“Bumi Berupa Hamparan Bagaikan Papan tulis, Bukan Bulat”
Beberapa saat yang lalu teman-teman dikagetkan dengan fatwa seorang Syeikh dari kalangan Wahaby yang sangat dihormati di taklidi secara buta oleh kelompoknya, Wahabisme. Terbukti hampir setiap blog dan situs Wahaby –yang mengaku dirinya sebagai kelompok Salafy- selalu mengambil tulisan-tulisan bahkan menjadikan situs beliau sebagai link alternatif dari beberapa jajaran ulama Wahaby lainnya. Syeikh tersebut bernama Utsaimin.
Fatwa syeikh tadi diberi judul; “Matahari Mengelilingi Bumi” yang dimuat dalam sebuah blog di wordpress.com. setelah muncul banyak kritikan dari berbagai kalangan -terkhusus kaum akademisi- para pendukung fanatic sang Syeikh tadi terus berusaha membenarkan (mencari pembenaran) fatwa syeikhnya dengan berbagai cara yang tak jarang menggunakan kata-kata kasar dalam menyangkal kritik-kritik yang datang. Sebutan jahil, tidak paham agama, taklid terhadap orang kafir dsb sering diluncurkan. Tentu, teks-teks agama selalu dijadikan sebagai tamengnya. Seakan agama Islam diturunkan hanya untuk mereka saja sehingga yang menentukan apakah hal tersebut agamis atau tidak ada ditangan mereka.
Kami sarankan agar ulama mereka yang masih hidup –karena syeikh Utsaimin telah meninggal- menafsirkan dan menfatwakan bahwa “Bumi berbentuk hamparan bagaikan papan tulis, tidak bulat seperti bola”. Kami pun juga memberi masukan ayat-ayat yang bisa rujukan, biar meringankan tugas mereka. ayat-ayat itu banyak sekali, namun yang paling jelas menjurus ke arah itu mencakup ayat-ayat sebagai berikut:
1. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu (al-Baqarah: 22).
2. Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. (ar-Ra’d: 3).
3. Dan kami Telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. (al-Hijr: 19).
4. Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, (al-Qof: 7)
5. Dan bumi itu kami hamparkan, Maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami). (Adz-Dzariyaat: 51).
6. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, (Nuh: 19).
7. Bukankah kami Telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? (an-Naba’: 6).
8. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (al-Ghosyiyah: 20).
Lihat zahir ayat-ayat di atas tadi, bukankah ini menunjukkan bahwa Bumi adalah hamparan bagaikan papan tulis ataupun tikar dan bukan berbentuk bulat? Harusnya dulu, syeikh Ustaimin lebih mendahulukan berfatwa tentang yang kami usulkan ketimbang yang beliau fatwakan. Zahir ayat-ayat di atas jelas bahwa bumi merupakan hamparan, bahkan lebih jelas dari ayat-ayat yang dikemukakan oleh Syeikh Utsaimin dalam membuktikan bahwa sebagai Bumi pusat galaxy. Tapi sudahlah itu telah berlalu. Sekarang syeikh itu sedang mempertanggungjawabkan fatwanya itu di hadapan Ilahi. Kita tunggu ulama Wahaby lain yang masih hidup mendengar saran kami ini.
Konon, menurut pendukung fanatik dan yang bertaklid buta terhadap syeikh –mungkin pemilik blog Abdurrahman. wordpress. com yang memuat fatwa aneh tapi nyata dan sangat menggelikan itu(buka:http://abdurrahman.wordpress.com/2007/03/15/benarkah-bumi-mengelilingi-matahari/)- yang berinisial Darmawan menyatakan bahwa metode penafsiran syeikh Utsaimin adalah mendahulukan cara penafsiran al-Quran dengan al-Quran yang telah disinggung oleh Ibnu Katsir, salah seorang murid setia Ibnu Taimiyah. Ibn Katsir dalam Muqodimah kitab tafsirnya:”Sesungguh nya penafsiran yang paling baik adalah Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, Al-Qur’an dengan hadits, dan Al-Qur’an dengan atsar sahabat…””. Karena ketiga cara tadi secara berurut maka cara pertama jauh lebih baik dari kedua cara lainnya. Oleh karenanya kami sarankan atau bisa dikatakan kami pesan fatwa dari ulama Wahaby yang masih hidup. Kalau mereka menolak? Dengan alasan apa mereka menolak, bukankah itulah yang disebutkan dalam zahir ayat al-Quran yang mereka suka bermain di skala zahir, seperti dalam kasus fatwa Matahari mengitari Bumi? Dan kalaupun mereka telah menfatwakan hal itu maka akan kami katakan kepada mereka (kaum Wahaby yang mengaku Salafy): “Jelas kalian akan salah kaprah dengan mengikuti hal-hal itu dalam memahami al-Quran. Al-Quran memiliki multi dimensi yang belum dapat kalian jamah. Dan tidak akan mungkin pernah kalian jamah selama kalian masih memegang erat metode (manhaj) yang salah parah itu”. Mereka (kaum Wahaby) akan menghadapi dilemma, antara mempercayai bahwa Bumi itu hamparan bagaikan papan tulis sebagaimana ungkapan zahir al-Quran, atau mengikuti penemu pesawat olang-alik dan penemu kamera yang keduanya dikarya oleh orang kafir? Sebenarnya gampang saja, jika mereka tidak percaya, silahkan saja sewa pesawat ulang-alik dengan biaya Negara kaya Saudi Arabia yang bermazhab Wahaby itu hingga ketinggian tertentu, dan buktikan, apakah Bumi bagaikan papan tulis seperti kata zahir al-Quran ataukah
Bulat seperti kata ilmuwan kafir? Jika sesampai di atas ternyata terbukti Bumi bulat maka -saran kami- janganlah mereka lantas mengkufuri al-Quran dengan mengatakan “al-Quran bohong”. Karena al-Quran tidak salah. Hanya metode (manhaj) yang mereka pegangi selama ini yang salah dalam memahami al-Quran. Saran kami sekali lagi: “Rubahlah metode itu dan tanggalkan jubah Wahabisme yang kalian kenakan. Karena metode dan jubah kumuh itu yang menyebabkan kalian terjerumus ke dalam kekakuan (jumud) dalam memahami agama melalui teks-teks yang ada”. Kini, sudah saatnya Wahabisme dimusiumkan.
Allah yahdiikum insya-Allah.
Comment Pemilik Blog :
Satu fatwa konyol dan salah yaitu bahwa “Matahari itu bergerak mengelilingi bumi” yang dikeluarkan oleh salah satu “imam”nya wahabi tersebut seharusnya sudah cukup untuk membuka mata kita, dan semoga Allah membuka hati kita agar tidak mengikuti jalan yang salah tersebut. Bukankan akan sangat berbahaya jika kita mengikuti pendapat “imam” tersebut (yang sangat mungkin juga salah dan konyol sebagaimana fatwa tadi) apalagi dalam masalah yang lebih rawan, seperti aqidah misalnya.
dedeh berkata,
Mei 29, 2007 pada 8:17 am
Ini bukan komentar , hanya meluruskan dari pendapat di atas.
BUMI BULAT
Ketahuilah wahai saudaraku seiman, bahwa bumi yang kita tempati ini
berbentuk bulat menurut kesepakatan para ulama. Hal ini mereka nyatakan
jauh-jauh hari sebelum para ilmuwan barat menyatakan hal ini.
Berkata Imam Ibnu Hazm dalam Al-Fishal fil Milal wan Nihal (2/97) :
“Pasal
penjelasan tentang bulatnya bumi. Tidak ada satupun dari ulama kaum
muslimin
–semoga Alloh meridlai mereka- yang mengingkari bahwa bumi itu bulat,
dan
tidak dijumpai bantahan atau satu kalimat pun dari salah seorang dari
mereka, bahkan al-Qur’an dan as-Sunnah telah menguatkan tentang
bulatnya
bumi”.
Hal senada pernah dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan
menukil
perkataan Imam Abul Husain Ahmad bin Ja’far bin Munadi –salah seorang
ulama
Hanabillah yang sangat masyhur di zamannya- berkata : “Demikianlah juga
para
ulama sepakat bahwasanya bumi dengann segala gerakannya, baik di darat
maupun di laut itu bulat” [Lihat Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah
25/159]
Dan Syaikhul Islam pun menukil adanya ijma para ulama mengenai hal ini
dari
Imam Ibnu Hazm dan Abul Faraj Ibnul Jauzi. [Lihat Majmu Fatawa 6/586]
Adapun dalil yang menyatakan bahwa bumi itu bulat di antaranya adalah
firman
Alloh.
“Artinya : Dia memutarkan malam atas siang dan memutarkan siang atas
malam” [Az-Zumar [39] : 5]
Sisi pengambilan dalilnya sangat jelas, bahwa lafadh “takwir” berarti
berputar, diambil dari kata “kuwwirat al-‘imamah” yang artinya memutar
ikat
kepada. Dan kalau memang siang dan malam selalu berputar maka sangat
jelas
menunjukkan bahwa bumi itu adalah bulat.
Juga banyak sekali dalil aqli dan hissi (dalil yang bisa kita saksikan
langsung dengan pancaindera kita) yang menunjukkan bahwa bumi itu
bulat. Di
antaranya ialah.
[1]. Berlayarlah kea rah barat atau timur terus meneru, maka suatu
ketika
nanti engkau akan sampai di tempat semua saat berangkat.
[2]. Jika engkau sekarang di Indonesia berada pada jam empat dini hari,
teleponlah saudaramu yang berada di Arab Saudi dan tanyakan jam berapa
di
sana ; pasti dia akan menjawab bahwa dia Arab Saudi jam 12 malam. Juga
teleponlah saudaramu atau temanmu yang berada di Amerika pasti dia akan
mengatakan di sana saat itu pada ham empat sore. Seandainya bumi itu
datar,
maka mungkinkah itu terjadi?
[3]. Pergilah ke tepi laut, lihatlah kapal yang pergi berlayar
meninggalkan
tepi pelabuhan, maka akan engkau saksikan bahwa dia semakin lama
semakin
turun dan akhirnya yang kelihatan hanya bagian atasnya saja lalu
beberapa
saat kemudian hilang. Seandainya bumi ini datar maka seharusnya kapal
tersebut semakin lama semakin mengecil lalu akhirnya hilang di
kejauhan.
[4]. Yang lebih mudah dari semua yang diatas, lihatlah ke arah langit,
lihatlah awan yang berada di arah ufuk, maka akan engkau lihat bahwa
awan
itu seakan-akan muncul dari bumi, padahal dipastikan bahwa awan yang
kita
lihat muncul dari bumi dan seakan-akan menempel dengan bumi itu adalah
setinggi awan yang berada di atas kita, bukankah itu bukti nyata bahwa
bumi
dan lngit itu bulat? {Lihat Matahari Mengelilingi Bumi Bantahan
terhadap
Barat Kafir oleh Surkan Hj Saniman, Pustaka Mujaddid Kuala Lumpur hal.
67-68]
Berkata Imam Ibnu Hazm : “Kita katakan kepada orang yang tidak memahami
masalah ini : “ Bukankah Alloh mewajikan kepada kita untuk shalat
Dzuhur
apabila matahari telah bergeser ke arah barat (zawal)? Pasti dia akan
menjawab : ‘Ya’. Lalu tanyakan kepadanya tentang makna bergesernya
matahari
ke arah barat, pasti jawabannya adalah bahwa matahari telah berpindah
dari
tempat pertengahan jarak antara waktu terbitnya dengan waktu
tenggelamnya,
dan ini terjadi di semua waktu dan semua tempat. Maka orang yang
mengatakan
bahwa bumi itu datar dan tidak bulat dia hrus mengatakan bahwa orang
yang
tinggal di daerah bumi paling timur harus shalat Dhuhur saat matahari
barusan terbit, juga orang yang tinggal di daerah paling barat tidak
menjalankan shalat Dhuhur kecuali di pengunjung siang dan ini adalah
sesuatu
yang sudah keluar dari ketetapan syari’at Islam” [Lihat Al-Fishal 2/87
dengan diringkas)
Adapun firman Alloh.
“Artinya : Dan bumi bagaimana dihamparkan?” {Al-Ghasyiyah [88] : 20]
Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa bumi itu datar, karena
sebuah
benda yang bulat kalau semakin besar, maka akan semakin tidak kelihatan
bulatnya dan akan nampak seperti datar. [Lihat Hidayatul Hairan Fi
Mas’alatid Daurah oleh Syaikh Abdul karim Al-Humaid hal. 56]
Berkata Syaikh Bin Baz : Keberadaan bumi itu bulat tidak bertentangan
dengan
bahwa permukaan bumi itu datar yang layak untuk dijadikan tempat
tinggal,
sebagaimana firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan” [Al-Baqarah
[2] ;
22]
Juga firmanNya.
“Artinya : Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan
gunung-gunung sebagai pasak?” [An-Naba [78] : 6-7]
“Artinya : Dan bumi bagaimana dihamparkan ?” [Al-Ghasyiyah [88] : 20]
Kesimpulannya, bumi itu bentuknya bulat namun permukaannya datar agar
bisa
dijadikan tempat tinggal dan dimanfaatkan oleh manusia. Dan saya tidak
menemukan dalil naqli dan hissi yang menentang masalah ini” [Lihat
Al-Adilah
An-Naqliyah wal Hissiyah oleh Syaikh Ibnu Baz hal. 103]
LANGIT PUN BULAT
Adapun mengenai keberadaan bahwa langit itu bulat, maka ini pun sesuatu
yang
telah disepakati oleh para ulama Islam. Berkata Imam Ibnu Katsir :
“Imam
Ibnu Hazm, Ibnul Munadi dan Ibnu Jauzi serta para ulama lainnya telah
menukil adanya ijma’ bahwa langit itu bulat” [Lihat Al-bidayah wan
Nihayah
1/69 tahqiq DR Abdullah At-Turki, lihat juga Al-Fishal 1/97-100]
Dan ini pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : Telah
kami
jelaskan bahwa langit itu bulat menurut para ulama dari kalangan
sahabat dan
tabi’ain, bahkan tidak hanya satu orang ulama yang mana mereka adalah
orang
paling mengetahui tentang riwayat menyatakan bahwa langit itu bulat,
seperti
Abul Husain bin Munadi, Ibnu Hazm dan Ibnul Jauzi” [Majmu Fatawa
25/195]
Dalil mengenai masalah ini sangat banyak, di antaranya adalah firman
Alloh
“Artinya : Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam
pun
tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis
edarnya”
[Yasin [36] : 40]
Berkata Hasan Al-Bashri bahwa maksudnya adalah berputar, berkata Ibnu
Abbas
: “Berputar pada falak seperti falkah mighzal” Falkah mighzal adalah
kayu
berbentuk bulat yang digunakan untuk menenun kain.
Juga firman Allaoh.
“Artinya : Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terjaga”
[Al-Anbiya
: [21] : 32]
Keberadaan langit sebagai atap bumi, sedangkan bumi itu bulat maka
langit
pun bulat.
Berkata Syaikhul Islam ibnu Taimiyah : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa
sallam mengkhabarkan bhawa Arsy itu seperti kubah, dan ini adalah
sebuay
isyarat bahwa langit itu bulat”.
Kemudian setelah ini, pahamilah wahai saudaraku, bahwa bumi kita ini
adalah
pusat alam semesta. Dia berada persis di tengah-tengah lingkaran
langit.
Hal ini adalah sesuatu yang disepakati oleh para ulama sebagaimana
dinukil
oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam beberapa tempat dalam Majmu
Fatawa
beliau. Beliau berkata : “Bahwasanya bumi terletak di tengah bulatan
langit.
Yang menunjukkan hal ini adalah bahwasanya semua benda langit itu
terlihat
dari bumi di segala penjuru langit dalam jarak yang sama, ini semua
menunjukkan bahwa jauhnya antara bumi dan langit itu sama dari segala
sisi,
dan ini dengan tegas menunjukkan bahwa bumi itu terletak persis di
tengah-tengah” [Lihat Majmu Fatawa 25/195]
[Disalin secara ringkas dari buku Matahari Mengelilingi Bumi Sebuah
Kepastian Al-Qur'an dan As-Sunnah Serta Bantahan Terhadap Teori Bumi
Mengelilingi Matahri, hal. 77-87 penulis Ahmad Sabiq bin AbdulLathif
Abu
Yusuf, Penerbit Pustaka Al-Furqon Gresik]
barrynuqoba berkata,
Mei 30, 2007 pada 9:04 am
Wah, Komentarnya..ee maksud saya “pelurusannya” panjang juga ya heheee… Tapi mas, artikel di atas tidak mengatakan bahwa “bumi itu tidak bulat”, tapi cuma contoh hasil fatwa yang sama konyolnya dengan fatwanya “syaikh” utsaimin yang mengatakan bahwa bumi adalah pusat galaxy.
t.ali.gt berkata,
Agustus 27, 2007 pada 6:25 am
audzubillah himinas syaithonirojim bissmillahi rahmanir rahim saya dari assror aruhaniyah wal hizbu ( pendalaman ilmu al-quran, bukan aliran )fatwa spt ini pernah saya dapatkan ketika seorang dari mereka datang kpd saya dan mengatakan apakah bumi itu bulat apakah bentuk bumi itu dan apakah bumi mengelilingi matahari sontak saya jawab maaf saya tidak tahu saya belum pernah melihat secara langsung dengan cara terbang diatasnya tetapi saya lihat dari pemberitaan bahwa bumi itu bulat
… mohon do’a nya saudara2ku saya ingin di jauhkan dari orang2 yg seperti itu karena dorongan / firasat hati saya merasa mereka itu tidak benar … dan untuk pemilik website, saya bersyukur kepada allah krn adanya website seperti ini yg dpt menambah wawasan saudara2 kita .. amin
org awam berkata,
Agustus 27, 2007 pada 6:39 am
Assalamu’alaikum wrwb.
Salam kenal…
Matahari Mengelilingi Bumi? Tidak perlu berpanjang2, sila lihat simulasi di blog kami di sini,
http://orgawam.wordpress.com/2007/08/24/matahari-mengelilingi-bumi/
maspardi berkata,
September 26, 2007 pada 6:19 am
Yah, begitulah kalau segala urusan tidak dikembalikan kepada ahlinya…Fatwa yang ngawur…tidak disertai bukti empirik….. Apesnya lagi fatwa itu dibela mati-matian sama pengikutnya.. Ini bentuk taqlid yang betul betul buta.
abimanyu berkata,
April 4, 2008 pada 2:29 am
kayaknya begitu.mereka itu hanya taklit buta sama syechnya.kan mereka gak pakai ijma ulama
ahli tafsir salafy asli....;-) berkata,
April 15, 2008 pada 3:42 pm
zahir nash dlm al quran bermaksud mengharuskan kita menjadikan bumi sebagai acuan (geosentrisme) karena hal ini sangat berguna bagi penentuan waktu sholat, puasa, dll.
tayo sandono berkata,
Mei 14, 2008 pada 2:51 am
Hi , Nama saya Tayo Sandono
Fatwa ulama wahabi itu pasti ada dalilnya dari AQ. Ada delapan ayat. Berpa banyak ayat yang mendukung kalau matahari tidak mengelilingi bumi?
antiza berkata,
Juli 9, 2008 pada 10:38 am
tayo nih ndak faham,dalil yg dipakai wahabi yang 8 itu adalah dzohir ayat yg ditafsiri keliru…nah sekarang enaknya tanya deh pada yang punya blog,tafsir dari ayat-ayat itu menurut yg ga setuju dgn tafsiran wahabi gmn?..,..
rofi berkata,
November 29, 2008 pada 8:13 am
alhamdulillah saya dapat dalil dari alhadits tentang pergerakan matahari mengelilingi bumi.
Dari Abu Dzar RA, bahwasanya pada suatu hari Rasulullah bersabda, “Tahukah kalian kemana matahari pergi?” Mereka berkata, ‘Alloh dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui’. Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari ini berjalan sehingga sampai di suatu tempat peredarannya di bawah ‘arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sampai sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! kembalilah seperti semula engkau datang!’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan sehingga sampai di tempat peredarannya di bawah ‘arsy, lalu dia bersujud. dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah!, kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian berjalan sedangkan manusia tidak menganggapnya aneh sedikitpun darinya sehingga sampai di tempat peredarannya di bawah ‘arsy, lalu dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah!, terbitlah dari arah barat!’, maka dia pun terbit dari arah barat. Rasulullah bersabda, “Tahukah kalian kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi ketika tidak bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu dan dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.”
takhrij hadits:
Bukhari, Muslim, Ath-thoyalisi, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, an-Nasa’i, al-Baghawi dan lainnya semua dari jalur Ibrahim bin Yazid at-Tamimi dari ayahnya dari Abu Dzar RA.
at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”. al-Baghawi berkata: “Hadits shahih menurut syarat Muslim”.
syubhat dan bantahannya:
hadits ini sempat dibantah keshahihannya oleh syaikh rasyid ridho dengan mengatakan bahwa hadits ini lemah karena perowinya tidak pernah bertemu atau berhubungan langsung dengan sahabat Abu Dzar RA, meskipun dia tidak mengingkari bahwa Bukhari dan Muslim memang meriwayatkan hadits ini.
jawabannya:
perowi hadits ini, Ibrahim bin Yazid at-Tamimi, mungkin memang tidak pernah bertemu dengan Abu Dzar RA, tapi bukan berarti tidak ada hubungan. hubungan antara keduanya itu ditunjukkan dengan adanya ayah dari Ibrahim bin Yazid at-Tamimi yang meriwayatkan hadits itu dari Abu Dzar RA. selain itu, Ibrahim bin Yazid at-Tamimi dan ayahnya adalah dua orang mukmin yang tsiqoh (terpercaya) dalam meriwayatkan hadits2.
kandungan hadits:
1. hadits ini menunjukkan bahwasanya matahari itu adalah makhluk yang patuh dan tunduk kepada Alloh, sebagaimana makhluk2 lain di bumi dan langit.
“Apakah kamu tiada mengetahui bahwa kepada Alloh bersujud apa saja yang ada di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon2an, binatang2 yang melata, dan sebagian besar dari manusia?” (al-Hajj: 18)
2. hadits ini menunjukkan bahwasanya matatahari itu bergerak mengelilingi bumi. hal itu ditunjukkan dengan:
- rasulullah bertanya, “Tahukah kailan kemanakah matahari pergi?”. ini mengindikasikan bahwasanya matahari memang benar2 pergi alias berpindah tempat.
- rasulullah berkata, “matahari ini berjalan sehingga sampai di tempat peredarannya di bawah ‘arsy”. ini mengindikasikan bahwasanya tempat semula matahari adalah tempat yang berada jauh dari ‘arsy, kemudian dia berpindah ke tempat yang berada di bawah ‘arsy, kemudian dia kembali ke tempat semula (berkeliling).
- pada hari kiamat nanti, Alloh memberi perintah kepada matahari untuk terbit dari arah barat. bukan memberi perintah pada bumi untuk membalikkan arah putarannya yang semula dari barat ke timur menjadi dari timur ke barat.
- dalam hadits ini, Alloh memberi perintah bergerak kepada matahari, bukan bumi. seandainya yang terjadi adalah matahari diam dan bumi mengelilinginya, berarti keduanya adalah makhluk yang durhaka kepada Alloh. matahari membangkang karena dia diam, padahal dia diperintah untuk bergerak/berjalan. sedangkan bumi juga demikian, dia melakukan/mengada-adakan amalan yang tidak pernah diperintahkan oleh Alloh.
seperti yang kita ketahui semua bahwasanya alhadits diturunkan kepada rasulullah untuk menjelaskan alquran. dengan demikian, penafsiran yang mengatakan bahwasanya maksud dari ayat alquran “matahari beredar di tempat peredarannya” adalah matahari seolah2 beredar, atau beredar menurut penglihatan manusia dari bumi saja, bukan peredaran yang sesungguhnya adalah penafsiran yang bathil karena menyelisihi alhadits ini. sebagaimana kaidah dalam tafsir, bahwasanya “dalil2 dari nash lebih diutamakan daripada dalil2 dari akal/logika”. dan juga kaidah “jika telah ada nash, maka tidak ada ijtihad”.
rofi berkata,
November 29, 2008 pada 8:19 am
jika ada yang mengatakan bahwa penafsiran syaikh ibnu utsaimin ini keliru, di manakah letak kekeliruannya dan bagaimankah yang benar itu???
tentunya pertanyaan ini membutuhkan jawaban penafsiran versi lain, bukan jawaban menurut logika atau teori2 yang sekarang berkembang.
ingatlah, akal hanya wajib memebenarkan apa yang datang dari wahyu, sedangkan wahyu tidak wajib membenarkan apa yang datang dari akal. sehingga apabila suatu saat terjadi benturan antara wahyu dengan logika, maka wajib mendahulukan wahyu di atas akal…
Allohu ‘alam…
rofi berkata,
November 29, 2008 pada 8:35 am
saya bertanya pada orang2 NU yang menuduh orang2 wahaby (ssalafy) itu taqlid pada ulamanya.
1. kenapa mereka menjalankan ritual tahlilan, dzikir fidyah, tawassul DLL yang tidak ada dalilnya dari alquran, alhadits maupun atsar sahabat. apakah mereka tidak pernah mendengar hadits ini:
- “man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amruna fahuwa rodhdhun”
barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tiada dari Kami (Alloh dan Rosul) perintahnya, maka dia tertolak” (HR. Muslim)
- “fa inna ashdiqoil hadiitsi kitabullah, wa khoirol hadi huda muhammad, wa syarrol ‘umuri muhdatsaatuha, wa kulla muhdatsatin bid’ah, wa kulla bid’atin dholalah, wa kulla dholalatin fin nar.”
“sebaik2 perkataan adalah kitabullah (alquran), sebaik2 petunjuk adalah petunjuk muhammad (assunnah), dan seburuk2 perkara adalah yang diada2kan, dan setiap yang diada2kan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat adalah di neraka” (HR. Muslim)
2. mereka membolehkan bertawassul di kuburan2 wali/kyai mereka. sebagian mereka berdalil dengan hadits palsu:
“Siapa yang berhaji ke baitullah namun tidak menziarahiku, maka sungguh dia telah menyepelekanku.” (dikutip dari buku “Mutiara Cahaya Dalam Menolak Paham Wahabi” karya ahmad zaini dahlan yang kemudian dijadikan rujukan oleh K.H. Siradjuddin Abbas, Drs. K.H. Achmad Masduqi, dan tokoh2 nahdhiyin lain)
mengapa kamu bersembunyi di balik kesalahan sendiri dengan mengibarkan tirai orang2 yang tidak melakukan kesalahan itu???
Aris berkata,
Mei 12, 2009 pada 2:50 am
Saya jg brharap smua orang muslim tdk bertaklid buta trhadap syeikh atau kyainya. Kita diberi akal untk berfikir. Banyak kalangan di indonesia memandang sinis wahaby tp mengapa mereka tdk berfikir mengapa mereka jg suka memakai dlil yg bkn dari Rasulullah