Majelis Dzikir dengan Suara Keras

Kutipan hadis qudsi berikut, dimulai dengan, Mereka yang mengingat-Ku dalam suatu majelis, mengadakan perkumpulan untuk berdzikir keras secara kolektif sebagai pintu gerbang untuk mendapatkan janji Allah SWT Ingatlah Aku, maka Aku akan mengingatmu Tidak heran bila perkumpulan semacam itu mendapat pujian yang tertinggi dan berkah dari Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagaimana dinyatakan dalam banyak hadis yang autentik.Menurut Bukhari dan Muslim:Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT mempunyai malaikat yang berkelana untuk menemukan orang-orang yang berdzikir [dan dalam versi yang lain dari Imam Muslim, majalis, perkumpulan dzikir]. Ketika mereka menemukan sekelompok orang (qawm) yang berdzikir dengan keras [dalam Imam Muslim yang lain dikatakan bahwa mereka duduk bersama mereka], mereka memanggil satu sama lain dan menempatkan diri mereka dalam sebuah lapisan sampai ke surga yang pertama. (Ini untuk menyatakan para malaikat dalam jumlah yang tidak terbatas akan berada di atas mereka. Dia tidak mengatakan, Ketika mereka menemukan satu orang. Oleh sebab itu untuk mendapatkan ganjaran semacam ini harus dilakukan dalam suatu kelompok.) Allah SWT bertanya kepada para malaikatnya dan Dia telah mengetahuinya, (Dia bertanya untuk menekankan apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya dan untuk memfasilitasi pemahaman kita), Apa yang dikatakan oleh hamba-hamba-Ku? (Dia tidak berkata, hamba, tetapi ibadi, hamba-hamba dalam bentuk jamak).
Para malaikat berkata,
Mereka memuji-Mu (tasbih) dan mengagungkan Nama-Mu (takbir), dan memberi-Mu Atribut terbaik (tamjid). Allah SWT bertanya, Apakah mereka pernah melihat-Ku?
Para malaikat berkata,
Wahai Tuhanku! Mereka tidak melihat-Mu. Dia bertanya lagi, Bagaimana jika mereka melihat-Ku? Malaikat menjawab, Wahai Tuhanku, jika mereka melihat-Mu mereka akan lebih sungguh-sungguh lagi dalam beribadah, tamjid dan tasbih. Dia bertanya, Apa yang mereka minta? Para malaikat menjawab, Mereka memohon surga-Mu! Dia bertanya, Apakah mereka sudah melihat surga? Mereka berkata, Wahai Tuhan kami, tidak, mereka belum melihatnya. Dia berkata, Dan bagaimana keadaan mereka bila mereka melihatnya? Mereka berkata, Jika mereka melihat surga, mereka akan lebih terikat dan tertarik kepadanya! Dia bertanya, Apa yang mereka takutkan dan lari darinya? (Ketika seseorang mengatakan, Ya Ghaffar (Wahai Yang Maha Pengampun), Ya Sattar (Wahai Yang Maha Menyembunyikan), itu berarti seseorang takut kepada-Nya karena dosa-dosanya. Orang itu memohon kepada-Nya untuk menyembunyikan kesalahannya dan memohon ampunan-Nya.) Mreka berkata, Mereka takut dan melarikan diri dari api neraka. Dia berkata, Dan apakah mereka telah melihat api neraka? Mereka berkata, Wahai Tuhan kami, tidak, mereka belum melihat api neraka. Dia bertanya, Bagaimana jika mereka melihat api neraka? Mereka berkata, Jika mereka melihat api-Mu mereka akan melarikan diri sejauh-jauhnya, dan bahkan akan lebih takut lagi. Dan Allah SWT berkata, Aku menjadikanmu sebagai saksi (Allah SWT tidak membutuhkan saksi karena Dia mengatakan, Cukup Allah SWT saja sebagai saksi (4:79, 4:166, 10:29, 13:43, 29:52). Menjadikanmu sebagai saksi di sini maksudnya menjamin kalian) bahwa Aku telah mengampuni mereka. (Allah SWT telah mengampuni mereka karena, sebagaimana pada awal hadis dinyatakan bahwa mereka adalah sekelompok orang yang mengucapkan Nama-nama Allah SWT dan mengingat-Nya melalui dzikir). Salah satu malaikat berkata, Wahai Tuhanku, seseorang berada di
sana yang tidak tergabung dalam majelis itu, tetapi datang atas maksud yang lain.
(Orang itu datang dengan niat bukan untuk berdzikir, untuk meminta sesuatu kepada seseorang). Allah SWT berkata, Majelis ini adalah sedemikian rupa sehingga orang yang duduk bersama mereka diampuni dosa-dosanya.Almarhum Imam Ahmad Mashhur al-Hadad (meninggal pada 1416/1995) berkata dalam bukunya Miftah al-janna:Hadis ini menunjukkan keutamaan yang terdapat dalam majelis dzikir, dan pada setiap orang yang hadir melakukannya dengan keras dan serempak, karena frase-frase, Mereka memohon kepada-Mu dalam bentuk jamak, dan Mereka adalah orang-orang yang duduk, mempunyai arti bahwa mereka yang berkumpul untuk mengingat Allah SWT dan mengerjakannya secara serempak, sesuatu yang hanya bisa dilakukan dengan keras, karena seseorang yang berdzikir pelan, dalam hati tidak perlu mencari suatu pertemuan dengan orang lain.Lebih jauh hal ini ditunjukkan oleh hadis qudsi yang berbunyi, Allah SWT berfirman, Aku seperti yang diharapkan oleh hamba-Ku, Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika dia mengingat-Ku dalam kelompok, Aku menyebutkan namanya dalam suatu pertemuan yang lebih baik darinya��(Bukhari dan Muslim). Jadi, dzikir dalam hati dibedakan dengan dzikir keras melalui firman-Nya, mengingat-Ku dalam dirinya, yang berarti, dalam hati (diam), dan dalam suatu kelompok, yang berarti keras.Dzikir dalam suatu majelis hanya bisa dilakukan dengan keras dan serempak. Sehingga hadis di atas mengandung bukti bahwa dzikir yang dilakukan dengan keras dalam suatu majelis merupakan sejenis dzikir yang dimuliakan yang disebutkan dalam majelis tertinggi (al-mala al-ala) oleh Tuhan kita Yang Maha Mulia dan para malaikat yang berada di dekat-Nya, yang terus mengagungkan-Nya siang dan malam, dan tidak pernah merasa lelah (21:20).Daya tarik merupakan bukti yang jelas antara mereka yang melakukan dzikir di dunia abadi, yang telah diciptakan dengan kepatuhan yang telah melekat dalam dirinya dan mengingat Allah SWT menjadi sifatnya dan dinamakan malaikat dengan mereka yang melakukan dzikir di dunia yang padat, yang sifatnya dipenuhi dengan kelemahan dan gangguan dan dinamakan manusia. Ganjaran bagi manusia dalam melakukan dzikir adalah mereka akan diangkat ke peringkat yang serupa dengan Majelis Tertinggi, yang kemuliaan dan kenikmatannya cukup bagi setiap orang. (Imam Ahmad Mashhur al-Hadad, Miftah al-janna, terj. Mustafa Badawi, Key to the Garden, Quilliam Press hal.107-108) Allah SWT memberikan perbedaan yang nyata bagi mereka yang mengingat-Nya. Abu Hurayra y berkata,Dalam perjalanan ke Makkah, Rasulullah SAW melewati puncak sebuah gunung yang dinamakan Jumdan (=membeku di tempatnya), pada saat itu beliau berkata, Bergeraklah (siru)! Ini adalah Gunung Jumdan, dan orang yang berpikiran tunggal (al-mufarridun) adalah yang paling utama. Mereka bertanya, Siapa yang berpikiran tunggal, wahai Rasulullah SAW? Beliau berkata, Pria dan wanita yang mengingat Allah SWT tanpa henti (al-dzakirun allah katsiran wa al-dzakirat). (diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Muslim, dalam sahih-nya, pada permulaan buku Dzikir).Gunung itu menyusul orang-orang sebab gunung itu juga berdzikir. Ibnu Qayyim al-Jawziyya menerangkan bahwa istilah mufarridun mempunyai dua arti, yaitu: muwahhidun, orang-orang yang terikat dalam tauhid yang mendeklarasikan Ke-Esaan Allah SWT sebagai satu kelompok (tidak perlu sendiri), atau mereka yang beliau sebut ahad furada, orang yang sama namun sebagai individu yang duduk sendiri (Ibnu Qayyim al-Jawziyya, Madarij al-salikin). Dari contoh ini terbukti bahwa dalam keterangan Ibnu Qayyim al-Jawziyya, duduk dalam dzikir bisa dilakukan sendiri atau dalam kelompok. Dalam keterangan lain mengenai mufarridun, Ibnu Qayyim al-Jawziyya merujuk istilah tersebut kepada mereka yang hatinya bergetar ketika mengucapkan dzikir Allah SWT, merasuk ke dalamnya secara terus-menerus, tidak mempedulikan apa yang orang katakan atau lakukan terhadap mereka. Hal ini karena Rasulullah SAW bersabda, udzkur Allaha hatta yaqulu majnun Mengingat dan menyebut Allah SWT sebanyak yang kalian inginkan, sampai orang berkata bahwa kalian gila dan bodoh. (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, Ibnu Hibban dalam Sahih-nya, dan al-Hakim yang menyatakan bahwa hadis itu sahih). Mufarridun adalah orang-orang yang sungguh hidup. Abu Musa y melaporkan, Perbedaan orang-orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat-Nya adalah bagaikan orang yang hidup dengan orang mati. (Bukhari). Ibnu Umar y melaporkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, Ketika kalian melintasi kebun-kebun di Surga, ambillah manfaat darinya.
Para sahabat bertanya,
Apa yang dimaksud dengan kebun-kebun di Surga itu, Ya Rasulallah e? Beliau menjawab, Lingkaran dzikir.
Para malaikat Allah SWT berkelana mencari lingkaran dzikir, dan ketika mereka menemukannya, mereka akan mengelilinginya dengan rapat.
(Tirmidzi dan Ahmad menyatakan hadis ini hasan gharib).Abu Saiid al-Khudri y dan Abu Hurayra y melaporkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, Ketika sekelompok orang mengingat Allah SWT, malaikat mengelilingi mereka dan rahmat menyelimuti mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah SWT menyebutkan mereka mereka kepada mereka yang bersama-Nya. (Diriwayatkan oleh Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah dan Bayhaqi).Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi meriwayatkan dari Muawiya y bahwa,Rasulullah SAW pergi menuju lingkaran para sahabatnya dan bertanya, Apa yang membuat kalian duduk di sini? Mereka menjawab, Kami duduk di sini untuk mengingat dan menyebut Nama Allah (nadzkurullaha) dan untuk mengagungkan Dia (wa nahmaduhu) sebab Dia membimbing kita kepada jejak Islam dan Dia menganugerahkan nikmat kepada kita. Dengan segera beliau mendesak mereka demi Allah SWT dan bertanya lagi apakah hanya itu alasan mereka duduk di sana. Mereka berkata, Demi Allah, kami duduk di sini hanya untuk itu. Saat itu Rasulullah SAW berkata, Aku tidak meminta kalian untuk bersumpah karena ada kegelisahan di antara kalian, tetapi hanya karena Jibril u datang kepadaku dan memberitahuku bahwa Allah SWT mengatakan kepada malaikat bahwa Dia bangga kepada kalian!��Perhatikan bahwa dalam hadis di atas dinyatakan dengan kata jalasna, atau kami duduk, dalam bentuk jamak, bukan tunggal. Itu melambangkan adanya asosiasi manusia dalam suatu kelompok, dan bukan satu orang.Syahr bin Hawashab menyatakan,Suatu hari Abu al-Darda y memasuki Masjid Bayt al-Maqdis (
Jerusalem) dan melihat orang berkumpul mengelilingi pemimpin dzikir mereka (mudzakkir) yang mengingatkan mereka. Mereka mengeraskan suara mereka, menangis dan berdoa. Abu al-Darda y berkata,
Hidup Ayahku dan Ibuku aku korbankan untuk mereka yang merintih terus menerus sebelum hari perintihan! Lalu dia berkata, Wahai Ibnu Hawshab, mari kita segera bergabung dengan mereka. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Jika kalian melihat semak belukar Surga, gembalakan ternakmu di sana. Kami bertanya, Wahai Rasulullah SAW, apa yang dimaksud dengan semak belukar Surga? Beliau menjawab, Lingkaran orang-orang yang mengingat, demi Dzat yang jiwaku berada dalam Genggamannya, tak satu pun orang yang berkumpul untuk mengingat Allah SWT kecuali dikelilingi dengan rapat oleh para malaikat, rahmat menyelubungi mereka, dan Allah SWT menyebutkan mereka dalam Kehadirat-Nya, dan ketika mereka ingin pergi, seseorang memanggil mereka dengan berkata, Pengampunan telah dibangkitkan, perbuatan buruk kalian telah diubah menjadi amal kebaikan! Lalu Abu al-Darda y mendatangi mereka dan duduk bersama mereka dengan antusias. (Hafiz Ibnu al-Jawzi menyatakan hal ini dengan rantai transmisinya dalam bab yang berjudul, Sebutan bagi orang elit yang biasa menghadiri majelis pembaca hikayat dalam bukunya al-Qussas wa al-mudzakkirin (Pembaca Hikayat dan Orang yang Mengingatkan) ed. Muhammad Basyuni Zaghlul (Beirut: Dar al-kutub al-ilmiyya, 1406/1986) hal. 31).Uraian di atas menunjukkan bukti-bukti mengenai bolehnya melakukan dzikir keras, dalam kelompok dan pengertian dzikir, termasuk memberi peringatan dan menceritakan kembali kisah-kisah yang bermanfaat bagi jiwa. 

About these ads

15 Komentar

  1. April 15, 2007 at 5:59 am

    Mari berzikir bersama kami…

  2. rusli said,

    Mei 17, 2007 at 7:42 am

    Assalamu’alaikum….

    Bung Barry,uraian anda di atas bagus dan sangat penting.Memang Alloh menciptakan manusia dilengkapi dengan akal dan hati agar bisa berfikir dan merasa atau melihat dengan hati nurani (bersifat cahaya).Jika hanya berfikir saja maka akan terasa garing !.Juga sebaliknya jika merasa saja tentu juga tidak lengkap.Tentang dzikir berkelompok, menurut saya sangat besar manfaatnya (meskipun ada sebagian saudara kita yang menganggap itu sebagai ibadah yg tidak dicontohkan oleh Nabi).Pengalaman saya di daerah saya di bantul yogyakarta,anak-anak muda yang sebelumnya urakan dan suka mabok…dg antusias mau kita ajak berzikir dan alhamdulillah menjadi pemuda yg gemar beribadah.(Rata-rata mereka ketagihan dzikir,dan saya pernah baca sebuah artiket penelitian seorang profesor bahwa dalam suasana meditatif dzikir di otak muncul suatu efek nikmat yang hampir sama dengan narkoba) Hampir di setiap kesempatan dzikir bareng (seminggu sekali) rata-rata meneteskan air mata.Bukan rekayasa.Kami menganggap dikir bareng ibarat hp, sedang di-charge biar powerful.Di luar dzikir berjamaah kami asyik dg dzikir kolbu,di tengah kesibukan kita masing-masing.Dzikir Jahar dan Kolbu punya manfaat masing-masing.Teruskan menyebarkan ajakan dzikir mas barry !
    Wallohua’lam bissowab

    • pretty said,

      Maret 14, 2011 at 3:22 am

      BERDO’A DENGAN SUARA LEMBUT
      Oleh : Masnun Tholab
      http://www.masnuntholab.blogspot.com

      Pendahuluan
      Berdo’a adalah merupakan ibadah yang diperintahkan Allah kepada hambaNya. Allah subhanahuwata’ala berjanji akan mengabulkan hambaNya yang berdo’a kepadaNya.
      QS. Al-Mu’min/Ghafir 40 : 60
      وَقَالَ رَبُّكُمْ اُدْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
      Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

      Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :
      ان الدعاء هوالعبادة ثم قرأ : ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
      “Sesungguhnya do’a itu ibadah, kemudian beliau membaca : Berdoalah kepadaKu niscaya Aku perkenankan bagimu” (HR. Ashabul Sunan dan Al-Hakim).
      [Ihya Ulumiddin 2, hal. 395]

      Berdo’a Dengan Suara Lembut
      Dalil 1
      QS. Al-A’raf (7) ayat 55 :
      اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ
      Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

      Dalil 2
      QS. Al-A’raf (7) ayat 205 :
      واذكر ربك في نفسك تضرعا وخيفة ودون الجهر من القول بالغدو والآصال ولا تكن من الغافلين
      Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

      Dalil 3
      QS. Maryam 19 : 3
      إذ نادى ربه نداء خفيا
      yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

      Dalil 4
      QS. Al-Israa 17 : 110
      قل ادعوا الله أو ادعوا الرحمن أيا ما تدعوا فله الأسماء الحسنى ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها وابتغ بين ذلك سبيلا
      Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”

      Dalil 5
      عن أبي موسى الأشعري قال رفع الناس أصواتهم بالدعاء فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم «أيها الناس اربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائباً إن الذي تدعون سميع قريب»
      Dari Abu Musa Al-Asy’ari berkata : ”Kami datang bersama dengan Rasulullah. Ketika kami dekat dengan Madinah beliau membaca takbir, dan manusia membaca takbir dan mengeraskan suara mereka. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
      ”Hai manusia, tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya kalian bukanlah menyeru (Tuhan) yang tuli dan bukan pula (Tuhan) yang ghaib. Sesungguhnya Tuhan yang kalian seru itu Maha Mendengar dan Maha Dekat.” (HR. Al-Bukhari 4/2076)
      [lihat Tafsir Al-Qurthubi 7, hal. 532]

      Dalil 6
      Dari Abu Musa Al-Asy’ari berkata : ”Kami datang bersama dengan Rasulullah. Ketika kami dekat dengan Madinah beliau membaca takbir, dan manusia membaca takbir dan mengeraskan suara mereka. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
      ياأيها الناس إن الذي تدعون ليس باصم ولا غائب إن الذي تدعون بينكم و بين اعناق ركابكم
      Hai manusia, sesungguhnya zat yang kamu berdoa (kepadaNya) tidaklah tuli dan bukan pula (Tuhan) yang ghaib. Sesungguhnya Dzat yang kamu berdo’a (kepadaNya) itu diantara kamu dan antara tengkuk-tengkuk kendaraanmu”. (Mutafaq ‘Alaih)
      [Ihya Ulumiddin 2, hal. 401]

      Pendapat Para ’Ulama Tentang Adab Berdo’a
      1. Ibnu Katsir
      Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan :
      أرشد تبارك وتعالى عباده إلى دعائه الذي هو صلاحهم في دنياهم وأخراهم فقال {ادعوا ربكم تضرعاً وخفية} قيل معناه تذللاً واستكانه, وخفية كقوله {واذكر ربك في نفسك} الاَية
      وفي الصحيحين عن أبي موسى الأشعري قال رفع الناس أصواتهم بالدعاء فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم «أيها الناس اربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائباً إن الذي تدعون سميع قريب» الحديث, وقال ابن جريج عن عطاء الخراساني عن ابن عباس في قوله {تضرعاً وخفية} قال السر
      وقال ابن جرير تضرعاً تذللاً واستكانة لطاعته وخفية يقول بخشوع قلوبكم وصحة اليقين بوحدانيته وربوبيته فيما بينكم وبينه لا جهراً مراءاة وقال عبد الله بن المبارك بن فضالة عن الحسن قال: إن كان الرجل لقد جمع القرآن وما يشعر به الناس وإن كان الرجل لقد فقه الفقه الكثير وما يشعر به الناس وإن كان الرجل ليصلي الصلاة الطويلة في بيته وعنده الزوار وما يشعرون به ولقد أدركنا أقوماً ما كان على الأرض من عمل يقدرون أن يعملوه في السر فيكون علانية أبداً ولقد كان المسلمون يجتهدون في الدعاء وما يسمع لهم صوت إن كان إلا همساً بينهم وبين ربهم وذلك أن الله تعالى يقول {ادعوا ربكم تضرعاً وخفية} وذلك أن الله ذكر عبداً صالحاً رضي فعله فقال {إذ نادى ربه نداء خفياً} وقال ابن جريج يكره رفع الصوت والنداء والصياح في الدعاء ويؤمر بالتضرع والاستكانه. ثم روي عن عطاء الخراساني عن ابن عباس في قوله {إنه لا يحب المعتدين} في الدعاء ولا في غيره.
      Allah subhanahuwata’ala memberikan petunjuk kepada hamba-hambaNya agar mereka berdoa memohon kepadaNya untuk kebaikan urusan dunia dan akhirat mereka. Untuk itu Allah subhanahuwata’ala berfirman :
      ادعوا ربكم تضرعا وخفية إنه لا يحب المعتدين
      Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
      Menurut satu pendapat, makna yang dimaksud ialah mengucapkan do’a dengan perasaan yang rendah diri, penuh harap dan dengan suara yang lemah lembut. Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firmanNya :
      واذكر ربك في نفسك
      Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu… (QS. Al-A’raf 7 : 205)

      Didalam kitab Sahihain disebutkan dari Abu Musa Al-Asy’ari yang menceritakan bahwa suara orang-orang terdengar keras saat mengucapkan do’anya. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
      أيها الناس اربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائباً إن الذي تدعون سميع قريب
      Hai manusia, tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya kalian bukanlah menyeru (Tuhan) yang tuli dan bukan pula (Tuhan) yang ghaib. Sesungguhnya Tuhan yang kalian seru itu Maha Mendengar dan Maha Dekat.
      Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ata Al-Khurasani dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firmanNya : “Dengan berendah diri dan suara yang lembut”
      Yang dimaksud dengan khiifah adalah suara yang pelan.
      Ibnu Jarir mengatakan, makna tadarru’ ialah berendah diri dan tenang dalam ketaatan kepadaNya. Yang dimaksud dengan khiifah ialah dengan hati yang khusyuk, penuh keyakinan terhadap Keesaan dan KekuasaanNya terhadap semua yang ada antara kalian dan Dia, bukan dengan suara yang keras untuk pamer.
      Abdullah Ibnul Mubarrak meriwayatkan dari Mubarak Ibnul Fudalah, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa sesungguhnya dahulu ada orang yang benar-benar hafal Al-Qur’an seluruhnya, tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Dahulu ada orang yang benar-benar banyak menguasai ilmu fiqih tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Sesungguhnya dahulu ada orang yang benar-benar gemar melakukan shalat yang panjang-panjang di dalam rumahnya, sedangkan di rumahnya banyak pengunjung yang bertamu tetapi mereka tidak mengetahuinya.Sesungguhnya kita sekarang menjumpai banyak orang yang tiada suatu amalpun di muka bumi ini mereka mampu mengerjakannya secara sembunyi, tetapi mereka mengerjakannya secara terang-terangan. Padahal sesungguhnya kaum muslim di masa lalu selalu berupaya dengan keras dalam do’anya tanpa terdengar suaranya selain hanya bisikan antara mereka dan Tuhannya.Demikian itu karena Allah telah telah berfirman dalam kitabNya :
      Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. (QS. Al-A’raf 7 : 55)
      Dan firman Allah Subhanahu wata’ala ketika menceritakan seorang hamba yang saleh yang Dia ridhoi perbuatannya, yaitu :
      Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (QS. Maryam 19 : 3)
      Ibnu Juraij mengatakan bahwa makruh mengeraskan suara, berseru, dan menjerit dalam berdo’a; hal yang diperintahkan ialah melakukannya dengan penuh rasa rendah diri dan hati yang khusyuk. Kemudian Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ata Al-Khurasani dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firmanNya :
      Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-A’raf 7 : 55)
      Yakni dalam berdo’a dan dalam hal yang lainnya.
      [Tafsir Ibnu Katsir 8, hal. 359].

      2. Imam Al-Qurthubi
      Imam Qurthubi dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi menjelaskan :
      قوله تعالى: “ادعوا ربكم” هذا أمر بالدعاء وتعبد به. ثم قرن جل وعز بالأمر صفات تحسن معه، وهي الخشوع والاستكانة والتضرع. ومعنى “خفية” أي سرا في النفس ليبعد عن الرياء؛ وبذلك أثنى على نبيه زكريا عليه السلام إذ قال مخبرا عنه: “إذ نادى ربه نداء خفيا” [مريم: 3].
      ونحوه قول النبي صلى الله عليه وسلم: (خير الذكر الخفي وخير الرزق ما يكفي). والشريعة مقررة أن السر فيما لم يعترض من أعمال البر أعظم أجرا من الجهر. قال الحسن بن أبي الحسن: لقد أدركنا أقواما ما كان على الأرض عمل يقدرون على أن يكون سرا فيكون جهرا أبدا. ولقد كان المسلمون يجتهدون في الدعاء فلا يسمع لهم صوت، إن هو إلا الهمس بينهم وبين ربهم. وذلك أن الله تعالى يقول: “ادعوا ربكم تضرعا وخفية”. وذكر عبدا صالحا رضي فعله فقال: “إذ نادى ربه نداء خفيا” [مريم: 3].
      وقد استدل أصحاب أبي حنيفة بهذا على أن إخفاء “آمين” أولى من الجهر بها؛ لأنه دعاء. وقد مضى القول فيه في “الفاتحة”.
      وروى مسلم عن أبي موسى قال: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم في سفر – وفي رواية في غزاة – فجعل الناس يجهرون بالتكبير – وفي رواية فجعل رجل كلما علا ثنية قال: لا إله إلا الله – فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (أيها الناس أربعوا على أنفسكم إنكم لستم تدعون أصم ولا غائبا إنكم تدعون سميعا قريبا وهو معكم). الحديث.
      Firman Allah, “Berdoalah kepada Tuhanmu” adalah perintah untuk berdo’a dan menyembah-Nya. Kemudian Allah menyandingkan perintah ini dengan sifat-sifat yang membuat do’a tersebut menjadi lebih baik. Seperti bersikap khusyu’, bersuara lembut, dan memohon dengan bersimpuh dihadapanNya. Maka lafadz “Wakhufyah” adalah bersuara pelan di dalam hati untuk menghindari perasaan riya. Oleh karena itu Allah memuji Nabi Zakaria di dalam firmanNya,
      إذ نادى ربه نداء خفيا
      Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (QS. Maryam 19 : 3)
      Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
      خير الذكر الخفي وخير الرزق ما يكفي
      “Sebaik-baik dzikir adalah dengan suara yang lembut, sedangkan sebaik-baik rezeki adalah yang mencukupi” (Hadits ini disebutkan oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’us Saghir no. 4009 dari riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Baihaqi).
      Syariat telah menetapkan bahwa berbuat sesuatu yang baik dengan sembunyi-sembunyi lebih besar pahalanya daripada melakukannya secara terang-terangan. Makna seperti ini telah dijelaskan dalam surat Al-Baqarah.

      Al Hasan bin Abu Al Hasan berkata, “Kami mengetahui ada beberapa kaum di muka bumi ini yang mampu nelakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi akan tetapi mereka selalu melakukannya secara terang-terangan. Kaum muslimin bersungguh-sungguh dalam berdo’a, namun tidak terdengar suara mereka. Doa yang mereka panjatkan hanya berupa bisikan antara mereka dengan Tuhan mereka” (Lihat Tafsir Al Hasan Al Bashri 1/380).
      Hal itu karena Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” Begitu pula Allah menyebutkan seorang hamba yang shalih karena Dia ridha atas perbuatan hamba tersebut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Yaitu tatkala ia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut” (QS. Maryam 19 : 3)
      Para pengikut Abu Hanifah berdalil dengan ayat ini bahwa mengucapkan aamiin dengan suara lembut lebih utama daripada diucapkan dengan suara keras. Karena lafadz tersebut termasuk do’a. Pembahasan mengenai hal ini telah dijelaskan dalam surah Al-Fatihah.
      Muslim meriwayatkan dari Abu Musa, dia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan –dalam riwayat lain disebutkan, dalam sebuah peperangan- , lalu orang-orang mengeraskan suara takbir—dalam riwayat lain disebutkan bahwa ada seseorang setiap kali mengeraskan suaranya saat mengucapkan, Laa ilaaha illallaah—, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
      “Wahai manusia, lembutlah terhadap diri kalian sendiri. Sesungguhnya kalian tidak sedang berdo’a kepada dzat yang tuli dan ghaib. Kalian sedang berdo’a kepada Dzat Yang Maha Mendengar dan dekat, Dia selalu bersama kalian” (HR. Al Bukhari).
      [Tafsir Al-Qurtubhi 7, hal. 530-532]

      3. Ibnu Jarir Ath-Thabari
      Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Kitab Tafsir Ath-Thabari menjelaskan :
      يقول تعالى ذكره: ادعوا أيها الناس ربكم وحده, فأخلصوا له الدعاء دون ما تدعون من دونه من الاَلهة والأصنام. تَضَرّعا يقول: تذللاً واستكانة لطاعته. وَخُفْيَةً يقول: بخشوع قلوبكم وصحة اليقين منكم بوحدانيته فيما بينكم وبينه, لا جهارا مراءاة, وقلوبكم غير موقنة بوحدانيته وربوبيته, فعل أهل النفاق والخداع لله ولرسوله. كما:
      1ـ حدثني المثنى, قال: حدثنا سويد بن نصر, قال: أخبرنا ابن المبارك, عن المبارك فضالة, عن الحسن, قال: إن كان الرجل لقد جمع القرآن وما يشعر جاره, وإن كان الرجل لقد فقه الفقه الكثير وما يشعر به الناس, وإن كان الرجل ليصلي الصلاة الطويلة في بيته وعنده الزوّار وما يشعرون به. ولقد أدركنا أقواما ما كان على الأرض من عمل يقدرون على أن يعملوه في السرّ فيكون علانية أبدا. ولقد كان المسلمون يجتهدون في الدعاء وما يسمع لهم صوت إن كان إلاّ همسا بينهم وبين ربهم وذلك أن الله يقول: ادْعُوا رَبّكُمُ تَضَرّعا وَخُفْيَةً وذلك أن الله ذكر عبدا صالحا, فرضي فعله فقال: إذْ نادَى رَبّهُ نِدَاءً خَفِيّا.
      2ـ حدثنا ابن حميد, قال: حدثنا جرير, عن عاصم الأحول, عن أبي عثمان النهدي, عن أبي موسى, قال: كان النبيّ صلى الله عليه وسلم في غزاة, فأشرفوا على واد يكبرون ويهللون ويرفعون أصواتهم, فقال: «أيّها النّاسُ ارْبَعُوا على أنْفُسِكُمْ, إنّكُمْ لا تَدْعُونَ أصَمّ وَلا غائِبا إنّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعا قَرِيبا مَعَكُمْ».
      3ـ حدثنا القاسم, قال: حدثنا الحسين, قال: ثني حجاج, عن ابن جريج, عن عطاء الخراساني, عن ابن عباس, قوله: ادْعُوا رَبّكُمْ تَضَرّعا وَخْفْيَةً قال: السرّ.

      Allah berfirman : Wahai manusia, berdo’alah hanya kepada Tuhanmu. Bersikap ikhlaslah dalam berdoa kepadaNya tanpa berdo’a kepada yang lain seperti kepada tuhan-tuhan lain dan berhala-berhala.
      Firman Allah “Berserah diri” maknanya adalah merendahkan diri dan bersikap tenang dalam menaatiNya.

      Firman Allah “Dan suara yang lembut” maknanya adalah, dengan hatimu yang khusyu dan keyakinan yang benar darimu akan keesaanNya diantara dirimu denganNya. Bukan dengan suara yang terlalu keras dan hati yang tidak yakin akan keesaanNya dan pemeliharaanNya. Seperti tipuan yang dilakukan oleh orang-orang mubafik kepada Allah dan RasulNya.
      Riwayat-riwayat yang menjelaskan hal tersebut adalah :
      1. Al-Mutsanna menceritakan kepadaku, ia berkata : Suwaid bin Nashr menceritakab kepada kami, ia berkata : Ibnu Al-Mubarak memberitakan kepada kami dari Al-Mubarak bin Fadhalah, dari Al-Hasan, ia berkata, ”Jika seseorang telah mengkaji Al-Qur’an secara keseluruhan, maka tetangganya tidak merasakannya. Jika seseorang itu memahami banyak pemahaman, maka orang lain tidak merasakannya. Jika seseorang melaksanakan shalat yang lama di rumahnya, lalu ada tamu yang berkunjung kepadanya, maka para tamu itu tidak merasakannya. Kami telah bertemu dengan beberapa orang di atas bumi ini, sebenarnya mereka mampu melakukan suatu amal secara rahasia, akan tetapi selamanya ia justru melakukannya secara terang-terangan. Pada zaman dahulu kaum muslim berdo’a bersungguh-sungguh, akan tetapi orang di sekeliling mereka tidak mendengarnya melainkan hanya seperti pembicaraan antara ia dengan Tuhannya, karena Allah berfirman : ”Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut” Sebab Allah menyebutkan tentang seorang hambaNya yang shalih dan Dia menyukai perbuatan hambaNya itu, ”yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut” (QS. Maryam 19 : 3) (Ibnu Al-Mubarak dalam Az-Zuhd 1/49 dan As-Suyuthi dalam Ad-Durr Al-Mansur 3/476.

      2. Ibnu Humaid menceritakan kepada kami, ia berkata : Jarir menceritakan kepada kami dari Ashim Al-Ahwal, dari Abu Utsman An-Nahdi, dari Abu Musa, ia berkata : Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam berada dalam suatu peperangan, mereka berada di suatu lembah, mereka bertakbir dan mengucapkan kalimat ’Laa ilaaha illallaah’ dengan mengangkat suara tinggi. Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Wahai manusia, konsistenlah terhadap urusan kamu. Sesungguhnya kamu bukan menyeru kepada Tuhan yang tuli dan yang gaib, akan tetapi kamu menyeru kepada Dia Yang Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Dia bersama kamu” (Al-Bukhari dalam Al-Maghazi no. 4205; Muslim dalam Adz-Dzikr wa ad-Du’a no. 44).

      3. Al-Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata : Al-Husein menceritakan kepada kami, ia berkata : Hajjaj menceritakan kepadaku dari Ibnu Juraij, dari Atha Al-Khurasani, dari Ibnu Abbas, tentang ayat, ”Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut”. Ia berkata, ”Maknanya adalah, dengan rahasia” (Al-Baghawi dalam Ma’alim At-Tanzil 2/482.)

      4. Jalaludin As-Suyuthi dan Jalaludin Al-Mahali

      Jalaludin As-Suyuthi dan Jalaludin Al-Mahali dalam kitab Tafsir Jalalain menjelaskan :
      { ادعوا ربكم تضرعا } حال تذللا { وخفية } سرا { إنه لا يحب المعتدين } في الدعاء بالتشدق ورفع الصوت
      (Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri) menjadi hal, yakni merendahkan diri
      (dan dengan suara yang lembut) secara berbisik-bisik
      (Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas) di dalam berdoa. Seperti banyak berbicara dengan suara yang keras.

      5. Imam Syafi’i
      Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :

      وأي إمام ذكر الله بما وصفت جهرا أو سرا أو بغيره فحسن وأختار للامام والمأموم أن يذكر الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكر إلا أن يكون إماما يجب أن يتعلم منه فيجهر حتى يرى أنه قد تعلم منه ثم يسر فإن الله عزو وجل يقول ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها
      Saya memilih untuk berdzikir kepada Allah setelah selesai shalat dengan merendahkan suara bagi imam dan makmum, kecuali apabila ia adalah seorang imam yang wajib diambil pelajaran darinya, maka ia harus mengeraskan bacaan dzikirnya hingga ia mengira bahwa orang-orang telah mengerti dan mendapat pelajaran darinya. Kemudian ia membaca perlahan-lahan, karena sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala berfirman,
      “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya” (QS. Ali-Imran 17 : 110).
      [Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 197].

      6. Imam Ghazali
      Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin menjelaskan tata kesopanan berdo’a :

      خفض الصوت بين المخافتة والجهر لما روي أن أبا موسى الأشعري قال‏:‏ قدمنا مع رسول الله فلما دنونا من المدينة كبر وكبر الناس ورفعوا أصواتهم فقال النبي صلى الله عليه وسلم يا أيها الناس إن الذي تدعون ليس بأصم ولا غائب إن الذي تدعون بينكم وبين أعناق ركابكم ‏”‏

      Melunakkan suara antara menyembunyikan dan mengeraskan karena diriwayatkan bahwasanya Abu Musa Al-Asy’ari berkata :
      “Kami datang bersama dengan Rasulullah. Ketika kami dekat dengan Madinah beliau membaca takbir, dan manusia membaca takbir dan mengeraskan suara mereka. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
      يا أيها الناس إن الذي تدعون ليس بأصم ولا غائب إن الذي تدعون بينكم وبين أعناق ركابكم
      ‘Wahai manusia, sesungguhnya Dzat Yang kamu berdo’a (kepadaNya) tidaklah tuli dan ghaib. Sesungguhnya Dzat yang berdoa (kepadaNya) itu diantara kamu dan antara tengkuk-tengkuk kendaraanmu,” (Mutafaq Alaih).
      [Kitab ihya Ulumiddin 2, hal. 401].

      Penutup
      Uraian di atas bukanlah pendapat penulis pribadi, melainkan pendapat para ulama ahli tafsir terkemuka di kalangan umat islam. Karena Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam mengingatkan agar kita tidak menafsirkan alquran sesuai dengan pikiran sendiri, melainkan harus diserahkan kepada para ahlinya, dalam hal ini para ulama ahli tafsir.
      At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah, beliau bersabda :
      اِتَّقُوا الْحَدِيْثَ عَنِّي اِلَّا مَا عَلِمْتُمْ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأُ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ قَالَ فِي القرآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأُ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
      “Jagalah hadits dariku kecuali yang telah aku ajarkan. Siapa saja yang berdusta atas namaku secara sengaja maka hendaklah dia menempati tempat duduknya yang terbuat dari api neraka. Siapa saja yang menafsirkan Al-Quran dengan menggunakan pendapatnya sendiri maka hendaknya dia menempati tempat duduknya dari neraka”
      [HR. At-Tirmidzi, Bab Tentang Orang Yang Menafsirkan Al-Quran dengan Pendapatnya Sendiri, no. 2591]
      [lihat Tafsir Al-Qurthubi 1, hal. 75]

      Diriwayatkan dari Jundab, dia berkata, Rasulullah bersabda :
      وَمَنْ قَالَ فِي القرآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ
      “Siapa yang berbicara mengenai Al-Quran dengan pendapatnya sendiri kemudian benar, dia tetap dianggap salah”
      [HR. At-Tirmidzi, Bab Tentang Orang Yang Menafsirkan Al-Quran dengan Pendapatnya Sendiri, no. 2592]
      [lihat Tafsir Al-Qurthubi 1, hal. 76]

      Sumber Rujukan :
      -Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Puataka Imam Syafi’i, 2003.
      -Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Pustaka Azzam, Jakarta, 2007.
      -Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain, Sinar Baru, Bandung, 2003
      -Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari, Pustaka Azzam, Jakarta, 2008.
      -Imam Bukhari, Sahih Bukhari, Darul Fikri, Beirut, 2006.
      -Imam Muslim, Sahih Muslim, Darul Ilmi, Surabaya
      -Imam Syafi’i, Ringkasan Kitab Al-Umm, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005
      -Imam Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, Asy-Syifa, Semarang

  3. masnun tholab said,

    Mei 30, 2008 at 1:29 pm

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
    Perkenankan saya berpartisipasi dalam majelis ilmu yang mulia ini.
    Segala Puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian ‘alam. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabat beliau.
    Berdzikir (mengingat Allah) adalah merupakan perintah Allah dan RasulNya. Dalam kitab Fadho’il A’mal disebutkan ada 54 ayat dalam Al-Quran, dan 19 hadits yang memuat tentang perintah berdzkir. Jadi dzikir kepada Allah SWT merupakan ibadah yang disyariatkan. Hal ini tidak ada perbedaan pendapat di kalngan ulama.
    Namun bagaimana cara kita berdzikir?
    Bolehkah berdzikir dengan berjamaah dan dengan suara yang keras?

    Dalil-dalil perintah dzikir berjamaah dan bantahannya.
    Dalil 1
    QS. Al-Ahzab 33 : 41-42
    Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.
    Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.
    Ayat di atas dijadikan dasar untuk melakukan dzikir secara bersama-sama (berjamaah) karena perintahnya ditujukan kepada orang banyak (jama’).
    Namun hal ini dibantah, bahwa perintah kepada orang banyak bukan berarti harus dikerjakan secara bersama-sama. Misalnya perintah Allah untuk berdzikir dalam surat Al-Jumu’ah ayat 10 :

    Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

    Perintah di atas adalah perintah berdzikir secara jamak, tetapi bukan berarti perintah berdzikir secara berjamaah.
    QS. Al-Baqarah 2 : 223
    Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan Ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.

    Perintah di atas adalah perintah untuk menggauli istri secara jamak, tapi bukan berarti secara bersama-sama (berjama’ah).

    Berdzikir secara berjamaah dengan suara keras juga bertentangan dengan firman Allah SWT dalam surat Al-A’raf 7 : 205
    Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
    Berdzikir secara berjamaah dengan suara keras juga bertentangan dengan hadits Nabi SAW :
    Abu Musa Al-Asy’ari r.a. berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar orang-orang berdoa dengan suara yang lantang keras, maka beliau bersabda :
    Hai manusia, tahanlah (kasihanilah) dirimu karena kalian tidak berseru kepada Tuhan yang pekak atau jauh, Sesungguhnya kalian berseru kepada Tuhan yang sangat dekat dan maha mendengar (HR. Bukhory-Muslim)
    –Ibnu Katsir 3, hal. 442.

    Dari Abi Sa’id ia berkata: Suatu saat Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam beri’itikaf di masjid. Beliau mendengar orang-orang saling mengeraskan suara bacaan mereka, maka beliau membuka tabir dan bersabda: Ketahuilah bahwa kalian semua sedang bermunajat kepada Tuhannya, maka janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan janganlah kalian saling mengeraskan dalam bacaan kalian, atau beliau bersabda: (janganlah saling mengeraskan) dalam shalat kalian”. (Riwayat Abu Dawud 2/57, hadits no: 1332).

    Dalil 2
    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda, Allah berfirman :” Aku menurut keyakinan hambaKu dan Aku bersamanya jika ia berdzikir kepadaKu. Jika ia menyebutKu di dalam dirinya Akupun menyebutnya di dalam diriKU. Dan jika ia menyebutKu dalam satu kelompok, maka Aku menyebutmereka dalam satu kelompok yang lebih baik dari mereka.
    ( HR Bukhori,6856, HR. Muslim no.2675)

    Dalil 3
    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki malaikat yang berkeliling, mereka mengikuti majelis – majelis dzikir. Apabila mereka menemui majelis yang didalamnya ada dzikir, maka mereka duduk bersama – sama orang yang berdzikir, mereka mengelilingi para jama’ah itu dengan sayap – sayap mereka, sehingga memenuhi ruangan antara mereka dengan langit dunia, jika para jama’ah itu selesai maka mereka naik ke langit” (HR. Bukhari no. 6408 dan Muslim no. 2689,)

    Berikut keterangan para ulama’ tentang maksud dari kata majlis zikir :
    “Abu Hazzan: Aku pernah mendengar Atha’ bin Abi Rabah (salah seorang tabi’in) berkata: “Barang siapa yang duduk di majlis zikir, maka Allah akan mengampuni dengannya sepuluh majlis kebathilan. Dan bila majlis zikir itu ia lakukan disaat berjihad di jalan Allah, niscaya Allah akan mengampuni denganya tujuh ratus (700) majlis kebathilan”. Abu Hazzan berkata: Aku bertanya kepada Atha’: Apakah yang dimaksud dengan majlis Zikir? Ia menjawab: yaitu majlis (yang membahas) halal dan haram, bagaimana engkau menunaikan shalat, bagaimana engkau berpuasa, bagaimana engkau menikah, bagaimana engkau menceraikan, bagaimana engkau menjual dan bagaimana engkau membeli”. (Riwayat Abu Nu’aim , dalam kitabnya Hilyah Al Auliya’: 3/313).

    Imam An Nawawi As Syafi’i, berkata:
    “Ketahuilah bahwa keutamaan/ pahala berzikir tidak hanya terbatas pada bertasbih, bertahlil, bertahmid (membaca alhamadulillah), bertakbir, dan yang serupa. Akan tetapi setiap orang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah Ta’ala, berarti ia telah berzikir kepada Allah Ta’ala, demikianlah dikatakan oleh Sa’id bin Jubair dan ulama’ yang lainnya. Atha’ (bin Abi Rabah) berkata:
    “Majlis-majlis zikir ialah majlis-majlis yang membicarakan halal dan haram, bagaimana engkau membeli dan menjual, mendirikan shalat, berpuasa, menikah, menceraikan, berhaji dan yang serupa dengan ini”. [ Al Azkar, oleh Imam An Nawawi 9].
    Al Fakhrurrazi berkata: Yang dimaksud dengan zikir dengan lisan ialah mengucapkan bacaan-bacaan yang mengandung makna tasbih (pensucian) tahmid (pujian) dan tamjid (pengagungan). Dan yang dimaksud dengan zikir dengan hati ialah: memikirkan dalil-dalil yang menunjukkan akan Dzat dan Sifat-sifat Allah, juga memikirkan dalil-dalil taklif (syari’at), berupa perintah, dan larangan, sehingga ia dapat mengerti hukum-hukum taklifi (hukum-hukum syari’at yang lima, yaitu: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram), dan juga merenungkan rahasia-rahasia yang tersimpan pada makhluq-makhluq Allah. Sedangkan yang dimaksud dengan zikir dengan anggota badan ialah: menjadikan anggota badan sibuk dengan amaliah ketaatan, oleh karena itulah Allah menamakan shalat dengan sebutan Zikir, Allah berfirman: “Maka bersegeralah kamu menuju zikir kepada Allah (yaitu shalat jum’at)” (Al Jum’ah: 9).
    Pengertian tentang makna zikir ini selaras dengan hadits berikut:
    “Dari sahabat Abu Hurairah rodhiallahu’anhu ia berkata: Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: “Tidaklah suatu kaum (sekelompok orang) duduk di salah satu rumah Allah (yaitu masjid), mereka membaca kitabullah (Al Qur’an) dan bersama-sama mengkajinya (mempelajarinya), melainkan akan turun kepada mereka kedamaian, dan mereka dipenuhi oleh kerahmatan, dan dinaungi oleh para malaikat, dan Allah menyebut mereka dihadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya”. (Riwayat Muslim).
    Tatkala Imam An Nawawi mensyarah hadits ini, beliau berkata: “Dan -insya Allah- keutamaan ini juga diperoleh bagi orang-orang yang berkumpul di sekolahan-sekolahan, tempat-tempat pengajian dan yang serupa dengan keduanya, sebagaimana halnya berkumpul di masjid”. [Syarah Shahih Muslim, oleh An Nawawi 17/22].
    Adapun membaca Al Qur’an secara berjama’ah dengan satu suara, tidak masuk dalam makna hadits di atas, dan perbuatan seperti itu termasuk bid’ah, seperti yang dikatakan Imam Syatibi dalam I’thishom,1/357-358.
    Dalil 4
    “Sesungguhnya Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam pernah keluar rumah menuju ke suatu halaqah (perkumpulan)
    sebagian sahabatnya, kemudian beliau bersabda: Apakah yang membuat kalian duduk-duduk? Mereka-pun menjawab: Kami berzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas hidayah beragama Islam yang telah Ia karuniakan kepada kami. Beliau bersabda: Demi Allah, benarkah kalian tidak duduk-duduk melainkan karena itu? Mereka menjawab: Demi Allah, tidaklah kami duduk-duduk melainkan karena itu. Beliau bersabda: Ketahuilah, sesungguhnya aku tidaklah bersumpah karena mencurigai kalian, akan tetapi Malaikat Jibril datang kepadaku dan mengabarkan bahwa Allah Azza wa Jallamembangga-banggakan kalian di hadapan para malaikat.” (Riwayat Muslim 4/2075, hadits no: 2701)
    Seandainya para sahabat yang duduk-duduk berjamaah ini berdizikir dengan dikomando, dengan satu suara, dan satu bacaan, dan dengan mengeraskan suara, niscaya Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam tidak perlu bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka lakukan.

    Dalil 5
    Ibnu Abbas rodiallahu’anhu berkata :
    “Bahwa mengeraskan suara saat berzikir seusai orang-orang mendirikan shalat fardhu, biasa dilakukan pada zaman Nabi shollallahu’alaihiwasallam, dan Ibnu Abbas berkata: Dahulu aku mengetahui bahwa mereka telah selesai dari shalatnya, bila aku telah mendengarnya (suara zikir).” (Riwayat Bukhori 1/288, hadits no: 805, dan Muslim 1/410, hadits no: 583)

    “Imam As Syafi’i -rahimahullah Ta’ala- menafsiri hadits ini bahwa beliau shollallahu’alaihiwasallam mengeraskan suaranya dalam beberapa waktu saja, guna mengajari sahabatnya cara berzikir, bukan berarti mereka (Nabi shollallahu’alaihiwasallam dan sahabatnya) senantiasa mengeraskan suaranya. Beliau (As Syafi’i) berkata: ‘Saya berpendapat bahwa seorang imam dan makmumnya hendaknya mereka berzikir kepada Allah, seusai menunaikan shalatnya, dan hendaknya mereka merendahkan suara zikirnya, kecuali bagi seorang imam yang ingin agar para makmumnya belajar (zikir) darinya, maka ia boleh mengeraskan zikirnya, hingga bila ia sudah merasa bahwa mereka telah cukup belajar, ia kembali merendahkannya.'” (Syarah Shahih Muslim oleh An Nawawi 5/84, dan Fath Al Bari, oleh Ibnu Hajar Al Asqalani 2/326. Dan baca pula Al Umm oleh As Syafi’i 1/126-127).

    Kesimpulan Imam As Syafi’i ini didukung oleh beberapa hal berikut ini:
    “Diriwayatkan dari Qais bin ‘Abbad ia berkata: Dahulu para sahabat Nabi shollallahu’alaihiwasallam tidak menyukai untuk mengeraskan suara pada tiga keadaan, yaitu: di saat berperang, menghadiri janazah, dan pada saat berzikir.”
    (Riwayat Ibnu Abi Syaibah, 6/143, no: 30174, Al Baihaqi 4/74, dan Al Khathib Al Baghdadi dalam kitabnya Tarikh baghdad 8/91)

    Ibnu Abbas rodiallahu’anhu tatkala ia menjadi imam dalam shalat janazah membaca al fatihah dengan keras :
    “Dari Thalhah bin Abdillah bin ‘Auf ia berkata: Aku pernah menshalati jenazah di belakang (berjamaah dengan) Ibnu ‘Abbas -radhiallahu ‘anhuma-, maka beliau membaca surat Al Fatihah (dengan suara keras), kemudian beliau berkata: Agar mereka mengetahui bahwa ini (membaca al fatihah dalam shalat jenazah) ialah sunnah).” (Riwayat Bukhori 1/448, hadits no: 1270)

    Dalil 6
    Abu Sa’id Al Khudri rodiallahu’anhu berkata :
    “Perbanyaklah zikir kepada Allah, hingga mereka berkata: sesungguhnya dia itu orang gila.” (Riwayat Ahmad 3/68, Abd bin Humaid 1/289, hadits no: 925, Abu Ya’ala 2/521, hadits no: 1376, Ibnu Hibban 3/99, hadits no: 817, dan Al Hakim 1/677, hadits no: 1839, dan Al Baihaqi dalam kitabnya Syu’abul Iman 1/398, hadits no: 526), adalah hadits dhaif (lemah), karena hadits ini diriwayatkan melalui jalur seorang perawi yang bernama: Darraj Abdurrahman bin Sam’an Abu As Samh Al Misri, dan dia ialah perawi yang lemah riwayatnya. Oleh karena itu hadits ini divonis dhaif (lemah) oleh Ibnu ‘Adi, Az Zahabi, dan Al Hatsami. (Lihat Al Kamil Fi Ad Dhu’afa’ Al Rijal oleh Ibnu ‘Adi 3/115, Mizan Al I’itidal fi Naqd Al Rijal, oleh Az Zahabi 3/41, dan Majma’ Al Zawaa’id oleh Al Haitsami 10/75).

    Ibnu Abbas rodiallahu’anhuberkata :
    “Berzikirlah kamu kepada Allah hingga orang-orang munafiq berkata: sesungguhnya kalian ialah orang-orang yang berbuat riya’ (pamer).” (Riwayat At Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir 12/169, hadits no: 12786, dan Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyah Al Auliya’ 3/80). Karena hadits ini diriwayatkan melalui jalur perawi yang bernama Al Hasan bin Abi
    Ja’afar Al Jufri, dan dia adalah dhaif, sebagaimana yang dinyatakan oleh Al Hatsami. (Lihat Majma’ Al Zawaa’id, oleh Al Hatsami 10/76).

    Pendapat para ulama tentang dzikir berjama’ah
    *Berkata Imam Asy Syatibi dalam Kitab Al – I’thisham 1/129, “Bahwa do’a – do’a yang dilakukan dengan berkumpul secara terus menerus tidak ada contohnya dari Nabi SAW”.
    Dia juga berkata:
    “Diantara (sebab-sebab tersesatnya ahlul bid’ah) ialah mereka selalu berusaha mereka-reka maksud Al Qur’an dan As Sunnah yang keduanya menggunakan bahasa arab, sedangkan mereka tidak menguasai ilmu bahasa arab, yang dengannyalah maksud Allah dan Rasul-Nya dapat dipahami. Sehingga mereka menyeleweng dari syari’at dengan pemahaman dan keyakinan mereka itu, sebagaimana mereka juga
    menyelisihi ulama’-ulama’ yang telah mendalam ilmunya. Dan yang menjadikan
    mereka terjerumus kedalam ini semua, karena mereka terlalu percaya dengan
    dirinya sendiri, dan menganggap bahwa mereka telah memiliki kemampuan untuk
    berijtihad dan menyimpulkan hukum”. [Al I’ithisham, oleh As Syathibi 1/172].
    * Ibnu Wadhdhah dalam Kitab Ma Ja’a Fi Al Bida’ hlm. 54 telah meriwayatkan dengan sanad sampai kepada Abu Utsman Al Hindi, ia berkata, “Seorang pegawai menulis surat kepada Umar bin Khaththab, yang isinya, ‘Di suatu tempat ada suatu kaum yang berkumpul dan mereka berdo’a untuk kebaikan kaum muslimin dan para pemimpin’. Maka Umar pun membalas surat tersebut seraya mengatakan, ‘Temuilah mereka (3x)’, kemudian ia berkata kepada penjaga pintu, ‘Siapkan Cambuk’, maka ketika mereka masuk, Umar menyambut pemimpin mereka dengan cambukan”
    * Ad Darimi dalam Kitab As Sunan 1/67-69, Ibnul Jauzy dalam Kitab Talbis Iblis hlm. 16-17 dan As Suyuti dalam Kitab Al Amru bi Al Ibtida’ hlm. 83 – 84 diriwayatkan oleh Al Bukhtari, dia berkata, “Seorang laki – laki mengabarkan kepada Ibnu Mas’ud bahwa ada satu kaum sedang berkumpul dalam mesjid setelah melaksanakan shalat maghrib, seorang dari mereka berkata, ‘Bertakbirlah kalian semua kepada Allah seperti ini …, bertasbilah kepadaNya seperti ini …, dan bertahmidlah kepadaNya seperti ini …, … maka beliau (Ibnu Mas’ud) mendatangi mereka seraya berkata, ‘Dan demi Allah yang tiada ilah melainkan Dia, sungguh kalian telah datang dengan perkata bid’ah yang keji, atau kalian telah menganggap lebih mengetahui daripada sahabat nabi’”.
    *Abu Hanifah dalam Kitab Badai’u ash shana’i fi Tartibi Ays Syara’ 1/196 mengatakan, “Bahwasannya mengeraskan suara ketika bertakbir pada dasarnya merupakan bid’ah karena hal tersebut merupakan bentuk dzikir, dan menurut penjelasan As Sunnah bahwa berdzikir hendaknya dilakukan dengan suara pelan sebagaimana tersebut dalam firman Allah Ta’ala, ‘Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut’ (QS Al A’raf 55). Dan sabda Rasulullah SAW, ‘Sebaik – baiknya do’a itu diucapkan dengan suara lembut’ (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya 3/91).”
    *Syaikh Muhammad bin Ahmad Miyarah Al Maliki dalam kitabnya Ad Dur Ats Tsamin hlm. 173 berkata, “Bahwa Imam Malik dan beberapa Ulama’ yang lain tidak menyukai seorang Imam atau pemimpin do’a yang berdo’a setelah shalat wajib dengan suara keras”
    *Imam Asy Syafi’i dalam kitabnya Al Umm 1/111 berkata, “Dan aku memilih bagi imam dan makmum agar berdoa kepada Allah setelah selesai melakukan shalat dan melembutkan suara dalam berdzikir kecuali seorang imam yang ingin mengajarkan pada makmumnya”
    *Dalam Kitab Al Iqtidha’ hlm. 304 Imam Ahmad membolehkan do’a untuk orang lain dengan cara berkumpul tanpa ada kesengajaan sebelumnya dan tidak dilakukan berulang – ulang sehingga dianggap sebagai kebiasaan.
    *Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata dalam Kitab Fiqh Al ‘Ibadah hlm. 343, “Ada sebagian dari jama’ah haji yang membaca talbiyah secara berjamaah dengan satu suara, salah seorang dari mereka maju ke depan, atau berada di tengah – tengah dan terkadang di barisan belakang, ia membaca talbiyah lalu para jamaah lain mengikutinya secara bersama – sama. Cara ini tidak pernah ada pada zaman sahabat Radhiyallahu ‘anhum, bahkan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bersama Nabi Muhammad SAW – pada saat haji wada’ – maka ada diantara kami yang membaca takbir, ada yang membaca tahlil dan ada yang membaca talbiyah, beginilah yang disyariatkan kepada kaum muslimin, yaitu agar mereka membaca talbiyah sendiri – sendiri, tanpa ada sangkut pautnya dengan orang lain”
    *Syaikh Ibnul Al Utsaimin juga berkata dalam fatwanya dalam Kitab Ad Dararu As Sunniyah 4/318 mengatakan, “Bahwa berdoa bersama setelah seorang Imam salam dengan satu lantunan tidak ada asalnya dan tidak disyariatkan”
    *Syaikh Hamid At Tuwaijiry Kitabnya Inkaru At Takbir Al Jama’i wa Ghairihi berkata, “Dalam Shahih Bukhari (no. 1830) dan Shahih Muslim (1704) dari ‘Ashim Al Ahwal dari Abu Utsman dari Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Ketika Rasulullah SAW berjihad pada perang Khaibar …, mereka (para sahabat) menyerukan takbir seraya membaca : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallah dengan suara keras maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Tahanlah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada Dzat yang tuli maupun jauh, sesungguhnya kalian berdoa kepada Dzat yang Maha mendengar yang dekat dan Dia selalu bersama kalian’. Jika Rasulullah SAW melarang orang – orang yang meneriakan takbir padahal mereka berada di tanah lapang, maka perbuatan orang – orang yang bersahut – sahutan di dalam Masjidil Haram lebih terlarang lagi, karena mereka telah melakukan beberapa bid’ah yaitu berdzikir dengan suara keras, bersama – sama melagukannya sebagaimana yang dilakukan paduan suara, mendendangkannya dan mengganggu orang lain, yang semuanya ini tidak boleh dilakukan”
    *Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dalam Kitab Fatawa Nur ‘Ala Ad Darb 1/358 mengatakan, “Berkumpul untuk berdzikir secara berjamaah adalah perbuatan yang tidak mempunyai dasar hukum dalam agama…dan wajib setiap muslim untuk meninggalkan perkara bid’ah, karena Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa melakukan suatu perbuatan yang tidak berdasarkan pada perkataan kami maka ia tertolak’ (HR. Muslim no.1718)”
    *Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan dalam Kitabnya Nur ‘ala Ad Darb 1/23 mengatakan, “…Membaca Istighfar berjama’ah adalah bid’ah. Tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, karena beliau beristighfar sendiri tanpa terikat dengan orang lain, dan tidak dengan berjamaah, begitu pula para sahabat, masing – masing membaca istighfar sendiri – sendiri tanpa berjama’ah dan itulah yang dilakukan oleh orang – orang setelah mereka”

    Wallahu a’lam.
    Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan rahmat dan ampunan kepada kita semua. Amien Ya Robbal ‘Alamiin.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

  4. AHLI SUNAH WAL JAMAAH said,

    Desember 15, 2008 at 7:22 am

    Wah klo comment dari ‘masnun tholab’ ini pastilah comment dari antek2nya Wahaby yg mngaku2 Salafy, Wekekekek….

  5. Felix said,

    Januari 9, 2009 at 12:11 am

    Perlu dicatat ma “orang yg mendewakan” bahasa arab, bahasa arab saja g cukup untuk modal memilih hukum, apa lg berijtihad, methodologi yg laen jg masih hrs dikuasai, misal usul fiqh, qowaid fiqh, mustholah hadith dan banyak lagi mas….!! Sekali lg nggak cukup modal terjemah bhs arb pa lg tanpa mengerti Kaidah kaidah bahasa arab scr kompre, buktinya “unta yang dari kecil mpe nenek2 hidup di kampung arab jg gak paham2 hadith”

  6. burhan said,

    Februari 5, 2009 at 4:46 am

    Ass. Wr.Wb.
    kami juga berpendapat sama dengan yang diuraikan diatas, bahwa selesai sholat hendaklah mereka meluangkan waktu sejenak untuk berdoa dengan khusuk dengan sendiri sendiri, karena permintaan doa satu sama lainya permintaannya berbeda beda, terutama setelah sholat dhuhur, sholat ashar maupun sholat jumat, tetapi untuk sholat magrib, isya dan shubuh bisa dilaksanakan bersama sama dengan suara lemah lembut dan dengan penuh harap dan rasa takut atau berdoa dengan cara sendiri sendiri. terima kasih dan mohon maaf jika ada kekeliruan dan kekhilafan.
    Terima kasih, Wass. Wr. Wb.

  7. Al Procothi said,

    Agustus 23, 2010 at 11:56 am

    Buat ikhwan masnun,
    gag perlu segitunya kalee…..
    smua itu tergantung niatnya, hanya Allah yg tau, dzikir keras pun yg pasti ada batasan tinggi rendah swara dan tdk maksud pamer atau riya.
    antum lbh baik ngaca dulu, sudah baikah antum dalam beribadah??
    dalil2 dan hadits2 bnyk tp smua itu kalah dg “kun fayakun”, smua kehendak Allah.

  8. Jundula said,

    Januari 20, 2011 at 2:39 am

    Masya Allah, diskusi soal dzikir jadi saling hujat begini…. Terbuktilah sudah, bid’ah itu sesa-menyesatkan…. Mari istigfhar… bukankah dzikrullah membuat hati menjadi tenang? Bukannya malah muncul amarah? Wasalam

  9. pretty said,

    Maret 14, 2011 at 3:39 am

    Mohon tulisan dari masnun tholab di atas di koreksi. Kalau salah dimana letak kesalahannya, kalau benar dimana benarnya. Kalau salah semua, tunjukkan alasannya. Kalau benar semua, tunjukkan alasannya. Trims.

  10. ummi said,

    Maret 16, 2011 at 2:50 am

    Mohon konfirmasi teman-teman akan kebenaran informasi berikut :
    Sabtu, 24 April 2010
    FATWA PARA ULAMA JOMBANG DALAM BERIBADAH SHOLAT DAN AMALAN HARIAN

    Pembaca yang budiman

    tulisan ini kami kutip dari ringkasan “fatwa para ulama jombang dalam beribadah sholat dan amalan harian” yang disertai dengan tanda tangan para kyai yang secara khusus membahas fatwa tersebut yang kemudian disampaikan oleh Ulama Jombang yang bernama KH.Abdul Mutholib, beliau sebagai umat meminta agar fatwa ini disebarluaskan melalui mimbar dakwah, majelis, taklim, pengajian – pengajian agar diuketahui oleh semua kalangan umat islam, karena menurut beliau isi fatwa ini sangat baik dan mudah dimengerti dan insya Allah sesuai dengan Al Qur’an dan As sunnah serta dengan fatwa iniakan menepis perbedaanang selama ini sering timbul dalam hal beribadah sholat atau amalan harian.
    berikut ini kami kutipkan berbagai fatwa tersebut.
    BEBERAPA FATWA ULAMA NU JOMBANG
    Bismillahirrokhmaanirrokhiim
    “KAmi dari Nahdlatul Ulama Jombang Jawa Timur telah bermusyawarah dalam masalah peribadatan dan kami sudah mengkaji berulang-ulang baik dari Al Qur’an maupun Hadits-hadits serta pendapat para beberapa imam, maka kami mengambil keputusan untuk menghimbau, sekali lagi menghimbau kepada umat islam seluruh Indonesia pada umumnya dan kepada warga Nahdliyin dan pada khususunya agar merubah amalan ibadah yang selama ini tidak sesuai dengan syari’at Islam agar mengikuti fatwa sebagai berikut :

    DALAM HAL SHOLAT

    1. Bahwa agar meninggalkan kebiasaan membaca “USSHOLI…dst” dengan suara keras, karena niat itu pekerjaan hati, cukuplah dengan dibathin saja.
    2. Bahwa setelah selesai sholat, agar imam tidak perlu memimpin doa bersama dengan suara keras dan diamini oleh para ma’mum. baik imam ataupun ma’mum berdoalah dengan suara yang lembut dan lirih serta berendah dirilah dihadapan Allah.
    3. Bahwa setekah selesai sholat, para ma’mum tidak perlu mencium tangan imam, cukup bersalaman saja.
    4. Bahwa dalam sholat subuh Imam tidak perlu membaca do’a qunut, karena do’a qunut itu boleh dibaca kapanpun ( tidak hanya dalam sholat subuh saja ) dan itupun bersifat darurat.
    5. Bahwa sholat rowatif, sholat qobliyah maupun ba’diyah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah adalah: Qobliyah subuh, qobliyah dan ba’diyah dhuhur, qobliyah ashar, qobliyah dan ba’diyah maghrib, serta ba’diyah isya’. Dengan demikian, yang tidak ada sholat ba’diyah adalah : subuh dan ashar, sedangkan yang tak ada sholat qobliyah adalah isya dan jum’at. ( qobliyah : sebelum, ba’diyah : sesudah )

    DALAM HAL SHOLAT JUM’AT

    1. Bahwa sebelum khatib naik mimbar, tidak ada adzan dan tak ada sholat qobliyah Jum’at.
    2. Bahwa ketika khotib diantara dua khutbah, tidak ada bacaan sholawat nabi.
    3. Bahwa setelah selesai sholat Jum’at para imam agar meninggalkan memimpin do’a bersama dengan suara keras, biarkan imam dan makmum berdo’a sendiri-sendiri dengan suara lirih dan lembut, serta berendah dirilah dihadapan Allah SWT, seperti tertuang dalam surat Al – A’roof : 55.
    4. Bahwa tongkat yang selama ini dipakai oleh para khotib ketika khotbah itu bukan sarana ibadah, hal itu semata-mata hanya kebiasaan pada masa kholifah Usman, untuk itu agar ditinggalkan.
    5. Bahwa sebelum khotib naik mimbar, agar meninggalkan membaca hadits Nabi SAW yang isinya tentang jangan berbicara tatkala khotib berkhotbah. hal ini bisa dilakukan pada saat pengurus salah satu masjid menyampaikan laporan infaq, kegiatan lain dan pengumuman-pengumuman yang perlu, dan sekaligus menyampaikan agar supaya mendengarkan khotib ketika berkhotbah secara khidmat.

    DALAM HAL SHOLAT TARWIH / TAHAJUD / WITIR

    1. Bahwa sholat tarawih / witir yang dilaksanakan oleh Nabi SAW adalah sebanyak 11 rekaat dapat dilakukan dengan cara 4 – 4 – 3
    2. Bahwa tidak perlu membaca doa bersama sama antar rekaat.
    3. Bahwa tidak ada tuntunannya membaca sholawat, Nabi secara bersahut-sahutan.
    4. Bahwa sebelum bulan ramadhan tiba, tidak perlu sholat tasbih, nifsyu, sya’ban, sedekah ruwah, dan upacara nyadran ( jawa )
    5. Bahwa dalam sholat witir tidak ada do’a qunut.

    DALAM HAL UPACARA TA’ZIAH

    1. Bahwa dalam ta’ziah usahakan agar tidak perlu mengadakan makanan bagi para mua’ziyin dan mua’ziyat ( pelayat ) cukup dengan air putih saja.
    2. Bahwa agar meninggalkan upacara ” selamatan” hari ke 7 , 40, 100 dan seterusnya, karena hal ini adalah upacaranya kaum Hindu dan nabi SAW melarang upacara tersebut.
    3. Bahwa dalam upacara ta’ziah, tinggalkan kebiasaan membaca surat Yaasiin kemudian mengirimkan kepada si mayit, karena semua itu hukumnya BId’ah

    DALAM ACARA PENGUBURAN JENAZAH

    1. Bahwa agar meninggalkan kebiasaan dengan mengajak para mua’ziyiin dan mua’ziyaat untuk mengucapkan kalimat ” khoir, khoir..”, karena hal ini tidak dituntunkan oleh Nabi SAW bahkan tak ada hadits yang menunjang hal tersebut yang menunjang hal tersebut.
    2. Bahwa tinggalkan kebiasaan men ” talqin ” jenazah ( memberi bimbingan pada mayit yang sudah maupun yang akan dikubur )
    3. Bahwa agar tidak membangun diatas kuburan dalam bentuk apapun ( jawa : kijing)
    4. Bahwa tinggalkan kebiasaan mengangkat jenazah turun naik tiga kali sambil membaca Al fatihah
    5. Bahwa hilangkan kebiasaan membaca surat Yaasiin diatas kuburan ketika ziarah kubur, bersihkan saja kemudian doakan si mayit tersebut dengan doa yang dituntunkan Nabi SAW, bila tidak atau belum tahu doa berbahasa arab, boleh memakai bahasa ibu, ingat Allah maha tahu dengan segala sesuatu.

    Demikian beberapa fatwa yang bisa kami sampaikan, hal ini kami sengaja tulis karena banyak ummat islam yang mempertanyakan terutama dari keluaraga besar Nahdliyin. Bahwa tulis ini adalah hasil dari diskusi panjang dari berbagai ulama NU yang berkumpul di Jombang, dengan satu harapan agar fatwa ini dengan jiwa kebersamaan yang mengaju kepada ukhuwah sehingga tidak terjadi gejolak yang tidak diinginkan. semoga Allah SWT menuntun kita pada jalan yang lurus, INsya Allah.

    Jombang, 01 Ramadhan 1426 H / 05 Oktober 2005

    Diposkan oleh DIGITAL KITA di 20:57
    Sumber :

    http://www.news-digital.co.cc/2010/04/fatwa-para-ulama-jombang-dalam.html

  11. Andre said,

    Maret 17, 2011 at 1:01 am

    AHLUSSUNAH WAL JAMAAH berkata :
    “Wah klo comment dari ‘masnun tholab’ ini pastilah comment dari antek2nya Wahaby yg mngaku2 Salafy, Wekekekek….”

    Felix berkata :
    “Sekali lg nggak cukup modal terjemah bhs arb pa lg tanpa mengerti Kaidah kaidah bahasa arab scr kompre, buktinya “unta yang dari kecil mpe nenek2 hidup di kampung arab jg gak paham2 hadith”

    Al-Prochoti berkata :
    “dalil2 dan hadits2 bnyk tp smua itu kalah dg “kun fayakun”, smua kehendak Allah.”

    Coba Simak komentar-komentar di atas. Kok gak ada yg nyambung ya…
    Kayaknya coment-comentnya itu gak ilmiah dan gak intelek gitu lho… He…he…he… Maapin ye, kl ade sale2 kate.

  12. artikelislami said,

    April 17, 2011 at 11:15 pm

    فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ (152)

    Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al-Baqarah: 152)

    Dalam tafsir Jalalain dijelaskan:

    { فاذكرونى } بالصلاة والتسبيح ونحوه { أَذْكُرْكُمْ } قيل معناه ( أجازيكم ) وفي الحديث عن الله « من ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي ومن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير من ملئه » { واشكروا لِي } نعمتي بالطاعة { وَلاَ تَكْفُرُونِ } بالمعصية .

    (Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku) yakni dengan shalat, tasbih dan lain-lain (niscaya Aku ingat pula kepadamu). Ada yang mengatakan maksudnya ‘niscaya Aku balas amalmu itu’. Dalam sebuah hadits qudsi diketengahkan firman Allah, “Barang siapa yang mengingat-Ku dalam dirinya niscaya Aku akan ingat dia dalam diri-Ku dan barang siapa mengingat-Ku di hadapan khalayak ramai, maka Aku akan mengingatnya di hadapan khalayak yang lebih baik!” (Dan bersyukurlah kepada-Ku) atas nikmat-Ku dengan jalan taat kepada-Ku (dan janganlah kamu mengingkari-Ku) dengan jalan berbuat maksiat dan durhaka kepada-Ku.

    Ayat ini mengatakan “Fadzkuruunii”, yang merupakan perintah kepada orang banyak atau jamak, “Maka ingatlah oleh kalian akan Aku!” Lalu dilanjutkan dengan, “Adzkurkum”, yang artinya, “Niscaya Aku mengingat kalian.” Mahasuci Allah dari sifat lupa. Maka sebagian pendapat menafsirkan “Adzkurkum” sebagai “Ajaaziikum” (niscaya Aku membalas kebaikan kalian). Ini termasuk methode ta’wil.

    Hadits Qudsi yang dimaksud dalam tafsir tersebut adalah hadits dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah berfirman:

    أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

    “Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam perkumpulan, maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari.” (Shahih Bukhari no. 6856)

    قَوْله ( وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَأ ) بِفَتْحِ الْمِيم وَاللَّام مَهْمُوز أَيْ جَمَاعَة

    Al-Hafizh ibnu Hajar al-’Asqolani menjelaskan dalam Fat-hul Baari bahwa yang dimaksud dengan “Mala-in” (khalayak ramai) adalah jama’ah. Sehingga jelaslah bahwa berdzikir atau mengingat Allah di hadapan khalayak ramai itu maksudnya adalah berdzikir dengan cara berjama’ah.

    وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا (28)

    Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28)

    Imam ath-Thabari menjelaskan dalam kitab tafsir beliau:

    (واصْبِرْ) يا محمد(نَفْسَكَ مَعَ) أصحابك( الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ ) بذكرهم إياه بالتسبيح والتحميد والتهليل والدعاء والأعمال الصالحة من الصلوات المفروضة وغيرها(يُرِيدُونَ) بفعلهم ذلك(وَجْهَهُ) لا يريدون عرضا من عرض الدنيا

    (Dan tenangkanlah) wahai Muhammad (akan dirimu bersama) shahabat-shahabatmu (yang menyeru Robbnya di pagi hari dan senja hari) dengan berdzikir kepada-Nya, bertasbih, bertahmid, bertahlil, berdoa, beramal shalih berupa sholat fardhu dan lainnya, (mereka mengharapkan) dengan perbuatan mereka itu (wajah-Nya), bukanlah mereka mengharapkan penawaran berupa penawaran duniawi.

    Imam al-Haitsamy menulis dalam Majmu’ az-Zawaa-id mengenai ayat ini:

    عن عبد الرحمن بن سهل بن حنيف قال نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه وسلم وهو في بعض أبياته (واصبر نفسك مع الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي) خرج يلتمس فوجد قوما يذكرون الله منهم ثائر الرأس وحاف الجلده وذو الثوب الواحد فلما رآهم جلس معهم فقال الحمد لله الذى جعل في أمتى من أمرنى أن أصبر نفسي معهم.

    رواه الطبراني ورجاله رجال الصحيح

    Dari Abdurrahman bin sahl ra, bahwa ayat ini turun sedangkan Nabi saw sedang berada di salah satu rumahnya, maka beliau saw keluar dan menemukan sebuah kelompok yang sedang berdzikir kepada Allah swt dari kaum dhuafa, maka beliau saw duduk bersama mereka seraya berkata : Alhamdulillah, Yang telah menjadikan pada ummatku yang aku diperintahkan untuk bersabar dan duduk bersama mereka”. Riwayat Imam Tabrani dan periwayatnya Shahih (Majmu’ Zawaid Juz 7 hal 21)

    أخبرنا عمر بن محمد الهمداني ، قال : حدثنا أبو طاهر ، قال : حدثنا ابن وهب ، قال : أخبرني عمرو بن الحارث ، عن دراج أبي السمح ، عن أبي الهيثم ، عن أبي سعيد ، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قال : « يقول الله جل وعلا : سيعلم أهل الجمع اليوم من أهل الكرم » ، فقيل : من أهل الكرم يا رسول الله ؟ ، قال : « أهل مجالس الذكر في المساجد »

    Bersabda Rasulullah SAW: Berfirman Allah Jalla wa ‘Ala, “Akan tahu nanti orang-orang yang berkumpul di hari qiamat akan siapa itu Ahlul Karom (orang-orang mulia).” Maka para shahabat bertanya, “Siapa itu Ahlul Karom, wahai Rasulallah?” Bersabda Rasul, “Ahli majlis-majlis dzikir di Masjid-Masjid.” (Shahih Ibnu Hibban no. 817)

    Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma menceritakan adanya dzikir sesudah shalat dengan suara yang keras (jahr) di jaman Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Ibnu Abbas menyatakan: “Aku mengerti kalau orang-orang itu telah selesai menunaikan shalat ketika aku mendengar suara dzikir.” (HR. Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya).

    Maka jelaslah sekarang bahwa dzikir berjama’ah dengan mengangkat suara adalah disyari’atkan. Siapa yang membantahnya dengan perkataan ulama, maka ia telah lupa bahwa dalam beragama itu haruslah dilakukan dengan berdasarkan dalil syar’i yaitu dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dalam sabdanya sebagai berikut:

    “Aku tinggalkan di kalangan kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat, selama kalian berpegang dengan keduanya. Yaitu Kitab Allah (yakni Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya (Yakni Al-Hadits).” (HR. Malik dan Al-Hakim dari Ibnu Abbas radhiyallahu `anhu)

    Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam membimbing kita untuk berpegang dengan Sunnah para Khulafa’ur Rasyidin dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits, yaitu pemahaman dan pengamalan beliau-beliau terhadap keduanya. Hal ini telah dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam sebagai berikut:

    “Maka sesungguhnya siapa dari kalian yang hidup sepeninggalku, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ rasyidin sepeninggalku. Gigitlah ia dengan gigi gerahammu.” (HR. Abu Dawud dalam Sunannya juz 4 hal. 200 bab Fi Luzumil Sunnah no. 4607 dari Irbadh bin Sariyah, dan Ahmad dalam Musnadnya juz 4 hal. 126 – 127, At-Tirmidzi bab Ma Ja`a fil Akhadzi bis-Sunnah wajtanabul Bida` juz 5 hal. 44 no. 2676, Ibnu Majah bab Ittiba’u Sunnatal Khulafaa’ juz 1 hal. 15 – 16 no. 42 – 44 dan Ibnu Jarir dalam Jamu’ul Bayan 212, Ad-Darimi dan Al-Baghawi dan Ibnu Abi `Ashim dalam As-Sunnah juz 1 hal. 205 no. 102)

    Dengan demikian, kita tidak boleh mencukupkan diri dengan pernyataan para Ulama’ untuk menghukumi suatu masalah tanpa meneliti dalil yang dikemukan dalam pernyataan itu. Karena setiap Ulama’ tidak akan lepas dari kemungkinan salah dalam fatwanya, sebagaimana biasanya manusia biasa. Tabiat salah pada manusia itu telah diterangkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dalam sabda beliau sebagai berikut:
    “Semua anak Adam banyak bersalah, dan sebaik-baik orang yang banyak bersalah adalah yang banyak bertaubat.” (HR. Ahmad )

    Maka dengan berdasarkan sabda beliau ini, Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah menyatakan:
    “Semua omongan, bisa diambil dan bisa ditolak. Kecuali omongan penghuni kubur ini”. Sembari beliau mengisyaratkan jari telunjuknya ke kubur Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .(Atsar riwayat Ibnu Abdul Hadi dalam Irsyadus Suluk juz 1 hal. 227 dan Ibnu Abdil Bar dalam al-Jami` juz 2 / 91)

    Semoga Allah menjernihkan hati mereka yang membid’ahkan dzikir berjama’ah dan melindungi kita dari syubhat-syubhat yang ditebarkan oleh orang-orang yang membid’ahkan dzikir berjama’ah. Aamiin.

    • Andre said,

      Desember 25, 2011 at 11:00 am

      Dalil-dalil dari Al-Quran dan Hadits tentang Berdo’a Dengan Suara Lembut
      Dalil 1
      QS. Al-A’raf (7) ayat 55 :
      اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ
      Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

      Dalil 2
      QS. Al-A’raf (7) ayat 205 :
      واذكر ربك في نفسك تضرعا وخيفة ودون الجهر من القول بالغدو والآصال ولا تكن من الغافلين
      Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

      Dalil 3
      QS. Maryam 19 : 3
      إذ نادى ربه نداء خفيا
      yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

      Dalil 4
      QS. Al-Israa 17 : 110
      قل ادعوا الله أو ادعوا الرحمن أيا ما تدعوا فله الأسماء الحسنى ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها وابتغ بين ذلك سبيلا
      Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”

      Dalil 5
      عن أبي موسى الأشعري قال رفع الناس أصواتهم بالدعاء فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم «أيها الناس اربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائباً إن الذي تدعون سميع قريب»
      Dari Abu Musa Al-Asy’ari berkata : ”Kami datang bersama dengan Rasulullah. Ketika kami dekat dengan Madinah beliau membaca takbir, dan manusia membaca takbir dan mengeraskan suara mereka. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
      ”Hai manusia, tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya kalian bukanlah menyeru (Tuhan) yang tuli dan bukan pula (Tuhan) yang ghaib. Sesungguhnya Tuhan yang kalian seru itu Maha Mendengar dan Maha Dekat.” (HR. Al-Bukhari 4/2076)
      [lihat Tafsir Al-Qurthubi 7, hal. 532]

      Dalil 6
      Dari Abu Musa Al-Asy’ari berkata : ”Kami datang bersama dengan Rasulullah. Ketika kami dekat dengan Madinah beliau membaca takbir, dan manusia membaca takbir dan mengeraskan suara mereka. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
      ياأيها الناس إن الذي تدعون ليس باصم ولا غائب إن الذي تدعون بينكم و بين اعناق ركابكم
      Hai manusia, sesungguhnya zat yang kamu berdoa (kepadaNya) tidaklah tuli dan bukan pula (Tuhan) yang ghaib. Sesungguhnya Dzat yang kamu berdo’a (kepadaNya) itu diantara kamu dan antara tengkuk-tengkuk kendaraanmu”. (Mutafaq ‘Alaih)
      [Ihya Ulumiddin 2, hal. 401]

  13. November 15, 2012 at 7:12 am

    lawong sesama umat islam ,masak gara-gara dzikir aja kita ribut,toh itu semua kan amalan nafilah, yang mau dzikir sirri ya monggo, yang mau dzikir jahr ya monggo, gak usah eyel-eyelan,palagi pek saling menghujat,gak malu apa sama oran nasrani dan yahudi, gituc aja ko repoottt….
    jumady.ibnurusdy


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: