal Allah Ta’ala berfirman :
    Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah
    seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan
    kepadaku …(Al Kahfi : 110).

    (Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para
    Malaikat : Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari
    tanah liat. (Shaad : 71)

    Allah SWT berfirman,

    ” Barang siapa yang berpaling dari pengajaran (Allah)
    Yang Maha Pemurah (Al
    Qur`an), kami adakan baginya syetan (yang
    menyesatkan), dan syetan itulah yang
    menjadi teman yang selalu menyertainya.”
    (Az-Zukhruf:43:36)

    Pengajaran Allah SWT adalah pengajaran yang dibawa
    oleh Rasul-Nya, yakni Al
    Qur`an.Barang siapa tidak beriman kepada Al Qur`an,
    tidak membenarkan beritanya, dan tidak meyakini
    kewajiban perintahnya, berarti dia telah berpaling
    dari Al Qur`an, kemudian syetan datang menjadi teman
    setia baginya.

    13. Sufi juga mengecam orang yang menyembah Allah
    karena menginginkan surga dan takut neraka. Menurut
    mereka hanya boleh menyembah Allah karena cinta kepada
    Allah. Oleh karena itu seorang sufi, Rabiatul
    ‘Adawiyah berkata, “Ya Allah jika aku menyembahMu
    karena ingin surga, maka tutup pintu surga bagiku.
    Jika aku menyembahMu karena takut neraka, maka buka
    pintu neraka untukku” Itu adalah sifat sombong dan
    riya. Dalam Islam kita diajarkan untuk mencintai Allah
    dan Rasulnya di atas yang lain termasuk diri kita
    sendiri. Meski demikian kita juga diperintahkan untuk
    berharap akan surga dan takut api neraka.

    “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
    keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
    manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
    kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa
    yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
    mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At Tahrim:6]

    Do’a yang terbaik justru bertentangan dengan para sufi
    tersebut:
    “Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan
    kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di
    akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. [Al
    Baqarah:201]

    14. Banyak orang berusaha mengkoreksi kesesatan
    Tasawuf termasuk Imam Al Ghazali dalam bukunya Ihya’
    ‘Uluumuddiin. Toh Imam Al Ghazali terperosok juga
    karena menggunakan contoh di luar Al Qur’an dan
    Hadits. Misalkan dalam rangka hidup sederhana memberi
    contoh sufi yang kelewat zuhud sehingga memakai baju
    bulu yang kotor dan berkutu. Padahal Nabi mengatakan
    kebersihan sebagian dari iman. Begitu pula kisah orang
    yang hanya beribadah saja sehingga tidak mampu memberi
    nafkah keluarganya. Untuk makan dia berkeliling ke
    rumah temannya. Yang punya 7 teman maka dalam 7 hari
    kembali lagi ke teman pertama yang dia tumpangi. Ada
    pula yang sebulan baru ketemu dengan teman pertama
    yang dia tumpangi dan ada pula yang setahun. Padahal
    Nabi memberi sunnah untuk berusaha dan tidak
    menyusahkan orang. Tangan di atas (memberi) lebih baik
    dari tangan di bawah. Begitu kata Nabi. Buya Hamka
    yang menulis buku Tasawuf modern juga menggambarkan
    wali Sufi begitu sakti hingga bisa mengangkat kapal
    yang tenggelam di laut dari jauh! Padahal Nabi
    Muhammad SAW saja ketika perang Uhud sampai berdarah
    mulutnya. Ini timbul kesan orang belajar Tasawuf untuk
    dapat kesaktian/karomah.

    15. Sesungguhnya dalam Al Qur’an dan Hadits kita
    menemukan pedoman bagaimana berakhlaq yang bagus,
    sederhana tidak boros, menjauhi ghibah atau buruk
    sangka, amar ma’ruf nahi munkar, jihad, cara
    beribadah/mendekatkan diri kepada Allah, dan
    sebagainya. Dalam Tasawuf meski ada namun sering
    berlebihan. Sebagai contoh dulu Tasawuf mengajarkan
    hidup sederhana sehingga mereka hidup seperti
    gembel/pengemis. Sekarang Tasawuf modern diajarkan
    dihotel-hotel yang mewah yang jauh dari contoh hidup
    sederhana yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

    16. Perkataan Imam Ahmad tentang keharusan menjauhi
    orang-orang tertentu yang berada dalam lingkaran
    tasawuf, banyak dikutip orang.
    Diantaranya ketika seseorang datang kepadanya sambil
    meminta fatwa
    tentang perkataan Al-Harits Al Muhasibi (tokoh sufi,
    meninggal 857 M.).Lalu Imam Ahmad bin Hanbal berkata,
    “Aku nasihatkan kepadamu, janganlah duduk bersama
    mereka.” (duduk dalam majlis Al-Harits Al-Muhasibi) –
    Ibnul Jauzi “Talbis Iblis”.

    17. Imam Syafi`i berkata, “Seandainya seseorang
    menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelum Dhuhur
    ia menjadi orang yang dungu.” Imam Syafi`i juga pernah
    berkata.”Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40
    hari, lalu akalnya (masih bisa) kembali normal
    selamanya

    18. Ada yang menulis Imam Maliki mendukung Tasawuf,
    tapi itu tidak benar. Selain zaman Imam Maliki Tasawuf
    belum dikenal juga Imam Maliki tidak pernah menulis
    satu buku pun tentang Tasawuf atau mengajarkannya.
    Padahal beliau adalah salah satu dari Imam Madzhab
    yang punya banyak murid dan pengikut.

    media-dakwah
    Cari
    [media-dakwah] ASAL MUASAL TASAWUF
    A Nizami
    Wed, 01 Feb 2006 22:42:01 -0800

    ASAL MUASAL TASAWUF
    suhana hana
    Wed, 10 Aug 2005 00:18:54 -0700

    Bashrah, sebuah kota di negeri Irak, merupakan tempat
    kelahiran pertama bagi Tasawuf dan Sufi. Yang mana (di
    masa tabi’in) sebagian dari ahli ibadah Bashrah mulai
    berlebihan dalam beribadah, zuhud dan wara’ terhadap
    dunia (dengan cara yang belum pernah dicontohkan oleh
    Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam), hingga
    akhirnya mereka memilih untuk mengenakan pakaian yang
    terbuat dari bulu domba (Shuuf). Meski kelompok ini
    tidak mewajibkan tarekatnya dengan pakaian semacam
    itu, namun atas dasar inilah mereka disebut dengan
    Sufi, sebagai nisbat kepada Shuuf .

    Oleh karena itu, lafazh Sufi ini bukanlah nisbat
    kepada Ahlush Shuffah yang ada di zaman Rasulullah
    Shallallahu alaihi wassalam, karena nisbat kepadanya
    dinamakan Shuffi, bukan pula nisbat kepada shaf
    terdepan di hadapan Allah Ta’ala, karena nisbat
    kepadanya dinamakan Shaffi, bukan pula nisbat kepada
    makhluk pilihan Allah karena nisbat kepadanya adalah
    Shafawi dan bukan pula nisbat kepada Shufah bin Bisyr
    (salah satu suku Arab), walaupun secara lafazh bisa
    dibenarkan, namun secara makna sangatlah lemah, karena
    antara suku tersebut dengan kelompok Sufi tidak
    berkaitan sama sekali.

    Para ulama Bashrah yang mendapati masa kemunculan
    mereka, tidaklah tinggal diam. Sebagaimana yang
    diriwayatkan oleh Abu Asy Syaikh – Al Ashbahani
    rahimahullah dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin
    rahimahullah bahwasanya telah sampai kepadanya berita
    tentang orang-orang yang mengutamakan pakaian yang
    terbuat dari bulu domba, maka beliau pun berkata:
    Sesungguhnya ada orang-orang yang mengutamakan pakaian
    yang terbuat dari bulu domba dengan alasan untuk
    meneladani Al Masih bin Maryam ! Maka sesungguhnya
    petunjuk Nabi kita lebih kita cintai (dari/dibanding
    petunjuk Al Masih), beliau Shallallahu alaihi wassalam
    biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun
    dan yang selainnya. (Diringkas dari Majmu’ Fatawa,
    karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Juz 11, hal. 6,16
    ).

    Siapakah Peletak/Pendiri Tasawuf ?
    Ibnu Ajibah seorang Sufi Fathimi, mengklaim bahwasanya
    peletak Tasawuf adalah Rasulullah Shallallahu alaihi
    wassalam sendiri. Yang mana beliau –menurut Ibnu
    Ajibah – mendapatkannya dari Allah Ta’ala melalui
    wahyu dan ilham. Kemudian Ibnu Ajibah berbicara
    panjang lebar tentang permasalahan tersebut dengan
    disertai bumbu-bumbu keanehan dan kedustaan. Ia
    berkata: Jibril pertama kali turun kepada Rasulullah
    Shallallahu alaihi wassalam dengan membawa ilmu
    syariat, dan ketika ilmu itu telah mantap, maka
    turunlah ia untuk kedua kalinya dengan membawa ilmu
    hakikat. Beliau Shallallahu alaihi wassalam pun
    mengajarkan ilmu hakikat ini pada orang-orang
    khususnya saja. Dan yang pertama kali menyampaikan
    Tasawuf adalah Ali bin Abi Thalib Radiyallahu anhu,
    kemudian Al Hasan Al Bashri rahimahullah menimba
    darinya.
    (Iqazhul Himam Fi Syarhil Hikam, hal.5 dinukil dari At
    Tashawwuf Min Shuwaril Jahiliyah, hal. 8).

    Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami rahimahullah berkata:
    Perkataan Ibnu Ajibah ini merupakan tuduhan keji lagi
    lancang terhadap Rasulullah Shallallahu alaihi
    wassalam, ia menuduh dengan kedustaan bahwa beliau
    menyembunyikan kebenaran.
    Dan tidaklah seseorang menuduh Nabi dengan tuduhan
    tersebut, kecuali seorang zindiq yang keluar dari
    Islam dan berusaha untuk memalingkan manusia dari
    Islam jika ia mampu, karena Allah Ta’ala telah
    perintahkan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wassalam
    untuk menyampaikan kebenaran tersebut dalam firman-Nya

    (artinya): Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah
    diturunkan kepadamu oleh Rabbmu, dan jika engkau tidak
    melakukannya, maka (pada hakikatnya) engkau tidak
    menyampaikan risalah-Nya. (Al Maidah : 67)

    Beliau juga berkata: Adapun pengkhususan Ahlul Bait
    dengan sesuatu dari ilmu dan agama, maka ini merupakan
    pemikiran yang diwarisi oleh orang-orang Sufi dari
    pemimpin-pemimpin mereka (Syi’ah). Dan benar-benar Ali
    bin Abi Thalib Radiyallahu anhu sendiri yang
    membantahnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al
    Imam Muslim rahimahullah dari hadits Abu Thufail Amir
    bin Watsilah Radiyallahu anhu ia berkata: Suatu saat
    aku pernah berada di sisi Ali bin Abi Thalib
    Radiyallahu anhu, maka datanglah seorang laki-laki
    seraya berkata: Apa yang pernah dirahasiakan oleh Nabi
    Shallallahu alaihi wassalam kepadamu? Maka Ali pun
    marah lalu mengatakan: Nabi Shallallahu alaihi
    wassalam belum pernah merahasiakan sesuatu kepadaku
    yang tidak disampaikan kepada manusia ! Hanya saja
    beliau Shallallahu alaihi wassalam pernah
    memberitahukan kepadaku tentang empat perkara. Abu
    Thufail Radiyallahu anhu berkata: Apa empat perkara
    itu wahai Amirul Mukminin ? Beliau menjawab:
    Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda:
    (Artinya) Allah melaknat seorang yang melaknat kedua
    orang tuanya, Allah melaknat seorang yang menyembelih
    untuk selain Allah, Allah melaknat seorang yang
    melindungi pelaku kejahatan, dan Allah melaknat
    seorang yang mengubah tanda batas tanah. (At Tashawwuf
    Min Shuwaril Jahiliyyah, hal. 7-8).

    Hakikat Tasawuf
    Bila kita telah mengetahui bahwasanya Tasawuf ini
    bukanlah ajaran Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam
    dan bukan pula ilmu warisan dari Ali bin Abi Thalib
    Radiyallahu anhu, maka dari manakah ajaran Tasawuf ini
    ?

    Asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata:
    Tatkala kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan
    terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik
    yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam
    buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka sangat
    berbeda dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah.
    Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi
    ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad
    Shallallahu alaihi wassalam , dan juga dalam sejarah
    para shahabatnya yang mulia, serta makhluk-makhluk
    pilihan Allah Ta’ala di alam semesta ini. Bahkan
    sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini
    diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma
    Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha. (At Tashawwuf
    Al Mansya’ Wal Mashadir, hal. 28). [1]

    Asy Syaikh Abdurrahman Al Wakil rahimahullah berkata:
    Sesungguhnya Tasawuf merupakan tipu daya syaithan yang
    paling tercela lagi hina, untuk menggiring hamba-hamba
    Allah Ta’ala di dalam memerangi Allah Ta’ala dan
    Rasul-Nya Shallallahu alaihi wassalam. Sesungguhnya ia
    (Tasawuf) merupakan topeng bagi Majusi agar tampak
    sebagai seorang Rabbani, bahkan ia sebagai topeng bagi
    setiap musuh (Sufi) di dalam memerangi agama yang
    benar ini. Periksalah ajarannya ! niscaya engkau akan
    mendapati padanya ajaran Brahma (Hindu), Buddha,
    Zaradisytiyyah, Manawiyyah, Dishaniyyah, Aplatoniyyah,
    Ghanushiyyah, Yahudi, Nashrani, dan Berhalaisme
    Jahiliyyah.
    (Muqaddimah kitab Mashra’ut Tashawwuf, hal. 19). [2]

    Beberapa Bukti Kesesatan Ajaran Tasawuf
    1. Al Hallaj seorang dedengkot sufi, berkata :
    Kemudian Dia (Allah) menampakkan diri kepada
    makhluk-Nya dalam bentuk orang makan dan minum.
    (Dinukil dari Firaq Mua’shirah, karya Dr. Ghalib bin
    Ali Iwaji, juz 2 hal.600).
    Padahal Allah Ta’ala telah berfirman :
    Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan
    Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Asy Syuura :
    11)

    Berkatalah Musa : Wahai Rabbku nampakkanlah (diri
    Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu. Allah
    berfirman : Kamu sekali-kali tidak akan sanggup
    melihat-Ku (yakni di dunia-pen)……… (Al A’raaf : 143).

    2. Ibnu Arabi, tokoh sufi lainnya, berkata:
    Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya
    tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah !
    (Fushushul Hikam).[3] Betapa kufurnya kata-kata ini …,
    tidakkah
    orang-orang Sufi sadar akan kesesatan gembongnya ini
    ?!

    3. Ibnu Arabi juga berkata : Maka Allah memujiku dan
    aku pun memuji-Nya, dan
    Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya. (Al Futuhat
    Al Makkiyyah).[4]
    Padahal Allah Ta’ala telah berfirman :

    Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali
    untuk beribadah kepada-Ku.
    (Adz Dzariyat : 56).
    Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali
    akan datang kepada Allah
    Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.(Maryam
    : 93).

    4. Jalaluddin Ar Rumi, seorang tokoh sufi yang kondang
    berkata : Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang
    Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti, bagiku tempat
    ibadah sama …masjid, gereja, atau tempat
    berhala-berhala. [5]
    Padahal Allah Ta’ala berfirman :
    Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka
    sekali-kali tidaklah
    akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di
    akhirat termasuk orang-orang
    yang merugi. (Ali Imran : 85)

    5. Pembagian ilmu menjadi Syari’at dan Hakikat, yang
    mana bila seseorang telah sampai pada tingkatan
    hakikat berarti ia telah mencapai martabat keyakinan
    yang tinggi kepada Allah Ta’ala, oleh karena itu
    gugurlah baginya segala kewajiban dan larangan dalam
    agama ini.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :
    Tidak diragukan lagi oleh ahlul ilmi dan iman
    bahwasanya perkataan tersebut termasuk sebesar-besar
    kekafiran dan yang paling berat. Ia lebih jahat dari
    perkataan Yahudi dan Nashrani, karena Yahudi dan
    Nashrani beriman dengan sebagian dari isi Al Kitab
    dan kafir dengan sebagiannya, sedangkan mereka adalah
    orang-orang kafir yang sesungguhnya (karena mereka
    berkeyakinan dengan sampainya kepada martabat hakikat,
    tidak lagi terkait dengan kewajiban dan larangan dalam
    agama ini, pen). (Majmu’ Fatawa, juz 11 hal. 401).

    6. Dzikirnya orang-orang awam adalah La Illaha
    Illallah, sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan
    paling khusus / Allah, / Huu, dan / Aah saja.

    Padahal Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam
    bersabda :
    Sebaik-baik dzikir adalah La Illaha Illallah . (H.R.
    Tirmidzi, dari shahabat Jabir bin Abdullah Radiyallahu
    anhu, dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam
    Shahih Al Jami’, no. 1104).[6]

    Syaikhul Islam rahimahullah berkata : Dan barangsiapa
    yang beranggapan bahwa La Illaha Illallah dzikirnya
    orang awam, sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan
    paling khusus adalah / Huu, maka ia seorang yang sesat
    dan menyesatkan.
    (Risalah Al Ubudiyah, hal. 117-118, dinukil dari
    Haqiqatut Tashawwuf, hal. 13)

    7. Keyakinan bahwa orang-orang Sufi mempunyai ilmu
    Kasyaf (dapat menyingkap hal-hal yang tersembunyi) dan
    ilmu ghaib. Allah Ta’ala dustakan mereka dalam
    firman-Nya:

    Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi
    yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah. (An
    Naml : 65)

    8. Keyakinan bahwa Allah Ta’ala menciptakan Nabi
    Muhammad Shallallahu alaihi wassalam dari nuur /
    cahaya-Nya, dan Allah Ta’ala ciptakan segala sesuatu
    dari cahaya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam.
    Padahal Allah Ta’ala berfirman :
    Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah
    seorang manusia seperti
    kalian, yang diwahyukan kepadaku …(Al Kahfi : 110).
    (Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para
    Malaikat : Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari
    tanah liat. (Shaad : 71)

    Wallahu A’lam Bish Shawab

    Hadits-hadits palsu atau lemah yang tersebar di
    kalangan umat

    Hadits Abu Umamah

    Pakailah pakaian yang terbuat dari bulu domba, niscaya
    akan kalian rasakan manisnya keimanan di hati
    kalian(HR Al Baihaqi dlm Syu’abul Iman).
    Keterangan : Hadits ini palsu karena di dalam sanadnya
    terdapat seorang perawi yang bernama Muhammad bin
    Yunus Al Kadimy. Dia seorang pemalsu hadits, Al Imam
    Ibnu Hibban berkata : Dia telah memalsukan kira-kira
    lebih dari dua ribu hadits. (Lihat Silsilah Al Ahadits
    Adh Dhoifah Wal Maudhu’ah, no:90)

    Footnote :
    [1][2] Dinukil dari kitab Haqiqatut Tashawwuf karya
    Asy Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan, hal.7
    [3][4][5] Dinukil dari kitab Ash Shufiyyah Fii Mizanil
    Kitabi Was Sunnah karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil
    Zainu, hal. 24-25.
    [6] Lihat kitab Fiqhul Ad Iyati Wal Adzkar, karya Asy
    Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr, hal.
    173.

    (Dikutip dari Buletin Islam Al Ilmu Edisi
    46/III/I2/1425, diterbitkan Yayasan As Salafy Jember.
    Judul asli “Hakekat Tasawuf dan Sufi”. Penulis Al
    Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc. Dikirim oleh al Al
    Akh Ibn Harun via email.)

    • saiful anwar said,

      Desember 29, 2010 at 8:48 am

      inilah akibat dari belajar hanya setengah2….
      suatu peletakan yang amat sangat keliru…
      bila kau memang ahli syari’at janganlah kau mendzolimi ayat2 al-qur’an dan hadits….
      doclo…. ingatlah….

    • jamal said,

      April 20, 2011 at 8:14 am

      anda tidak salah,karena memang anda belum mengerti…

      anda harus banyak belajar dari kisah Musa dan Khaidir..Khaidir adalah syaikh tasawwuf dan musa adalah syaikh syariat/nabi yang membawa syari’at..tapi beliau tidak pernah dengan arogannya mengkafirkan khaidir,bahkan beliau belajar padanya..begitu pula khaidir tidak pernah menyalahkan Musa..dan bahkan mau menerima musa sebagai murid dengan syarat: jangan banyak bertanya apa yg dia lakukan,karena pada waktunya nanti pasti akan di beritahukan
      .Sebelum mulai belajar,khaidir berkata kepada Musa:
      ” bagaimana kamu akan sanggup bersabar terhadap sesuatu yang kamu belum mempunyai ilmu yang cukup tentang hal itu.”

      itu bukan ucapan mengada-ada,tapi adalah ayat alqur’an yang berbicara.

      jadi,secara tak langsung,Allah mengatakan,JANGAN ASAL MENYALAHKAN DAN MENGKAFIRKAN SERTA MEMBID’AHKAN ORANG LAIN KALAU KAMU BELUM TAHU YANG SEBENARNYA.

      begitu juga dengan anda dan guru-guru anda,hendaknya tahu diri jangan asal komentar,karena di atas langit masih ada langit,..kalau KAIL HANYA SEJENGKAL,JANGAN LAUTAN HENDAK DI DUGA.
      anda itu,sama seperti kisah orang arab badui yang datang ke Rasulullah saw dan mengatakan ” KAMI TELAH BERIMAN”. tapi di bantah oleh Allah, :KAMU BELUM BERIMAN,KARENA IMAN BELUM MASUK KE HATIMU,TAPI KATAKANLAH BAHWA KAMU ITU MASIH ISLAM”
      Iman tidak di pelajari di kitab-kitab atau di buku-buku, tapi iman adalah suatu keyakinan yang masuk jauh ke relung hati.
      untuk menjadi orang yang beriman hatinya harus bersih,tidak sok benar sendiri seperti anda dan guru-guru anda..(anda pasti Wahhabi).

      Semoga anda dan teman-teman dan guru-guru anda dan semua Wahhabiyyun,mau mengkoreksi diri,dan tidak sombong dengan merasa paling benar sendiri..kerena: TIDAK AKAN MASUK SYURGA ORANG YANG DIDALAM HATINYA ADA KE SOMBONGAN WALAUPUN SE BESAR ZARRAH. wassalam

    • anda said,

      Januari 18, 2012 at 5:53 am

      kalaulah tassawwuf tdk ada dalam Al Quran dan Hadits…..
      kira2 anda bisa menjamin keaslian Al quran dan Hadits????

      • You_say said,

        Februari 21, 2012 at 5:14 pm

        pandai banget ngenjawab,..

        Mu’tazilah ya?

      • oZie VRC said,

        Juli 25, 2012 at 3:06 pm

        setuju jawaban anda mas.
        knpa tasawwuf di rahasiakan
        kalau tasawwuf di pe2r pe2r kan takut nya timbul fitnah dan fitnah itu
        akan membawa bencana besar pertengkaran sudah pasti dll
        maka dari itu jgan lah kita perdebat kn mslah ini kita sama2 anak cucu adam bukan nya di suruh bertengkar tpi untuk tukar fikiran
        sudah di jelas kan sesama manusia harus saling menolong
        kita cuma bisa bertanya, anday kan salah tolong beri tahu mana jalan yg lurus dan letak kesalahan nya dmna
        kalau jaman sekarang bukan nya melurus kan sesama muslim malah meng KAFIR kan sesama MUSLIM
        contoh anday kan ad orang salah tentang agama
        pasti org yg pintar menjawab kamu kafir/murtad apa ini yg nama nya saudara
        coba kasih tau itu salah jngan di ulangi km ambil jalan ini insya allah
        bener,
        kan enak dnger nya
        inih mlah berebut ingin jadi pemimpin semua
        sok pintar ahir nya saling iri saling ber adu ilmu kekuatan dll

        coba kita diam di bawah gak mgkin jatuh
        ini tongkat aja gak punya boro2 mau bangun rumah ya roboh mas

        ingat kita sekarang cuma menunggu datang nya perang islam sekali lagi
        di situ baru kelihatan mana yg manusia dan yg bkan manusia
        kalau di tembak / di tebas langsung mati itu bkan manusia

        ingat kita hanya menunggu hadir nya [ RATU ADIL ]

    • Lentera said,

      September 28, 2012 at 10:11 pm

      Saudara tau dari mana kalau Syaikh Siti Jenar itu sesat dan dihukum mati?!… hehe, keyakinan anda itu cuma (katanya) dari sebuah buku/film yang ditulis oleh seseorang penulis yang tidak jelas sumbernya dan bukan pada zamannya pula.
      Pake logika aja, mana mungkin seorang wali allah sesat, atau kalau orang sesat bisa menjadi wali…’ Syaikh Siti Jenar itu dinyatakan dia seorang wali bukan oleh Ustad mata duitan, tapi oleh para Wali Songo itu sendiri yang mengakui kewalianya syaikh Siti Jenar.

      wassalam…’

    • bima said,

      Januari 19, 2014 at 6:08 pm

      mas doclo tulisannya terlalu panjang.entah tulisannya sendiri atau cuma hasil copy paste….sampe capek bacanya..hehehehehe…sy tau maksud mas doclo…pernah makan buah zaitun mas???klo belum pernah bagaimana mas bisa menceritakan rasanya……rasakan dulu terus gak usah crita2 karena rasa tdk bs d ceritakan……oh ya..yg mas doclo tulis di atas itu sekedar akal memahami agama…sekarang gunakan hati untuk memahami agama…seperti waktu mas masih suci sebelum di lahirkan mas memberikan kesaksian”

  13. sumringah said,

    Maret 13, 2010 at 5:05 pm

    tanggapan buat doclo :
    tulisan anda sepertinya anda org yg cerdas, tp sesungguhnya anda adalah sebaliknya.

  14. wawan said,

    Mei 3, 2010 at 4:57 am

    kapan tersaut ke alam eksaksial malakut setelah zikir?

  15. topo golek wangsit said,

    Agustus 29, 2010 at 2:49 am

    Bagi yang anti tasawwuf itu: GOBLOK BANGET

    • hoiron said,

      Februari 25, 2011 at 3:50 am

      anda berkata seperti anda yg paling benar tp sepertinya salah…terlihat dari perkataan anda.
      agama tidak mengajarkan untuk berkata kasar.

    • JUNAIDI said,

      April 28, 2011 at 4:27 am

      mulut seperti pedang…bila tersayat terasa perih…
      jadi jagalah mulut …karena mulut adalah harimau mu yang siap dan siaga untuk menerkam orang dan dirimu…

  16. cecep caesar said,

    Oktober 18, 2010 at 3:14 am

    Doclo; Ente jgn lihat ssuatu hanya dr kulit saja, ingat..4 pkara ; SYARI’AT, TAREKAT, HAKEKAT, & MA’RIFAT. jika ini di ibaratkan kursi yg 4 kaki.. anda potong saja bagian MA’RIFATnya, memang ini masih bisa di du2ki.. tp pikirkanlah kmngkinan mudarat yg akan timbul. Smuanya (4 prkara) itu saling mmbutuhkan.!

    • You_say said,

      Februari 21, 2012 at 5:07 pm

      klo ada hadist sahihnya ga apa…
      Nah klo ga ada?

    • Akbar said,

      Februari 25, 2012 at 4:45 pm

      Betul, Yang 4 itu kan Rukun Agama
      doclo, anda kan baru belajar Islam belum belajar Agama !

  17. M.Kholik said,

    Oktober 22, 2010 at 11:49 am

    to doclo : inilah kalau belajar islamnya pakai buku…gampang banget, tinggal copy paste…iya nggak clo..
    makan tuh buku !!

    • abdullah said,

      Maret 14, 2011 at 5:41 pm

      to kholik.emang kalau belajar gk pake buku apa bisa pake dengkulmu itu.atau kamu gk pernah sekolah kali ya..keliatan sekali bodohmu makanya gambang terbawa arus sesaaaaaat.jawab segera.

      • Firman said,

        Maret 15, 2011 at 11:04 am

        to. doclo. ni orang sok bener banget sie, so so ahli syurga banget..emang loe tau apa tentang kebenaran yang hakiki,paling loe tau nya dari buku doang..hanya allah yang maha benar..apa anda gak merasa bid’ah?jangan jauh2 dulu bid’ah tentang akidah orang lain taw golongan lain(Tasyawuf)apa anda gak ngerasa HATI ente pun sudah bid’ah saya gak bicara soal akidah dulu,hati anda saja..,karena Rosull pun hatinya juga bersih gak kaya ente yang gampang vonis orang sesat lah, Kafir lah,Firaun, yahudi lah,anda sendiri hatinya sama juga,hehehe,apa bukan bid’ah itu boz …kalau pun orang2 tasyawuf itu sesat,lalu apa urusan ente,apa ente mau nolongin entar di akherat?hehe..sekarang mah urus aja amal ente,apa amal ente sudah cukup buat syarat masuk syurga..nah klo sudah dan kalaupun anda pengen tau kebenaran tentang tasyawuf,saya sarankan mati dulu..entar pulang lagi,hehe.
        susah boz klo sudah ngomongin tentang keyakinan,saya sarankan banyak-banyak lah mengingat allah(Dzikir),supaya keyakinanmu tentang allah, tentang yang gaib lebih tebal,karena klo anda sudah yakin sekali anda akan menemukan Allah,dengan Hati..karena panca indra kita tidak akan menemukannya.(Al-Lattifu = Allah maha halus)

        saya kasih contoh : ada 2 ikan bodoh hidup dilaut, ikan 1 bertanya pada ikan 2 ” wahai ikan 2 saya mau tanya kalau keberadaan air itu ada nya dimana?ikan 2 menjawab “saya juga tidak tahu..!jawab “padahal ikan tersebut hidupnya di air!
        sama ibarat manusia menanyakan Allah itu ada dimana?
        dimana pun manusia itu berada, allah selalu ada, karena allah sangat menguasai hati setiap manusia,alangkah bijaknya kalo kita merasa bahwa hidup kita dalam penguasaan allah sama dengan air yang ada di laut para ikan tersebut,ketika air mulai surut/habis maka tamatlah ikan tersebut karena susah bernapas!sama ketika kuasa allah sudah tidak diberikan lagi maka manusia tersebut pasti mati, karena allah sudah tidak memberikan apapun.

        – temukanlah allah dikehidupanmu,sebelum engkau temukan allah di akherat nanti
        – temukanlah allah di shalat khusu’ mu sebelum kau temukan allah ketika kau di shalatkan
        -temukanlah allah di setiap panggilan adzan sebelum kau temukan allah di panggilan ajalmu
        -temukanlah allah di kesucian hatimu sebelum hatimu berkarat dengan dosamu
        – temukanlah jalan menuju sang khalik sebelum jalan itu kau sesatkan dengan napsumu dan syetan

        nah orang2 tasawuf itu seperti itu,dia tidak pernah menyombongkan kedekatannya dengan allah,trus yang saya tau orang2 tasyawuf itu sangat cinta sekali pada Rosul Kita Nabi Muhammad SAW,Masa bisa mengabaikan sunah nya..Saya gak percaya boz…..

        ” Tobroskanlah perahu hatimu sebelum perahu tersebut berlayar ke arah tujuan sang khalik,karena perahu tersebut akan menenggelamkan semua awaknya sebelum sampai tujuan”
        maksudya :ketika perahu itu di tobroskan,maka awaknya akan selamat dengan meloncat,atau kata lain buanglah hal2 yang tak penting dalam hati kamu karena perahu yang ada di hati kamu sudah melebihi kapasitasnya,akhirnya perahu tersebut akan tenggelam di tenggah2 lautan sebelum samapi ke tujuan sang khalik.
        maka buanglah dulu dihati kita hal2 yang berlebihan yang bisa membuat kita tak selamat dan mulailah dengan perahu baru walaupun kecil dan sederhana tapi perahu tersebut hanya mengangkut satu,satu keyakinan,keiklasan,yang bertujuan kearah jalan sang khalik.

        Terimaksih,semoga manfaat banyolannya.Amiin

      • oZie VRC said,

        Juli 25, 2012 at 3:16 pm

        udah jngan bertengkar
        saya mau nanya sama mas akbar islam itu apa dan agama itu apa
        ko, sampai brani bicara begitu, perkataan nya dalam sekali
        anda tau gak allah itu siapa dan kita ini siapa

  18. Doclo Sesat said,

    Oktober 28, 2010 at 2:34 pm

    To doclo :Inilah akibat dari anda belajar pada orang yang ngaku2 ahli tasawwuf dan widhadul wujud padahal mereka tidak paham. Akhirnya anda sendiri yang sesat. Tasawwuf, widhatul wujud tidak seperti yang anda gambarkan. kesumpulan yang anda dapat itu karena kebodahan anda..

    • abdullah said,

      Maret 14, 2011 at 5:47 pm

      ini juga temannya firaun….sholat aja masih 1.2 zakat aja kamu blm pernah .e boro-boro sok tau tasawwuf.menurut sy anda jauh lebih bodoh dari doclo.hidup doclo…

      • jamal said,

        April 20, 2011 at 8:24 am

        @ Abdullah, baca tanggapan saya untuk Doclo di atas.
        sifat anda sangat ketara sekali bahwa anda WAHHABI.
        ini ada artikel mengenai Wahhabi untuk anda:

        Pengakuan Seorang Profesor Saudi atas Ajaran Wahabisme*

        Salah seorang guru besar dan intelektual Saudi Arabia yang benama Prof. Khalid ad-Dakhil dalam sebuah penelitian yang menggunakan keturunan keluarga Saudi dan ideologi Wahabisme sebagai obyek penelitiannya untuk menetapkan bahwa kekuasaan tanpa batas waktu dan yang berjalan secara turun temurun dari keluarga Saud itu pada awalnya memiliki tujuan politis, memisahkan diri dari kekhalifahan Usmani yang Ahlusunah.
        Profesor yang lahir dan dibesarkan di Saudi Arabia itu menyatakan bahwa para mufti Wahaby-lah yang memiliki peran penting dan utama dalam mengontrol segala sesuatunya, termasuk berkaitan dengan penentuan kebijakan negara. Dengan dipengaruhi pemikiran dan ajaran Muhammad bin Abdul Wahab (pendiri Wahabisme) yang hidup pada abad ke-18, wahabisme terbentuk. Itulah yang menjadi penyebab terwujudnya ekstrimisme dalam tubuh Islam. Banyak hal yang telah diharamkan oleh mereka, hingga pelaksanaan shalat berjamaah pun diterapkan secara paksa oleh para ulama Wahabi terhadap setiap anggota masyarakat.

        Sang profesor yang dibesarkan di kalangan masyarakat Wahabi tadi akhirnya bertanya-tanya, dari manakah gerangan asal-usulnya sehingga Wahabisme bisa menjadi ideologi negara itu dan dari mana para ulama tadi mendapat pengaruh begitu besar semacam itu?
        Setelah menyelesaikan penelitian desertasi doktoralnya, iapun akhirnya telah mendapat jawaban dari teka-teki pertanyaan-pertayaan tersebut. Secara terperinci ia menjelaskan bahwa ulama-ulama tadi mendapat pengaruh dari Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri sekte Wahaby. Muhammad bin Abdul Wahab seorang rohaniawan garis keras yang telah memperoleh pengaruh besar hasil dukungan pendiri kerajaan keluarga Saudi kala itu (Muhammad bin Saud), di permulaan berdirinya dinasti tersebut. Persatuan antara keluarga penguasa dengan keluarga rohaniawan itu berkelanjutan hingga kini. Dari situ akhirnya Wahabisme -yang menolak keyakinan ajaran lain- mendapat kepercayaan untuk menyebarkan ajaran Islam yang menyimpang tadi di berbagai sekolah-sekolah dan masjid-masjid yang berada di wilayah Saudi Arabia. Hingga sekarang, penguasa keluarga Saud telah menghadiahkan otoritas pengurusan tempat-tempat suci dan bersejarah kepada para rohaniawan Wahaby tersebut.
        Prof ad-Dakhil menunjukkan pendapat barunya tentang posisi resmi tentang gerakan wahabisme yang berakhir pada melemahnya kekuatan para rohaniawan tadi. Beliau berpendapat bahwa Muhammad bin Abdul Wahab dalam hal politik pun ia sangat getol sebagaimana kegetolannya dalam menyebarkan ajaran wahabismenya. Melalui sarana pertentangan mazhab yang bertujuan politis itulah ia memanfaatkannya untuk membentuk sebuah negara di pusat wilayah Arab yang terbentuk dari berbagai keamiran kecil yang saat itu dikuasai oleh kekhilafahan daulah Usmani.
        Segala usaha Prof ad-Dakhil akhirnya menghasilkan beberapa artikel yang ditulis pada bulan November dan Disember. Ini merupakan jerih payah seorang ilmuwan Saudi dalam meneliti kembali sisi-sisi keagamaan negaranya yang mendasari terbentuknya kerajaan Saudi Arabia.
        Dengan melihat berbagai standart yang dimiliki oleh kaum muslimin (Ahlusunah) pada saat awal berdirinya kerajaan Saudi, Muhammad bin Abdul Wahab telah menafsirkan sendiri ajaran Islam secara radikal (ekstrim) terkhusus dalam masalah Jihad. Jihad diartikan sebagai peperangan sakral dan yang lantas ia gunakan sebagai alat untuk membentuk negara klan Saudi yang berserikat. Dan masyarakat pun dipaksa untuk menyetujui ide politisnya yang dibalut dalil-dalil teks agama yang ditafsirkan secara serampangan.
        Muhammad bin Abdul Wahab menghukum orang-orang yang tidak sepaham dan tidak menyetujui penafsirannya. Bahkan ia menganggap dan menvonis para amir (pemimpin) -sebuah daerah yang ditunjuk oleh Daulah Usmani- yang tidak menyetujui pola pikirnya sebagai pengkhianat. Pemahaman-pemahaman semacamlah ini yang akhirnya dimanfaatkan oleh keluarga Saud untuk menyusun sebuah doktrin baru, guna membentuk kerajaan Saudi di dataran Arab. Semua doktrin Wahabisme tersebut selalu dipakai untuk mendampingi dan menyokong keluarga kerajaan Saudi. Akan tetapi, pada saat kemunculan kelompok-kelompok bersenjata seperti al-Qaedah di dataran Arab Saudi yang juga memiliki background Wahabisme maka pihak kerajaan pun akhirnya menganggapnya sebagai sebuah bentuk pengkhianatan dan menyatakan bahwa kelompok tersebut harus diperangi dan dibasmi.
        Walaupun semenjak tahun 2005 setelah tampuk kepemimpinan di pegang oleh raja Abdullah mass media Saudi Arabia telah membuka kebebasan press lebih dibanding zaman sebelumnya, namun, walau begitu, hingga kini masih ada dua hal yang tetap tergolong hal terlarang untuk di kotak-katik:
        Pertama: Legalitas mazhab resmi negara tersebut (Wahabisme).
        Kedua: Tahta kerajaan yang bersifat keturunan (Dinasti).
        Robert Leisi seorang sejarawan Inggris yang mengarang buku berjudul “Kerajaan; Arab dan Istana Saud” mengatakan: “Tujuan keagamaan negara Saudi selalu berada di atas satu pertanyaan”. Ia menambahkan: “Perkara ini merupakan pondasi semua keyakinan yang dimiliki oleh negara itu. Selain dari perkara ini telah banyak disinggung oleh berbagai peneliti. Mempertanyakan kembali pondasi legalitas keluarga Saud berarti sama halnya dengan menyatakan bahwa nenek moyang mereka adalah orang-orang ateis (tidak beragama)”. Tentu dengan itu mereka akan tersingung berat.
        Tersebarnya dua bagian pertama makalahnya menyebabkan munculnya berbagai kritikan tajam dan serangan yang dilancarkan oleh pihak-pihak mass media Saudi Arabia.
        Pada bulan Oktober, setelah pihak keluarga kerajaan Saudi mengumumkan dibentuknya sebuah majlis permusyawaratan yang terdiri dari para petinggi negara yang bertujuan untuk melegalisir pemerintahan keluarga -yang didapat secara warisan- dengan cara proses pemilihan. System warisan kekuasaan keluarga pun akhirnya mendapat kritik tajam. Masalah ini selalu dipertanyakan semenjak zaman kekuasaan Abdul Aziz bin Saud yang berhasil menundukkan penguasa-penguasa lokal (setempat) pada tahun 1932 hingga sekarang dimana kekuasaan berada di tangan Abdullah sebagai raja kelima yang menduduki kursi kerajaan.
        Prof ad-Dakhil yang hingga kini masih tetap tinggal di rumahnya yang berdekatan dengan universitas Malik Saud dan masih aktif mengajar di Universitas tersebut mengatakan; dirinya telah membahas satu permasalahan sensitif yang itu dianggapnya sebagai tugas dia sebagai seorang dosen dan ilmuan yang dituntut untuk konsis terhadap segala tugas kerjanya.
        Setelah adanya pembredelan beberapa artikel yang sempat ditulis dalam Koran “al-Hayat”, beliau bekerjasama dengan sebuah Koran Emarat dan web site yang dijalankan dari London. Walaupun beberapa topik dapat diakses di “Saudi Debate” dan mass media Saudi pun telah tersebar, namun hingga saat ini beberapa orang yang melalui batasan jalur merah (larangan) tadi tidak dapat melakukan aktifitasnya di chanel-chanel parabola Saudi Arabia yang terhitung sebagai media terbesar di negara-negara Arab.
        Pada tahun 2004 sebuah undang-undang telah disetujui dimana kritik terhadap kebijakan dan praktik politik pemerintah Saudi yang dilontarkan oleh pihak pegawai negari Arab Saudi seperti Prof ad-Dakhil yang menjadi dosen pada universitas negeri dapat dikategorikan sebagai suatu tindak kriminal. Atas dasar itu sang profesor akhirnya mengirim artikel-artikelnya kepada “New York Times” sehingga kumpulan artikel kritisi gerakan Wahabisme tersebut disebarluaskan melalui mass media itu.
        Jadi Ideologi Wahabisme yang mengaku hendak menyelamatkan wilayah yang ada dari penyelewengan agama, prilaku syirik dan khurafat, namun bedasarkan penelitian sang Profesor, semenjak berdirinya wahabisme hingga kini tidak terjadi perubahan yang berarti terhadap akidah masyarakat, dan pada saat awal kemunculannya tidak ada satupun berhala yang diklaim akan dibasmi.
        Profesor ad-Dakhil dalam karyanya yang berjudul “Mengenal Wahabisme” -yang tahun ini hendak dicetak oleh Universitas Misigon- menyatakan bahwa; tujuan utama Muhammad bin Abdul Wahab adalah membentuk negara yang kuat sehingga mampu menghapus segala bentuk perbedaan kabilah. Untuk mewujudkan hal tersebut ia melihat bahwa Muhammad bin Saud -pendiri Arab Saudi- layak untuk dijadikan patner kerjanya.
        Profesor ad-Dakhil melihat bahwa masjid merupakan salah satu poin utama dalam usaha menampakkan kekuatan mereka. Pengumandangkan azan dan pemaksaan segenap orang untuk melakukan shalat berjamaah merupakan simbol dan bukti akan kepemilikan dan kekuasaan mereka atas masyarakat. Muhammad bin Abdul Wahab menvonis penduduk desa-desa yang menolak untuk bergabung dengan negara Saudi sebagai orang-orang murtad (keluar dari Islam .red). Prof ad-Dakhil menambahkan bahwa mazhab (Wahabisme) merupakan sarana praktis yaang relatif kuat, sehingga hal tersebut dapat dijadikan tolok ukur untuk menilai seorang muslim dinilai sebagai muslim yang baik dan taat adalah dengan melihat adakah ia ukur mengikuti segala ajaran-ajaran mereka (Wahabisme) ataukah tidak. Ini merupakan doktrin yang murni politis namun berkedok agamis, kata Profesor ad-Dakhil.
        Sumber: http://salafyindonesia.wordpress.com/2007/03/07/pengakuan-seorang-profesor-saudi-atas-ajaran-wahabisme/#more-19

  19. eko said,

    Desember 21, 2010 at 8:22 am

    makasih

  20. azhari said,

    Januari 8, 2011 at 4:22 am

    wahai orang yang sok pintar janganlah suka mengatakan segala sesuatu tidak ada didalam Al-Qur’an, Al-Qur’an itu lengkap, Al-Qur’an itu sempurna jangan sekali-kali anda menyempitkan Al-Qur’an. Kalau anda belum tau belajarlah (bacalah)

  21. hoiron said,

    Februari 25, 2011 at 3:47 am

    yg penting pengamalannya….hanya Alloh yg tau yg benar dan yg salah.
    kl mau tau apakah anada benar ato salah mati dahulu baru tau siapa yg benar dan yg salah.
    beribadahlah yg rajin dan ikhlas itu intinya.

  22. JUNAIDI said,

    April 28, 2011 at 4:21 am

    ko rada berantem….jempol to hoiron…
    sifat marah, saling merendahkan alias sombong itu yang dibenci allah swt dan rasullulah…..karena tu adalah sifat syaitan….

  23. aidyl said,

    Mei 1, 2011 at 2:34 pm

    Inilah yg dkhawatirkan rasullulah saw sebelum wafat,beliau sadar islam akan bepecah belah disaat bliau wafat dan sekarang tu sudah terjadi.subhanallah moga kta dsatukan kembali amin..

  24. cokrograndson said,

    Juli 11, 2011 at 9:04 pm

    doclo & pendukungnya: pernah liat Jin? klo pernah, bentuknya ky ap?
    klo belum pernah liat (secara langsung), ud tau Jin itu ky ap bentuknya? jenisnya apa aj? taunya dari mana?
    * klo dari Al Furqon, seberapa jelas penjelasan tentang wujudnya (jin)?
    * klo dari Al Hadist, yang mana saja Hadistnya?
    * klo dari orang (lisan) / buku, seberapa persen jaminan kebenarannya? (awas sesat percaya sama lisan saja / buku saja, klo tidak ada dalil rujukannya) ^^

    penilaian utk (suatu) perilaku dan perkataan perlu pemahaman terlebih dahulu, sehingga dengan bijak dapat berpendapat setelah itu. hukum dalam Islam itu jelas, tapi Ilmu yang sampai kepada kita (orang Indonesia) itu, memangnya jelas (dapat dihitung) ada berapa banyak? sesuai dengan Ilmu yang sebenarnya benar dan dibenarkan dengan Haqq.

    umur kita (orang Indonesia) jauh lebih sedikit dari umur Ilmu Islam itu sendiri (Al Qur’an, Al Hadist & As Sunnah), dan perjalanannya pun, butuh waktu yang panjang sekali hingga sampai kesini (Indon), dengan beragam proses dan banyak pihak yang terlibat. Wallahu A’lam.

    satu lagi pertanyaan saya utk saudara doclo & pendukungnya,,

    Islam datang ke Indonesia dari mana atau asalnya dari siapa? sehingga Indonesia menjadi negara yang penduduk beragama Islamnya terbesar di dunia?

    utk menilai suatu faham, terlebih faham yang tua, seperti tentang agama atau kepercayaan. anda lebih baik berhati-hati dalam memfatwa/berucap. karena kita hidup tidak cukup lama utk belajar semua Ilmu yang ada, termasuk yang sedang d bahas d forum ini.

    kita sama-sama muslim kan (Insya Allah)? berbuat dan berkata yang baiklah antar sesama.

    mungkin yang kita takutkan adalah, faham yang berlawanan dengan faham pribadi kita dalam hal Agama (Islam khususnya) dapat mudah dipercayai oleh generasi kita yang mendatang.
    karena faham yang kita percayai selama ini, itu yang kita fikir benar. sehingga jika telah ada dalil yang menguatkan, kita dengan sombongnya memfatwa sesat kepada faham yang lain. padahal yang lain (pemilik faham yang lain ; masih dalam satu Agama Islam) dapat bersikap sama juga. jadinya ruwet deh, ky sekarang. y ^^

    mungkin baiknya, walau pemahaman berbeda, belajar bareng aja (walau waktu dan tempat juga berbeda; sama-sama belajar maksudnya^^) dan juga bareng-bareng mengadakan pengadaan pengkajian Al Qur’an (pengajian) utk adik-adik kecil kita yang seiman.
    juga pengajaran & penerangan tentang Hadist yang Shahih, As Sunnah yang benar. jadi setelah mereka besar, walaupun pahamnya sedikit beda, tapi arah Ibadahnya Sama. ucapannya dapat dijaga, Syahadatnya bener. Insya Allah semua d berkahi Allah Yang Maha Tinggi.

    Sabar & Ikhlas y Sohib. Wassalam.

    • iwan afrianto said,

      Juli 31, 2011 at 2:09 pm

      hmmmmmmmm…asyik…ber hati hatlah dengan pesan Rasulullah…suatu hari nanti yg saya takutkan terjadi pd umatku adalah,,,mereka belajar tentang islam tapi hanya untuk pembenaran pribadi dan golongan namun nol dari bukti…!!! yg jelas perbedaan adlh rahmat…yakini apa yg harus diyakini dan lakukan yg terbaik tp jgn prnah menganggap bahwa diri yg terbaik,,,karena kebenaran mutlak milik Allah,,,maaf si pendosa yg malang dan sengsara ini jadi ikut komentar..

  25. al-qausar said,

    Agustus 17, 2011 at 5:44 pm

    saudara iwan, anda menyebutkan bahwa khilaf adalah rahmah, apanya yang rahmah didalam kekhilafan,apakah anda sudah baca kitab ” islahul masaajid minal bida’ wa awa’id” disana insya alllah anda akan tau apakah khilaf itu rahmah atau bukan,
    saya pesan kepada anda juga semua yang mendukung tasaawuf coba teliti apa itu tasawwuf dari mana asal tasawwuf, kemudian siapa pendirinya, lalu didaerah mana berkembangnya, kalau antum semua sudah teliti baru kasih komentar apakah tasawwuf itu sesuai ajaran islam.
    Kemudian saya pesankan agar anda tidak saling menyalahkan didalam agama ini, coba ketika ada permasalahn kembalikanlah kepada Al-quran dan sunnah, seperti tasawwuf ini banyak orang yang mempersalhkan apakah tasawwuf sesuai dengan syari’at islam atau tidak, jadi kalau memang anda para pendukung tassawwuf tidak menemukannya maka hal seperti itulah yang dikatakan bid’ah, karena mengada hal yang tiada diperintahkan agama.
    Sekian semoga antum pendukung tasawwuf kembali kepada ajaran islam yang sebenarnya yaitu mengikut alquran dan sunnah Rasulullah saw.

    • iwan afrianto said,

      Agustus 21, 2011 at 3:05 pm

      Makasih Bang al-qausar..sampeayan meyakini apa yg sampean yakini,,silakan,,sementara saya meyakini apa yg saya yakini, dan pedoman saya juga al Qur’an dan Sunnah..yg jelas bukan berarti tasawwuf meninggalkan syariah,,dan pengertian yg seperti itu saya sendiri sangat tidak setuju sekali, tp bukan berarti saya benar dengan apa yg saya jalanin,,karena kebenaran mutlak milik Allah ‘Azza wa Jalla..kita hanya mencoba melakukan yg terbaik dengan apa yg kita yakini dan tidak pernah bahwa dirilah yg terbaik. dan satu hal..jawaban tentang kebenaran itu nanti saat dunia sudah digulung dan setiap individu akan mempertanggung jawabkan setiap amalnya masing2…kalo berbicara tentang bid’ah…bagaimana al-Qur’an sendiri diturunkan, dan apa Rasulullah menganjurkan agar al-Qur’an dibentuk menjadi model yg sekarang..hanya Allah berjanji akan menjaga al-Qur’an sampai akhir jaman..( Allah menciptkan syaitan dengan Asma-Nya al Mudlil (Yg Maha Menyesatkan) dan tu bersemayam dalam diri manusia) berarti kebenaran yg kita yakini rata2 masih sebatas pemikiran manusia kan..sementara manusia itu tempat salah dan dosa..terus yg jadi pertanyaan siapa yg benar…Hanya Tuhan Yang Maha Tau..maaf bang,,saya terima kasih banget atas masukannya…

      • tjabbar said,

        Agustus 13, 2013 at 6:45 pm

        SAya katakan, d pesantren salafiyah /tradisional d kaji kitab kuning. Sy mesantren/mondok lbh dri 6 th. TAHADUS BINNIKMAT SY BISA BACA KITAB KUNING. Kitab2 kuning bnyknya aliran tasawuf. Mnurut sy kitab2 trsbut JUSTRU PEMBODOHAN. ALSANNYA SDRHANA: SUPAYA SANTRI2 TDK KRITIS. DLM TSAUF D AJARKAN HUSNUDZON, TDK BLH SU’UDZDZON. ANDA BISA MEMAHAMI K MNA MKSD SY. YG JELAS TASAWUF DAN ILMU TASYAWUF MENYESATKAN!!!

  26. abd rauf said,

    September 23, 2011 at 8:31 am

    ya sudahlah…semua benar jika memang berdasar al Quran dan hadits yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya..yang paling penting itu berdasar pada dalil yang benar sesuai kaidah kaidah keilmuan..dan berhati hati membuat sesuatu yang baru dalam masalah tatacara ibadah..”…al yauma akmaltu lakum dinakum waatmamtu alaikum ni’mati warodlitu lakumulislama dina”…

    tetap jaga ukhuwwah islamiyyah bihablillah…

  27. ale said,

    Oktober 8, 2011 at 3:28 pm

    Sungguh…tidak ada gunanya…semua ini tak sedikitpun memberi faidah…wahai para sufi2 muda…menjauhlah dari kotornya hati karena amarah…biarkanlah mereka merasa yang paling benar….hampakanlah hati qita dari urusan duniawi…bersihkan hati….

    • You_say said,

      Februari 21, 2012 at 5:06 pm

      sufi itu nyanyianya bagus banget, tapi bikin orang2 meninggalkan al quran dan sunnah..

      masalahnya berat banget

  28. ajiah said,

    Oktober 15, 2011 at 11:51 pm

    Atas

  29. khamid alwi said,

    November 30, 2011 at 3:26 am

    yang berpendapat tsawuf bukan dari Islam coba belajar lebih banyak lagi. Bukankah pilar bangunan Islam ada 3 yaitu Iman, Islam dan Ihsan?Nabi ketika ditanya Jibril apa itu ihsan? nabi menjawab “Antakbudallaha kaannaka taroohu fainlam takun taroohu fainnahu yarooka” Sebenarnya para sufi hanya ingin mencapai itu. Sehingga meskipun orang yang gak setuju mencaci maki mereka dengan penuh kecongkakan dan keangkuhan mereka tidak peduli sebab mereka beribadah bukan karena ingin dipuji manusia apalagi pujian manusia yang sok paling tiru nabi paling qurani dan paling segalanya.

    • You_say said,

      Februari 21, 2012 at 5:00 pm

      ya, sama aje ama kafir bro klo bikin cara ibadah sendiri..

      bukankah islam itu sempurna?

      trus coba di renungkan, tidak wajar klo orang muslim belum mempelajari islam secara kafah tapi udah bikin cara ibadah baru

  30. November 30, 2011 at 11:50 am

    Syariat Wong desoooo kabeh katro..

  31. Darmawi said,

    Desember 25, 2011 at 4:30 pm

    alhamdulillah seteleh membaca komentar diatas dari urutan 1 s/d 30, izinkan saya ikut menyampaikan sesuatu yang bermungkinan menjadi renungan buat kita bersama, tidak ada yang musttahil bagi Allah SWT, apapun bisa dan akan terjadi jika AllAh menghendakinya, untuk itu jangan heran dan beranggapan yang bukan-bukan terhadap orang2 aribbillah, Justru kelompok ini lah yang mempelajari Al-qur’an dan hadits dgn sangat teliti hati2 sehingga tak ada satu ayat dan huruf pun yg terlewatkan dari arti dan tafsiran sebab ayat2 tersebut diturunkan, dan sangat meneliti kesahihan hadits2 nabi Muhammad saw, dan perlu sama2 kita ketahui, kita manusia yang lemah ini tidak akan bisa buat apa2 kalau tidak……., untuk itu mohon jangan lah menyalahkan apa lagi menyesatkan satu kelompok, sementara kita tidak pernah tahu pasti apa yang sebenarnya mereka imani, Yg pasti setahu saya para aribbillah yg sangat memahami tenttang al-quran seutuhnya dan mengaku bahwa nabi Muhammad SAW nabi dan rasullnya yang pada akhirnya tdk ada keraguan sedikitpun tentang islam yang di yakini/ di imaninya, dia mengenal islam dan dirinya, nabinya, dengan seutuhnya tidak setengah-setemgah, dirinya ada jasad,nyawa,roh, dan sesisi alam ini ,ada hamba, nabi dan pencipta, mereka sangat memahami dan mengerti benar tidak hanya diucapkan tapi maksud dan tujuan yang sebenarnya kalimat LAILLAHAILLAH MUHAMMADURRASULULLAH.

  32. Januari 27, 2012 at 12:45 pm

    AKBAR

  33. Februari 4, 2012 at 6:12 pm

    ass, saudara seiman,sy pernah dengar klo agama itu bukan untuk diperdebatkan,tp untuk dipelajari,yg maha tahu itu cmn Alah wa jalla.

  34. Novrian Eka Sandhi said,

    Februari 13, 2012 at 1:04 pm

    ini yg bikin aku males buka blog ttg Islam… isinya hujat-hujatan melulu, nyerang pribadi lagi… padahal kita semua gak saling kenal di dunia nyata… apa gak konyol tuh, di dunia maya hujat-hujatan, eh tahunya ketemu di dunia nyata pada saling butuh satu sama lain, tengsin gak sih… ayolah gunakan akal sehat, kepala dingin… argumen dilawan argumen, gak usah pake menyerang pribadi… kita yg saat ini benar, siapa tahu sedetik lagi salah, orang lain juga gak mungkin terus-terusan salah kan… pada akhirnya, semua pengetahuan kita akan diuji lewat amalan nyata dan akhlak yg baik… biarpun mengklaim mengiktuhi manhaj yg paling lurus, tapi kalo gak ngapa-ngapain, ya percuma aja kan… piisss, broer…

  35. pencinta ukhuwah (harmonisasi tasawuf dan fiqih) said,

    Februari 20, 2012 at 7:00 pm

    orang-orang tasawuf itu begitu besar cintanya pada Allah dan Rasulullah, sehingga hanya Allah dan Rasulullah saja yg memenuhi hati mereka sepanjang hari. Bagaimana mungkin kita mengangap mereka malah sesat?, bagaimana kalo ternyata kita salah? dan ternyata Allah malah menjadikan para sufi itu kekasihNYA dan dimuliakan tempatnya karena kecintaan mereka yg tanpa syarat? Tidakkah Allah saja yg berhak menilai kita? bukankah salah satu cara utama untuk mendekati Tuhan adalah hati yang bersih dan tulus?. Tidak jarang pengetahuan kita tentang syariat membutakan kita dari Tuhan. Tidak jarang ilmu menjadi hijab yg menghalangi kita dengan Allah Swt. Nabi Saw bersabda: Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak memperhatikan bentuk-bentuk luar kamu, Yang Allah perhatikan adalah hati kamu…

    Kalau ahli syariat dan ahli sufi sama-sama mencintai Allah dan Rasulnya, dan sama-sama menjalankan syariat yg telah diwajibkan? lalu mengapa kita tidak saling beriringan dan saling mendoakan saja?

    biarlah Allah saja yg menilai kita…..

    • You_say said,

      Februari 22, 2012 at 12:06 am

      ooo, jd begini
      bole lah rasa cinta mereka yang besar
      tapi

      cara mereka yang mencoba mengenal Allah dan Rasull itu berdasarkan MENGKIRA2 kebanyakannya.
      Apa mereka tidak akan takut jika terjadi perpecahan jika ada pendapat mereka yang bertentangan?
      Dan yang lebih penting, APA ALLAH BISA KITA FIKIRKAN DAN KENALI DENGAN FIKIRAN KITA YANG LEMAH INI?

      SUDAH HEBATKAH KITA BISA MEMIKIRKAN PERKARA2 GAIB?

  36. irdes said,

    Februari 21, 2012 at 1:02 pm

    Alhamdulillah….sekarang sudah jelas,,bahwa ilmu tasawwuf adalah ilmu yang mempelajari Roh-nya syariat….tbs.makassar

    • You_say said,

      Februari 21, 2012 at 11:57 pm

      Mustahil bisa mengenal Allah dengan akal kecuali dengan sedikit yang apa yang di kenalkannya lewat Al Quran dan Hadist..

      Bagaimana mungkin manusia bisa mempelajari Allah sedang mempelajari jin dan setan saja tidak mampu mereka pelajari..

      aku khawatir jika dengan ilmu seperti ini akan membuat orang2 berpendapat tentang tuhannya dan mengaku mengenal tuhannya secara SEMBARANGAN dan PENDAPAT yang berbeda2

      • sando-go said,

        Februari 23, 2012 at 12:54 pm

        sudahlah bro.. bagi Allah tidak ada yang mustahil.. termasuk untuk memperkenalkan dirinya kepada siapapun jika Ia menginginkannya..

        Jadi menurut kamu mempelajari Jin dan setan lebih bermanfaat daripada mempelajari Allah.???

        Jangan khawatir, soal Tuhan sembarangan atau berbeda pendapat itu urusan mereka..
        lagian dari dulu aku nggak pernah mendengar orang-orang berdebat masalah perbedaan Allah yang mereka kenal..

        sudahlah.. mending skarang kamu perbanyak ibadah dan perdalam ilmu kamu, jangan urusi ilmu mereka kalo kamu nggak setuju.. oke bro..

    • tjabbar said,

      Agustus 13, 2013 at 7:08 pm

      Tasawuf bkn ilmu ‘ubudiyah yg ada dalam Islam dan syari’at islam. Tp tasawuf mnurut interpretasi sy adalah ilmu Balaghah ttg ke SUSASTRAAN, yg kbetulan mrk sebagian memeluk ISLAM. BILA TASAWUF D TARIK PD MSALAH UBUDIYAH APALAGI MNYANGKUT TAUHIDULLAH, MK KITA HRS MENOLAKNYA. APAPUN ALASANNYA. PILAR DINUL ISLAM ADA 2 (al QURAN dan ASSUNNAH).

  37. You_say said,

    Februari 21, 2012 at 4:42 pm

    pembeda Islam ama kafir itu

    Islam = cara ibadahnya dari nabi
    Kafir = cara ibadahnya buat sendiri

    pokoknya jangan niru2 orang kafir dah

    • Fu_dou said,

      Februari 21, 2012 at 4:52 pm

      Iya sih

      • Februari 22, 2012 at 2:28 am

        BEGINI SAJA. BAGI YANG MENYUKAI TASAWWUF SILAHKAN DITINGKATKAN KETASAWUFANNYA. BAGI YANG ANTI ATAU MEMUSYRIKKAN, BIARLAH MEREKA BERPENDAPAT DEMIKIAN. SEBAB TIDAK SEDIKIT ORANG SEMULA MENYUKAI TASAWWUF BERBALIK MENGHANTAM TASAWWUF. BANYAK ORANG YANG SEMULA ANTI TASAWWUF, BERBALIK MENJADI PENGAMAL TASAWWUF YANG BAIK. KATA NABI SAW : ADA ORANG YANG PAGI-PAGI MUKMIN, SORE HARINYA MENJADI KAFIR DAN ADA ORANG YANG SORENYA KAFIR, PAGI HARINYA MENJADI MUKMIN. BUKANKAH ADA KISAH KIYAI BARSISO. ADA KISAH RAJA YANG MEMBUNUH SERATUS ORANG.

    • sando-go said,

      Februari 23, 2012 at 12:01 pm

      you say.. Para Ahli sufi serta Imam/Waliyullah itu adalah Ahli Tasawwuf.. yang cara ibadahnya memang sangat berbeda dengan kita orang awam..

      tau apa bedanya.???

      ibadah mereka jauh lebih baik dari kita,.. Mereka mendalami Al-qur’an dan sunnah sepanjang hidupnya, sholat bukan cuma 5 waktu dalam sehari, berpuasa bukan cuma sebulan dalam setahun, bahkan berzikir dan bersholawat setiap saat..

      salahkah mereka jika beribadah melebihi yang diperintahkan dalam Al-qur’an dan sunnah karena kecintaan mereka kepada Allah dan Rasulnya.??????

      apakah pantas seorang yang mengaku muslim mendustakan serta mengkafirkan Imam dan Sufi karena cara ibadah nya berbeda dengan kita..??

      Dan apakah salah jika ada orang-orang yang ingin seperti mereka.???

      Subhanallah…

      sudahlah.. jangan mencela golongan mereka jika kamu merasa yang paling benar..

      jika kamu masih mencela mereka berarti kamu orang yang sangat salah dalam islam..

      Islam tidak mengajarkan kita untuk menghujat serta mencela..

      untuk soal Kesesatan, hanya Allah lah yang tau siapa yang tersesat..

      Ini adalah Ilmu.. Jika menurut kamu ini Ilmu yang tidk brmanfaat, maka janganlah kamu ikuti dan jangan pula harus mencelanya.. Lebih baik perdalamlah Ilmu yang menurut kamu bermanfaat untuk kamu..

      wassalam..

    • Akbar said,

      Februari 25, 2012 at 4:54 pm

      ttau cara ibadahny nabi ???

      • oZie VRC said,

        Juli 25, 2012 at 3:20 pm

        saya gak tau tolong jelas kan
        dan saya ingin bertanya juga
        sholatun daimun abadan itu makna dan artinya apa

  38. You_say said,

    Februari 22, 2012 at 11:02 am

    Bukan anti TASAWWUF tapi anti bid’ah nya!!

    sunnah lawannya bid’ah,…

    BUKANNYA TASAWWUF AHLUS SUNNAH(ahli sunnah) KATANNYA?

    kenapa masih ber BID’AH RIA

  39. Akbar said,

    Februari 25, 2012 at 4:59 pm

    Setelah kami baca komentar teman2 semua….
    Sebaiknya kembali saja ke Petunjuk Allah yaitu Al-Quran
    dengan memahami Surah Al-Anbiya :7 & An-nahl : 43

  40. Februari 27, 2012 at 3:34 am

    SEBENARNYA PERBEDAAN-PERBEDAAN PEMAHAMAN TERHADAP ALQURAN DAN ASSUNNAH SUDAH ADA SEJAK JAMAN DAHULU KALA. JADI KITA TIDAK USAH PUSING SOAL PERBEDAAN. TOH KUBUR UMAT ISLAM KAN SAMA. BAIK YANG MENGKLAI BID’AH DAN YANG DIKLAIM BID’AH KEDUANYA KALAU MATI JUGA SAMA-SAMA MEMBUSUK. KECUALI KEDUANYA ADA PERBEDAAN, YANG SATU JASADNYA UTUH SEPERTI JASAD NABI DAN JASAD PARA SYUHADA’ UHUD DAN YANG SATU JASAD MEMBUSUK. ITU BARU OKELAH…….KALAU SAMA-SAMA MASIH MEMBUSUK LEBIH BAIK OKE SAJALAH……….

  41. Februari 27, 2012 at 3:35 am

    OKELAH…..TIDAK BANYAK YANG KITA KETAHUI….

  42. Maret 29, 2012 at 3:53 am

    Dari Abu Sa’id al Khudri diriwayatkan bahwa Nabi s.a.w bercerita:
    Dahulu sebelum kalian, ada seorang pemuda yang telah membunuh 99 nyawa. Ia kemudian mencari orang alim, dan ditunjukkan kepadanya seorang pendeta. Iapun mendatanginya. Ia mengatakan kepada si pendeta bahwa dirinya telah membunuh 99 jiwa orang dan menanyakan apakah masih bisa bertobat? Pendeta menjawab, “Tidak”. Pemuda itu segera membunuh si pendeta, dan korbannya pun menjadi 100 jiwa.
    Setelah itu, pemuda tersebut mencari seorang alim lagi, dan ditunjukkan kepadanya seorang yang alim. Kepada orang alim itu ia menceritakan bahwa dirinya telah membunuh 100 jiwa. Apa ada kesempatan bertobat? Orang alim itu menjawab,” Tentu! Siapa yang bisa menghalangimu untuk bertobat? Pergilah engkau ke tempat itu– orang alim itu menunjukkan suatu tempat–karena di sana orang-orang melakukan ibadah kepada Allah Swt. Beribadahlah bersama mereka. Janganlah engkau kembali ke negerimu, sebab negerimu adalah tempat yang buruk.” Pemuda itu pun pergi. Namun, tatkala ia berada di tengah perjalanan, maut menjemputnya.
    Ketika itu, malaikat rahmat dan malaikat azab bertikai. Malaikat rahmat berkata,” Ia datang sebagai orang yang bertobat dengan mengarahkan hatinya kepada Allah Swt.” Malaikat azab menjawab,” Ia sama sekali belum melakukan kebaikan.” Lalu datanglah satu malaikat dalam rupa manusia untuk menengahi mereka berdua. Ia berkata,”Ukurlah jarak antara 2 daerah itu, kemana ia lebih dekat.” Merekapun mengukurnya. Ternyata tempat kematian pemuda itu lebih dekat ke daerah yang dituju sehasta. Maka malaikat rahmat membawanya. (HR. Bukhari dan Muslim)

    nah ulama yang langsung menjudge bid’ah,sesat,kafir,munafik seperti pendeta/orang alim seperti tertuang dalam hadist diatas…he he he he

  43. andi said,

    April 2, 2012 at 7:58 am

    ahli kitab itu yg …kafir…..

  44. syems said,

    April 9, 2012 at 7:09 pm

    sampai kiamatpun perbedaan semacam itu tidak akan pernah selesai,tp menghargai satu sama lain itulah yang luar biasa. Rasul saja sama orang Nasrani tdk pernah berdebat.knp kita sesama muslim saling mencerca?
    tp ketika berjumpa orang non muslim kita kayaknya fain-fain aja.

  45. mbb said,

    April 23, 2012 at 5:55 am

    islam tdk untuk diperdebatkan, tapi untuk diyakini, celakalah orang yg senang memperdebatkan agamaNYA sendiri

  46. Pangeran Achmad said,

    Mei 13, 2012 at 4:35 pm

    Karna Terlalu Bnyak Hijab., Trtutuplah Pintu Hatinya..

  47. sri said,

    Juni 13, 2012 at 3:27 pm

    47 Awam bersimpati,
    Aswb, Alhamdulillah sdr2 sdh repot2 masuk ke web ini, berarti sdh jelas niat sdr2 ingin menambah wawasan dan mencari kebenaran.Betapa sulitnya mencari kebenaran apalagi kepastian.
    Allah SWT menurunkan Kitab Al Qur”an dan Kitab2 Suci yg diturunkan sebelumnya. Dan Allah SWT jg yg membentangkan ciptaan2Nya,berupa hamparan bumi dan sgl mahluq di atasnya.Demikian pula langit yg entah sampai mana batasnya. Rosul Muhammad SAW meninggalkan Hadist, Dan para ulama disamping menuliskan hadist2 shohih, menuliskan pula hadist2 mutawatir,dhoif sampai hadist palsu sekalipun,
    Pembelajaran oleh Yg Maha Menyelenggarakan hidup dan kehidupan sungguh luar biasa. Dari Kitab2 Suci Kita banyak mendapatkan kebenaran, rahmat. hidayah.bahkan pengetahuan yg belum terjangkau oleh akal dan pengetahuan manusia. Dari ilmu2 Fisika, Biologi, Kimia, Matematika yg melahirkan ilmu kedokteran dan masih banyak ilmu2 tentang alam semesta lainnya itupun dari Allah SWT sumbernya.Betapa Allah SWT Tuhan Yg Maha Bertanggung jawab membimbing kita menuju kepada Cita Tertinggi dan Terindah sampai pada kehidupan yang kekal ( QS 30 Ar Rum ayat 27).”Katakanlah: sekiranya air laut itu dijadikan tinta untuk menuliskan kalimat2 Tuhanku, niscaya dia akan kering lebih dahulu, sebelum habis kalimat2 Tuhanku dituliskan, sekalipun Kami datangkan lagi tambahan air laut sebanyak itu”.(QS 18 Al Kahf 109). .
    “Hai manusia! Sesungguhnya engkau telah bekerja keras untuk menuju kpd Tuhanmu, pastilah engkau akan menemukan-Nya”(QS 84 Al Insyiqaq ayat 6)
    Dalam mencari kebenaran marilah kita mencoba mengikuti QS 20 Thoha ayat 133 , Mereka bertanya:” Mengapa Muhammad itu tdk membawa mujizat kpd kami dari Tuhannya?” Bukankah sudah disampaikan kpd mereka Al Qur’an mujizat yg paling ampuh, yang tersebut dalam kitab2 yg dahulu? Kita mulai dari ayat yang terpendek dari Al Qur’an yaitu Surat 20 Thoha ayat 1 : Thoo haa . Saudara baca berulang-ulang ; thoo haa , thoo haa, thoo haa……..dst sambil berjalan kaki . . 1 km., 2 km. 3 km .. . dst , Insya Allah saudara akan merasakan sendiri pada kaki Saudara akan terasa ringan pd waktu melangkah (siapapun saudara) jJangan lupa berlindung dulu pada Allah SWT. Selamat mencoba dan Insya Allah masih banyak yg bisa dibuktikan. Tuhan bersama orang2 yg berbuat baik.Sabda Rosulullah:”Allah telah berfirman ” Aku beserta hambaku selama ia dzikir (ingat) Kepadaku dan bergerak bibirnya”(HR Ibnu Majah dan dishohihkannya oleh Ibnu Hibbah dan Bukhari menta’liqkannya). Waslmwrwb

    ..

    • assyiebly said,

      Agustus 25, 2012 at 6:26 am

      Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamiin..

  48. Sukmah Ayu said,

    Oktober 29, 2012 at 9:24 am

    ….pembelajaran diri selalu ada dihatimu,janganlah engkau menunjukkan kebodohan ganda…wassallam…..carilah allah dimana engkau akan mendapatinya berada,namun aku yakin DIA tidak jauh dgMu….

  49. Ari Purnama said,

    November 20, 2012 at 4:49 pm

    urus sajalah ibadah kalian sendiri-sendiri .. ..

  50. Ari Purnama said,

    November 20, 2012 at 4:55 pm

    HADA MIN FADZ’LI ROBBI

  51. AHMAD FARID said,

    Maret 8, 2013 at 4:47 pm

    jika da golongan dalam islam yg g mewajibkan shalat,maka golongan tu udh nyata sesatnya!

  52. jayuris said,

    April 10, 2013 at 4:45 pm

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan dalam ,
    “Laulaka laulaka, ya Muhammad, ma khalaqtu aflak”.
    (andaikan Aku tidak menciptakan engkau, wahai Muhammad, niscaya Aku tidak akan menciptakan jagat raya beserta isinya).

  53. jayuris said,

    April 10, 2013 at 4:53 pm

    Menghayati Kesatuan dengan ALLAH

    Manusia hidup sebagai mahkluk dwitunggal, jasad dan roh. Didalam diri manusia ada unsur Ketuhanan, oleh karena itulah manusia dan Tuhan hakikatnya SATU. Dalam diri manusia ada min ruhi yang SATU dengan Tuhan, tiada berjarak sangat dekat lebih dekat dari apapun juga –karena “SATU”. Dalam keadaan yang demikian Anda akan merasakan Tuhan itu dekat, sebagaimana dikatakan qur’an dalam surat Qaaf: 16, Wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil warid (Kami lebih dekat kepadanya dari urat nadinya).

    Dengan jalan ini, Anda akan dapat membuktikan ADA-NYA Tuhan bukan semata-mata dilandasi secara falsafati akan tetapi lebih didasarkan pada pengalaman empiric perjumpaan dengan Tuhan dalam kehidupan nyata. Diri kita, nafas kita, roh kita, hidup kita adalah bukti-NYA Tuhan. Lebih dari itu adalah juga bukti dekat dan SATU-NYA Tuhan dengan kita. Tubuh, pikiran, hati, jiwa kita adalah aspek-NYA Tuhan, alat-alat-NYA Tuhan. Yang ADA ialah Tuhan dan manusia-NYA Tuhan. Tiada sesuatu selain Tuhan dan aspek-aspek-NYA.

    Keluar masuknya nafas pertanda hidup,
    Perhatikanlah dengan seksama bahwa: pada hakikatnya keluar-masuknya nafas adalah perbuatan ALLAH, DIA yang melakukanNYA sebagai tAnda adanya hidup-NYA yang bersemayam didalam tubuh manusia. Sebagai tanda adanya Roh-NYA yang terkurung dalam jasad. Oleh karena itu harus disadarkan bahwa selama bernafas harus selalu diikuti dengan ingatan kepada ALLAH. Roh yang ada didalam tubuh menyebabkan otak dapat aktif berkesadaran atau berkecerdasan, ber – IQ, EQ dan SQ.

    Otak manusia itu sifatnya netral dan tidak mengerti apa-apa jika tidak ada informasi yang dimasukkan padanya. Namun demikian otak manusia memegang kendali penting dalam kehidupan manusia di dunia dengan tiga ragam kecerdasannya. Untuk mengarahkan kehidupan sesuai dengan Kehendak ALLAH, otak harus diberitahu, harus diberi masukan, harus diedukasi agar In-Line dengan Kehendak ALLAH-seperti yang diteladankan Muhammad s.a.w (prototype manusia sempurna).

  54. sapu jagad said,

    April 28, 2013 at 12:01 pm

    halah.. katany wong tasawuf.. kok masih doyan debat.. klo dijelasin secara santai ga bisa, jawab saja pada mereka yang anti tasawuf, yang sok-sokan itu.. “ya itu bener, tpi menurutmu tok”

  55. eef said,

    Juli 19, 2013 at 1:08 pm

    Lakum dinukum waliadin…

  56. MMMMMMMMMMMMMGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCC...............................................................FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF said,

    Juli 22, 2013 at 8:29 am

    ttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaasssssssssssssssssssssssssssssssaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaawwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuubbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbb

  57. tjabbar said,

    Agustus 13, 2013 at 6:09 pm

    ini aneh, Yang benar ja! Jd bngng. Tasawuf sngt mmbngngkn! TASAWUF, ILMU TASAWUF, PARA SUFFI SEMUANYA DULLUN MUDILLUN SESAT DAN MENYESATKAN!!! SY MESANTREN SEJAK SMP-SMA D TASIKMALAYA. D PESANTREN MENGKAJI KITAB2 KUNING, SLH SATUNYA DAQAIKUL AHBAR, DURATUNNASIHIN. ISINYA ANEH DAN MENYESATKAN!!!

  58. dgggg said,

    November 17, 2013 at 1:03 am

    ntar juga pada mati semua nya

  59. Wong Agung said,

    Februari 4, 2014 at 6:41 am

    Menurut hikmat kami tasawuf/sufi itu tidak sesat, karena ajaran yang dijalankan oleh para pelaku adalah :

    * TIDAK MELAKUKAN SEGALA BENTUK KEJAHATAN
    * SENANTIASA MEMPERBANYAK KEBAJIKAN
    * MENSUCIKAN HATI DAN PIKIRAN (BATHIN)

    Kalau mereka bertujuan menjadi orang baik dengan jalan berbuat baik,.. coba anda koreksi dimana letak kesesatannya,..?!

    Coba anda pikir, salahkah jika seseorang ingin menuju kesucian dengan jalan berbuat baik,.. saya yakin anda sendiri ingin menjadi orang baik khan,..?! Coba kami ingin tahu siapa diantara anda-anda semua ini yang ingin menjadi orang tidak baik alias Jahat, kami kira diantara anda-anda pasti tidak ada yang berkeinginan menjadi orang jahat…
    pesan kami :

    …”berbuat baiklah untuk menjadi orang baik,..”

    [Wong Agung]

  60. H.Mohammad said,

    Februari 4, 2014 at 1:43 pm

    REINKARNASI DI DALAM AL QUR’AN

    Reinkarnasi berasal dari kata latin re-in-carnis. Re artinya kembali atau pengulangan. In artinya di dalam, Carnis artinya daging. Jadi reinkarnasi artinya kembali menjadi daging, menjelma menjadi daging, dilahirkan kembali menjadi mahluk yang berdaging. Carnivora adalah mahluk pemakan daging.
    Sebagian besar dari umat Islam agaknya tidak mempercayai adanya reinkarnasi ini. Oleh karena itu buku-buku yang membahas reinkarnasi dari sudut ajaran Islam sangat sulit didapat. Akan tetapi bagi mereka yang beragama Hindu, Budha atau mungkin juga ajaran Kong Hu Cu, justru sebaliknya, mereka percaya akan adanya reinkarnasi dalam siklus kehidupan berikutnya. Mungkin kita pernah mendengar atau pernah membaca mengenai kematian Dalai Lama yang bernama Lama Thubten Yeshe, kemudian muncul kembali ber-reinkarnasi pada seorang anak laki-laki yang bernama Osel di negara Spanyol. Konon kabarnya, kedua orang tua si anak tersebut adalah penganut agama Dalai Lama Tibet.
    Bila benar-benar Al Qur’an itu universal serta mencakup semua ajaran agama di dunia, maka sudah seharusnya reinkarnasi ada di dalam Al Qur’an. Seperti halnya kata atom dan Keluaga Berencana, kata reinkarnasi pun tidak tercantum secara nyata di dalam Al Qur’an, namun bila kita pelajari secara seksama ternyata ayat-ayat Al Qur’an untuk reinkarnasi cukup banyak, diantaranya :

    Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, Dia menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, menghidupkanmu kembali, selanjutnya kepada-Nya kamu dikembalikan ( AL BAQARAH 2: 28 )
    Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati agar kamu bersyukur
    ( AL BAQARAH 2 : 56 )

    Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat ke luar dari padanya ….
    ( AL-AN’AM 6 : 122 )

    Allah berfirman : “ Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati dan di bumi itu ( pula ) kamu akan dibangkitkan ( AL-A’RAF 7 : 25 ).

    Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan Singgasana-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya dan jika kamu berkata : sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati niscaya orang-orang kafir itu akan berkata : ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata ( HUD 11 : 7 ).

    Jika ada yang kamu herankan, maka yang patut diherankan adalah ucapan mereka : “bila kami telah menjadi tanah, apakah kami sungguh akan dikembalikan menjadi mahluk yang baru?” Begitulah orang-orang yang mengingkari Tuhannya …
    ( AR RAD 13 : 5 )

    Darinya ( tanah ) Kami ciptakan kamu, kepadanya Kami kembalikan kamu dan darinya ( tanah ) Kami keluarkan kamu untuk kedua kalinya ( THAHA 20 : 55 )

    Siapakah yang akan menghidupkan kembali tulang belulang yang telah hancur luluh itu ??? Katakanlah : yang menghidupkannya ialah yang menjadikannya pertama kali dan Dia Maha Mengetahui segala makhluk ( YAASSIIN 36 : 78-79 ).

    Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi dan tidak merasa payah menciptakannya, berkuasa menghidupkan orang-orang mati, sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segalanya ( AL AHQAF 46 : 33 )

    Kami menentukan kematian diantara kamu dan Kami berkuasa merubah rupa kamu dan menciptakan ( kembali ) dalam ( bentuk ) yang tidak kamu ketahui
    ( AL WAQI’AH 56 : 60-61 )

    Hai manusia, apa yang memperdayakan kamu terhadap Tuhan-mu Yang Maha Pemurah, yang menciptakan kamu, lalu membentuk kamu dalam bentuk yang dikehendaki-Nya, Dia membentuk tubuhmu ( AL INFITHAR 82 : 6-8 ).

    … Lalu kami berfirman kepada mereka : Jadilah kamu kera !!!
    ( AL BAQARAH 2 : 65 )

    … Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ( ada ) yang dijadikan kera dan babi … ( AL MA’IDAH 5 : 60 )

    Tatkala mereka melanggar apa yang dilarang baginya, Kami berfirman kepadanya : Jadilah kamu kera yang hina ( AL A’RAF 7 : 166 )

    Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunnya pada hari kebangkitan dalam keadaan buta ( THAHA 20 : 124 )

    Barang siapa berbuat baik, laki-laki atau perempuan, dan ia beriman, maka pasti akan kami hidupkan ( dilahirkan kembali ) dengan kehidupan yang baik dan Kami akan memberinya pahala sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan
    ( AN NAHL 16 : 97 )

    Sebagaimana kata Rosulullah bahwa Al Qur’an itu mengandung makna lahiriyah dan bathiniah. Di Dalam Al Qur’an ada makna yang tersurat dan makna yang tersirat, serta banyak kata-kata kiasan atau metapora. Oleh karena itu pengertian neraka dan surga, azab kubur dan pahala dari Allah mungkin juga mengandung makna bathiniah, mengandung arti kiasan.

    Demikianlah perumpamaan-perumpamaan yang Kami buat bagi manusia, akan tetapi yang memahaminya hanya orang-orang yang berilmu
    ( AL ANKABUT 29 : 43 ).

    Setiap manusia yang hidup di dunia, ada jasmaninya, ada nafsunya dan ada ruhnya. Bila ketiga-tiganya ada, manusia bisa merasakan kesakitan, kepanasan, kedinginan, kelaparan dan kehausan. Dalam keadaan koma, nafsunya tidak ada maka jasmani tidak akan bisa merasakan apa-apa lagi. Apalagi dalam keadaan mati, nafsu dan ruhnya sudah tidak ada lagi. Dengan adanya reinkarnasi ini, masuk akal bila yang dimaksud dengan neraka adalah penghidupan yang sempit dan azab yang pedih di dunia sedangkan yang dimaksud surga adalah kehidupan yang baik di dunia. Karena yang ada di surga pun hanya kesenangan fisik semata, air yang mengalir, makanan, minuman, kasur yang empuk, serta bidadari.
    Bila kita mati, ruh akan kembali ke asalnya yaitu Dzat Allah. Karena ruh berasal dari Dzat Allah. Ruh merupakan essensi dari Dzat Allah, Dzat Yang Maha Suci. Berarti ruh tetap suci tidak akan kena polusi duniawi dan tetap abadi tidak pernah mati. Kematian hanya berlaku untuk jasmani di dunia.

    Maka apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya, dan Aku tiupkan Ruh-Ku kedalamnya … ( AL HIJR 15 : 29 dan SHAAD 38 : 72 )

    Dan janganlah kamu katakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya
    ( AL BAQARAH 2 : 154 )
    Jangan engkau mengira, mereka yang meninggal di jalan Allah itu mati, tidak.. Mereka tetap hidup di sisi Tuhan-nya dan mendapat rizki ( ALI IMRAN 3 : 169 )

    Mereka tidak merasakan kematian di dalamnya ( akhirat ), kecuali kematian pertama ( di dunia )… ( AD DUKHAAN 44 : 56 ).

    Ruh tidak pernah dituntut untuk diminta tanggung jawabnya, karena tetap suci Namun jasmani yaitu mata telinga dan hati itulah yang akan diminta tanggung jawabnya. Di dalam hati ada nafsu amarah, luwamah, sofiyah dan mutmainah. Dari nafsu yang empat ini yang dipanggil Allah hanya nafsu mutmainahnya saja, disertai dengan “ucapan selamat” dari Allah… Pertanyaannya adalah : Apakah yang menanggung azab Allah itu adalah nafsu amarah, luwamah dan sofiyahnya ???
    Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati ( fuad ) agar kamu bersyukur
    ( AN NAHL 16 : 78 ).
    Dia-lah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati ( fuad ). Namun sedikit saja kamu bersyukur ( AL MU’MINUN 23 : 78 )
    Janganlah ikuti apa yang tiada kamu ketahui, sungguh, pendengaran, penglihatan dan hati ( fuad ) masing-masing akan dimintai pertanggungjawabannya.
    ( AL ISRA 17 : 36 )

    Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah ( SHAAD 38 : 26 )

    Lidah tangan dan kaki mereka menjadi saksi terhadap apa yang mereka kerjakan.
    ( AN NUR 24 : 24 )
    Berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan (YAASSIIN 36 : 65 )
    Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwaya dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya ( ASY-SYAM 91 : 7-9 )

    Wahai nafsu mutmainah ( jiwa yang tenang ), datanglah kepada Tuhan-mu dengan rasa suka cita dan penuh keridhoan, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam surga-Ku ( AL FAJR 89 : 27 – 30 )

    Ucapan selamat dari Tuhan. Salaamun qaulam mirobbirahiim
    ( YAASSIIN 36 : 58 )

    Secara logika bila yang mendapat azab dari Allah itu adalah amarah, luwamah dan sofiyahnya, bagaimana dia bisa bicara dan merasakan kepedihan azab bila jasmaninya sudah hancur menjadi tanah ??? Oleh karena itu melalui reinkarnasi, dia dihidupkan kembali di dalam penghidupan yang sempit, agar bisa merasakan betapa pedihnya azab Allah. Dikehidupan yang baru, mereka yang menerima azab Allah bila mereka bertobat dan kembali ke jalan Allah akan mendapat remisi atau grasi dari Allah, karena Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih serta Maha Penyayang. Namun sebaliknya orang yang beramal soleh, bila dia belum menerima pahala dikehidupan sebelumnya, maka dia dihidupkan kembali di dalam penghidupan yang baik sebagai pahala dari Allah sesuai dengan amal solehnya. Dikehidupan yang baru ini, mereka tetap akan mendapat ujian dari Allah dan mungkin juga dikehidupan yang baru ini, dia tidak lulus. karena kehidupan dunia hanya kesenangan yang memperdayakan, akibat adanya nafsu…

    Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian dan pada hari kebangkitan akan dibayarkan kepada kamu ganjaranmu, dan barang siapa dipindahkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sesungguhnya ia memperoleh kemenangan dan kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan ( ALI IMRAN 3 : 185 ).

    Surat ALI IMRAN 3 : 185 ini, tanpa kita sadari menyatakan adanya reinkarnasi, hari kebangkitan setelah kematian. Setelah dibangkitkan, kemudian diberi ganjaran sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing. Neraka adalah kehidupan yang sempit di dunia dan surga adalah kehidupan yang menyenangkan namun juga sebagai ujian agar manusia bisa tetap sadar dan bisa mengendalikan hawa nafsunya. Bagi mereka yang mendapatkan azab Allah hendaknya jangan berputus asa atas rahmat Allah Yang Maha Adil, karena pintu taubat senantiasa terbuka. Semua dosa ada ampunannya, kecuali dosa syirik. Reinkarnasi sebagai bukti Allah Maha Adil. Allah lebih mendahulukan rahmat dan ampunan-Nya dari pada azab-Nya…
    Wahai hamba-hambaku yang telah melampaui batas terhadap diri sendiri, janganlah kamu berputus asa atas rahmat Allah yang akan mengampuni segala dosa, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
    ( AZ-ZUMAR 53 ).

    Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni dosa-dosa selain itu terhadap orang-orang yang diridoinya ( AN NISAA 4 : 48 ).

    Kami akan memasang timbangan yang adil untuk hari kebangkitan, sehingga tidak ada yang rugi sedikitpun, biarpun amalan itu hanya seberat biji sawi, Kami akan memperlihatkannya dan Kami cukup sebagai penghisab ( AL ANBIYAA 21 : 47 ).

    Kepada-Nya-lah kamu semua akan kembali, janji Allah Maha Benar, Dia-lah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya, supaya dia dapat memberi pahala kepada mereka yang beriman dan berbuat kebaikan secara adil, bagi mereka yg tidak percaya disediakan minuman air mendidih dan siksa yang pedih dan menyakitkan… ( YUNUS 10 : 4 )

    Orang-orang kafir senantiasa tidak ingat akan akibat kejahatannya, sehingga bila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia menyesal dan berkata : Ya Tuhan-ku, hidupkanlah aku kembali, agar aku dapat beramal saleh dalam perkara yang aku lalaikan. Tidak !!! Itu hanya alasan belaka, dibelakang mereka ada suatu tabir yang menghalangi mereka, sampai hari mereka dibangkitkan
    ( AL MU’MINUN 23 : 99-100 ).

    Mereka menetap di dalamnya, tidak akan diringankan baginya siksaan, dan tidak pula ditunda, kecuali mereka yang kemudian bertaubat dan berbuat baik, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
    ( ALI IMRAN 3 : 88 – 89 ).

    Harus kita ingat baik-baik bahwa pahala dan siksa itu adalah atas apa yang kita lakukan di dunia. Demikian juga masalah taubat, itupun dilakukan di dunia. Dengan demikian, Surat ALI IMRAN 3 : 88 – 99 ini pun sangat mungkin bagi mereka yang mendapat azab Allah di dunia … kemudian bertaubat …

    Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan memberi rizki dari arah yang tidak diduga … Allah akan memberikan kecukupan … akan dimudahkan segala urusannya … dihapus segala kesalahannya …serta dilipat gandakan pahalanya ( AT THOLAQ 65 : 2-3-4-5 ).

    Ingatlah Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-NYA di waktu pagi dan petang, Dia akan mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada Cahaya yang terang ( AL AHZAB 33 : 41-43 )

    Menurut para sesepuh, sesungguhnya jasmani merupakan penjara bagi setiap ruh. Dunia merupakan tempat pembelajaran dari para ruh, sampai mencapai tingkat kematangan yang sempurna, sehingga tidak harus berenkarnasi lagi.
    Surat ALI IMRAN 3 : 88 – 89, menjelaskan bahwa Allah masih memberi kesempatan kepada Ruh, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sebagaimana halnya narapidana yang berbuat baik selama di dalam penjara, kemudian pemerintah memberikan grasi atau remisi kepadanya. Dengan demikian, siklus reinkarnasi ini, merupakan bukti bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Adil, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Oleh karena itu kata “tidak “ di dalam Surat AL MU’MINUN 23 : 99-100 agaknya bersifat sementara saja. Berapa lama di alam sana sebelum menjalani reinkarnasi kita tidak tahu … demikian kata Semedi.
    Reinkarnasi ini tidak hanya satu kali namun berkali-kali bahkan jutaan kali sampai ruh mencapai kesempurnaan. Menurut Semedi di dalam Al Qur’an siklus reinkarnasi ini digambarkan bagaikan siklus malam dan siang, sedangkan hari kebangkitan digambarkan sebagai musim semi yang indah.

    Kau masukkan malam ke dalam siang dan Kau masukkan siang ke dalam malam, Kau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Kau keluarkan yang mati dari yang hidup, Kau beri rizki kepada siapa yang kau kehendaki tanpa batas
    (ALI IMRAN 3 : 27).

    Katakanlah : Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa ( menciptakan ) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan ??? Mereka berkata Allah, maka katakanlah : Mengapa kamu tidak bertakwa ??? ( YUNUS 10 : 31 ).

    Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya, sehingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu, maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran ( AL-A’RAF 7 : 57 )

    Ia mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan Ia mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan Ia menghidupkan kembali bumi setelah kematiannya, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (AR RUUM 30 : 19).

    Dan Allah, Dia-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati, lalu kami hidupkan bumi yang telah mati dengan hujan itu, demikianlah kebangkitan itu
    ( AL-FAATHIR 35 : 9 ).

    Menurut Semedi : Dari Surat AL-A’RAF 7 : 57, AR-RUUM 30 : 19 dan AL-FAATHIR 35 : 9 tersebut bisa kita bayangkan bahwa hari kebangkitan adalah suatu musim semi yang indah penuh keceriaan dan kedamaian. Hari kebangkitan yang sama sekali tidak menggambarkan sesuatu yang sangat mengerikan, tidak menggambarkan suatu kehancuran total seperti dongeng yang selama ini pernah kita dengar sebelumnya… Kata “qiyamat” pun arti harfiahnya adalah berdiri, bangkit, namun kenapa diterjemahkan menjadi kehancuran total ??? Demikian pula dengan kata “ajal “ yang arti harfiahnya adalah batas waktu, namun sering ditafsirkan sebagai kematian. Sebagai contohnya, mari kita perhatikan Surat AL AN’AAM 6 : 2 berikut ini :
    Dialah Yang Menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukan ajal ( kematianmu ), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan ( untuk berbangkit ) yang ada pada sisi-Nya ( yang Dia sendiri-lah mengetahuinya ), kemudian kamu masih ragu-ragu ( tentang berbangkit itu )

    Menurut Semedi Surat AL AN’AAM 6 : 2 seharusnya ditafsirkan sbb :
    Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan bagimu suatu masa ( waktu ) dan suatu masa ( lagi ) ditentukan di sisi-Nya, kemudian kamu ragukan ( AL AN’AAM 6 : 2 )

    Demikian juga, bila kita perhatikan Surat AL QIYAAMAH, ternyata apa yang dikatakan Semedi benar bahwa : Isi dari ayat-ayat Surat AL QIYAAMAH tidak menyinggung masalah kehancuran total sebagaimana yang kita bayangkan selama ini. Surat Al Qiyaamah menceritakan keraguan orang-orang kafir atau orang-orang fasik akan hari kebangkitan dan rasa takut mereka saat menghadapai sakaratul maut. Pada saat menjelang maut itu Allah memutar ulang rekaman perjalanan hidupnya dan akhirnya dia sendiri yang menjadi saksi atas dirinya sendiri, karena di dalam diri manusia ada Yang Maha Melihat. Hal ini berbeda keadaannya bagi orang-orang mukmin, wajah mereka pada saat itu berseri-seri, karena melihat wajah Tuhan-nya, mereka mendapat rahmat Allah, mereka sangat meyakini pertemuan dengan Tuhan-nya… dan mereka meyakini adanya hari kebangkitan atau reinkarnasi … Karena Allah berkuasa menghidupkan orang mati.
    Mari kita perhatikan cuplikan beberapa ayat dari surat Al Qiyaamah :

    Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan ( kembali ) tulang- belulangnya . Bukan demikian, sesungguhnya Kami berkuasa menyusun kembali jari-jemarinya dengan sempurna ( AL QIYAAMAH 75 : 3-4 )
    Ia bertanya : Bilakah hari kiamat itu ?? ( AL QIYAAMAH 75 : 6 )
    Pada hari itu diberitahukan kepada manusia apa-apa yang telah dikerjakannya dan apa-apa yang dilalaikannya. Di dalam diri manusia ada Yang Maha Melihat
    ( AL QIYAAMAH 75 13-14 )
    Pada hari itu wajah mereka ( yang beriman ) berseri-seri, karena melihat wajah Tuhan-nya. Wajah-wajah ( orang kafir ) muram, karena akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang dasyat ( AL QIYAAMAH 75 : 22-23-24-25 )
    Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan ( kematian )
    ( AL QIYAAMAH 75 : 28 )
    Kepada Tuhan-mu lah pada hari itu kamu digiring ( AL QIYAAMAH 75 : 30 )
    Apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan begitu saja ???
    ( AL QIYAAMAH 75 : 36 )
    Bukankah ( Allah ) berkuasa menghidupkan orang mati ??
    ( AL QIYAAMAH 75 : 40 )

    PENELITIAN REINKARNASI

    Penelitian reinkarnasi oleh para ahli hipnoterapi pada penderita-penderita kejiwaan diawali tanpa kesengajaan. Penderita kejiwaan dihipnotis dan diperintahkan untuk menceriterakan masa lalunya agar terungkap latar belakang penderitaannya. Tanpa disengaja, karena pengaruh daya hinotis yang begitu kuat, sampai kebablasan ke kehidupan masa lalunya yang jauh sebelum dia dilahirkan. Peristiwa ini merupakan titik tolak penelitian reinkarnasi ruh melalui hipnotisme. Sulit untuk dipercaya ( AL AN’AAM 6 : 111 ) namun subhanallah … itulah bukti kebenaran Al Qur’an …

    Kalnel Ruka adalah orang yang pertama kali berhasil mengembalikan keadaan seseorang ke kehidupan masa lalunya sampai melampaui kehidupan yang sekarang. Penelitian pun berlanjut, sehingga akhirnya Ruka menyimpulkan bahwa ada kehidupan ruh sebelumnya, bahwa Ruh manusia mengalami kehidupan dan kematian berkali-kali melalui jasad yang berbeda-beda, sampai akhirnya mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebebasan.

    Michael Newton, ahli hipnoterapi, selama 10 tahun melakukan studi kasus perjalanan ruh pada penderita-penderita yang dihipnotisnya. Newton pun menyimpulkan bahwa saat kematian, Ruh merasa bahagia karena terbebas dari beban. ruh menjelaskan bahwa dirinya berupa cahaya yang dijemput oleh cahaya dan menuju kepada Cahaya Yang Sangat Kuat.
    Menurut Newton semua Ruh memiliki status ilahi yang sama, karena berasal dari essensi ilahi yang sama, yaitu dari Ruh Yang Maha Tinggi. Ruh ada yang muda ada yang tua dan yang lebih tua lagi jarang ber-reinkarnasi, bahkan tidak ber-reinkarnasi lagi bila sudah mencapai kematangan yang sempurna.

    …Cahaya di atas Cahaya, Tuhan akan membimbing dengan Cahaya-Nya kepada Cahaya-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki ( AN NUUR 24 : 35 )
    Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat ( AL INSYIQAAQ 84 :19 )

    Dunia sebagai tempat pembelajaran bagi para Ruh. Setiap ruh punya kelompok, ada kelompok kecil, kelompok besar sampai kluster. Setiap kelompok ada Ruh yang lebih tua sebagai pembimbingnya. Ruh pembimbing bisa lebih dari satu dan bertingkat-tingkat. Kita bisa berkomunikasi dengan ruh pembimbing melalui meditasi … dzikir … Banyak ruh pada reinkarnasi berikutnya memilih untuk mendiami tempat yang pernah mereka huni sebelumnya. Ruh anak-anak yang meninggal lebih suka kembali ke lingkungan orang tuanya. Selain ruh berkelompok, ada juga ruh yang menghuni lebih dari satu tubuh sekaligus. Hal ini sesuai dengan Firman Allah bahwa ruh berkelompok dan ruh bisa memecah diri :
    Hai manusia bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu ( min nafsiw wahidatin ) dan dari padanya, Allah menciptakan pasangannya … ( AN NISAA 4 : 1 )

    Wahai nafsu mutmainah ( jiwa yang tenang ), datanglah kepada Tuhan-mu dengan rasa suka cita dan penuh keridhoan, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam surga-Ku ( AL FAJR 89 : 27 – 30 )
    Ucapan selamat dari Tuhan. Salaamun qaulam mirobbirahiim
    ( YAASSIIN 36 : 58 )

    Surga Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama mereka yang saleh diantara orang tua mereka, istri-istri mereka dan keturunan mereka ( AR-RAD 13 : 23 )

    Dan orang-orang yang beriman, lalu anak cucu mereka mengikuti dengan iman, Kami susulkan keturunan mereka pada mereka dan Kami tidak mengurangi amal mereka sedikitpun ( AYH-THUUR 52 : 23 )

    Kumpulkanlah mereka yang berbuat dzolim bersama istri-istri mereka dan apa-apa yang mereka sembah selain Allah, dan tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka dan tahanlah mereka, karena mereka harus ditanyai ( ASH-SHAFFAAT 37 : 22 – 24 ).

    Dan demi Tuhan-mu, Kami akan menanyai mereka semuanya tentang apa yang telah mereka kerjakan ( AL HIJR 15 : 92 – 93 )

    Sungguh Kami akan menanyai umat yang menerima Rasul yang diutus kepada mereka dan kami juga akan menanyai Rasul-Rasul itu ( AL A’RAAF 7 : 5 )

    Pada hari Tuhan memanggil mereka dan berfirman : Apakah jawaban yang kamu berikan kepada utusan-utusan itu ( AL QASHASH 28 : 65 )


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: